KH. Hasyim Asyari Pendiri NU di Mata Seorang Santrinya

Di sebuah dusun yang tenang dan damai, bernama Brunosari, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, tinggal seorang kakek berusia hampir seabad. Ia merupakan sedikit di antara murid langsung Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari – sang  pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia – yang kini masih tersisa.

Dalam suasana Hari Lahir (Harlah) NU ke-94 pada 16 Rajab 1438 H. ini, reporter Ahmad Naufa Khoirul Faizun dan juru kamera Ahmad Nasuhan menemuinya, dan mengulasnya khusus untuk Anda, pembaca setia NU Online. Lanjutkan membaca “KH. Hasyim Asyari Pendiri NU di Mata Seorang Santrinya”

Sepatu Mahal Itu Hilang di Masjid

“Mas, tau sepatu hitam disini, nggak?”, tanya seorang cewek cantik, berkerudung krem, kepadaku.


Foto diatas saya ambil ketika mampir di Masjid Jami’ Baitur Rahman, Semarang, Jawa Tengah, sore ini. Beberapa jenak setelah saya iseng selfie, datang dari arah dalam, seorang bapak agak tua, dengan rambut beruban, yang sepertinya sudah berkepala enam. Dibelakangnya mengikuti, seorang cewek cantik berkerudung krem. Keduanya melihat-lihat ke arah bawah. Setelah mengamati ujung kiri sampai kanan, sang cewek melempar tanya kepadaku, dengan pertanyaan diatas: “Mas, tau sepatu hitam disini, nggak?” Lanjutkan membaca “Sepatu Mahal Itu Hilang di Masjid”

Ikhtiar Sistemik Menyelamatkan Dunia Maya

Media kini muncul dan membanjiri dunia maya, seiring dengan terbukanya kran kebebasan pascareformasi 1998. Ada semangat baru dalam menyuarakan gagasan, yang hampir selama 32 tahun Orde Baru terbungkam.
Meski demikian, hal itu tak diimbangi dengan semangat membangun peradaban Indonesia yang lebih konstruktif. Ini bisa dilihat dari munculnya ribuan situs dan media sosial yang mengatasnamakan Islam, namun menebar  benih kebencian dan hasutan. Jika ini dibiarkan, lambat laun akan menjadi bom waktu. Dan bahkan, percikan dan letupan – efek dari media – itu, sudah banyak meledak.

Lanjutkan membaca “Ikhtiar Sistemik Menyelamatkan Dunia Maya”

Belajar Memaknai Toleransi Kiai Hasyim Muzadi

Ketika turun dari mobil sedan hitam, 23 Mei tahun lalu (2016), wajah KH Ahmad Hasyim Muzadi (1944-2017) masih pucat pasi. Beliau di sambut Bupati Purworejo dan para tokoh NU memasuki ruang jamuan pendopo kabupaten.
Seminggu sebelumnya, kami panitia Halaqah Kebangsaan sempat was-was. Yah, di koran disebutkan, beliau  sedang sakit dan dirawat sebuah rumah sakit di Jakarta.
“Apa sebaiknya kita cari pendamping untuk beliau, siapa tahu beliau masih sakit dan tidak bisa hadir,” usulku. Teman-teman Lakpesdam NU Purworejo mengamini. Namun demikian, beberapa hari kemudian, konfirmasi kehadiran beliau kami terima.

Lanjutkan membaca “Belajar Memaknai Toleransi Kiai Hasyim Muzadi”

Banser Versi Belakang Layar

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan salah satu sayap kekuatan NU yang berada dalam organisasi underbownya, Gerakan Pemuda Ansor. Banser, dalam perkembangannya, terus-menerus tumbuh dan silih berganti, seiring dengan pergeseran waktu dan perkembangan jaman.
Dalam suatu obrolan yang saya dengar, di ruang instruktur Banser dalam Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) di Purworejo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, ada beberap cerita yang diungkap oleh para instruktur, yaitu Banser-Banser senior yang telah terlatih.

Lanjutkan membaca “Banser Versi Belakang Layar”

Ketika Kiai NU Diminta Jadi Tuan Rumah Pelantikan FPI

Purworejo, NU Online – Jumat, 10 Februari 2017 08:17

Beberapa waktu lalu, KH Achmad Chalwani, Pengasuh Pesantren An-Nawawi Purworejo, didatangi beberapa calon pengurus FPI Purworejo. Dalam sowan itu, mereka meminta agar sang kiai mau menjadi tuan rumah pelantikan.

Kiai Chalwani menjawab bahwa ia kini masih menjabat sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah. Ia ingin di NU saja, tidak merangkap di kepengurusan FPI. Dengan hormat dan berat hati, mantan anggota DPD RI ini tidak bersedia menjadi tuan rumah pelantikan tersebut. Dalam hal ini, terangnya, ingin mengisi dan memajukan organisasi yang sudah ada: Nahdlatul Ulama. Lanjutkan membaca “Ketika Kiai NU Diminta Jadi Tuan Rumah Pelantikan FPI”

Islam Indonesia Islam Terbaik di Dunia

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah orang yang sudah meninggal: setiap hari dikirimi doa, tumpeng. Tapi, hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia. Lanjutkan membaca “Islam Indonesia Islam Terbaik di Dunia”

Gus Dur Menyebutnya Kiai Kampung

Pak kiai adalah tokoh yang paling kami hormati di desa kami. Di setiap acara-acara seremonial dan ritual, namanya selalu dipilih pertama kali untuk disebut, dihormati, baru kemudian pejabat, dan tokoh lainnya. Duduknya selalu disilakan di kursi paling depan. Maklum, mungkin karena dialah yang selalu hadir dan paling dekat dengan kami: warga masyarakat.
Padahal, penampilan beliau sih biasa saja, laiknya kiai-kiai desa: sering berkopiah, membawa lintingan (tembakau dan sigarete) untuk merokok, memakai baju putih atau batik, bersarung dan bersandal – jarang dan tak pernah memakai sepatu. Sesekali juga memakai sorban hijau atau putih. Juga pekerjaannya: selain mengajar anak-anak di madrasah, beliau juga berkebun, ke sawah, ke pasar, mencangkul, berdagang dan tentunya memimpin ritual keagamaan.

Lanjutkan membaca “Gus Dur Menyebutnya Kiai Kampung”

Atas ↑