Males Banget!

Rokok dan Kopi

Rokok dan Kopi

Aku ingin curhat. Semenjak kemarin sampai hari ini gairahku hilang. Ini bukan tanpa sebab dan alasan tentunya. Alasannya adalah karena satu kata namun sejuta makna: cinta. Meski begitu aku toh baik-baik saja, tidak frustasi atau depresi, hanya sedikit gejolak jiwa. Ini wajar saya kira, siapapun orangnya, bahkan baginda nabi pun mengalaminya. Begini ceritanya!

Semenjak 17 Agustus 2015 kemarin aku mengenal sosok perempuan yang  mampu memikat hatiku. Sebut saja namanya K. Ia merupakan perempuan yang sudah lama kuketahui. Setiap kali ketemu dulu ia melempar senyum selama tiga tahun. Ketika itu aku tak ada rasa. Sampai kemudian waktu jualah yang memisahkan kita.

Seiring dengan waktu, teknologi semakin cepat: ada internet dan bbm. Aku kembali mendapatkan kontaknya. Namun memang aku tidak punya rasa, aku berkomunikasi secara biasa saja. Tak ada yang istimewa.

Singkat cerita, tanggal 17 Agutus kemarin aku mengajaknya pergi ke Jogja. Tak kunyana, ia mau jalan bersamaku. Ketika itulah tanpa kusadari dan diluar kekuasaanku sebagai manusia, benih-benih cintaku muncul. Dengannya, aku seolah kembali menjadi manusia. Ia beda dengan perempuan-perempuan lain. Pokoknya beda. Ada perasaan yang serr dan klik aku dengannya.

Aku tipe lelaki yang tak mudah jatuh cinta, seperti ketika sudah cinta aku takkan melepasnya. Semenjak itu, aku menulis perasaan dan isi hatiku dan belakangan diketahuinya. Aku dalah hati sudah begitu mantap dengannya, bahkan ingin segera meminangnya. Kemudian kutulis dengan jujur dan berani bahwa aku memang cinta kepadanya. Aku tak peduli cintaku diterima atau tidak, yang penting aku sudah mengungkapkannya.

Namun apa jawabannya, justru diluar dugaanku sebagai manusia. Ternyata is seorang perempuan yang benar-benar sangat beda dengan lainnya. Ia seakan sudah “mati rasa” dengan cinta sesama manusia, khususnya laki-laki. Cinta dalam arti pasangan hidup. Cintanya sudah tertaut kepada Allah SWT. Ia sudah lama menempuh jalan “sunyi” di kehidupan ini.

Ia tak menjawab cintaku, malah bertanya: bagaimana kau mencintai seseorang yang cintanya sudah diserahkan kepada dzat yang maha cinta? apa yang bisa kamu janjikan? Aku terdiam. Aku hanya menjawab bahwa aku jatuh cinta kepada K dan tak meminta balasan. Aku tak bisa berjanji dan menjanjikan. Namun, meski K tidak cinta aku, aku ingin dan mau hidup bersama dengannya dalam ikatan pernikahan. Ia belum mau, masih bingung, dan masih ingin menikmati cinta Allah SWT yang begitu luas.

Hal yang mencengangkan bagiku adalah ketika usai maghrib ia bbm, bahwa ia amat sangat menyesal cerita kepadaku tentang kehidupannya selama ini yang tak seorangpun tahu. Ia bahkan mau bunuh diri. Aku kurang begitu memahami ini. Namun, intinya, rahasia diri yang selama ini dijaganya, jebol karena aku.

Aku menjadi gelisah memikirkannya. Bisaku hanya mendoakan dan berpuisi dalam akun fesbukku untuk mengenangnya. Aku hanya ingin menemaninya melewati lorong hidup ini, meniti jalan ilahi. Aku nyaman bersamanya, dekat dengannya. Ia dianugerahi Tuhan begitu mempesona, meski sebagai manusia tentu ada kekurangannya.

Hari-hariku gini masih gelisah. Hari kemarin yang sudah semangat bekerja meluap-luap, kini jadi begitu males banget dan tak bergairah. Aku hanya ingin ngobrol dan dekat dengannya. Ia bagiku adalah pancaran tuhan yan

g menyejukkan jiwa. Sampai kini, tak tahu aku bagaimana bisa mendekat kepadanya, syukur-syukur bisa menyakinkan menikah dengannya.

Bisaku hannya ikhtiar pada Allah SWT. Oleh karena, istana cinta yang berdiri megah dihatiku adalah karunia-Nya. Aku berharap semoga Allah SWT mempertemukan dan menjodohkan kami berdua. Adapun hasilnya kuserahkan kepada dia pemilik segala jiwa. Sebagai manusia biasa, bisaku hanya berusaha dan berdoa; memohon yang terbaik untuk aku dan dia. Semoga Allah SWT memberi jalan yang terbaik untuk kami berdua. Amin.

Purworejo, 03 September 2015