PKL Anti Mainstream

(Sebuah Refleksi)

Sebagaimana layaknya orang pada umumnya, mereka menggunakan waktu siang hari untuk bekerja dan malam hari untuk ber-istirahat. Meski, era modern ini memberi banyak peluang untuk membalikkan keadaan itu semua. Yang malam jadi siang dan yang siang jadi malam. Hal ini terjadi rata-rata di kota-kota besar pusat konstelasi ekonomi dan politik. Namun tidak terjadi di kota-kota kecil seperti tempat tinggal saya.

Saya tertarik menulis PKL anti mainstream ini setidaknya karena beberapa hal, yang tidak karena alasan diatas. Pedagang ini berada di depan pasar Baledono dan Selatan Kapolsek Purworejo. Pertama, kedua pedagang ini memilih jam buka pukul 00.00 s.d. subuh. Kedua, lokasi tepat mereka jualan masuk gang sempit yang tidak strategis. Ketiga, yang disajikan PKL tersebut adalah makanan yang dapat basi, yaitu nasi beserta kawan-kawannya.

Meski demikian, kedua PKL ini selalu diburu pelanggan. Untuk yang pertama, biasanya pembeli berjubel antri sehingga saya sendiri kadang tidak kebagian. Untuk yang kedua, meski tidak seramai yang pertama, selalu ada saja pelanggan yang ramai membeli dagangannya. Ini tentunya berbalik dari teori ekonomi atau pasar yang selama ini kita, atau minimal saya pelajari.

Padahal, jika diukur dari tingkat resiko, jelas secara kalkulatif minimal ada dua hal ini: sepi pembeli karena di waktu istirahat, pergatian hari dan dagangan basi. Belum resiko-resiko lain yang berpotensi menghambat laju bisnis kedua orang ini. Namum nyatanya, sampai saat ini pedagang tersebut sudah bisa menguliahkan termasuk menyantrikan putra-putrinya ke berbagai pergruan tinggi dan pesantren terkenal.

Setelah saya pikir-pikir dan resapi, memang jika rejeki itu tidak kemana sepanjang berusaha. Tuhan sudah memberi rambu-rambu itu, seperti kata Umar Ibn Khatab: harrik yadaka, unzil ‘alaika ar-rizq; gerakkan tanganmu, Allah akan menurunkan untukmu rezeki. Selain berusaha dengan menggelar lapak dagangannya, saya juga melihat ke-istiqamahan, konsistensi kedua pedagang itu. Mungkin itulah yang kemudian orang menandai, jika malam lapar langsung teringat kedua tempat itu dan selalu buka.

Kedua, maqalah arab yang mengatakan: khalif tu’rof; berbedalah, maka kamu akan dikenal. Setelah saya padukan dengan beberapa teori, ternyata memang benar. Pertama adalah pelopor, yaitu orang yang menjual hal-hal yang baru. Kedua, jika bukan pelopor adalah memodifikasinya dengan hal-hal yang baru. Jika yang keduapun tidak, maka harus buat yang berbeda dari yang lainnya. Ketiga-tiganya memiliki keunikan dan pangsa pasar tersendiri. Dan ternyata, kedua PKL diatas telah melakukannya secara berbeda.

Setelah menyadari itu saya sadar, bahwa orang berbeda itu tetap memiliki “pangsa pasar” tersendiri. Orang beda dari kebanyakan kita, entah pandangan politik atau perilaku kehidupan memiliki perspektif yang memang diciptakan tuhan untuk menyadarkan kita akan keanekaragaman ciptannya. Selain itu, perbedaan sikap, perilaku, tindakan, pilihan, sebenarnya membuka mata kita akan perspektif yang lain. Kita tidak perlu memaksa yang beda itu untuk mengikuti kita, karena latar kehidupannya berbeda dengan kita. Satu hal lagi, kita sendiri belum tentu bisa hidup seperti proses yang dialami mereka.

Purworejo, 09 Oktober 2014

Energi Musik

Reportase “Wolulasan” Jamaah Maiyah Purworejo
(Pertemuan Ke-47, 30 September 2014)
Durasi – 21.00 s.d. 04.00 WIB
Koordinator Alfin Zidni, S. Pd.I. | Moderator Lukman Khakim | Reporter Ahmad Naufa Kh. F.

Part 1. (Kronologis)
Peserta berdatangan Jalan Sibak No 18 Pangenjurutengah Purworejo. Mereka terdiri dari peserta lama dan beberapa baru dari klub musik Purworejo. Hadir juga dua tokoh Purworejo yaitu R. Muhammad Abdullah (Mantan Pimpinan DPRD Purworejo) dan Nur Kholiq, S.Sos., M.Fil. (wartawan Suara Merdeka). Selain diskusi, malam itu spesial karena ada soft launching “ipnuband” yang diinisiasi oleh Departemen Seni dan Budaya PC IPNU Purworejo.

Acara dimulai pukul 20.30 WIB diawali dengan tadarrus membaca Al-Quran oleh sekitar 25 peserta mengelilingi gunungan nasi tumpeng. Kemudian Cak Luk membuka dengan Al-Fatihah 7x dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia kemudian bercerita manfaat fatihah dari pengalaman pribadi. Saat duduk di bangku SMA, matematika-nya buruk. Kemudian ia sowan kepada Mbah Mad Watucongol Magelang untuk minta ijazah doa. Dikasihnya ijazah untuk membaca Fatihah sebanyak 77x usai shalat maktubah. Akhirnya ujian berhasil ia lewati dengan nilai yang sempurna. Lulus.

Kemudian, seperti biasa, membaca “mars” maiyah: Chasbunnallah wa ni’mal wakil ni’mal mawla wa ni’man nashir dipimpin oleh Anjar Duta. Lalu fatihah dilantunkan untuk ditransfer pahalanya kepada para pejuang Indonesia. Selanjutnya, satu per-satu peserta memperkenalkan diri, karena banyak peserta baru dari komunitas musik.

Untuk ngangsu kaweruh dari para senior, Cak Luk mempersilakan yang sepuh dulu untuk memberi testimony kaitannya dengan music. Mengapa orang tua dulu yang disuruh bicara? Orang tua merupakan orang yang sudah mapan dan teruji ditengah masyarakat, kata Cak Luk. Kemudian ia mengutip pendapat seniornya, “Jangan percaya pada omongan pemuda idealis yang belum pernah merasakan kerasnya kehidupan”.

Mas Kholiq mengawali. Ia merasa senang karena dapat “ngobrol” dengan anak-anak muda. Di Purworejo ini menjadi merasa punya keluarga, karena asalnya Jepara. Demikian pula istrinya. Hanya anaknya yang asli kelahiran Purworejo. Ia mengaku termasuk orang yang percaya pada proses, bukan pada hasil. Kemudian ia bercerita semasa muda, menjadi mahasiswa di Jogjakarta dengan keadaan berjuang: pernah kelaparan di kost-kosan dan berjualan buku, kaos dan lain-lain untuk menyambung hidup.

Semasa menjadi mahasiswa, Mas Kholiq juga mengaku pengembara dari organisasi satu ke organisasi lain. Di SMA ia pernah menjadi anggota IPNU. Begitu kuliah, masuk IMM, HMI, Kammi dll. Sampai ia pernah di karantina selama satu bulan disekap di ruang hanya untuk membaca, ketika keluar disamput bak pejuang yang baru pulang dari medan perang. Namun akhirnya,karena karena kurang sreg ia keluar dan berlabuh di PMII.

Kemudian, ia juga berbagi pengalaman ketika kuliah dengan tempo waktu yang lama. Kebetulan waktu itu masih bekerja di Surat Kabar Harian Bernas. Ia liput dosennya sendiri di Koran setelah itu di sodorkan. Semenjak itu, nilainya bagus dan kuliah jadi cepat beres.

Setelah Mas Kholiq giliran Pak Abdullah memberi sambutan. Setelah SD, ia mengaku masuk di pesantren. Ada salah satu teman yang suka banget dengan Nike Ardilla sampai punya koleksi foto dan albumnya. Pak Abdullah mengaku suka dengan lagu-lagu Nike Ardilla karena teman kamar se-pesantrennya. Sampai ketika Nike Ardilla pernah tampil di Purworejo (pernah tiga kali kesini-red) salah satunya Pak Abdullah pernah sekamar bertiga dengan Nike dan Ibunya di Hotel ketika itu.

Mengenai masa muda, Pak Abdullah mengaku memiliki pengalaman yang agak pahit, namun itulah perjalanan hidup. Ketika masih di pesantren, salah satu orang tuanya meninggal dunia. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari pesantren dan hidup di jalan. Segala macam pekerjaan telah banyak dilakoni, seperti: jualan bakso, menjadi kernet angkutan, penjual karcis terminal dll. Semua perjalanan itu memberi makna karena ia selalu belajar dari berbagai hal sampai kini menjadi salah satu ketua DPC partai dan pernah menjadi wakil ketua DPRD Kabupaten Purworejo.

Satu nomor Nike Ardilla dengan Bintang Kehidupan dari IPNU Band memanaskan suasana malam itu. Aneka rokok, gorengan dan minuman pun tersaji hasil dari bantingan teman-teman Maiyah. Setelah nyanyi, Anjar Duta diminta menyampaikan sedikit hal tentang musik perspektif pelaku. Menurut Anjar, musik berperan dalam menyelesaikan problem kehidupan. Bahkan dalam konteks kepemimpinan, menurut Anjar, memiliki dua kecenderungan yaitu: Intelektual atau seniman. Hal ini karena seniman lebih sering mendengar, melihat dan merasakan. Mereka terbiasa menemani dan setia terhadap rakyat.

Cak Luk menambahkan, music sama dengan kehidupan: ada intro, fals dan nada tinggi rendah. Lalu selaku moderator, ia ingin Mas Kholiq membedah musik dengan landasan epistemologi.

Mas Kholiq kemudian bercerita fenomena musik. Hari ini, anak-anak yang lahir pasca kematian Nike Ardila masih bisa menyanyikannya. Menurutnya, musik adalah bahasa universal yang dapat menyatukan berbagai entitas dalam kehidupan ini. Salah satu peran music dalam dunia politik, misalnya, dapat membangkitkan, meneduhkan dan menyatukan. Mas Kholiq percaya, bahwa kemenangan Jokowi di Pilpres kemarin tak lepas dari kontribusi musik yang masuk dan mewarnai. Music sendiri dapat diinternalisasikan dalam berbagai bidang dalam dunia ini: politik, ekonomi dan social.

Cak Luk kemudian memberikan statement bahwa musik dapat mempengaruhi dan merubah psikologi manusia. Pak Abdullah juga menambahkan, bahwa reformasi yang terjadi pada 1998 adalah juga peran musisi yang mampu menghasilkan musik karena gesekan keadaan. Pada sisi tertentu, Dewi dari Rezpector berpendapat bahwa music menjadi alat pemersatu bangsa. Ia mencontohkan lagu Indonesia raya yang menyatukan masyarakat Indonesia dari sabang sampai Merauke.

Anis Fahmi mengemukakan peran music dalam supporter sepak bola. Music dapat mengatur irama gerakan, membangkitkan adrenalin dan mempengaruhi kemenangan tim. Jadi, dalam sepak bola musik juga berperan besar dalam kemenangan sebuah tim.

Anjar Duta memberi batasan tentang musik. Apakah music itu sebuah sarana atau tujuan? Disini harus diperjelas paramenternya. Menurut Anjar Duta sendiri, music bukanlah tujuan, melainkan cara atau sarana. Meski sarana itu kadang bagi sebagian orang khususnya musisi sudah mendarah daging menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup. Namun pada ranah yang lebih fundamental, musik sebenarnya bukanlah tujuan melainkan sarana.

Penulis muda Purworejo, Sidik, ikut berkomentar. Menurutnya, orang yang bermain musik atau bisa bermain music menjadikan aura dan daya pikatnya terbuka. Selain itu, musik menjadikan orang yang memainkannya dapat berdikari secara ekonomi. Meski demikian, kaitannya dengan music, sastra atau secara umum seni dan budaya masih di anaktirikan dalam Negara utamanya di kurikulum pendidikan yang relative melihat seni bukanlah sesuatu yang urgen.

Kemudian Cak Luk menanyakan kepada salah seorang santri, Hidayatullah atau Mbah Doyok, kaitannya music di pesantren. Menurut Doyok, di pesantren sendiri, berdasarkan pengamatan empirisnya, ada dua hal pesantren memakainya. Pertama, untuk mempermudah hafalan. Bait-bait nadzaman kitab-kitab dalam pesantren biasanya dilantunkan menggunakan lagu dan nada meski dengan alat music seadanya. Menurutnya, dengan iringan musik yang menyertai, nadzaman yang jumlahnya ada yang mencapai ribuan bait bisa dengan mudah dihafalkan.

Kedua, music dalam pesantren sendiri dalam khazanah keilmuan menjadi pembeda. Contohnya adalah dalam ilmu shorof dimana dengan alat bantu music bisa tahu fiil – fail – maf’ul sampai wazan-wazannya. Perpindahan kata antara benda, kerja, objek, subjek sampai fungsi bisa diidentifikasi melalui alunan musik yang indah dan meliuk-liuk.

Kemudian Naufa menambahkan bahwa dalam dimensi kehidupan ini, seperti kata Cak Nun, ada tiga: benar dan salah, baik dan buruk, indah dan tidak indah. Nah, dalam mengajarkan pelbagai pengetahuan, pesantren ternyata tidak hanya menggarap aspek benar dan salah ataupun baik dan buruk. Pesantren juga menggunakan keindahan sebagai sarana untuk mempermudah, mengasah kepekaan dan mengaktualisasi daya tarik. Hal ini sebenarnya juga dilakukan pengajaran dalam Hindu – Budha dimana dalam mengajarkan, sang guru menggunakan syair untuk mentransformasi ilmu juga kebijaksanaan.

Bicara musik modern dalam pesantren, Alfin pernah memiliki pengalaman kelam, dimana pesantren yang ia singgahi melarang music. Ia tak pernah melihat televise maupun radio. Bahkan, pernah ada yang ketahuan membawa radio dibanting hingga menjadi berkeping-keping. Praktis, selama empat tahun ia merasa terasing: hidup di dunia tanpa musik.

Kemudian Cak Luk menutup diskusi sesi satu ini dengan potong tumpeng sebagai peresmian IPNU Band oleh Pak Abdullah. Setelah porong tumpeng, Dika, salah satu pentolan “IPNU Band” Purworejo jumpa pers terkait band yang sedang diresmikan. Ia mengatakan bahwa IPNU Band Purworejo ini merupakan wadah untuk kader-kader yang memiliki minat di bidang seni dan budaya khususnya music. Ia juga bertekad memajukan IPNU Band agar bisa menjadi sarana penghibur, penghubung, maupun pemberdayaan potensi kader. Ia berharap support dari berbagai pihak agar bisa membawa progress kedepannya. Makan tumpeng bersama mengakhiri diskusi sesi pertama ini pada pukul 00.00. WIB.

Kenikmatan Terbatas

Dulu ketika SD saya mengejar sepeda onthel dengan menggebu-gebu. Sampai-sampai setiap pintu dan dinding rumah saya tulis “sepeda!” sebagai bentuk demonstrasi saya kepada orang tua. Setelah saya dibelikan, kenikmatan bersepeda sendiri ternyata terbatas, hanya selang beberapa waktu saya bosan memakainya.

Ketika saya SMP, saya begitu berhasrat memiliki sepatu bola. Saya memaksa ortu untuk membelikan dan akhirnya kesampaian. Di pasar Johar Semarang, sepasang sepatu bola saya miliki, sekaligus bukti cinta orang tua yang tak terungkap.

Ketika saya SMA, saya begitu ngiler dengan telpon tanpa kabel. Banyak teman waktu itu punya dan saya masih harus pergi ke wartel untuk menelpon. Setelah saya punya HP, ternyata pingin yang tidak hanya untuk SMS dan bicara, tetapi juga memiliki MP3 dan kamera. Begitu seterusnya sampai trend android merajalela. Kenikmatan yang sebentar itu selalu berganti kebosanan.

Ketika saya membayangkan sesuatu yang nikmat dan saya mendapatkan atau memperolehnya, ternyata hanya sebentar saja kenikmatan itu terasa. Ternyata, kenikmatan dunia itu terbatas adanya; bisa harta, pangkat dan tentunya wanita. Ternyata dunia ini memang permainan semata; meski kita tetap harus bermain serius dan sportif seperti sepakbola.

Kesimpulan saya sementara, bahwa kenikmatan dunia ini terbatas. Dari itu pekerjaan yang saya tulus dan menikmatilah yang akan sedikit meminimalisir kekecewaan-kekecewaan.

Saya juga akan menabung dan memperbanyak stok cinta dalam hati saya agar dapat memberi keteduhan, manfaat dan kebahagiaan bagi sesama maupun pasangan. Orang kaya punya level kebahagiaan disatu titik dengan orang miskin meski secara materi dan logika beda kalkulasinya.

Jika orang kaya bahagia ketika per-hari bisa untung 1M, orang miskin bisa dengan 10 Ribu bahagia dengan level yang sama karena bisa membeli lauk untuk anak dan istri.

Pada akhirnya, ternyata surga adalah orang yang hidup untuk hidup bersama, mengabdi dan berbagi sebagai manifestasi syukur kepada tuhan; dan neraka adalah keserakahan, individualis dan hidup mencari kesenangan pribadi.