Wawancara Bersama Ketua PC IPNU Purworejo

Berangkat dari keingintahuan kader IPNU di Loano, Purworejo untuk mengetahui sosok Ketua PC, Buletin MATAHATI mengangkat sedikit profil dan gagasan sang Ketua. Berikut adalah wawancara Redaksi Buletin MATAHATI PAC IPNU Kecamatan Loano dengan Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo 2011-2013, A. Naufa Khoirul Faizun.

Dari kacamata rekan Naufa, IPNU-IPPNU itu seperti apa?

Dalam kacamata saya, IPNU dan IPPNU merupakan organisasi yang dibutuhkan pemuda dan pemudi saat ini untuk menghadapi masa depan zaman yang semakin menantang. Mengapa demikian? Karena IPNU dan IPPNU memenuhi tiga aspek penting yang dibutuhkan pemuda dan pemudi saat ini. Ketiga aspek tersebut adalah Intelektual, Spiritual dan Sosial. Di IPNUdan IPPNU kita programkan diskusi rutin baik yang bersifat wacana keagamaan maupun umum. Dengan inilah kebutuhan pengetahuan kader terpenuhi agar bisa survive ditengah gempuran modernisasi zaman. Adapun spiritual adalah aspek penting yang mulai ditinggalkan pemuda-pemudi dewasa ini. Riyadhah dengan shalat malam, puasa sunnah, mujahadah, tahlil dan sebagainya selalu kita tanamkan agar kebutuhan rohani kader tidak kering. Terakhir adalah Sosial. Ketika beberapa waktu lalu PP Al-Iman tertimpa musibah kebakaran, kita gerakkan seluruh kader untuk melakukan aksi solidaritas. Waktu itu terkumpul dana sebesar Rp. 7.000.000,-an untuk membantu. Nah, aksi social semacam ini kita tanamkan agar kader memiliki kepekaan social terhadap masalah yang terjadi di sekelilingnya, sehingga nantinya ketika terjun di masyarakat bisa bermanfaat untuk orang lain.

Menurut Anda apa target yang sudah berhasil dipenuhi PC Purworejo sejauh ini? Dan apa langkah-langkah kedepannya lagi?

Jalan yang sudah di tempuh PC IPNU-IPPNU Purworejo pada tahap awal ini adalah pengembangan organisasi, dimana Kecamatan yang belum terbentuk kita bentuk kepengurusanya. Setelah itu, kita juga mencoba mengawal dan membimbing agar PAC yang sudah terbentuk bisa mandiri. Untuk langkah kedepan, kita akan bentuk Tim Fasilitator Cabang yang bertugas memenuhi kebutuhan kader tentang keilmuan dengan satu per satu bidang. Contoh, bagi kader yang ingin memperdalam Aswaja sudah ada ‘ahlinya’ dari cabang, begitu seterusnya.
Selanjutnya kita mendorong kader IPNU dan IPPNU untuk mandiri. Kedepan kita akan adakan pelatihan-pelatihan yang bertujuan meningkatkan skill kader dengan bekerjasama dengan berbagai institusi. Kita juga sudah membuka took “Berjuta” untuk menopang ekonomi organisasi. Minimal, kader IPNU-IPPNU nantinya bisa survive dan tidak tergantung pemerintah seperti bercita-cita Pegawai. Kita tidak membatasi, namun member alternative lain karena kita tahu sendiri, lowongan dengan jumlah pendaftar pegawai saat ini jauh dari seimbang. Kita dorong kader untuk menjadi pengusaha.
Dalam internal organisasi, kita juga akan bentuk Koordinator Kecamatan. Dari 16 Kecamatan yang ada di Purworejo, nanti kita bagi empat. Masing-masing nanti ada koordinatornya yang mengawal dan membimbing perjalanan organisasi. Ini kita rumuskan tanggal 27 November mendatang pada Rapat Kerja Cabang sekaligus Pelantikan. Selain itu, kita juga mencoba kerjasama dengan sekolah-sekolah umum dan berbagai remaja masjid untuk menjaring dan membina pemuda-pemudi. Ini penting mengingat banyak remaja hari ini yang kurang memiliki wadah mengekspresikan diri.

Bagimana Anda menghadapi problematika dalam pengenalan IPNU-IPPNU ini kepada pelajar? yang kita tahu semakin hari semakin jauh dengan organisasi semacam ini. Mungkin ini bisa jadi tips buat para pengurus yang lain…
strateginya simple. Kita tak usah ‘jualan’ IPNU dulu untuk masuk ke sekolah umum. Bisa dengan Pelatihan Leadership, Jurnalistik atau Pelatihan Tataboga misalnya. Dari situ, alumninya kita akomodir diluar sekolah dan perlahan kita kenalkan dengan IPNU dan IPPNU. Kita harus mampu membaca kemauan dan apa yang disuka kader; jangan mengadakan kegiatan yang bersifat monoton, kecuali ritual agama. Dalam kaderisasi, kita harus jeli melihat kekuatan kita, kelemahan, peluang, tantangan lalu dipadu dengan strategi khusus.

Sejak kapan Anda mengenal IPNU dan sejak kapan mulai menseriusinya (atau masuk jajaran pengurus)?

pertama kali saya thu IPNU pada tahun 2000 ketika kelas I MTs An-Nawawi Berjan. Saya masih ingat, ketika itu setiap apel pagi seluruh siswa dan siswi disuruh menyanyikan Mars IPNU dan IPPNU oleh Bapak Kepala yang waktu itu dipegang oleh Bp. Muslikhin Madiani. Sedangkan secara organisasi, saya dikenalkan oleh Ibu Nurul Qomariyah, S. Sos. Dan diajak nyanyi “Bersemilah” ketika masa orientasi siswa. Namun, saya mulai bergelut di IPNU ketika kelas 2 SMA. Ketika itu satya menjabat Wakil Ketua IPNU Komisariat MA An-Nawawi yang sering mewakili jika ada undangan dari PC IPNU. Mulai itu saya terlibat banyak di IPNU sampai diangkat menjadi Ketua Panitia Lomba Karya Ilmiah Remaja. Jadi saya berproses tidak lewat PAC, tetapi PK (Pengurus Komisariat). Dan saya mulai serius ketika sudah lulus SMA dan seringkali mengikuti berbagai kegiatan dan rapat yang digelar berpindah-pindah. Waktu itu kita belum punya secretariat, jadi memang agak repot namun berkesan. Walau begitu, seluk-beluk IPNU baru saya ketahui ketika jadi Wakil Sekretaris periode lalu yang member ruang kepada saya untuk berselancar kesana-kemari mengurusi organisasi.

Kita tahu dedikasi rekan Naufa untuk IPNU luar biasa, bahkan tidak dari satu dua orang redaksi menerima cerita rekan Naufa ngelindur berpidato saat tidur. Sangat luar biasa sekali. Ada tips khusus agar anggota yang lain bisa memiliki semangat yang sama?

hahaha……..luar biasa? Saya kira sama saja. Setiap dari kita punya potensi sama walaupun bakat yang berbeda. Salah satu hal penting yang harus rekan-rekan jalani adalah keikhlasan dan semangat memberi, bukan menerima. Saya teringat pesan KH Ali Maksum, Krapyak, bahwa kader NU itu harus mengerti 4 hal, yai: Tahu NU(al-Ma’rifatu bi Nahdlatil Ulama), Percaya NU (As-Tsiqatu bi Nahdlatil Ulama), Berjuang dengan NU (al-Jihadu bi-Nahdlatil Ulama)dan terakhir, Sabar dengan NU (as-Shabru bi-Nahdlatil Ulama). Nah, kader IPNU rata-rata belum tahu manfaat organisasi, sehingga mereka banyak yang masih bermalas-malasan. Padahal, manfaat organisasi tidak akan kelihatan langsung, tetapi 10-15 tahun kedepan. Selain itu, kita juga harus nita untuk Me;layani Ulama dan Ummat (Khadimul Ulama wa Khadimul Ummah). Saya juga teringat pesan Kyai Chalwani berjan bahwa “Jika kita melayani orang lain, Allah akan melayani kita”, inilah prinsip yang selalu saya pegang. Kalau soal tidur ngigo, itu biasa lah, mungkin terlalu capek dalam kegiatan, hehe…

Terakhir, apa harapan Anda untuk IPNU-IPPNU kedepannya?

Harapan saya untuk kader IPNU dan IPPNU yang pertama adalah tetaplah semangat dalam berjuang mengisi organisasi ini. Saya berani menjamin, kelak akan beda rekan-rekan yang aktif di organisasi dengan yang tidak. Kedua, tetap seimbang antara organisasi dengan bangku sekolah. Jangan sampai IPNU/ IPPNU justru dituduh menghambat prestasi. Tudingan semacam itu harus kita patahkan lewat prestasi. Selanjutnya, nilai keikhlasan dan akhlakul karimah harus ditampilkan dalam organisasi kita. Kader IPNU dengan IPPNU harus memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Terakhir, nantinya batu terjal perjuangan akan selalu menjumpai kita. Tak ada sejarahnya tokoh besar meraihnya dengan kesenangan dan kemewahan. Jika kita siap dengan derita, Insya Allah kita akan biasa dengan masalah. Alhamdulillah, rekan-rekan yang hidup di cabang berani hidup menderita di sekretariat walau dirumah banyak sajian kenikmatan duniawi yang melambai. Mengapa? Oleh karena mereka percaya bahwa jalan itulah yang akan mengantarkanya kelak menuju cita-cita suci dan mulia yang banyak orang lain idamkan; hidup Bermanfaat untuk orang lain (Khairun Naasi Anfa’uhum Lin Naas).

Pembagian Daging Qurban dan Ketentuan Lain

Allah SWT telah mensyariatkan qurban dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (Al-Kautsar: 1 – 3).

Dari Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, “Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari raya Qurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Qurban. Sesungguhnya hewan Qurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah Qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Qurban itu.” (HR Tirmidzi).

Waktu Penyembelihan

Untuk qurban disyaratkan tidak disembelih sesudah terbit matahari pada hari Idul Adha. Sesudah itu boleh menyembelihnya di hari mana saja yang termasuk hari-hari Tasyrik, baik malam ataupun siang. Setelah tiga hari tersebut tidak ada lagi waktu penyembelihannya.

Dari al-Barra’ RA Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini (Idul Adha) adalah kita shalat, kemudian kita kembali dan memotong qurban. Barangsiapa melakukan hal itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu, maka sembelihan itu tidak lain hanyalah daging yang ia persembahkan kepada keluarganya yang tidak termasuk ibadah qurban sama sekali.”

Abu Burdah berkata, “Pada hari Nahar, Rasulullah SAW berkhotbah di hadapan kami, beliau bersabda: “Barangsiapa shalat sesuai dengan shalat kami dan menghadap ke kiblat kami, dan beribadah dengan cara ibadah kami, maka ia tidak menyembelih kirban sebelum ia shalat.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat, maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah shalat dan khotbah, sesungguhnya ia telah sempurnakan dan ia mendapat sunnah umat Islam. (HR Bukhari dan Muslim).

Bergabung dalam Berqurban

Dalam berqurban dibolehkan bergabung jika binatang korban itu berupa onta atau sapi (kerbau). Karena, sapi (kerbau) atau unta berlaku untuk tujuh orang jika mereka semua bermaksud berqurban dan bertaqarrub kepada Allah SWT.

Dari Jabir ra berkata, “Kami menyembelih qurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyyah seekor unta untuk tujuh orang, begitu juga sapi (kerbau).” (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Pembagian Daging Qurban

Disunahkan bagi orang yang berqurban memakan daging qurbannya, menghadiahkannya kepada para kerabat, dan menyerahkannya kepada orang-orang fakir. Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah dan berilah makan kepada (fakir-miskin) dan simpanlah.”

Dalam hal ini para ulama mengatakan, yang afdhal adalah memakan daging itu sepertiga, menyedekahkannya sepertiga dan menyimpannya sepertiga.

Daging qurban boleh diangkut (dipindahkan) sekalipun ke negara lain. Akan tetapi, tidak boleh dijual, begitu pula kulitnya. Tukang potong berhak menerimanya sebagai imbalan kerja. Orang yang berqurban boleh bersedekah dan boleh mengambil qurbannya untuk dimanfaatkan (dimakan).

Namun menurut Imam Abu Hanifah, bahwa boleh menjual kulitnya dan uangnya disedekahkan atau dibelikan barang yang bermanfaat untuk rumah.

Orang yang Berqurban Menyembelihnya Sendiri

Orang yang berkorban yang pandai menyembelih disunahkan menyembelih sendiri binatang qurbannya. Ketika menyembelih disunahkan membaca, “Bismillahi Allahu Akbar, Allahumma haadza” (Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ya Allah qurban ini dari ? [sebutkan namanya]).

Karena, Rasulullah saw menyembelih seekor kambing kibasy dan membaca, “Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma haadza anni wa’an man lam yudhahhi min ummati” (Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar, Ya Allah sesungguhnya (qurban) ini dariku dan dari umatku yang belum berqurban).” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Jika orang yang berqurban tidak pandai menyembelih, hendaknya dia menghadiri dan menyaksikan penyembelihannya.

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Fatimah, bangunlah. Dan saksikanlah qurbanmu. Karena, setetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kau lakukan. Dan bacalah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, korbanku, hidupku, dan matiku untuk Allah Tuhan semesta Alam. Dan untuk itu aku diperintah. Dan aku adalah orang-orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah.” Seorang sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, apakah ini untukmu dan khusus keluargamu atau untuk kaum muslimin secara umum? Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan untuk kaum muslimin umumnya.”

Referensi:
1. Al-Muhadzdzab fi Fiqh Madzhabil Imam as- Syafi’i, Abu Ishaaq as-Syiraazi
2. Bidaayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd
3. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

KH Ishomuddin
Dosen FAI Univ Darul Ulum Jombang
(Sumber: NU Online:www.nu.or.id 16/11/2010 15:34)

Ketentuan-ketentuan dalam Qurban

Istilah udlhiyyah adalah nama untuk hewan qurban yang disembelih pada hari raya qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq, dengan tujuan untuk taqarrub (mendekatkan diri pada Allah). Kata udlhiyyah juga terkadang digunakan untuk makna tadlhiyyah (berqurban atau melakukan qurban)

Udlhiyyah dengan menggunakan makna tadlhiyyah (melakukan ibadah qurban) hukumnya adalah sunah muakkad bagi setiap orang Islam, baligh, berakal dan mampu. Yang dimaksud mampu di sini adalah orang yang mampu melakukan ibadah qurban, dengan cara menyembelih hewan, bersamaan ia memiliki suatu kelebihan untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk dirinya dan orang yang wajib dinafkahinya, pada saat hari raya qurban dan pada hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Namun berqurban hukumnya dapat menjadi wajib apabila dinadzari. Misalnya jika seseorang berjanji akan berqurban jika ia berhasil mendapatkan prestasi tertentu.

Adapun hewan yang mencukupi dan sah digunakan berqurban adalah:
1. Domba (dlo’nu), apabila sudah berumur satu tahun sempurna dan memasuki tahun yang kedua.
2. Kambing kacang/ jenis kecil (ma’zu), apabila sudah berumur dua tahun sempurna dan memasuki tahun yang ketiga.
3. Sapi, apabila sudah berumur dua tahun sempurna dan memasuki tahun yang ketiga.

Untuk satu ekor unta dan sapi itu mencukupi untuk qurbannya tujuh orang, sedangkan kambing itu hanya mencukupi untuk qurbannya satu orang. Satu orang yang berqurban dengan satu ekor kambing itu hukumnya lebih utama dibanding orang yang berqurban dengan seekor unta atau sapi yang digunakan berqurban secara musyarakah (persekutuan) untuk tujuh orang.

Ada beberapa hal yang menyebabkan hewan tidak sah digunakan berqurban, yaitu:
1. Hewan yang buta salah satu matanya
2. Hewan yang pincang salah satu kakinya, walaupun pincangnya itu terjadi ketika akan disembelih, yaitu ketika dirubuhkan dan ia bergerak dengan sangat kuat.
3. Hewan yang sakit
Seperti sakit yang tampak jelas yang menyebabkan kurus dan dagingnya rusak.
4. Hewan yang sangat kurus hingga menyebabkan hilang akalnya.
5. Hewan yang terputus sebagian atau seluruh telinganya.
6. Hewan yang terputus sebagian atau seluruh ekornya.

Sedangkan hewan yang pecah atau patah tanduknya itu sah digunakan berqurban, begitu pula hewan yang tidak memiliki tanduk.

Hewan qurban itu diperbolehkan disembelih mulai kira-kira lewatnya waktu yang cukup untuk melakukan dua rakaat dan dua khutbah yang cepat terhitung dari terbitnya matahari pada saat hari idul adlha sampai terbenamnya matahari pada ahir hari tasyriq, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.

Sedangkan waktu penyembelihan yang utama adalah ketika matahari kira-kira tingginya sudah ada satu tombak dalam pandangan mata pada saat hari raya Idul Adha.

Ketentuan dalam Berqurban

Orang yang berqurban diharuskan melakukan niat berqurban ketika menyembelih atau menta’yin (menentukan hewannya) sebelum disembelih

Orang yang mewakilkan penyembelihan hewan qurban (muwakkil), maka sudah dianggap cukup niatnya, dan sudah tidak membutuhkan pada niatnya wakil (orang yang mewakili), bahkan apabila wakil itu tidak mengetahui bahwa muwakkil adalah orang yang berqurban itu juga dianggap cukup (sah).

Diperbolehkan bagi orang yang berqurban untuk menyerahkan niatnya pada orang Islam yang telah terkategori tamyiz, baik ia statusnya sebagai wakil atau bukan.

1. Bagi orang laki-laki hewan qurban sunnah disembelih sendiri, karena itba’ (mengikuti pada Nabi)
2. Bagi orang perempuan sunnah untuk diwakilkan, dan sunah baginya menyaksikan penyembelihan yang dilakukan oleh wakilnya

Bila qurbannya sunnah, bukan qurban yang nadzar, maka diperbolehkan baginya;

1. Sunah baginya memakan daging qurban , satu, dua atau tiga suap, karena untuk tabarruk (mencari berkah) dengan udlhiyyahnya.
2. Diperbolehkan baginya memberi makan (ith’am) pada orang kaya yang Islam
3. Wajib baginya menshadaqahkan daging qurban. Yang paling afdhal adalah menshadaqahkan seluruh daging qurban, kecuali yang ia makan untuk kesunahan.
4. Apabila orang yang berqurban mengumpulkan antara memakan, shadaqah dan menghadiahkan pada orang lain, maka disunahkan baginya agar tidak memakan di atas sepertiga, dan tidak shadaqah di bawah sepertiganya.
5. Menshadaqahkan kulit hewan qurban, atau membuatnya menjadi perabot dan dimanfaatkan untuk orang banyak, tidak diperbolehkan baginya untuk menjualnya atau menyewakannya.

Melakukan Qurban untuk Orang Lain

Tidak diperbolehkan bagi seseorang melakukan qurban untuk orang lain, tanpa mendapatkan izinnya, walaupun orangnya sudah mati.

Hal ini akan menjadi boleh dan sah apabila mendapatkan izinnya, seperti permasalahan mayit yang telah berwasiat agar dilakukan qurban untuk dirinya, namun ada beberapa pengecualian yang tanpa memandang izinnya orang yang diqurbani, yaitu;
1. Qurban dari wali (orang yang mengurus harta seseorang) untuk orang yang tercegah tasharrufnya (hak untuk mengelola harta), seperti untuk orang gila yang ada dalam perwaliannya.
2. Qurban dari imam (pemimpin muslimm) untuk orang-orang Islam yang diambilkan dari Baitul Mal (kas Negara).

Ketentuan dalam Menyembelih Hewan Qurban

Proses penyembelihan hewan qurban didahului dengan:

1. Membaca basmalah
2. Membaca Shalawat pada Nabi
3. Menghadap ke arah kiblat (bagi hewan yang disembelih dan orang yang menyembelih)
4. Membaca takbir 3 kali bersama-sama
5. Berdoa agar qurbannya diterima oleh Allah, orang yang menyembelih mengucapkan;

Rukun penyembelihan itu ada 4, yaitu;
1. Dzabhu (pekerjaan menyembelih)
2. Dzabih (orang yang menyembelih)
3. Hewan yang disembelih
4. Alat menyembelih

Syarat dalam pekerjaan menyembelih adalah memotong hulqum (jalan nafas) dan mari’ (jalan makanan). Hal ini apabila hewannya maqdur (mampu disembelih dan dikendalikan)

Kesunnahannya:

a. Memotong wadajain (dua otot yang ada disamping kanan dan kiri)
b. Menggunakan alat penyembelih yang tajam
c. Membaca bismillah
d. Membaca shalawat dan salam pada Nabi Muhammad. Karena menyembelih itu adalah tempat disyari’atkan untuk ingat pada Allah, maka juga disyari’atkan ingat pada Nabi

Syarat orang yang menyembelih:
a. Orang Islam / orang yang halal dinikahi orang Islam
b. Bila hewannya ghoiru maqdur, maka disyaratkan orang yang menyembelih adalah orang yang bisa melihat. Dimakruhkan sembelihannya orang yang buta, anak yang belum tamyiz dan orang yang mabuk.

Syarat hewan yang disembelih:
a. Hewannya termasuk hewan yang halal dimakan
b. Masih memiliki hayatun mustaqirrah (kehidupan yang masih tetap), bukan gerakan di ambang kematian kematian.

Syarat alat penyembelih:
Yaitu berupa sesuatu yang tajam yang bisa melukai, selain tulang belulang.

Kiai M. Sholihuddin Shofwan
* Katib Syuriyah MWCNU Bareng Jombang, dan Ketua LTN-NU Jombang (Dimuat NU Online, www.nu.or.id pada 09/11/2010 08:46)

Tawassul Dianjurkan dalam Islam

Rasulullah saw bersabda: Ketika Adam mengakui kesalahannya, dia berkata: ‘Wahai Tuhanku, jika aku memohonmu atas nama Muhammad, Engkau pasti akan mengampuniku’. Lalu Allah bertanya: ‘Wahai Adam, bagaimana kau tahu tentang Muhammad sedang Aku belum menciptakannya?’ Adam menjawab:’Tuhanku, sesungguhnya ketika Engkau menciptakanku, aku mengangkat kepalaku, dan aku melihat di kaki ‘Arsy tertulis “Laa ilaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah”, dan aku tahu, bahwa Engkau tidak akan pernah menyambungkan nama-Mu kecuali dengan ciptaan yang sangat Engkau cintai’. Allah berfirman: ‘Kau benar wahai Adam, Muhammad adalah makhluk yang paling aku cintai, dan ketika kau memohon kepadaku atas namanya, maka Aku telah mengampunimu. Kalau bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu”. Dalam riwayat Imam Thabrani ditambahkan:”….dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu”.

Bertawassul kepada Rasulullah saw sebagaimana do’a Nabi Adam as tersebut di atas adalah sebuah bukti bahwa berdo’a dan meminta permohonan kepada Allah melalui perantara (wasilah) bukanlah hal yang baru atau aneh, apalagi dianggap bid’ah.

Wasilah adalah segala hal yang dapat mendekatkan kepada sesuatu yang lain. Bentuk jama’ dari wasilah adalah wusul atau wasa’il. Sedangkan bentuk tunggalnya adalah tausil dan tawassul. Contohnya, “Si A bertawassul dengan sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”. Maka, dia mendekatkan diri kepada Tuhannya dengn sebuah wasilah. Maksudnya, dia mendekatkan diri kepada Allah melalui perantara amal baikya.

Allah swt berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya……(QS. Al-Maidh [5]:35)

Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman: “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang(harus) diatkuti.(QS Al-Isra’ [17]:57)

Dari dua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa pertama, dibolehkannya bertawassul kepada para Nabi dan orang-orang shaleh. Baik ketika mereka masih hidup maupun sepeninggal mereka. Kdeua, boleh juga bertawassul dengan amal baik masing-masing. Allah sendiri memerintahkan kepada kita untuk bertawassul sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw pada saat Fatimah binti Asad (ibu Ali bin Abi Thalib) wafat. Rasulullah Saw bersabda:

اَللهُ الَّذِى يحُىْ وَيمُيِتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَيَمُوْتُ اغْفِرْ لأِ مّىِ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ وَلَقّنْهَا حُجَّتَهَا وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْ خَلَهَا ِبحَقّ ِنَبِيّكَ وَاْلأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِى فَاءِنَّكَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَكَبَّرَأَرْبَعًا وَاَدْخَلُوْ هَا هُوَ وَاْلعَبَّاسُ وَاَبُوْ بَكْرٍ الّصِدّيِقِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ

“Allah yang menghidupkan dan yang mematikan dan Dialah yang hidup tidak mati; Ampunilah! Untuk Ibu saya Fathimah binti Asad dan ajarkanlah kepadanya hujjah (jawaban ketika ditanya malaikat) kepadanya dan luaskan kuburnya dengan wasilah kebenaran Nabimu dan kebenaran para Anbiya’ sebelum saya, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Rasulullah takbir empat kali dan mereka memasukkan ke dalam kubur ia (Rasulullah), Sahabat Abbas Abu Bakar As-Shaddiq r.a.” (HR Thabrani).

Dalam hadits di atas, Rasulullah bertawassul kepada Allah dengan dirinya sebagai orang yang paling mulia, juga bertawassul dengan nama para Nabi sebelumnya yang berhak mendapat shalawat dan salam.

Dalam kitab Riyadlus-Shalihin bab Wadaais-shahib hadits no.3, Rasulullah SAW mengizinkan Umar bertawassul dengannya, dan menyertakan Rasulullah saw dalam segala do’anya di Mekkah ketika umrah.

عَنْ عُمَرَبْنِ اْلخَطَّابِ رَضِىَاللهُ عَنْهُ قَالَ اِسْتَأْذَنْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى اْلعُمْرَةِ فَأذِنَ لىِ وَقَالَ: لاَتَنْسَنَا يَااُخَيَّ مِنْ دُعَائِكَ فَقَالَ كَلِمَةً مَايَسُرُّنِى اَنَّ لىِ بِهَاالدُّنْيَا. وَفِى رِوَايَةِ قَالَ اَشْرِكْنَا يَااُخَىَّ فِى دُعَائِكَ. رواه ابوداود والترمذى

“Dari shahabat Umar Ibnul Khattab r.a. berkata: saya minta idzin kepada Nabi SAW untuk melakukan ibadah umrah, kemudian Nabi mengidzinkan saya dan Rasulullah SAW bersabda; wahai saudaraku! Jangan kau lupakan kami dalam do’amu; Umar berkata: suatu kalimat yang bagi saya lelah senang dari pada pendapat kekayaan dunia. Dalam riwayat lain; Rasulullah SAW bersabda: sertakanlah kami dalam do’amu”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dalam hadits di atas Rasulullah meminta kepada sayyidina Umar untuk menyertakan Rasulullah dalam do’anya sayyidina Umar selama di Makkah, padahal kalau Rasulullah berdo’a sendiri tentu lebih diterima, tetapi beliau masih meminta do’a kepada sayyidinda Umar.

Rujukan lain untuk tawassul jenis ini seperti dalam kitab Sahhihul Bukhari jilid I, bahwa Sayyidina Umar Ibnul Khattab bertawassul dengan Rasulullah dan Sahabat Abbas ketika musim paceklik, sebagaimana disebutkan berikut ini:

عَنْ أَنَسٍ اَنَّ عُمَرَابْنَ اْلخَطَّابِ رَضِىَاللهُ عَنْهُ كاَنَ اِذَا قَحَطُوْا اِسْتَسْقىَ بِالعَبَّاسِبنِ عَبْدِاْلمُطَلِّبِ فَقَالَ: الَّلهُمَّ اِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَاِنَّا نَتَوَسَّلُ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا, قَالَ: فَيُسْقَوْنَ.
رواه البخارى

“Dari sahabat Anas; bahwasannya Umar Ibnul Khattab r.a. apabila dalam keadaan paceklik (kekeringan) ia memohon hujan dengan wasilah Sahabat Abbas Ibn Abdil Muthalib, maka berdo’a sayyidina Umar : Yaa Allah sesungguhnya kami bertawassul kepada Engkau dengan wasilah paman Nabi kami (Sahabat Abbas) maka berilah kami hujan, berkata Sayyidina Umar kemudian diturunkan hujan”. (HR Bukhari)

Bertawassul kepada orang-orang yang dekat kepada Allah seperti para nabi, rasul dan shalihin, bukan berarti meminta kepada mereka, tetapi memohon agar mereka ikut memohon kepada Allah agar permohonan do’a diterima Allah SWT. Sebab, seluruhnya juga adalah haq Allah, seperti disebutkan berikut ini:

لاَمَانِعَ لمِاَ أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لمِاَ مَنَعْتَ

“Tiada yang bisa mencegah kalau Allah mau memberi, dan tidak ada yang bisa memberi kalau Allah mencegahnya.”

قُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ, اَللهُ الصَّمَدُ

“Katakanlah Dia Allah yang Maha Esa dan Allah tempat meminta.”

Sesungguhnya bertawassul dengan berdo’a dan mempergunakan wasilah, baik dengan iman, amal shaleh dan dengan orang-orang yang dekat kepada Allah SWT jelas tidak disalahkan oleh agama bahkan dibenarkan. Bertawassul bukan berarti meminta kepada orang yang dijadikan wasilah, melainkan memohon agar yang dijadikan wasilah memberikan keberkahan untuk diterima do’a para pemohonnya.

Jadi, tidak ada unsur syirik dalam bertawassul, karena pada saat bertawassul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah Swt, seperti para Nabi, Para Rasul, para sholihin pada hakekatnya tidak bertawassul degan dzat mereka, tetapi bertawassul dengan amal perbuatan mereka yang sholeh.

Karenanya, tidak mungkin kita bertawassul dengan orangorang yang ahli maksiat, pendosa yang menjauhkan diri dari Allah Swt, dan kita juga tidak bertawassul dengan pohon, baru, guung, kuburan kramat dsb.

Oleh karena itu wajar saja jika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah, dalam risalahnya merasa perlu bertabayyun atau klarifikasi atas tuduhan beberapa orang yang ngatakan bahwa ia mengharamkan tawassul. Ia menuliskan “Sesungguhnya Sulaiman bin Suhaim telah berdusta terhadapku tentang banyak hal yang tidak pernah aku katakan, bahkan tidak pernah terlintas dibenakku. Di antaranya aku dianggap mengkafirkan orang-orang yang bertawassul melalui orang shaleh, aku juga dituduh mengkafirkan al-Bushiri karena mengatakan ‘wahai makhluk yang paling mulia’, aku juga difitnah membakar kitab dalailul khairat. semua itu hanya bisa aku jawab Maha Suci Engkau Ya Allah semua ini adalah dusta Besar.”

Malahan dalam al-Fatwa al-Kubra, Syaikh Abdul Wahab menjawab ketika ditanya tentang tawassul, beliau dengan tegas menjawab “ Tidak mengapa bertawassul dengan orang-orang Shaleh … asalkan mereka yang berdoa dengan jelas memohon seperti “aku memohon kepada-Mu dengan Nabi-Mu” atau “Dengan nama Rasul-Mu aku memohon agar…” atau “aku memohon kepada-Mu ya Allah, dengan hamba-hamba-Mu yang sholeh, semoga…” bahkan ketika mereka berdoa’a di atas kuburpun tidak ada masalah”

Wal hasil, tawassul dalam Islam dibolehkan, dan dianjurkan. Asalkan mereka yang bertawassul ini mengerti dan faham arti, serta cara-cara bertawassul. Dan sadar benar bahwa Yang Maha Kuasa hanyalah Allah swt.

Bertawassullah dengan wasilah yang disenangi Allah, atau berdo’a dengan menyebut sesuatu yang disenangi Allah, tentu Allah akan menyenangi kita, dan meridloinya. Maka apa yang disenangi Allah, seyogyanya disebut dalam do’a. Dan tidak ada yang lebih disayangi di jagad raya ini kecuali Rasulullah saw. karena itu dalam setiap doa selalu ada sholawat dan salam kepadanya.

(Ngabdurrahman al-Jawi; Sumber: NU Online 24/02/2011 13:09; www.nu.or.id)

MEWARNAI RAMADHAN DENGAN DISKUSI ONLINE

Oleh: Ahmad Naufa (17 Agustus 2011)
Pada malam ke tujuh Ramadhan aku merasa gelisah tak menentu. Entah karena otak stagnan lama berdiam diri atau terlalu banyak kegiatan yang bersifat normatif. Untuk mencari hiburan dan pencerahan aku mendatangi temanku yang biasa kuajak berdiskusi dan memecahkan masalah bersama di kontrakannya. Sesampai di disana, aku disambut dengan kopi hitam dan senyuman hangat temanku Sufridaus namanya, atau biasa dipanggil Bang Daus.
Bang Daus berasal dari Riau, namun ia sudah fasih berbahasa jawa karena memang sudah lama tinggal di Jawa. Hobi yang paling ia sukai adalah membaca dan berdiskusi. Kita biasa diskusi berjam-jam baik di angkringan, kontrakan atau ketika bertemu dalam suatu kesempatan. Tema yang menjadi pembahasan pun dinamis, mulai dari masalah sosial, politik, ekonomi, budaya sampai keagamaan. Pada malam itu pula ketika bertemu, kami tidak membuang waktu tanpa diskusi.
Setelah sampai pada tengah perjalanan diskusi, tercetus ide untuk membuat sebuah forum diskusi ilmiah. Setelah kami menyusun konsep yang efektif, muncul ide membuat Grup di Jejaring sosial facebook untuk berdiskusi dan bergulat pemikiran baik tentang masalah sosial, ekonomi, politik dan keagamaan. Dengan berbagai pertimbangan, tercetuslah nama “Forum Diskusi Intelektual Muda NU” sebagai nama grup-nya. Kamudian, kami undang teman-teman yang memiliki semangat dan kemauan berpikir untuk bergabung dalam forum tersebut.
Tanpa kami duga sebelumnya, ternyata sesaat setelah teman-teman masuk dalam grup ternyata respon ari mereka begitu tinggi. Dengan melontarkan beberapa issu saja, teman-teman yang masuk banyak yang memberi comment dan bergelut dalam diskusi yang ramai. Ratusan komentar berjejer mencari problem solving issu yang sedang dibahas. Seluruh anggota grup ketika itu seakan tak sempat membuat status yang “lebay” dan “hampa akan makna”. Mereka urun rembug mencari solusi terbaik.
Kami selaku admin pun dibuat terharu dan bangga; bahwa ternyata jika diberi ruang yang bermanfaat untuk membangun keilmuan, banyak juga user yang tertantang untuk ikut melibatkan diri didalamnya. Untuk menjaga agar grup ini selalu eksis, kami pun mengangkat pengurus (baca admin) dalam mengelolanya. Alhamdulillah, admin yang kami angkat pun merespon dengan baik dan berusaha membangun keilmuan bersama melalui wacana yang sedang hangat dan populis. Walau kami dan para user dipisahkan oleh jarak dan waktu, namun melalui media tersebut bisa memperoleh wacana, ilmu dan pengetahuan.
Dari situ, kami belajar bahwa di era modernisasi ini peran yang sangat dominan adalah individual kita masing-masing. Jika memang kita memiliki kemauan untuk maju dan berkembang, banyak cara dan media yang dapat dimanfaatkan. Namun sebaliknya, teknologi juga seperti dua belah pisau, jika tidak bisa memanfaatkan, kita sendiri yang rugi. Dari sini, kita para pendiri grup berharap besar forum tersebut dapat membawa perubahan walau sekecil apapun untuk memajukan masyarakat secara bersama-sama.
Merangsang Pemikiran Untuk Maju
Dari forum di dunia maya tersebut, ternyata membawa dampak bagi para penggunanya. Ini terbukti ketika aku bertemu dengan salah satu temanku yang tergabung, diskusi tersebut berlanjut dalam dunia nyata. Sebut saja temanku itu Alfin namanya. Ketika bertemu, ide untuk mengkaji lebih dalam ternyata langsung digagasnya. Sebagai langkah awal, dia mengajak diskusi denganku dan teman-teman se-kontrakan-ku. Ide ini pun disambut baik oleh teman-temanku di kontrakan yang terdiri delapan orang.
Setelah berjalan satu pertemuan, teman-teman ingin agar diskusi tersebut berlanjut dengan menggunakan kurikulum agar mengalir dengan sistematis dan fokus. Dengan membuat kurikulum sederhana, kami pun melangkah dengan penuh antusisme yang tinggi. Mungkin selain karena teman-temanku itu memang butuh pengetahuan, mereka juga bisa menikmati suasana karena diskusi memang mengalir secara alami dan polos. Berbagai humor juga tersisip didalamnya sehingga gelak tawa tak bisa dihindari dalam forum ilmiah tersebut. Meski tidak berjalan formal, namun minimal tidak ada paksaan sehingga kreatifitas bisa muncul.
Sedikit demi sedikit, dari forum diskusi tersebut dikumpulkan hasilnya dalam sebuah catatan yang rapi dan sistematis. Agar bisa diambil manfaatnya, tulisan tersebut di unggah ke internet sehingga bisa dibaca semua orang. Dengan demikian, sampai kapanpun karya itu akan tetap ada meskipun si penggagas telah tiada. Inilah aspek penting yang bisa dilakukan agar pembaca menjadi lebih baik, syukur-syukur bisa mempengaruhi pembaca tersebut.
Kembali ke hasil yang telah tercapai karena grup di jejaring sosial tersebut, aku belajar banyak tentang bagaimana bisa sharing dan belajar membangun pribadi yang baik. Disaat yang bersamaan, sharing membuatku tidak “puas diri” untuk menerima hidup ini apa adanya. Aku menjadi orang yang haus ilmu dan mengharuskan diriku untuk selalu belajar dan belajar dimanapun dan kapanpun, tidak harus di bangku sekolah.
Selain itu, aku berusaha bagaimana hidup ini bermanfaat. Bahkan, kini aku memiliki prinsip hidup: “bukan bagaimana sukses, tetapi bagaimana bermanfaat”. Ketika aku bisa sharing tukar pengalaman atau menulis di Internet misalnya, aku memiliki karya yang menurutku bermanfaat yang bisa diakses semua orang meskipun aku telah mati kelak. Dalam kehidupan sehari-haripun aku bisa lebih selektif untuk mencari manfaat dan hikmah dari berbagai peristiwa apapun.
Berawal dari jelajah di internet tersebut, kini aku semakin melihat luasnya ilmu pengetahuan dan pentingnya sebuah karya yang bisa kuciptakan sekecil apaun karya itu. Aku melihat bahwa banyak tokoh-tokoh besar dunia terlahir karena karya-nya yang monumental dan banyak dikenal orang, bukan karena pangkat atau kedudukanya. Tak heran ketika tokoh tersebut sudah meninggal dunia, orang-orang akan tetap mengenangnya sebagai seseorang yang telah berkarya dan membawa dampak manfaat bagi banyak orang.
Akhirnya, aku memiliki kesimpulan sementara bahwa media internet dapat kita jadikan sebagai wahana untuk mencari pengetahuan baru, tukar pengalaman dan dakwah tentunya dalam rangka menebar kebaikan dan nilai-nilai positif. Dengan menggunakan corong tulisan, kita bisa belajar dan bisa mempengaruhi orang menuju tindakan dan hal-hal yang positif. Jika demikian adanya, belajar dan berdakwah tentunya berlaku disetiap saat tanpa mengenal ruang dan waktu. Jika hal ini dilakukan oleh para pengguna internet, generasi muda utamanya, menurutu kedepan Indonesia akan maju dan menjadi bangsa yang lebih baik dengan landasan utama ilmu pengetahuan dan agama, Insya Allah.

MA & MTS AN-NAWAWI GELAR KEMAH BERSAMA

Penyerahan Hadiah

Gudep MA & MTs An-Nawawi Berjan Purworejo gelar Kemah Bersama, Kamis-Sabtu(22-24/10) di Halaman Gedung Pendidikan sekolah tersebut. Menurut, Syukron selaku Kamabigus, kegiatan ini diselenggarakan untuk menyambut tamu penegak dan penggalang. Kegiatan tersebut, menurut syukron, selain untuk meningkatkan kemandirian, kedisiplinan dan tanggungjawab pelajar juga untuk memacu kreatifitas pelajar.
“Acara ini sengaja kami susun sedemikian rupa baik berupa brainstorming, bedah film, lomba puisi, lomba kaligrafi, wide game, tahlil maupun baris-berbaris. Itu semua tujuanya untuk meningkatkan kreatifitas dan tanggungjawab pelajar” ungkapnya. Selain dari 400-an peserta MA & MTs An-Nawawi Berjan Sendiri, kegiatan tersebut juga diikuti 40 peserta dari MA An-Nawawi 02 Salaman Magelang. Mereka sengaja datang untuk menimba ilmu di bidang kepramukaan. “Kami sengaja ikut kemah disini untuk meningkatkan kualitas kepramukaan di MA 02″ Ungkap Agus, pembina pramuka MA 02 Salaman.

Sadar setelah Dibimbing Kiai Chalwani

SEORANG calon haji (calhaj) asal Gunung Condong Bruno, Purworejo, Giyono (50) blak-blakan soal pengalaman beribadahnya. Betapa tidak, selama 47 tahun ia tidak menjalankan shalat.

“Saya tidak malu mengakui kalau saya tidak shalat selama 47 tahun. Tapi hari ini saya sudah berubah dan ingin senantiasa menjalankan shalat wajib,” katanya usai pemeriksaan di poliklinik Asrama Haji Donohudan, kemarin.

Giyono menceritakan pada Suara Merdeka, bahwa dia tidak melaksanakan shalat selama 47 itu karena ditinggal ke dua orang tuanya sejak berusia 15 tahun. “Saat ditinggal, saya tak pernah mengerti bagaimana shalat, makanya saya akhirnya tidak mau melaksanakan shalat,” kenangnya yang baru satu tahun ini mulai rajin melaksanakan shalat wajib lima waktu.

Meskipun selama 47 tahun tidak melaksanakan shalat, pria yang berprofesi sebagai juragan kambing dan sapi ini mengatakan, tetap percaya kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Dia mengaku awal mula melaksanakan shalat karena malu kepada tiga anaknya. Selain itu, juga mendapat bimbingan dari KH Achmad Chalwani Nawawi, pengasuh Ponpes An Nawawi, Berjan Purworejo. “Saya harus memberi contoh pada anak-anak saya. Alhamdulillah juga ada bimbingan juga dari Pak Kiai Chalwanii, saat pelaksaan haji ini,” ujar pria yang baru kali pertama naik haji ini sekaligus didampingi oleh istinya Marsih.

Ia mengaku belajar shalat dari buku panduan. Ketika ditanya apakah tujuan pertama haji, dia menjawab, “Saya akan bersujud dan mohon ampun kepada Allah di depan ka’bah atas kesalahan saya, yang tidak shalat selama ini,” ujarnya sambil berjalan menuju penginapan di Asrama Haji.

Saat kebetulan, KH Achmad Chalwani Nawawi yang ikut menunaikan ibadah haji dan sekaligus Ketua Kelompok Bimbingan Haji Indonesia daerah Purworejo, menambahkan, jika Giyono sebelumnya memang tidak pernah melaksanakan shalat selama 47 tahun.

“Benar itu, tapi Alhamdulillah satu tahun ini sudah mau melaksanakan shalat. Saya nasihati, haji dulu tidak apa. Insya Allah nanti di Makkah mendapat hidayah.” (sumber: Suara Merdeka edisi: 19 Oktober 2010)

Doa Lailatulqadr

Oleh: KH Achmad Chalwani (Pernah dimuat di SM edisi 24 Agustus 2011)
DICERITAKAN dari Ibn Abbas bahwa Rasullullah saw mendengar kisah seorang Bani Israil yang berjuang membela agama Allah selama seribu bulan tanpa henti. Nabi kagum dengan ibadah orang tersebut, lalu berharap demikian bagi umatnya.
Nabi berdoa ”Ya Tuhanku, Engkau jadikan umatku seringkas-ringkas umat umurnya dan amalnya.”

Kemudian Allah memberikan lailatul qadr, malam di mana ibadah pada waktu ini lebih baik daripada ibadah seribu bulan tanpa lailatul qadr.
Tanggal lailatul qadr masih diperselisihkan di kalangan ulama. Namun menurut pendapat yang sahih, yaitu jatuh pada malam ganjil akhir Ramadan. Mereka tidak mengkhususkan dalam satu malam tertentu, hal ini dimaksudkan agar umat Islam memaksimalkan ibadahnya secara keseluruhan pada malam-malam tersebut.

Nabi Muhammad saw pernah ditanya tentang tanda-tanda lailatul qadr. Dia menjawab; ”Yaitu malam yang bercahaya terang, suhunya tidak panas juga tidak dingin, tidak ada awan, hujan, angin dan tidak ada bintang jatuh, serta keesokan harinya matahari terbit terang namun tidak ada kilau cahayanya”. Ramadan telah memasuki sepertiga akhir, waktu paling diharap kedatangan lailatul qadr. Untuk itu, marilah kita tingkatkan ibadah kita baik dari segi kualitas dan kuantitas, perbanyak shalat, membaca Alquran, istighfar, i’tikaf dan berdo’a.
Nabi mengajarkan doa khusus saat menjumpai lailatul qadr, yaitu ”Allahumma innaka ’affuwun tuhibbul ’afwa fa’fu ’annii (Yaa Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau senang memberi ampunan, berilah aku ampunan)”.

Tanpa menghilangkan esensi doa tersebut, ulama menambahkan salah satu nama Allah ”al-Karim” dan mengubah kata ganti mufrod (tunggal) menjadi jama’ (kolektif), serta menjadikannya berbentuk syair, agar doa tadi dapat dibaca secara jamaah yang dapat menambah keberkahan dan kesemangatan. Doa tersebut yaitu: Allahumma innaka ’affuwun kariim tuhibbul ’affwa fa’fu ’anna Yaa Kariim.

Aduh Gusti, kula nyuwun ngapura. Panjenengan ugi pengeran dzat ingkang mulya. Aduh Gusti, kula nyuwun ngapunten sekatahe dosa kawula enjang lan sonten. Aduh Gusti kula nyuwun ngapura. Ugi dosa tiyang sepah kekalih kula. Menawi sanes yaa Allah engkang ngapunten ingkang bade paring maghfiroh menika sinten. (43)

(KH Achmad Chalwani, Mudir Tsani Jami’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Provinsi Jawa Tengah, Pengasuh Ponpes An-Nawawi Berjan Purworejo

Pengajian di Ponpes Sunan Giri

Pondok Pesantren Sunan Giri, Krasak, Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo, menggelar pengajian dalam rangka haul sulthonul aulia Syekh Abdul Qadir Jaelani ke-871 dan haul KH Mansyur ke-12, Rabu (16/3) kemarin. Tausiyah diisi oleh KH Chalwani Nawawi, mursyid Toriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah Jawa tengah dari Ponpes Annawawii, Berjan, Kabupaten Purworejo. Ribuan orang menghadiri pengajian di ponpes yag diasuh KH Maslihudin Yazid, KH muslimin Al As’ari KH Zummroni dan Kiai Sakdulloh tersebut.

Hadir pula anggota DPRD Kota Salatiga Yuliyanto SE MM, Suniprat SH dan anggota DPRD Provinsi Jateng H Muhammad Haris SS MSi. Dalam kesempatan itu KH Achmad Chalwani mengatakan bahwa ponpes banyak berjasa dalam menghasilkan pejuang dan tokoh pendidikan. Di antaranya Pangeran Diponegoro dan juga Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Berbagai Marchandise Menarik Menunggu Peserta GSM

Purworejo, CyberNews. Sarasehan jurnalistik bertemakan “Gerakan Santri Menulis” (GSM) yang diadakan Suara Merdeka pada tahun ini sudah memasuki putaran ke-7. Pagi ini, Minggu (14/8), acara tersebut digelar di Pondok Pesantren (PP) An-Nawawi, Berjan, Kabupaten Purworejo.

Puluhan santriwan dan santriwati telah memadati ruang pertemuan yang akan digunakan untuk kegiatan tersebut, sejak pukul 08.30 WIB. Dalam sarasehan ini, mereka akan dibekali ilmu jurnalistik, khususnya dalam hal menulis. Berbagai hadiah menarik telah disiapkan panitia untuk dibagikan kepada para santri yang aktif mengikuti acara.

Suara Merdeka CyberNews pun telah menyiapkan bermacam-bermacam marchandise yang dipersembahkan dari para sponsor. Di pandu Reporter Suara Remaja, Adib Auliawan, hadiah-hadiah menarik ini dapat mereka perebutkan melalu games seru. Salah satunya, mereka akan diminta untuk membuat tema artikel tentang kegiatan sarasehan tersebut. Tema terbaik akan diangkat menjadi bahan artikel yang dimuat di sub kanal Info Seru di Suara Remaja.

Pada sesi pertama sebelum pembukaan, Adib akan memaparkan cara-cara menulis di Kanal Suara Remaja. Kanal yang ada di Suara Medeka CyberNews dan beralamat di suaramerdeka.com ini merupakan kolom yang disegmenkan bagi para remaja. Kanal ini cukup istimewa, sebab pembacanya diperbolehkan untuk turut mengisi berbagai hasil karyanya di hampir setiap sub-kanal. Tentunya, tulisan mereka ini dimuat setelah melalui tahap seleksi dan editing dari redaksi Suara Remaja.

Sementara itu, sebagai pembicara sarasehan jurnalistik ini akan hadir Direktur Pemberitaan Suara Merdeka Sasongko Tedjo, Redaktur Pelaksana Suara Merdeka Gunawan Permadi, Kepala Desk Kedu Nugroho, Kepala Biro Kedu Komper Wardopo, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka CyberNews Setiawan Hendra Kelana, dan dimoderatori Agus Fathuddin Yusuf.