Hari Guru Nasional

Di Hari Guru ini aku ingin ikut-ikutan bikin status tentang guru. Aku akan cerita tentang seorang guru waktu sekolah dulu. Begini ceritanya:

***
Sebut saja guru ini bernama JM. Ia mengajar mata pelajaran english conversation di sekolah kami. Rumahnya jauh dari sekolah sekitar 15 km dan ia menempuh itu dengan motor buntut tua. Rambutnya tak pernah rapi, pun baju dan sepatunya. Kadang malah kulihat bajunya kena jamur dan lusuh.

Sebagai remaja, aku dan teman-teman tak mempedulikan itu. Justeru kami kadang “mengecam” beliau karena sering absen tanpa tugas yang jelas. Disisi lain, sebagai pelajar normal kami bahagia karena jam kosong bisa dimanfaatkan untuk gedobrakan meja nyanyi-nyanyi atau ada yang iseng lempar-lemparan kertas surat antara cowo dan cewe. Hingga kami agak marah karena jam kosong hampir pasti di jam pak JM ini.

Lama tak masuk mengajar, tersiar kabar bahwa pak JM sedang sakit. Mendengar hal itu, aku selaku ketua kelas waktu itu bersama tokoh-tokoh kelas yaitu Agus Candra Hidayat dan Muh Imron Rosyadi ingin menjenguknya. Anggota kelas kami umumkan untuk menyumbang seikhlasnya. Hasilnya cukup fantastis waktu itu. Akhirnya, bermodal pinjaman motor kami bertiga meluncur mencari rumah sang guru.

Hujan rintik agak menemani perjalanan kami. Bekal alamat dari sekolah kami tambahi dengan tanya pada penduduk sekitar. Akhirnya, sampailah kami dialamat yang dituju.

Kami bertiga berdiri di depan rumahnya sambil menghela nafas panjang. Semenjak melihat rumah itu, aku merasa bersalah selama ini, banyak mengecam beliau dan egois ingin diajar tanpa tahu keadaannya.
Rumah bambu (Jawa: gedhek) tua berukuran kurang-lebih 4×6 m itu sungguh menggetarkan hati kami. Disamping rumahnya kulihat motor buntutnya didiamkan terkena percikan hujan. Setelah agak tenang, kamipun mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum”
“Uhuk-uhuk…..Wa’alaikum….salam”jawabnya sambil batuk-batuk.
“Ehhh…anak-anak, mari silakan masuk…!”
Kami bersalaman cium tangan dan perlahan memasuki rumah kecil itu. Kulihat dalamnya agak berantakan. Isterinya dengan anak-anaknya yang masih kecil bermain mainan ala anak-anak desa, dari bambu atau kayu. Mungkin anak-anak ini tak kenal yang namanya PS atau mainan modern lainnya.
“Maaf, rumahnya agak berantakan”
“Oh, ndak papa, pak, sama saja kok!”

Kamipun menanyakan kesehatannya. Aku curiga pak JM kesulitan membiayai periksa dokter dan obatnya. Apalagi aku tahu, bahwa gaji guru honorer waktu itu sungguh sangat kecil. Untuk beli bensin ngajar saja belum tentu cukup.
“Dirumah saya sambil jualan sayur, mas. Maklum, kalau ngandalin gaji guru anak-isteri saya mau makan apa?” Katanya membuka obrolan.

“Oh, iya, pak” jawab kami singkat waktu itu. Maklum, kami masih pelajar dan masih minta upeti ortu, belum tahu susahnya mencari uang dan kerasnya kehidupan. Lalu kami ngobrol ngalor ngidul tak tahu ujungnya. Ia nampak bahagia murid-muridnya perhatian dan mau berkunjung ke rumahnya.
Setelah lama ngobrol, kami dipersilakan untuk makan. Awalnya kami tolak karena sudah beli mie ayam di jalan, namun karena dipaksa ya kami terima.

Di meja makan itu kulihat empat piring serta sendok bertumpuk mesra. Sebelahnya hanya ada nasi di wadah berkat kecil serta teko berisi air putih. Nasi itu adalah hasil dari berkat atau tetangga yang sedang hajatan, tuduhku dalam hati. Aku sebenarnya tak kuasa memakan, tapi karena dalam tradisi Jawa menyuguh tamu adalah suatu kehormatan, meski sedikit kami makan. Usai makan kami menyampaikan pesan dan doa dari kawan-kawan kelas, lalu memberikan titipan uang hasil ngamen di kelas. Setelahnya kami pamit dan pulang.

Semenjak itu, saya belajar memaknai kehidupan. Bahwa melihat orang itu harus utuh atas segala aspek, kondisi dan lingkungan yang melatarinya. Bahwa nasib guru memang belum sejahtera sepenuhnya. Bahwa hidup memang keras adanya. Bahwa menilai, menyalahkan orang hanya dari perilaku luar itu salah besar adanya.

Dengan ilmunya, pak JM telah mengajariku komunikasi bahasa Internasional. Meski secara tenses saya belepotan, namun corversation “agak” mendingan. Minimal jika ada turis saya berani bertanya, ngobrol dan tidak menganggapnya sebagai artis atau idola yang layak diajak foto bersama.

Nasib guru seperti pak JM ini, sepertinya masih banyak di negeri ini. Ghosob istilah Iwan Fals, guru yang mencetak profesor, insinyur, bahkan otak seperti otak Habibi, tapi mengapa gaji guru dikebiri. Jika jadi guru jujur berbakti harus rela makan ati. Semoga di pemerintahan yang baru ini, nasib dan kesejahteraan guru semakin dimengerti. Utamanya guru wiyata, honorer dan para ustadz di madrasah dan pesantren.

***

Di hari guru ini, saya ingin berterima kasih kepada guru-guruku, yang sudah mengajariku dari kecil sampai sebesar ini. Tak ada dikotomi, baik kyai, guru ngaji, guru sekolah, dosen, teman atau siapapun yang diam-diam juga saya curi dan belajar ilmun darinya. Terima kasih untuk semua, semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan. Amin.
Selamat Hari Guru….!!!

Purworejo, 25 November 2014

Tips Bahagia Dunia – Akhirat

Di Konfercab NU Purworejo semalam, saya ngobrol banyak dengan Drs KH Masduqi, kyai dari NU Ranting Pangenjurutengah yang sudah sepuh. Panjang lebar, ia berpesan dan cerita begini:

***
“Mas, jadilah orang yang ikhlas. Jika kamu ikhlas membesarkan agama Allah, nanti jangan khawatir soal rizqi, nanti pasti ada saja.” Lalu beliau mengutip Firman Allah: “Yaa Ayyuhalladziina aamanuu in tanshurullaaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum (Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong [agama] Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu)”

“Jangan sekali-kali kamu mengambil yang bukan hak kamu. Saya sekarang sudah pensiun, mas, jadi pegawai. Dulu, ketika jadi pegawai, tak sepeserpun pun uang bukan hak saya yang saya ambil. Padahal waktu itu saya adalah kepala KUA tingkat kabupaten. Maka, jika kelak kamu jadi pegawai, bersyukurlah kepada Allah, serta mohon agar direkso jangan sampai mengambil yang bukan haknya”

“Bagi saya, mas, lebih baik dan bangga menyuguh tamu dengan ketela hasil keringat saya sendiri dibanding menyuguh roti namun hasil mencuri atau korupsi. Kamu yang hidup dijaman sekarang, musti hati-hati. Di tivi bahkan di sekitar korupsi sudah hampir lumrah. Ini saya saja datang ke Konfercab NU ini membawa bonggol ketela pohon, dikasih teman. Saya tidak malu sepanjang itu halal.”

“Dulu, prinsip saya, jangan sampai perut saya ini kemasukan barang haram. Saya ingin anak saya hafal al-Quran. Kalau barang haram masuk, jadi darah dan daging lalu bibit anak, mau seperti apa polahnya anak”
“Kamu harus yakin, mas, Allah itu Maha Adil. Semasa jadi pegawai dulu, gaji saya kecil, hanya cukup untuk makan sehari-hari, tapi Alamdulillah cukup. Ini saya datang ke Konfercab ini saja hanya bawa uang yang cukup untuk beli bensin. Ndilalah kalau butuh sesuatu, ada saja sebab yang dijadikan Allah.”

“Saya mau cerita. Dulu setelah saya pensiun, tahun 2007 saya ditawari Kemenag untuk naik Haji.”

“Kyai, mbok daftar haji…”
“Besoklah gampang kalau sudah ada uang”
“Ini hari jumat, senin depan pendaftaran sudah tutup”
“Iya gampang, besok kalau sudah ada uang”
“Tanpa dinyana, mas, ketika saya hari sabtu masuk ngajar di sekolah, ada telfon aneh.”
“Pak, ada telfon dari BRI” kata TU sekolah
“Lho, saya nggak punya urusan dengan BRI”
“Mungkin diterima dulu, pak, telfonnya”
Setelah saya bicara dengan pegawai BRI, ternyata saya sudah didaftarkan naik haji oleh Hamba Allah untuk saya sendiri. Masya Allah, mas, saya langsung gemetar. Kaki saya tidak bisa berdiri. Seakan saya tidak percaya. Tapi saya juga bingung, sebab saya sudah bersepakat naik haji bareng dengan istri saya. Saya langsung pusing dan ijin pulang dari sekolah.

“Sampai rumah, istri saya tanya:
“Sakit apa, bah”
“Pusing, bu”
“Apa perlu saya kerokin?”
“Tidak usah. Saya tak tidur saja, tolong bangunin jam 16.00 sore”
“Setelah bangun, akhirnya saya cerita terus terang kepada istri saya. Namun ternyata, istri saya kekeh: tidak membolehkan jika saya haji sendiri, harus bersama-sama.”
“Yasudah bu, harta saya hanya mobil buntut itu di depan. Jika perlu saya akan jual untuk kamu. Tapi itu tetap masih kurang”
“Pokoknya saya mau naik haji bareng bapak! Titik.”
“Yasudah, besok saya tak pergi, jangan ditanya dan dicari sebelum kembali”
“Iya, pak”

“Ahad pagi saya akhirnya keluar mas. Jalan tak tentu arah, hanya bisa berpasrah pada Allah. Ditengah kegalauan itu, saya ingat teman lama saya. Langsung cling di otak. Dia pensiunan, kaya, sampai senja belum punya istri. Saya datang kesana.
“Oh, kawan lama datang. Mari kita makan dan ngobrol dulu, bicara seriusnya habis magrib saja” kata teman saya. Lalu kita ngobrol dengan hangatnya.”

Maghrib berlalu.
“Ada perlu apa?”
“Saya butuh pinjam uang untuk naik haji serta tasyakuran”
“Berapa uang diperlukan?”
“Tujuh juta”
“Oh, ambil saja. Kebetulah di rekening BRI saya masih ada 300-an juta” kata teman saya. Alhamdulillah, saya lega banget mas. Saya langsung pulang dan bersujud syukur sama ibu”
“Senin pagi saya langsung mendaftarkan istri saya. Tak dinyana, aja juga kiriman lagi yang saya terima dari BRI yaitu uang tasyakuran haji dari Hamba Allah sebanyak enam juta. Akhirnya, beberapa bulan kemudian, saya berangkat haji dengan istri saya, mas.”

“Itulah mas, salahsatu contoh yang saya sendiri alami. Pesan saya, hidup itu untuk ibadah, kerja dengan jujur dan berbuat baik terhadap sesama, insya Allah nanti dunia dapat akhirat dapat”

***
Lalu, riuh pemilihan Rois Syuriah dan Ketua Tanfidz NU memecahkan kami. Obrolan terhenti sampai kami menjadi saksi duet KH Habib Hasan Aqil Al-Ba’bud dan KH. Hamid AK terpilih kembali. Selamat, semoga NU kedepan bisa lebih baik lagi. Amin.

Kakek Tua Pekerja Keras

Saat pulang dari Alun-alun kota pkl 23.30 malam tadi, dijalan kulihat kakek-kakek renta yang masih jualan sapu, sulak dan kipas. Dengan nafas terengah ia berjalan sambil menyunggi dagangan di pundaknya, ditengah ingar bingar kota dan pasangan muda-mudi yang mengadu mesra.

Kuhentikan sementara perjalanan. Oh, alamak, dompetku ketinggalan! Kuraba saku kanan, ternyata hanya berisi uang 16.000. Sedang yang kiri berisi uang 50.000, yang memang lama kujaga sebagai ‘jimat’, tak akan kubelanjakan karena dikasih langsung oleh kyaiku, guru besarku. “Ah, mungkin 16.000 cukup untuk sekadar membeli sapu itu, untuk sekadar berbagi rizqi yang dititipkan tuhan” gumamku dalam hati.

Ku kembali.
“Kek, berapa harga sapunya?” tanyaku sambil melihat bungkuk punggungnya dimakan tua. Kubayangkan jika kakek tua itu adalah nasibku dihari tua kelak.
“25.000, Dik” jawabnya lirih sambil meletakkan dagangannya.
Duh Gusti! Kurang ini uang 16.000-ku. Kutanya yang lain. “Kalau sulaknya berapa, Kek?”
“Sama, Dik, 25.000″ katanya sambil memilah-milah dengan jari-jemari, sesekali menyeka keringatnya.

Hatiku tergetar. Ah, kukeluarkan saja uang 50.000-ku. Nggak jimat-jimatan.
“Sapunya saja, Kek, satu” pintaku sambil mengambil sapu dan menyodorkan uang.
“Iya, dik” jawabnya diikuti merogoh saku menghitung kembalian. Agak lama ia menghitung receh-receh uang. Ia pergi mendekat di bawah lampu jalanan. Kudiamkan, kuberi kesempatan. Mungkin matanya terlalu lelah dimakan usia, tuk menghitung angka-angka.

Lalu ia datang.
“Ini, Dik” katanya sambil memberi kembalian.
“Kakek rumahnya mana?”
“Saya dari Kec. Bener, Purworejo, Dik”
“Jualnya kok sampe malam gini, Kek?”
“Iya, Dik. Saya menginap di dekat Markas Kodim sini, ini sekalian mau kesana”jawabnya dengan suara terbata.
“Oh ya, Kek, semoga dagangannya laris manis. Saya permisi, Kek…”
“Amin…hati-hati, Dik, dijalan…” pungkasnya dengan tatapan dan senyum penuh keteduhan.