Keutamaan dan Amal di Bulan Rajab

Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.(*

  1. A.    Keutamaan Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu dari Empat Bulan Haram atau yang dimuliakan Allah swt. (Bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” At Taubah: 36

Fenomena pergantian bulan di mata muslim adalah salah satu sarana untuk mengingat kekuasaan Allah swt dan dalam rangka untuk mengambil ibrah dalam kehidupan juga sebagai sarana ibadah.

Karena itu, pergantian bulan dalam bulan-bulan Hijrah kita disunnahkan untuk berdo’a, terutama ketika melihat hilal atau bulan pada malam harinya. Do’a yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah saw. adalah:

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ

“Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rabb ku dan Rabb mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan.” (HR. Turmudzi)

  1. B.     Shaum di Bulan Rajab

Shaum dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulia lainnya hukumnya sunnah. Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah aw. Bersabda:

“Puasalah pada bulan-bulan haram (mulya).” Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.

Rasulullah saw. juga bersabda:

Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.

Ibnu Hajar, dalam kitabnya “Tabyinun Ujb”, menegaskan bahwa tidak ada hadits, baik sahih, hasan, maupun dha’if yang menerangkan keutamaan puasa di bulan Rajab.

Bahkan beliau meriwayatkan tindakan Sahabat Umar yang melarang mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa.

Ditulis oleh Imam Asy Syaukani dalam Kitabnya, Nailul Authar, menerangkan bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur As Sam’ani yang mengatakan bahwa tidak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunahan puasa Rajab secara khusus.

Disebutkan juga bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab, sebagaimana Abu Bakar al-Tarthusi yang mengatakan bahwa puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat.

Namun demikian, sesuai pendapat Imam Asy Syaukani, bila semua hadits yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa di dalamnya kurang kuat untuk dijadikan landasan, maka hadits-hadits yang umum, seperti yang disebut di atas, itu cukup menjadi hujah atau landasan.

Berkata Imam Nawawi rhm,

“Memang betul tak satupun ditemukan hadits shahih mengenai puasa rajab, namun telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul saw menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan rajab maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa rajab dan ibadah lainnya di bulan rajab” (Syarah Nawawi ala shahih Muslim)

  1. C.    Do’a Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan starting awal untuk menghadapi Bulan Suci Ramadhan. Subhanallah, Rasulullah saw. menyiapkan diri untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan selama dua bulan berturut sebelumnya, yaitu bulan Rajab dan bulan Sya’ban. Dengan berdoa dan memperbanyak amal shalih.

Do’a keberkahan di bulan Rajab. Bila memasuki bulan Rajab, Nabi saw. mengucapkan,

“Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana. “Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”

Hadits di atas disebutkan dalam banyak keterangan, seperti dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam kitab Zawaa’id al-Musnad (2346). Al-Bazzar di dalam Musnadnya -sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyf al-Astaar- (616). Ibnu As-Sunny di dalam ‘Amal al-Yawm Wa al-Lailah (658). Ath-Thabarany di dalam (al-Mu’jam) al-Awsath (3939). Kitab ad-Du’a’ (911). Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (VI:269). Al-Baihaqy di dalam Syu’ab (al-Iman) (3534). Kitab Fadhaa’il al-Awqaat (14). Al-Khathib al-Baghdady di dalam al-Muwadhdhih (II:473).

Memperbanyak amal shaleh, seperti shaum sunnah, terutama di bulan Sya’ban. Diriwayat oleh Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi saw.

“Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.

Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang. Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.”

Wallahu a’lam

. Oleh: Ahmad Naufa Kh. F. (*

Santri PP An-Nawawi Berjan,

Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo

Santri Teguh Menjaga Moral Bangsa

Purworejo- Santri merupakan aset penting yang dimiliki bangsa Indonesia. Sebagai generasi muda bangsa yang teguh dalam mengawal moral dan akhlak, santri dituntut untuk meningkatkan peran dan kapasitasya sehingga selalu bisa bersinergi dengan perubahan zaman. Demikian dikatakan ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo A. Naufa Khoirul Faizun dalam pembukaan Masa Kesetiaan Anggota(Makesta), yaitu semacam pelatihan singkat tentang organisasi dan ke-NU-an, yang diikuti Santri perwakilan pesantren se-Kabupaten Purworejo. Hadir dalam pembukaan acara tersebut, KH Dawud Mukhlas, S.Pd.I, Perwakilan Kemenag Purworejo serta Aniroh, S.Pd.i selaku ketua PC IPPNU Purworejo.

Kegiatan yang digelar pada Kamis – Jum’at(17-18/05)di Pondok Pesantren API Winong Kemiri Purworejo tersebut diikuti oleh 59 Santri. Dalam sambutannya, KH. Nasihin Hamid selaku Shahibul Bait mengaku senang dengan kegiatan tersebut. “Saya kurang faham dengan seluk beluk organisasi ketika pertama kali berada di struktural NU. Dengan adanya kegiatan ini, saya menyambut baik niat rekan dan rekanita IPNU-IPPNU Purworejo untuk memberdayakan santri. Ke depan, kader IPNU yang santri tulen bisa menuju syuriah sedangkan yang berlatar pendidikan umum sebagai tanfidziyyah sehingga ada sinergi.”ungkap katib syuriah NU Purworejo tersebut.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut, panitia mendatangkan sejumlah narasumber yang berkompeten dibidangnya. Adapun narasumber yang didatangkan diantaranya: Mahsun,M.Ag(Katib syuriah NU Magelang), Agus Muhammad Adi Al-Hamro(Tokoh Muda NU Purworejo), Ust. Fauzin Jamil, M.Pd.i(Sejarahwan) dan Puji Astuti, S.Sy.(Mantan Ketua PC IPPNU Kabupaten Purworejo). Menurut Wahid Hasyim selaku ketua panitia, para narasumber tersebut didatangkan untuk menggembleng dan memberi “pemahaman baru” kepada para santri. “Kami selaku panitia berharap ilmu dari para narasumber tersebut bisa menginspirasi bagi para santri untuk lebih giat dalam belajar dan berkarya”tandasnya.

Kegiatan berjalan dengan lancar dan tertib. Sebagai refresh, pada akhir acara diadakan out bond oleh Tim Fasilitator IPNU-IPPNU Cabang Purworejo. Dalam out bond tersebut, para santri diberi tantangan beberapa games yang menarik dan memiliki pesan membangun kebersamaan. Siti Ruqoyah, salah satu peserta kegiatan tersebut mengaku senang dan merasa tertantang untuk berorganisasi. “Kegiatan ini sangat menarik, karena selain mendapat ilmu saya juga mendapat pengalaman baru dengan teman-teman berbagai pesantren dalam out bond yang seru” ungkap santri putri asal Gintungan Gebang tersebut.(nf)

MEMELIHARA KOBARAN IDEALISME

Oleh: A. Naufa Khoirul Faizun
Berbicara tentang idealisme, setiap orang tentunya memiliki paradigma masing-masing. Apakah idealisme itu berdasar pada agama, etika, hukum formal dan ideologi lain seperti sosialisme dan kaptalisme. Namun demikian, dari yang masing-masing itu memiliki kualitas dan skala yang berbeda. Semua itu, menjadi cita-cita yang akan diperjuangkan oleh para pengikutnya.
Ditengah perjuangan itu, menjaga kobaran idealisme agar tetap menya sepertinya lebih sulit daripada memaparkan konsep dan teorinya. Hal tersebut terjadi karena dalam memelihara tersebut langsung bersinggungan dengan realitas kehidupan yang tidak selama bisa dimengerti. Bahkan, jangankan menjaga, idealisme bisa saja hilang begitu saja dalam sekejap karena salah dalam menentukan sikap atau dipaksa oleh keadaan.
Banyak sekali aktivis yang menyuarakan keadilan yang ujung-ujungnya justru menindas. Banyak yang menyuarakan anti korupsi yang dengan tidak sadarnya korupsi sendiri. Tak hanya itu, dalam hal agama, banyak yang menyuarakan suara tuhan justru dilanggar sendiri. Banyak orang yang bertindak tidak sesuai dengan apa yang ia percayai dan katakan. Mengapa terjadi demikian? Sekali lagi, itu karena alam realitas berbeda dengan idealitas.
Lalu, bagaimana agar idealisme tetap eksis dalam ucapan dan tindakan kita? Ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Oleh karena jawaban juga harus mencerm,inkan tindakan. Orang yang berani menjawab itu disaat yang sama juga harus bisa menunjukkan diri seberapa besar ia menjaga dan memelihara idealismenya. Ini merupakan konsekwensi logis yang harus dipatuhi. Percuma orang bicara idealisme sedangkan ia belum memiliki bukti dan pengalaman yang cukup dalam menjalani semua.
Tantangannya begitu berat. Orang idealis harus mau dan rela diasingkan atau terasing dari lingkungannya. Oleh karena sistem yang ada tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang idealis. Mereka harus siap dibungkap, di intervensi bahkan di ‘bunuh’ demi menjaga kepentingan masing-masing kelompok atau golongan. Perjuangan yang “Hamlul Masyaqqoh” tersebut tidak banyak orang yang lulus. Ibarat sebuah padi, ada pengayaan untuk dipilih padi yang benar-benar berkualitas.
Dari itu, tulisan ini sebenarnya omong kosong dan retorika belaka. Itu harus saya akui. Oleh karena sedemikian disiplin ilmu dan prinsip yang saya jadikan idealisme sendiri belum sepenuhnya bisa terlaksana dengan baik dan benar. Namun, paling tidak dari tulisan ini sedikit memberi rem dan refleksi bagi kita semua untuk tidak terlalu jauh terseret pada sistem yang curang. Jika kita tidak bisa melakukan semuanya, minimal ya tidak meninggalkan semua. Pun demikian dengan idealisme saya, walau belum bisa saya laksanakan sepenuhnya minimal tidak lantas ditinggal semuanya. Syukur selalu eksis dan berkobar-kobar didada dan teraplikasi dalam dunia nyata.
Purworejo, 30 April 2012

REFLEKSI ATAS KEGALAUAN INDONESIA DEWASA INI

Hari ini Jum’at, 16 Maret 2012 merupakan hari yang cukup menyenangkan bagiku. selama beberapa tahun terakhir aku absen dengan yang namanya olah raga, namun dua hari ini mulai kujalankan lagi olahraga. Aku tidak tahu mengapa dua hari ini aku mulai sadar. Padahal, setiap paginya di Alun-alun Purworejo tidak pernah sepi dari kerumunan orang lari pagi. Setelah hari pertama kemarin aku memulainya bersama temanku, Anis Makhrus. Ini pagi kujalani sendiri. Dimulai dari base camp IPNU sampai dengan Alun-alun kota. Disana aku singgah sebentar untuk sarapan pagi dengan Sate Lontong. Nikmat Rasanya. Tak heran rasa sehat dan nyaman mulai kurasakan di tubuhku yang relative kurus ini. Namun demikian, rasa sehat dan bugar sepertinya tidak dialami oleh Indonesia akhir-akhir ini. setelah beberapa waktu dilanda Musibah Gunung Merapi yang meletus, kini kasus korupsi, pelanggaran hak-hak asasi manusia sampai beberapa skandal pejabat Negara mewarnai televisi hampir setiap hari. Tak hanya itu, kemiskinan yang merajalela, tidak adanya supremasi hukum sampai yang lebih parah lagi korupsi besar-besaran yang dialami Partai Penyangga utama Negara, Parta Demokrat, meracuni generasi muda di televisi setiap hari menjadi catatan kelam yang membuktikan Indonesia hari ini tidak sehat. Tambah lagi, 01 April mendatang pemerintah berencana menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang memicu demonstrasi dan kericuhan dimana-mana. Di bidang agama, banyak terjadi kekerasan yang membawa symbol-simbol agama tertentu. Dalam kesengsaraan ini, banyak pengamat justru menuding pemerintah menambah-nambah penderitaan rakyat dengan kebijakan yang pro kapitalisme. Kasus berdarah antara rakyat dengan PT Freeport juga sampai hari ini masih terkatung-katung. belum lagi perusahaan-perusahaan asing yang mencekik rakyat baik dengan kebijakannya maupun dengan eksplorasi tenaga karyawan dan buruhnya yang rata-rata masyarakat pribumi. Ditengah jeritan masyarakat yang demikian, lucunya pemerintah justru banyak meng-impor produk-produk luar negeri seperti beras, jeruk, kedelai sampai garam. sebuah ironisme yang dialami oleh negeri yang subur makmur seperti Indonesia. Berbicara tentang Indonesia, tak usah diragukan lagi alam dan potensi yang terkandung didalamnya. Tuhan seakan berlebih dalam memberi kekayaan terhadap negeri yang mayoritas berpenduduk muslim-sunny ini. namun demikian, pemimpin dan rakyatnya belum bisa mengolahnya secara maksimal-proporsional untuk kemakmuran seluruh tumpah darahnya. Di Indonesia ini, semua ada. Bahkan tongkat yang ditanjapkan saja akan menjadi pohon yang lebat, untuk membuktikan betapa suburnya alam mini. Pulaunya ribuan. Hamparan sawahnya menjadi panorama indah yang menenangkan hati. Keramahan rakyatnya menjadi perhatian seluruh penjuru dunia. Namun demikian, capital social tersebut sekali lagi belum mampu diserasikan dan diselaraskan dengan keadaan sehingga cita-cita masyarakatnya untuk hidup tenteram itu pun masih sulit tercapai. Ditengah kegalauan masyarakat yang demikian hebatnya, untung Indonesia masih memiliki pemimpin yang sesungguhnya. Mereka tidak diangkat melalui pemilihan secara demokrasi atau apapun. Mereka diangkat menjadi pemimpin non-formal oleh masyarakat karena keteladanan dan pengabdiannya kepada masyarakat. Mereka bekerja tanpa pamrih dan mengabdi setulus hati. Mereka itulah para ulama dan kyai yang masih setia untuk membimbing dan meningkatkan moral dan mindset masyarakat. Mereka mengajarkan ilmu dan filosofi kehidupan di pesantren-pesantren dengan penuh khidmah. Pun demikian dengan para santri yang berguru dan kader-kader ulama yang belajar agama kepada mereka dengan tulus belajar tanpa mengharap ijazah dan kedudukan tertentu. Untung Indonesia masih memiliki itu semua. Walau begitu, dalam kancah nasional para ulama masih absen atau kurang dalam mengawal dan mempengaruhi kebijakan. Menurut Prof. Faisal Ismail salah satu dosen IAIN Walisongo Semarang, Benteng pertahanan moral terakhir bangsa Indonesia kini hanya ada di ribuan pesantren-pesantren yang tersebar diseluruh pelosok nusantara. Menurutku pernyataan tersebut tidak berlebihan mengingat era modernisme yang ditandai dengan cepatnya arus informasi dan komunikasi ini dunia seakan tak punya sekat. Globalisasi benar-benar membawa nilai-nilai yang regressif bagi tatanan masyarakat Indonesia. Mulai makanan, mode, gaya hidup sampai moral hari ini menjadi kacau dan memprihatinkan. Selain terbukti alumni pesantren yang setia mendampingi masyarakat, terutama kelas bawah, pentas ulama di kancah nasional juga berperan cukup signifikan. Menghadapi semua problem diatas, memang tak mudah. aku sendiri tak sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Sekat dan fiksi yang terlalu banyak di Indonesia baik berupa partai, agama maupun organisasi social harus bersatu padu untuk bangkit dari keterpurukan. semua masyarakat harus bergandeng tangan seperti para funding father kita dulu dalam mencapai kemerdekaan. Sokarno, Hatta, KHWahid Hayim, H Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, AA Maramis dan kawan-kawannya memiliki pemahaman dan konsepsi yang berbeda dalam membangun Indonesia. Namun demikian, mereka tetap “duduk bersama untuk kemajuan bersama”. Bedanya sekarang dengan dulu adalah, kalau dulu mereka duduk bersama untuk kemajuan bersama, namun sekarang “duduk bersama untuk kemajuan atau kepentingan kelompok masing masing”. Demikian sedikit refleksi catatan hari ini, sambil menghilangkan keringat yang masih menempel di dada. Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. untuk itu, saya pribadi membuka kesempatan dialog, kritik dan saran apabila itu dibutuhkan. ini sebatas refleksi dari kegalauan hati yang tentunya bukan kitab suci yang selalu benar. penulis siap diluruskan apabila memang bengkok. akhirnya, karena keterbatasan yang kumiliki, bisanya ber”doa” dan mencoba melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membangun Indonesia kedepan. adalah lebih baik menyalakan lilin walaupun kecil daripada berlarut dalam kegelapan. Hal yang kulakukan adalah mempersiapkan generasi muda dengan suatu wadah organisasi untuk kemudian dibina, agar supaya kelak menjadi penggati kepemimpinan yang baik, amanah, adil, jujur, bijaksana dan mengayomi. Sekian. Hidup Indonesia…!!!

Hakikat Wali

Dalam tradisi keilmuan Nusantara, dikenal istilah wali. Diantara kata wali yang paling populer adalah ‘walisanga’ yang berarti wali sembilan sebagai penyebar Islam pertama di Nusantara. Wali juga biasa diidentikkan dengan seseorang yang memilki kelebihan (karomah). Sebagian dari masyarakat muslim mempercayai keberadaan dan ‘kelebihan’ yang dimiliki para wali dan sangat menaruh hormat kepada mereka. Kepercayaan itu diungkapkan dalam bentuk mengunjungi maqbaroh untuk bertawassul kepada mereka. Akan tetapi sebagian masyarakat yang lain tidak percaya dengan keberadaan wali bahkan menganggap para wali sebagai sarang ke-bid’ah-an. Hal ini terjadi karena miskinnya pengetahuan atau seringnya pemaknaan kata wali yang merujuk pada hal-hal negatif.

Menurut bahasa, kata wali itu kebalikan dari ‘aduw, musuh. Bisa jadi berarti sahabat, kawan atau kekasih. Umumnya wali Allah diartikan kekasih Allah. Menurut istilah ahli hakikat, wali mempunyai dua pengertian, Pertama, orang yang dijaga dan dilindungi Allah, sehingga dia tidak dan tidak perlu menyandarkan diri dan mengandalkan pada dirinya sendiri. Seperti dalam al-Qur’an surah al-A’raf 196
Artinya: Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

Kedua, orang yang melaksanakan ibadah kepada Allah dan menanti-Nya secara tekun terus menerus tak pernah kendur dan tidak diselingi dengan berbuat maksiat, maka Allah pun mencintainya.

Kedua-duanya merupakan syarat kewalian. Wali haruslah orang yang terpelihara (mahfudz) dari melanggar syara’ dan karenanya dilindungi oleh Allah, sebagaimana nabi adalah orang yang terjaga (ma’shum) dari berbuat dosa dan dijaga oleh-Nya.
Ada beberapa hal yang dapat dijadikan penanda bagi wali Allah
a. Himmah atau seluruh perhatiannya hanya kepada Allah
b. Tujuannya hanya kepada Allah
c. Kesibukannya hanya kepada Allah

Ada juga yang mengatakan tanda wali Allah adalah senantiasa memandang rendah dan kecil kepada diri sendiri serta khawatir jatuh dari kedudukannya (di mata Allah) di mana ia berada. (baca Jamharatul Auliya wa A’lamu Ahlit Tatsawwuf, hal 73-110)

Kalau menurut al-Qur’an, ini tentu saja paling benar, wali Allah adalah orang-orang mu’min yang senantiasa bertakqwa dan karenanya mendapat karunia tidak mempunyai rasa takut (kecuali kepada Allah) dan tidak pernah bersedih. Seperti dalam al-Qur’an surah Yunus: 62-63

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Artinya: Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Alloh tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, (Yaitu mereka) adalah orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa 

Atau dengan kata lain, wali Allah adalah orang mu’min yang senantiasa mendekat (taqarrub) kepada Allah dengan terus mematuhi-Nya dan mematuhi Rasul-Nya. sehingga akhirnya dia dianugrahi karomah, semacam ‘sifat ilmu niluwih’ (seperti mukjizat Nabi. Bedanya, mu’jizat nabi melalui pengakuan –dan sebagai bukti- kenabian; sedang karomah wali tidak mengikuti pengakuan kewalian).

Dalam sebuah hadits qudsi (hadits Nabi saw. yang menceritakan firman Allah) yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Shahabat Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda:
إن الله تعالى قال: من عادى لي وليا فقد أذنته بالحرب وما تقرب إلـي عبدى بشيئ أحب إلـي مما افترضته عليه ولايزال عبدى يتقرب الـي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذى يسمع به وبصره الذى يبصربه ويده التى يبطش بها ورجله التى يمشى بها وإن سألنى لأعطينه وإن استعاذنـي لأعيذنه

Artinya: Allah Ta’ala telah berfirman: Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku benar-benar mengumumkan perang terhadapnya. Hamba-Ku tidak berdekat-dekat, taqarrub, kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai melebihi apa yang telah aku fardhukan kepadanya. Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekat-dekat kepada-Ku dengan melaksanakan kesunahan-kesunahan sampai Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya dengan apa ia mendengar. Akulah penglihatannya dengan apa ia melihat. Akulah tangannya dengan apa ia memukul. Akulah kakinya dengan apa ia berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya, jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya.

Boleh saja orang mempunyai ‘sifat linuwih’ misalnya bisa membaca pikiran orang, bisa berkomunikasi dengan binatang atau orang yang sudah mati, bisa berjalan di atas air, atau kesaktian-ksaktian lainnya, tetapi tentu saja dia tidak otomatis bisa disebut wali. Sebab dajjal, dukun, tukang sihir, ‘ahli hikmah’ tukang sulap atau paranormal pun bisa memperlihatkan kesaktian semacam itu.

Sebaliknya bisa saja seorang wali dalam kehidupannya sama sekali tidak tampak lain dari orang-orang biasa. Lihat saja dari kesembilan wali Tanah Jawa, yang terkenal punya kesaktian hanya Sunan Kalijogo yang mempunyai kesaktian membuat soko guru masjid Demak dari tatal dan Sunan Bonang yang mengubah buah pinang tampak menjadi emas. Jadi kewalian seseorang tidak diukur dengan keanehan dan kesaktiannya, perilaku ataupun pakaiannya melainkan kedekatan dan ketakwaan kepada Allah.

(sumber: Fikih Keseharian Gus Mus)

Cara dan Hukum Melaksanakan Haul

Kalau kita amati, akhir-akhir ini banyak dijumpai acara haul, baik yang diselenggarakan perorangan maupun organisasi. Ada yang dilangsungkan secara sederhana, dengan memanggil kerabat serta tetangga dekat, untuk bersama-sama melaksanakan tahlil atau khataman Al-Qur’an.

Adapula yang mengundang dai atau ulama untuk memberikan wejangan keagamaan dan mau’idhah hasanah, dalam suatu forum terbuka yang populer dengan pengajian umum.
Meski budaya haul sudah berjalan sejak lama di Indonesia dan menjadi tradisi, ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai perbuatan terlarang dengan anggapan bid’ah, tidak bermanfaat baginya.

Untuk mengetahui status hukum haul, tidak bisa dilepaskan dari bentuk kegiatan dalam rangkaian acaranya. Artinya, menghukumi haul sama saja dengan menghukumi perbuatan yang terdapat dalam perhelatan itu sendiri.

Haul sebenarnya diserap dari bahasa Arab al-haul yang berarti tahun. Dalam bab zakat sebagaimana kita jumpai dalam literatur-literatur fiqih, haul menjadi syarat wajibnya zakat hewan ternak, emas, perak, serta harta dagangan. Artinya, kekayaan tersebut baru wajib dikeluarkan zakatnya bila telah berumur satu tahun.

Dari hal itu tampak adanya kesesuaian antara makna lughowi haul dengan acara ‘haul’ dimaksud. Sebab, dalam kenyataannya acara haul dilakukan satu tahun sekali, pada hari kematian /wafatnya orang yang di hauli. Jika kita perhatikan, muatan peringatan haul tidak lepas dari tiga hal.

Pertama, tahlilan dirangkai doa kepada si mayit. Kedua, pengajian umum yang kadang dirangkai dengan pembacaan secara singkat sejarah orang yang di hauli, yang mencakup nasab, tanggal lahir atau wafat, jasa-jasa, serta keistimewaan yang kiranya patut diteladani. Ketiga, adalah sedekah, baik diberikan kepada orang-orang yang berpartisipasi pada dua acara tersebut, atau diserahkan langsung ke rumah masing-masing. Status hukum tiga hal tersebut, dengan sendirinya akan menentukan hukum haul.

1. Tahlil/baca Al-Quran/mendoakan mayit.
Mayoritas ulama dari empat mazhab, sebagaiman diterangkan Syeikh KH.Ali Ma’sum Al-Jogjawi (dari jogakarta) dalam kitab Hujjah Ah Assunnah wa Al-jam’ah, berpendapat pahala ibadah atau amal saleh yang dilakukan orang yang masih hidup bisa kepada kepada mayit. Pengertian atau amal saleh di sini umum, mencakup bacaan Al-Quran, dzikir, sedekah dan lain-lain. Mendoakan juga berguna baginya. Mendoakan orang yang telah meninggal jelas berbeda dengan berdoa kepadanya.

Yang pertama berarti memintakan kepada Allah Swt. Agar mendapat pengampunan, tempat yang layak di akhirat atau agar di bebaskan dari siksa. Hal itu tentu saja diperbolehkan. Bahkan, termasuk beberapa amal jariyah yang pahalanya terus mengalir adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Sedang yang kedua, berdoa kepada si mayit, jelas dilarang dan bisa menjurus kepada perbuatan syirik (surat Yunus ayat 106). Berdao atau meminta sesuatu pada mayit berbeda pula dari tawassul (surat Al-Maidah ayat 35)

2. Pengajian
Pengajian merupakan salah satu dakwah billasan (dengan ucapan). Untuk memberikan wawasan, bimbingan dan penyuluhan yang bertujuan meningkatkan kualitas ketakwaan kaum muslimin, dengan jalan memperluas pemahaman mereka tentang ajaran agamanya. Peningkatan iman dan takwa diharapkan akan mendorong melakukan amal saleh, baik ibadah ritual, individual, maupun social.

Dari sana pula diharapkan moralitas dan etika dikalangan masyarakat meningkat. Pola dakwah dalam bentuk pengajian memiliki beberapa kelebihan, di sampinng kekurangan. Kelebihannya, peserta tak perlu mengeluarkan biaya, dapat menampung jumlah yang banyak dari berbagai lapisan, temanya bisa disesuikan dengan kebutuhan masyarakat setempat, dan pesan-pesanya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan dicerna sesuai kadar intelektual pesertanya.

Melihat tujuan-tujuan tersebut, kita tidak perlu memper-masalahkan status hukum pengajian, asal pesan-pesan yang di sampaikan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Pengajian termasuk pelaksanaan amal ma’ruf nahi munkar.

3. Sedekah
Adapun sedekah yang pahalanya di berikan/hadiahkan kepada mayit, pada dasarnya diperbolehkan. Karena hal itu termasuk amal saleh, seperti disinggung di atas.
Dari keterangan tersebut, jelas aktivitas dalam rangkaian upacara haul dibenarkan adanya. Maka dengan sendirinya haul itu sendiri tidak dilarang.

sumber nu online: www.nu.or.id pada 16/02/2012 19:49

NEW YEAR SELEBRATION

Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.
Karena ini malam tahun baru, aku akan menulis sedikit pandanganku tentang hal itu. Menurutku, tahun baru adalah pergantian tahun lama menuju tahun yang selanjutnya. Biasanya, tahun baru diperingati dengan berbagai cara yang dibeberapa kota atau negara besar digelar dengan amat mewah dan menghabiskan banyak dana. Aku nggak tahu kapan dimulai peringatan tahun baru ini, tapi yang jelas semenjak aku dewasa hal itu selalu ada dan terjadi tiap tahun. Sejarahnya gimana, itu urusan belakang lah…yang penting aku ingin menyikapi hari ini saja…Oke???
Sepanjang ini pengetahuanku belum mengerti apa arti tahun baru itu. Bahkan, kadang aku berpikir orang-orang yang merayakan tahun baru itu hanya sekadar “ikut-ikutan” dan “krubyak-krubyuk” dan hampa akan makna. Ketika tahun baru orang-orang lebih banyak berkata “selamat!, selamat!” tanpa tahu untuk apa sebenarnya selamat itu? dan selamat itu ada untuk apa? Lebih-lebih ucapan itu dengan hiruk-pikuk terompet dan pesta kembang api. Parah lagi, momentum tahun baru digunakan oleh anak-anak muda untuk “bercinta” dengan “aneka cara” mengaktualisasikanya…huft…satu lagi, menurut salahsatu temanku yang dari kalangan anak “jalanan”, banyak yang memanfaatkan mala tahun baru untuk mabuk-mabukan dan ML(Making Love), berat bukan?
Beberapa pemaknaan dari orang-orang yang kuanggap “kompeten” di bidang sosial dan pendidikan sebenarnya memiliki konsep bagus mengenai hal ini. Diantara adalah ibu Ni’mah Nurbaiti, salah satu guru teladan nasional yang pernah menjadi dosenku, merekomendasikan perlu adanya “resolusi diri” tentang perjalanan hidup selama setahun terakhir di tahun baru. Resolusi diri tersebut menginventarisir apa saja yang sudah kita capai dalam setahun terakhir dan hal-hal yang belum tercapai. Selain itu juga ada semangat untuk membuat target apa saja di tahun mendatang? Dengan begini, perayaan tahun baru ada nuansa spirit positif yang dapat menghantarkan orang-orang menuju titik capaian tertentu.
Sejalan dengan pendapat Ibu Ni’mah diatas, agama islam sebenarnya sudah menginformasikan kita 14 abad yang lalu untuk selalu me-resolusi diri atau istilah nyaman-nya muhasabah. Bahkan, muhasabah senantiasa dianjurkan setiap waktu apakah yang kita lakukan sudah baik atau belum? Sudah dapat memberi manfaat untuk orang lain apa belum? Sudah bisa memberi kebahagiaan untuk orang lain apa sebaliknya? Sudah melaksanakan kewajiban-kuwajiban kita sebagai hamba atau belum? dan seterusnya.
Namun demikian, realita yang ada di tengah-tengah kita nampaknya masih jauh dengan apa yang telah dikonsepsikan dalam islam sendiri. Soal apakah tahun baru itu budaya islam atau buka?bagiku tidak penting; karena menurutku itu hanya bungkus luarnya saja. Namun yang penting adalah pemaknaan dan perayaanya yang dilaksanakan dengan positif dan sejalan dengan nilai-nilai ke-islaman, minimal tidak melanggar ketentuan-ketentuan hukum tuhan. Jadi, kalau ada orang yang ribut menyalahkan itu adalah budaya non-islam, aku tak ambil pusing. Yang penting adalah isi dari pelaksanaan perayaan tersebut. Boleh sepakat boleh tidak!
Melihat hal yang demikian seperti uraian diatas, apa yang seharusnya dilakukan? Dibiarkan saja atau perlu adanya pemaknaan ulang? Itu tergantung dari person kita masing-masing. Namun menurutku, harus ada upaya sistematis dari sang pemilik kekuasaan dan berbagai elemen seperti tokoh masyarakat, budayaan, intelektual dan para pemuka agama. Jika dulu walisongo bisa merubah tradisi “sesajen” yang sarat akan dinamisme-animisme menjadi “slametan” yang sarat dan sejalan dengan tuntunan al-Quran dan Hadis, bisakah tokoh-tokoh sekarang merubah perayaan itu menjadi sebuah transformasi besar budaya islam? Itu butuh waktu dan kerja keras. Selain perlu ilmu sosial yang memadahi, agama dan pengetahuan masakini, juga dibutuhkan orang-orang yang anti-kemapanan! Wallahu A’lam

Profil Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar yang sedang sakit.

Dahlan Iskan dibesarkan di lingkungan pedesaan dangan kondisi serba kekurangan. Orangtuanya tidak ingat tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya memilih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul Ganti Hati (catatan tersebut dapat dibaca di Pengalaman Pribadi Menjalani Tranplantasi Liver) pada tahun 2008. Buku ini berisi tentang penglaman Dahlan Iskan dalam melakukan operasi cangkok hati di Cina.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.

Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.

Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta.

Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Sejak awal 2009, Dahlan adalah sebagai Komisaris PT. Fangbian Iskan Corporindo (FIC)yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong. Dengan panjang serat optik 4.300 kilometer

Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Dahlan juga berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

Pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN yang menderita sakit. Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena ia berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat
untuk melakukan reformasi PLN.

/diolah dari berbagai sumber

PMII Berhasil Dideklarasikan di Kampus Muhammadiyah

PURWOREJO, – Perguruan tinggi Muhammadiyah yang kerap disebut resisten terhadap perkembangan organisasi pergerakan mahasiswa ternyata hanya padangan stereotipe belaka. Faktanya, organisasi ekstrakurikuler Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Purworejo ternyata berhasil mendeklarasikan diri dengan membentuk komisariat di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP).

Bahkan, meskipun belum genap setahun jumlah kadernya terus bertambah, mengalahkan kader organisasi ekstrakurikuler lainnya yang telah lebih dahulu ada di kampus ini. Saat ini setidaknya sudah ada 52 mahasiswa UMP yang menjadi kader PMII komisariat yang diberi nama Ahmad Dahlan ini.

Para aktifis PMII komisariat Ahmad Dahlan ini menggelar rapat tahunan komisariat (RT) akhir pekan lalu di kampus STAINU Purworejo. Kegiatan yang dengan tema “Menjadikan RTK I Sebagai Batu Pijakan untuk Profesionalisme Pergerakan Berbasis Aswaja Menuju Transformasi Kader di Ranah Kampus” ini diikuti oleh 30 mahasiswa yang semuanya kuliah di UMP.

Agenda utama RTK tersebut adalah mendemisionerkan pengurus lama dan memilih ketua umum baru, di samping menetapkan rekomendasi-rekomendasi untuk kepengurusan periode selanjutnya. RT berhasil memilih Mohammad Amir Mahmud sebagai Ketua PMII Komisariat Ahmad Dahlan di UMP.

Ketua Umum PMII Cabang Purworejo Ahmad Khusnaeni mengapresiasi terselenggaranya RTK tersebut. Dia menyatakan pentingnya identitas pergerakan melekat pada pribadi masing-masing anggota PMII.“ Untuk bergerak secara massif menuju pada profesionalisme organisasi dibutuhkan adanya komitmen dan identitas pergerakan dari masing-masing anggota yang terakomodir dalam organisasi,” katanya.

sumber: suaramerdeka.com 12 Desember 2011 | ( Nur Kholiq / CN34 / JBSM )

PC IPNU-IPPNU PURWOREJO RESMI DILANTIK

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Cabang Purworejo resmi dilantik. Dalam kesempatan itu Ahmad Naufa Khoirul Faizun dilantik sebagai ketua IPNU sedangkan Rekanita Aniroh dilantik sebagai ketia IPPNU periode 2011-2013.

Prosesi pelantikan Pengurus Cabang IPNU IPPNU yang dilaksanakan di Aula UPT P&K Kecamatan Bayan tersebut dihadiri oleh Pengurus Wilayah IPNU & IPPNU Jawa Tengah, Kepala Dinas P danK , Polres Dandim 0708, Ketua Tanfidziyah NU perwakilan Badan Otonom, Ormas, Parpol dan organisasi kemahasiswaan serta kader Anak Cabang, Ranting dan Komisariat IPNU IPPNU se Kabupaten Purworejo.

Selain prosesi pelantikan, dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan Seminar Kewirausahaan oleh H Bukhori, pengusaha dari Jogjakarta.

Dalam sambutannya Drs. Bambang Aryawan, M.Pd mewakili Bupati Purworejo berpesan bahwa Sebagai organisasi kader, IPNU IPPNU dituntut untuk ikut berperan dalam membangun kesadaran berwirausaha bagi para generasi muda. Hal ini sangat penting sebagai bekal generasi muda menghadapi era Globalisasi.

“Secara pribadi saya berpesan supaya kader IPNU-IPPNU tidak mudah menyerah dalam berusaha, karena kegagalan adalah langkah yang harus dilalui bagi orang-orang yang ingin sukses,” tandasnya. Hal senada juga disampaikan Ketua aPC IPNU Puworejo Ahmad Naufa Khoirul Faizun saat memberi sambutan.

“Ada dua hal penting yang kiranya kedepan akan menjadi prioritas IPNU dan IPPNU. Dua hal tersebut sesuai dengan tema Pelantikan dan Rakercab Tahun ini yaitu: merumuskan kemandirian organisasi yang berbasis pengetahuan dan wirausaha. Pengetahuan dan kewirausahaan inilah yang kedepan akan kita galakkan supaya kader betul-betul bisa mandiri, minimal mandiri secara pribadi yang bagi kader IPNU mencakup 3 hal yaitu perut, bensin dan pulsa,” katanya, yang disambut tawa para hadirin.

Mufti Rosyadi selaku ketua panitia ketika ditemui menyampaikan bahwa selain pelantikan dan seminar wirausaha, sorenya juga dilaksanakan rapat kerja cabang untuk merumuskan bersama agenda kerja yang akan dijalankan oleh organisasi selama dua tahun kedepan. “Dari rakercab inilah kami akan menentukan langkah kerja sesuai dengan potensi dan aspirasi dari kader didaerah, karena peserta yang menyusun program kerja ini adalah representasi dari kader yang ada di PAC, Ranting dan Komisariat,” tuturnya.