HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI DAN ISTRI DALAM KELUARGA

foto: google.com

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun
PENDAHULUAN
Pernikahan merupakan sunnah rasulullah saw. yang sudah banyak dilakukan oleh umatnya beribu-ribu tahun lamanya. Selain untuk memenuhi kebutuhan biologis dan melestarikan keturunan, pernikahan juga untuk mencari suatu ketenteraman dalam kehidupan keluarga khususnya, dan masyarakat umumnya. keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, sesuai dengan petunjuk islam, merupakan idam-idaman semua keluarga dimanapun berada.
Namun, dalam perjalananya keluarga-keluarga tersebut banyak mengalami hambatan dan kendala. Salah satu kendala yang sangat mendasar ialah banyaknya keluarga (baca: suami-istri) yang belum mengetahui hak-hak dan kewajiban satu sama lain. Hal ini menyebabkan miss communication antara suami dan isteri, sehingga diantara mereka kadang terjadi percekcokan yang sebenarnya hanyalah masalah sepele.
Dari wacana diatas, kiranya perlu suatu pembahasan tentang hak dan kewajiban suami dan istri didalam rumah tangga. Mengingat pernikahan adalah kebutuhan sebagian besar umat manusia, dimanapun berada. Dan, lebih-lebih lagi pernikahan menurut islam adalah hal yang suci dan sakral, yang keberadaanya diposisikan tinggi dalam agama.
Namun, kerena minimnya pengetahuan penulis dan referensi yang terbatas, kiranya makalah ini jauh dari kesempurnaan. Tapi paling tidak dapat dijadikan acuan sebagai bahan kajian untuk didiskusikan bersama.
Dari itu, kritik opini dan saran selalu penulis harapkan, agar semakin melengkapi materi makalah ini. Semoga apa yang ada dalam makalah inin dapat bermanfaat,m sekecil apapun itu. Dan kesalahan dalam penyusunan dapat dimaafkan dan diperbaikin di masa mendatang. Selamat membaca!

Rumusan Masalah
Apakah pengertian Hak & Kewajiban?
Apakah Hak-hak & Kewajiban Suami & Istri dalam Keluarga?

PEMBAHASAN
Hak & Kewajiban Suami & Istri dalam Keluarga

Pengertian Hak & Kewajiban
Hak adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Hak hidup misalnya, adalah klaim untuk memperoleh dan melakukan segala sesuatu yang dapat membuat seseorang tetap hidup, karena tanpa hak tersebut eksistensinya sebagai manusia akan hilang. Selain itu, john loke juga mendefinisikan bahwa hak adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh tuhan YME sebagai sesuatu yang bersifat kodrati.1
Sedangkan kewajiban berasal dari bahasa arab yaitu wajib, yang berarti sesuatu yang apabila dilaksanakan mendapat pahala dan berdosa jika ditinggalkan. Mendapat awalan ’me’ dan akhiran ’an’ kewajiban disini selanjutnya ialah sesuatu yang wajib dilakukan oleh seseorang dalam waktu, kondisi dan keadaan tertentu.

Hak & Kewajiban Suami:
1.Memberikan Nafkah Dzahir (makanan, pakaian dan tempat tinggal)
Suami diwajibkan memberi nafkah kepada istrinya yang taat, baik makanan, pakaian tempat tinggal perkakas rumah tangga dll menurut keadaan di tempat masing-masing dan menurut kemampuan suami. Banyaknya nafkah adalah menurut kebutuhan dan kebiasaan yang berlaku di tempat masing-masing, disesuaikan dengan dengan tingkatan dan kedaan suami. Walaupun sebagian ulama mengatakan bahwa nafkah istri itu ditetapkan dengan kadar tertentu, tetapi yang mu’tamad tidak ditentukan, hanya sekedar cukup serta disesuaikan dengan dengan keadaan suami.2
Keteranganya yaitu hadis dari istri abu sufyan yang mengadukan permasalahanya kepada rasulullah saw. dia berkata, ” abu sufyan seorang yang kikir, dia tidak memberi saya dan anak saya nafkah selain yang saya ambil dengan tidak diketahuinya. Apakah yang demikian itu memadlaratkan saya?” jawab beliau:
”ambil olehmu dari hartanya dengan baik, sekedar untuk mencukupi keperluanmu dan anakmu.”
Dan firman Allah SWT. Yang artinya:
”dan para wanita mempunyai hak (nafkah) yang seimbang dengan kewajibanya menurut cara ma’ruf.” (QS Al-Baqarah:228)
Dari ayat diatas jelaslah bahwa nafkah seorang istri itu harus sesuai dengan ketaatanya. Seorang istri yang tidak taat (durhaka) kepada suaminya, tidak berhak mendapatkan segala nafkah. Rasulullah bersabda yang artinya:
”Takutlah kepada Allah dalam urusan perempuan, karena sesungguhnya kamu mengambil mereka dengan kepercayaan Allah, dan halal bagimu mencampuri mereka dengan kalimat Allah, dan diwajibkan atas kamu (suami) memberi nafkah dan pakaian kepada mereka (istri-istri) dengan cara yang sebaik-baiknya (pantas).” (HR Muslim)

Ayat dan Hadits tersebut tidak memberikan ketentuan kadar nafkah itu, hanya dengan kata-kata ma’ruf (pantas), berarti menurut keadaan suatu tempat dan disesuaikan dengan kemampuan suami serta kedudukanya dalam masyarakat.
2.Memberikan Nafkah Bathin
Yang dimaksud nafkah bathin disini, seperti kita ketahui bersama, ialah kebutuhan biologis (seks) yang merupakan buah dari pernikahan. Kebutuhan biologis ini sangat penting bagi keutuhan dan keharmonisan rumah tangga, karena tujuan dari pernikahan itu sendiri diantaranya ialah agar dapat meredam nafsu dan menjaga kemaluan dari hal-hal tercela
3.Menjadi pemimpin dalam Rumah Tangga
Seperti kita ketahui bersama, bahwa seorang suami di dalam keluarga menjadi pemimpin (baca: kepala keluarga). Dalam perjalananya suami menentukan arah bahtera rumah tangga, menentuka kebijakan dan melindungi serta memberi pengarahan kepada istri dan anak, terutama dalam hal agama.
Hak & Kewajiban Istri
Melayani suami
Seorang istri hendaknya selalu membahagiakan dan melayani apa yang dibutuhkan oleh sang suami. Seperti misalnya, selalu menampakkan raut wajah yang ramah dan cantik apabila dipandang suami, melayani suami diatas ranjang dan segala hal yang dibuhkan suami. Batasan seorng istri dalam melayani suami disini ialah sesuai dengan kemampuanya dan selama taat itu tidak menjurus kepada hal yang munkar atau kemaksiatan.
Apabila suami meminta untuk melakukan suatu hal yang melenceng dari norma agama/ maksiat kepada Allah, maka tidak wajib ditaati dan dilayani.
Menyusui
Diantara kewajiban istri adalah menyusui anaknya, hal ini didasarkan pada hadits nabi yang artinya:
” para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”
F.Hak & Kewajiban Suami Istri
Dalam keluarga, banya sekali hak & kewajiban suami dan istri, antara lain ialah:
Hadanah (Hak mendidik dan Merawat Anak)
Yang kita maksud dengan perkataan ”mendidik” disini ialah menjaga, memimpin dan mengatur segala hal anak-anak yang belum dapat menjaga dan mengatur dirinya sendiri. Selain itu, suami dan istri juga bertanggungjawab dalam hal pendidikan anak, terutama dalam hal agama.
Apabila tidak mampu di didik sendiri, biasanya diserahkan kepada lembaga sekolah ataupun pondok pesantren. Yang jelas, tanggungjawab pendidikan anak, menjadi tanggung jawab orang tua.
Apabila dua orang bercerai sedangkan keduanya mempunyai anak yang belum mumayyiz, maka istrilah yang lebih berhak untuk mendidik dan merawat anak itu hingga ia mengertiakan kemaslahatan dirinya.3

Saling menutupi kekeurangan masing-masing
Suami isteri hendaknya saling menutupi kekurangan satu sama lain. . Semua yang menjadi rahasia keduanya, hendaknya saling menutupi dan menjaga. Tidak boleh menmbicarakan kejelekan suami/ istri kepada tetangga ataupun masyarakat. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan imam muslim, Allah swt. membenci perilaku ini.
” Dari abi sa’id al-Khudri ra., bahwasanya Rasulullah saw bersabda: bahwa sejelek-jelek tempat manusia dihadapan Allah besok di yaumil qiyamah adalah suami yang menggauli istrinya dan istrinya pun melayani suaminya lalu suami tersebut membeberkan rahasia (kejelekan-kejelekan) istrinya.” HR Muslim4

PENUTUP
Dalam islam, telah diatur hak dan kewajiban antara suami dan isteri. Adanya hal tersebut disyareatkan agar dalam mengarungi bahtera keluarga, suami istri dapat bahagia dan tentram, yaitu keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Hak dan kewajiban tersebut terbagi dalan dua garis besar, yaitu yang dhahir dan bathin. Kedua-duanya harus terpenuhi, untuk menjadikan dan merealisasikan keluarga yang dicita-citakan, yaitu hidup bahagia di dunia maupun akhirat.

Catatan Kaki
1. Komarudin Hidayat & Azyumardi Azra. Demokrasi: HAM dan Masyarakat Madani. 2006. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan The Asia Foundation. hlm.252
2. KH. Sulaiman Rasjid. Fiqh Islam. 2001.Bandung: Sinar Baru Algesindo. hlm. 422
3.Op.Cit .hlm 426
4.Ibn Hajar Al-‘Asqalani. Bulughul Maram. tt. Surabaya: Tk Kitab Al Hidayah. hlm. 220

C.Daftar Pustaka
Al-Quran Al-Karim
Al-‘Asqalani, Ibn Hajar. Bulughul Maram. tt. Surabaya: Tk Kitab Al Hidayah.
Rasjid, Sulaiman. Fiqh Islam. 2001.Bandung: Sinar Baru Algesindo. hlm. 422
Hidayat, Komarudin & Azyumardi Azra. Demokrasi: HAM dan Masyarakat Madani. 2006. Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan The Asia Foundation.

About these ads

17 gagasan untuk “HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI DAN ISTRI DALAM KELUARGA

  1. Ini adalah hak & kewajiban jika sudah berstatus suami atau istri.. betul kan?

    Ada wacana:

    1. Untuk pemberian nafkah materi yg menjadi kewajiban suami, jika Istri bekerja dan mempunyai nafkah, istri tersebut tidak wajib memberikannya pada keluarga (suami & anak2), walaupun suami sudah memberi/mempunyai nafkah.

    2. Sebagian wanita/istri (terutama wanita karir) ada beranggapan bahwa “melayani suami” dlm Islam adalah ‘hanya’ melayani di ranjang (sex) krn didasari bahwa laki2 sangat memerlukan itu drpd wanita. Sedangkan melayani dalam hal memasak, mencuci, menyediakan/menyiapkan sesuatu yg dibutuhkan suami seperti menyediakan minum/makanan/obat, menyiapkan baju, dll (mereka ada yg menganggap “sy bukan budak/pembantu”), menurut mereka hal-hal tersebut tidak ada dalam Islam dan itu merupakan budaya kita di Indonesia saja..

    yg menjadi pertanyaan saya:
    1. bagaimana pandangan-pandangan tersebut diatas menurut islam sebenarnya?
    2. bagaimana juga keseimbangan antara budaya dan agama (islam), baik dlm kaitannya hak dan kewajiban suami istri maupun masyarakat.

    salam,
    pramadi_bp@yahoo.co.id

  2. 1. betul, istri tidak wajib memberi nafkah kepada suami dari hasil kerjanya. namun alangkah baiknya jika saling mengerti dan bekerjasama. istri sebaiknya juga bekerja sebagai antisipasi jika: 1. ditinggalkan suami(sekarang banyak suami yang maen kabur), 2. persiapan seandainya suami meninggal dunia dan tidak mewarisi harta yang cukup.
    2. hubungan suami istri hendaknya balance dan saling mengerti dan membagi tugas. istri bukan budak, namun mitra. jika memang suami belum memiliki pekerjaan dan justru istri yang menjadi PNS, misalnya, boleh ada pembagian tugas. namun bagaimanapun, suami adalah kepala rumah tangga yang menjadi pemimpin, namun tidak boleh sewenang-wenang. Wallahu A’lam.

  3. terimakasih atas ilmunya ustad,namun ada sedikit ganjalan dihati masalah wajib dan kewajiban ceritanya begini ustad :Pada suatu pagi seorang wanita/istri bangun terlambat dan ingin melaksanakn sholat subuh, disisi lain suami minta dilayani diwaktu yang sudah mepet itu. Pertanyaanya
    1. Melayani suami dan menunda/meninggalkan sholat subuh yang waktunya sudah mepet. Atau
    2. Membiarkan suami dan melaksnakan sholat walau suami dalam keadaan marah.

  4. terimakasih atas ilmunya ustad,namun ada sedikit ganjalan dihati masalah wajib dan kewajiban ceritanya begini ustad :Pada suatu pagi seorang wanita/istri bangun terlambat dan ingin melaksanakn sholat subuh, disisi lain suami minta dilayani diwaktu yang sudah mepet itu. Pertanyaanya
    1. Melayani suami dan menunda/meninggalkan sholat subuh yang waktunya sudah mepet. Atau
    2. Membiarkan suami dan melaksnakan sholat walau suami dalam keadaan marah.
    mana yang harus didahulukan?Atas jwbbanya sy ucapkan terima kasih.

  5. terima kasih atas comment-nya.
    pertama, saran saya, utamakan shalat dulu baru melakukan dan tentunya dengan bahasa yang santun kepada suami. sang suami juga harus memahami dan legowo si-istri melaksanakan kuwajiban. kedua, ada kaidah idza ta’arodlo mafsadataani ru’iya ahadihima bi-irtikabi akhofihima, jika ada dua mafsadat, maka ambillah yang mafsadatnya paling ringan. disisi lain, jika sang suami melarang istri shalat sampai akhirnya dia tidak dapat waktu suami berdosa. jelasnya, jika memang perkiraan(ijtihad) istri waktu itu tidak cukup untuk berhubugan intim dan mandi maka sebaiknya shalat. baru setelah shalat melakukan sepuasnya!

  6. ustad sya mempunyai setumpuk pertanyaan yg mengganjal hati sya.mohon penjelasany ustad..suami sya bilang sama saya klo dia dulunya punya lahan kosong.sewaktu itu beliny ad sedikit uang bpk ny ya ikut terpakai.dan bpk ny bilang suatu hari nanti izin kan saudara2 mu menempatin lahan itu.trus suami saya bilang sma saya klo saudara2ny mau bikin rumah di lahan itu.sedang saudara2 ny tak ada yg mau usaha bekerja sendiri.dan suami ku mengizin kan.tapi sya tolak semua itu.karena keluarga sendiri tak mampu belom jg punya rumah sendiri.suatu hari nanti jg akan mempunyai anak2 dan istri yg wajib di nafkahi.dalam kesimpulan saya tanah itu tak sruh jual dan uang bpkny yg di pakai berapa bisa di hitung dan di kasih kan sama siapa yg bpknya mau kasih.dan uang suami ku berapa.??tapi suami ku malah marah2 sma aku ustad..seakan2 saya tak mau berbuat baik sama saudara2ny.tapi klo menurut saya itu slah ustad karena dgn jalan itu suami saya tidak mendidik saudara2ny mandiri.menurut saya pikirkan masa depan keluarga dulu..klo emng sudah benar2 mampu baru memikirkan orang lain.sedangkan angan2ny mau cari rumah dan buka usaha nanti dgn memakai uang sya dan suami.perasaan saya mulai takut jika suatu hari nanti saya dan anak2 saya di telantar kan suami.apakah sya salah ustad jika sya menolak saudara2ny menempatin tanah itu ustad..??

  7. ustand, sya mau menghubungkan dg keadaan skarang. Sy sangat sering menjumpai,istri yang bekerja karena penghasilan suami sangat tidak mencukupi, shg istri harus menjadi tulang punggung keluarga. Beberapa di antara mrk sempat melontarkan ucapan : Jika suami berpenghasilan …. juta (jumlah yg sebenarnya tdk terlalu besar) maka istri akan memilih berhenti bekerja.

    - Jika suami penat setelah beraktivitas di luar rumah wajib dan berhak mendapat layanan menyenangkan dr istri (rumah nyaman, istri rapi dan cantik, anak2 tenang). bagaimana kalau isitri yag penat? Siapa yg menghiburnya? Ibu rumah tangga sj bisa capek apalagi yang bekerja di luar pula. Kesimpulan saya sementara : Istri tidak boleh capek!

    - Saya selalu beranggapan, menjadi suami lebih mudah daripada istri. Jika suami menginginkan sesuatu tinggal ia mengatakan secara langsung. Misal : nanti masukkan anak di sekolah A, selama aku di rumah pakailah baju biru warna kesukaanku, dll. Jika istri menolak, suami bisa memvonis istri tak patu (baca : akan masuk neraka). Sebaliknya, bagi istri jika ingin sesuatu harus menyampaikan dg bahasa sehalus dan sebaik mungkin tanpa ada garansi akan terkabul permintaannya. Padahal itu tidak selalu permintaan yg berdasarkan keinginan material pribadi istri, tapi demi kebaikan keluarga. Pertanyaan saya. Di mana tantangan/ tingkat kesulitan peran suami? Karena, sebagai pemimpin, ia cuma tinggal perintah yang menurutnya baik. dan sbg pencari nafkah, cuma diminta semampu dan semaksimalnya. jika masih tak mencukupi, bukankah ada istri yang harus mengencangkan ikat pinggang, atau ikut mencari uang tanpa meninggalkan tugasn utamanya sbg ibu yg baik dan istri yg menyenangkan.

  8. pak ustad saya mau tanya,,, dari pertama kali saya menikah sampai sekarang saya tidak pernah diberi kepercayaan memegang uang belanja, dulu saya hanya dikasih setiap seminggu sekali, hanya untuk belanja makan… sedangkan saya anak saya memangnya hanya memerlukan makan… kami juga butuh pakaian dll, apalagi anak saya perempuan pasti semakin besar pasti ukuran baju sepatu dll pasti bertambah sizenya… saya kadang jengkel tapi saya cukup sabar… akhirnya sekarang saya bekerja… alhamdulilah… eh..malah sekarang semenjak saya bekerja,,, sama sekali tidak pernah kasih uang… padahal anak2 tetap minta keperluan apa2 mintanya kesaya… sampai biaya aktifitas diluar sekolah.. saya yg nanggung… lama2 saya diamin semakin keenakan dia tidak kasih saya uang untuk keperluan belanja boro2 untuk keperluan yg lainnya ,, sampai saya pergi haji pun saya biaya sendiri…padahal kami pergi sama2… pak ustad pasti bertanya kenapa saya tidak membicarakan hal ini baik2… kalau pak ustad mau tau… saya sering ungkapkan dan saya bilang yang ada kami ribut besar kasihan anak2 saya melihat kondisi orangtuanya ribut terus… padahal saya hanya minta hak saya sebagai istri,,, pernah sampai selama 10 tahun dia pun tidak pernah memberi saya nafkah bhatin… hanya karena anak2 dan keluarga besar saja saya mempertahankan rumah tangga saya…sekarang yg saya mau tanyakan saya harus bagaimana bersikap… bhatin saya sebenarnya sudah lama sakit… tapi saya diam..kira2 apakah perlu saya ungkapkan lagi dan bicarakan… tapi saya dah capek untuk ribut…saya takutg dosa pak ustad… sampai saya bilang sama anak2 hidup saya hanya untuk anak2, kerja untuk anak… alhamdulilah saya tidak luput mendidik anak2 soal agama…saya ngga tahu apakah saya termasuk istri yang durhaka kepada suami? karena saya sudah begitu dingin dengan suami saya… pak ustad… tolong kasih saran ya pak ustad… jazakalloh khair…

    • maaf balasan saya telat bu. pertama saya ikut prihatin dengan kondisi anda, saya doakan semoga cepat mendapatkan jalan yang terbaik. Kedua, saran saya cobalah untuk shalat malam, bermunajat dan memohon petunjuk dan bimbingan kepada Allah; Dialah tempat mengadu atas segala persoalan. Insya Allah sekeras apapun lelaki hatinya bisa luluh, apalagi dengan doa.
      Ketiga, Jika ibu keberatan mengatakan langsung atau takut tidak di dengar, cobalah minta tokoh masyarakat, kyai atau pemuka agama untuk menasehatinya. Ibu punya hak untuk menerima nafkah lahir dan bathin. jika sudah 2 tahun suami ibu tidak juga memberi; ibu bisa ajukan gugatan ke pengadilan agama; oleh karena diantara tujuan ber-keluarga adalah mencari ketenteraman hidup. namun demikian, usahakan dulu cara ang terbaik bagi kedua belah pihak dan masa depan anak. Wallahu a’lam.

  9. Gmna caranya menghadapi istri yg pemarah, suka ngatur suami ,hukumnya gmna pak ustad ,padahal segala apa sebagai suami udh berusaha mencukupi semua kebutuhan,tapi sering kali kalo di ajak komunikasi susah, kalo di kasih nasihat di bilang memarahi ….

    • pertama, mungkin si istri mengalami tekanan berat. ada baiknya di ajak berlibur dan refreshing keluarga. Jika nasehat anda kurang di dengar, cobalah meminta keluarga, tokoh masyrarakat atau pemuka agama(kyai) untuk menasehati dengan dasar-dasar agama Islam. Insya Allah akan lebih di dengar. semoga menjawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s