Materialisme di Masyarakat Kita

Belakangan saya banyak bertemu dengan orang yang begitu materialistik. Mereka mengukur tingkat kesuksesan seseorang dari berapa harta yang sudah ia kumpulkan. Seakan-akan kaya adalah sudah menjadi kebenaran. Ini menjadi penyakit yang menjakiti semua lini: politik, ekonomi, budaya bahkan agama.

Kini orang seakan tak lagi percaya dan berpedoman kepada hal yang tidak nampak, ghaib: nilai, ketulusan, keyakinan dan bahkan Tuhan. Semua serba di materiilkan dan dipaksa menjadi materi. Masih mending kalau wujudnya materi dimaterikan. Hari ini, yang ruhani di materiilkan.

Saya menduga, awalnya mindset ini muncul dari paham filsafat positivisme yang digagas Augus Comte pada Abad 19. Positivisme melihat kebenaran dari sesuatu yang empiris, nampak, riil dan bisa disaksikan dengan mata telanjang, buka impian, angan atau keyakinan. Kini, paham itu seakan-menggantikan doktrin dan dogma agama yang bertahun-tahun dipegang.

Dengan cara pandang ini, banyak kemudian orang mempetanyakan Tuhan. Apalagi kitab suci, al-Quran misalnya yang tidak ilmiah karena tidak memiliki catatan kaki. Anehnya, yang terjangkit kebanyakan umat islam. Padahal, islam mengajarkan: orang sukses itu adalah orang yang melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan; berbuat baik dalam pergaulan, dan berorientasi pada tuhan terhadap apa-apan yang dikerjakan. Kini, setaat dan sebaik apapun orang, jika tidak memiliki materi, ia dituduh miskin, dibuang dan dianggap gagal dalam menjalani kehidupan.

Sekaya apapun orang, berapapun mobilnya, jabatannya, perusahannya, jika ia masih merasa butuh, itu adalah miskin yang sesungguhnya. Betapa banyak pengusaha yang menyiapkan strategi dan mengambil laba bermilyar tiap bulannya; namun tuli dan buta terhadap sesama, mereka para faqir miskin, anak yatim dan kaum mustad’afin. Dimana letak kekayaan mereka?

Sedang media yang kini menjadi ” the second school” sama saja: justeru semakin parah. Rakyat dijejali dengan tayangan yang tak bermutu, memuja kekonyolan, bahkan menjatuhkan martabat manusia. Lebih parah lagi, agama diperdagangkan dan menjadi komoditas yang hanya menjanjikan keuntungan. Sedang negara tak mampu turun tangan.

Kita acapkali tertipu dan ditipu oleh penampilan dan kesan. Yang penting sekarang bukan jadi orang baik, tapi terkesan baik. Yang penting bukan benar, tapi terkesan benar. Tak heran, tiap kali pilkada, semua sibuk memproduksi kesan. Slogan dan gambar muncul: akulah yang baik; akulah yang mampu menyejahterakan; akulah yang jujur, adil dan mampu menyelesaikan persoalan. Ibarat shalat, semua merasa mampu dan berebut menjadi imam. Kesombongan dipacking menjadi kesan kesalihan. Hal yang harusnya ruhani dimateriilkan.

Sebentar. Tapi banyak juga orang kaya dan sukses di jaman sekarang. Orang yang masih memegang kemurnian. Orang-orang itu adalah orang yang dianggap rakyat jelata di jaman sekarang. Orang yang teguh memegang kejujuran; orang yang merasa cukup dengan keadaan, tetap usaha namun tak tergantung kepada kemewahan; hartanya ia tasyarrufkan untuk membantu sesama yang membutuhkan;jiwa dan raganya ia sedekahkan untuk ilmu, masyarakat dan tentunya tuhan.

Orang-orang pinggiran. Orang yang jauh dari sorot kamera dan kemewahan. Orang-orang sederhana yang ada dalam kecukupan, kesyukuran, kejujuran dan rela berkorban. Meski sederhana, hidup mereka tenteram; tidak dikejar keinginan semu. Mereka memiliki cinta dan kebijaksanaan.

Merekalah yang sukses di kehidupan. Merekalah yang sebenarnya kaya dalam pemaknaan. Merekalah yang layak kita ambil teladan. Merekalah referensi kita ditengah keabsudan. Merekalah mutiara yang terpendam.

Namun, selain itu, kesejatian orang sukses yang sebenarnya adalah di akhir hidupnya: apakah akan menjadi suulkhatimah atau khusnul khatimah. Pengadilan tuhan (yaumul hisab) dan pembalasan adalah haq. Surga dan neraka adalah haq. Semua dari kita masih punya kesempatan.

PW IPNU Jawa Tengah, Semarang 13 Juli 2015

Mas Fata

Nama lengkapnya Muhammad Khoirul Fata, biasa dipanggil Mas Fata. Beliau adalah putra ke-2 KH. Achmad Chalwani dengan Nyai Sa’adah Achmad yang meninggalkan dunia di usia yang relatif muda. Beliau meninggal pada akhir Ramadhan 2008 lewat kecelakan maut bersama tiga orang santri(Ali Rosyidin, Imam Hadiyanto dan Yusman Afandi),  usai menjenguk Dai yang dikirim Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo ke Gunungkidul Jogjakarta.

Tulisan ini sekadang ingin bernostalgia dengan sosok beliau, sosok yang saya sendiri kagumi. Kekaguman ini bukan karena beliau seorang putra guru saya, namun lebih karena attitude, semangat, jiwa-sosial, keteladanan, kecerdasan dan banyak lagi tentang beliau, yang tentu tidak bisa saya tulis disini. Selain itu, potret ini juga kesan saya mengenal beliau secara singkat; yang tak menutup kemungkinan teman-teman lain memiliki pengalaman dan kesan lain tersendiri.

Sosok beliau adalah sosok yang sportif. Ketika dulu beliau duduk di bangku kelas 3 MTs dan saya kelas 1 MTs, kadang telat berangkat ke sekolah yang dibawah yayasan milik ayahandanya. Meski beliau bahkan punya hak untuk mencopot guru-guru tersebut, namun ketika telat beliau tetap antri untuk mendapatkan hukuman. Ini adalah suatu teladan yang penting untuk diambil pelajaran.

Selain sporrtif, beliau adalah sosok yang cerdas. Beliau banyak menguasai berbagai bidang ilmu dari khazanah klasik sampai kontemporer. Fiqh, tafsir, hadits, maqashid syariah, asbabun nuzul sampai nahwu shorof semua dilahap. Pun demikian dengan buku-buku dan wacana klasik dan kontemporer, semua dikuasainya.  Dari yang paling kiri sampai yang paling kanan. Namun, semengerti saya, beliau paling suka kalau sudah bicara soal ushul fiqh, karena ilmu itu merupakan alat untuk memproduksi ilmu fiqh. Lalu untuk urusan politik bagi beliau tidak tertarik, meski memahami teorinya.

Beliau seingkali meminjami kitab klasik dan buku-buku wacana kontemporer kepada saya, lalu seminggu kemudian meminta saya untuk menjelaskannya. Beliau juga seringkali menantang debat dengan saya; suatu kehormatan meski aslinya saya sendiri minder karena beliau terlalu tinggi maqamnya. Namun saya setujui saja dan jelas hasilnya: selalu dan selalu kalah saya. Pesan beliau kepada saya juga keras dulu: agar yang klasik (seperti hafalan alfiyah dll) juga jangan diabaikan. Ini pesan keras namun saya terima sebagai kasih-sayang, mengingat saya waktu itu sedang gila akan wacana-wacana Islam kontemporer dan liberal.

Mas Fata adalah juga sosok yang mencintai musik dan dunia musik. Untuk musik, gitar adalah alat yang sangat beliau ahli memainkannya. Soal gitar ini, ada salahsatu musisi Purworejo yang memang tiap hari memegang gitar, sampai ketika dewasa ia selalu menjadi the best dalam berbagai festifal. Namun, menurut salahsatu teman musisi tersebut, kemampuan Mas Fata sama: padahal sejak kecil Mas Fata tidak hanya memegang gitar; namun juga diskusi, musyawarah, mengkaji kitab dan mengurus santri-santrinya. Inilah hebatnya.

Soal dunia musik lokal, beliau banyak bergaul dengan musisi-musisi Purworejo. Beliau ngemong dengan semuanya. Banyak kalangan musisi yang kemudian “taubat” dan memilih jalur agama dan mengakhiri kenakalannya. Artinya, selain bermusik, beliau ternyata menjadikan musik sebagai alat untuk berdakwah secara kultural. Sampai ketika beliau minginggal, banyak musisi-musisi yang menangis merasa kehilangan. Bahkan, menurut salahsatu teman saya, karena saking “abangan”-nya, ada salahsatu musisi yang ziarah ke makam beliau dan memutarkan mp3 kepada beliau.

Salahsatu yang saya kagumi dari beliau adalah manageman waktu. Beliau bisa mengatur waktu: kapan saatnya ngaji, jalan-jalan, mancing, gitaran, musyawarah kitab, diskusi ilmiah dan bersilaturahmi dan ngopeni kawan-kawan “jalanan”. Padahal, segala bentuk kemewahan disediakan: mobil, swalayan, atm dan semua bentuk potensi hura-hura. Itu tidak beliau sia-siakan sebagai sesuatu yang melenakan. Jika itu yang terjadi pada saya: mungkin boro-boro ngaji, seakan sudah laru dalam dunia hitam.

Mas Fata adalah sosok yang cerdas. Ketika kami kemudian masuk kuliah bersamaan, terus terang bahasa inggris beliau kacau. Kadang beberapa jawaban beliau tanyakan kepada saya. Namun, ketika semester dua kemampuan beliau melesat dengan cepat. Saya jauh ketinggalan, baik tenses maupun kosakatanya. Setelah saya selidiki, ternyata beliau les bahasa inggris privat. Ini menunjukan totalitas beliau dalam belajar.

Jika sudah duduk menyanding kitab-kitab, buku, kopi dan rokok, seakan beliau menemukan kenikmatan dunia. Mas Fata begitu mencintai ilmu dan pengetahuan. Rumah beliau yang begitu besar, penuh dengan rak-rak kitab, buku dan berbagai literatur klasik sampai kontemporer. Sungguh membuat saya iri untuk memiliki, mengkaji dan kegilaanya akan ilmu. Semoga saya bisa meneladani beliau utamanya kecintaannya akan ilmu dan pengetahuan.

Terakhir saya komunikasi dengan beliau adalah via SMS, ketika beliau kuliah di STAIAN dan kemudian masuk di Universitas Islam Indonesia di Jogjakarta. Itu terjadi di awal Ramadhan. Begini kurang lebih dialognya:

“Mas, dengar-dengar panjenengan malah pindah ke UII. Lantas bagaimana nasib kita disini? (diskusinya, musyawarahnya, sharingnya dan pendewasaan beliau kepada kita-kita, utamanya di STAI An-Nawawi)
“Tidak pindah kok, cuma ndouble untuk nambah wawasan dan pengetahuan. Terus perlu dicatat, bahwa dengan ataupun tanpa saya, kelak di akhir zaman Islam akan mengalahkan semau agama: baik hindu, budha, nasrani, yahudi dan lainya”

Semoga, beliau juga mendapat tempat yang mulai di sisi-Nya, surga yang penuh keindahan dan melihat wijah-Nya, Amin Allahuma Amin. Untuk beliau, Alfaatihah!

Kantor PW IPNU Jawa Tengah, Semarang, 11 Juli 2015 (Ramadhan ke 24) – di Ujung kerinduan. :(

Politik Ala Rakyat Jelata

Awal bulan Februari 2015 lalu saya bersama seorang partner, sebut saja namanya Bejo pergi ke Tasyikmalaya, DKI dan Bandung. Kepentingan kami adalah untuk survey harga karcis destinasi wisata, meloby restoran sekaligus transit atau hotel. Ini karena saya akan membuka jasa biro wisata. Ada pelajaran yang banyak sekali dari perjalanan kami selama dua minggu. Tulisan berikut ini akan sedikit merekam dan memberi beberapa pelajaran berharga, khususnya untuk diri saya. Meski agak telat karena memang waktu itu saya malas mencatat, semoga catatan-perjalanan ini menjadi oleh-oleh yang bermanfaat. Amin.

***

Rencananya, surveynya adalah tanggal 01 Februari 2015. Namun terpaksa saya kalahkan karena ada adara PKD Ansor dan kebetulan atau yang milih sambil ngelindur barangkali, saya dijadikan wakil sekretaris. Praktis, saya harus mem-backup penuh acara dari awal sampai akhir. Pas habis penutupan, saya langsung pamit untuk pergi ke Bandung. Dari lokasi saya nebeng mobilnya Sahabat Budi Sunaryo alias Mbah Majir, Calon Wakil Bupati Purworejo. Kami hanya punya waktu 15 menit untuk sampai di statsiun dan memesan tiket kereta. Terburu-buru.

Pucuk dicinta ulam tiba. Ketika saya minta mbah majir untuk berhenti si secretariat IPNU Purworejo sekadar mengambil tas, ada seorang teman, Maman namanya yang hendak pergi ke Tasyik, nyetir sendirian pula. Aku berminta maaf kepada mbah majir, tak jadi ke stasiun dan ia memaklumi. Kamipun bertiga, aku, Bejo dan Iman meluncur ke Tasik.

Singkat kata, sampailah kami di Tasyik. Setelah tidur, aku dikenalkan oleh temannya Maman bernama Mr. X. kami disambut dengan hangat oleh Mr. X dan diajak jalan-jalan ke Gunung Galunggung, sampai akhirnya Mr. X tahu maksud kedatangan kami. Ia membawa kami ke sebuah restoran dan pusat oleh-oleh di Rajapolah.

Pelajaran Pertama.

Sampai direstoran, Mr. X langsung menemui seorang kasir. Ia minta kartu nama bosnya. Aku dan Bejo mulai curiga, namun kami biarkan saja. Mr. X kemudian menelfon sang bos restoran dengan bahasa sunda yang tak kami mengerti. Lima menit kemudian sang bos datang. Kami memaparkan maksud dan tujuan sampai menanyakan harga prasmanan. Sang bos menjawab, untuk sebuah rombongan, biasa mereka memberi harga Rp. 17.500,-. Dug! Hati kami, aku dan Bejo berdetak kencang.

Ternyata, dibalik senyum Mr X yang tulus itu, tersimpan kepalsuan yang kejam. Harga Rp. 17.000 untuk rombongan adalah harga yang tak masuk akal. Biasanya Rp. 12.000 – Rp. 14.000,-. Ini berarti Mr. X telah bermain duluan dengan sang bos restoran. Senyum palsu yang sungguh menyakitkan. Seolah membantu tapi menikam dari belakang. Sialan!

Kami menyadari itu, tapi tetap tersenyum meski hati tak karuan. Bukan soal uang Rp. 5000,- tapi harga sebuah pertemanan yang baru dikenalkan begitu murah. Bayangkan jika kelak kami membawa 4 bus rombongan, dan Mr X yang modal bacot itu leha-leha sudah dapat Rp. 5000 x200 orang. Itu setiap kami membawa keberangkatan. Ini bisa membunuh biro kami secara perlahan. Setelah diskusi dengan bejo, aku putuskan untuk tidak memakainya. Mending dipercayakan kepada sopir. Itulah, kehidupan jalanan, rentan dimanfaatkan.

Pelajaran Kedua

Malam harinya, dari Tasyik kami menuju Bekasi. Tujuan kami adalah ke Asrama Haji untuk menanyakan transit. Sampai di Asrama Haji, kami menanyakan kamar transit dan sang penjaga mengatakan kosong semua. Ia juga menyarankan agar menghubungi Mr Y, seorang juragan cetering yang juga bisa mencarikan tempat transit. Kami lemas, tapi tak patah semangat. Lalu langsung pergi ke Gedung Islamic Centre dan memperoleh jawaban yang sama. Sungguh ini sebuah ujian.

Bersambung… (mau udud-udud dulu sambil dengerin ida laila)

Misteri Ikhlas

Iklas itu misteri yang tersimpan dalam hati manusia. Banyak orang berkata, “aku ikhlas kok!”. Namun, kata dan ucapan tentu belum menjamin. Oleh karena, ikhlas itu bersifat ruhani, esoterik.

Dalam Al-Quran, sebenarnya Allah memberi kita pelajaran. Setiap nama surat dalam al-Quran semuanya disebut di dalam ayatnya, seperi An-Naas, Al-Falaq atau Al-Qaariah.

Namun, khusus untuk surat Al-Ikhlas redaksinya tak ada kata ikhlas. Ini menunjukkan ikhlas itu tak nampak, tak diucapkan dan melakukan sesuatu hanya karena Allah semata; sebagai juri, pengawas dan motif utama.

Lebaran Beda

“Mas Nop, menurut NU Online Rabu (1/7), Hari Raya Idul Fitri besok berpotensi tidak bersamaan”
“Iya, saya sudah baca beritanya”
“Jika beda beneran, baiknya saya ikut yang mana ya, yang lebaran pemerintah atau swasta?”
“Edan! lebaran kok ada negeri sama swasta! hahaha. Ya terserah kamu, yang penting pilih salahsatu sesuai madzhabmu, NU atau Muhammadiyah.”
“Kalau puasanya ikut yang paling cepet, dan lebaranya ikut yang paling akhir, gimana?”
“Itu artinya kamu orang pemerintah tapi ikut antri mendapat raskin”
“Kakakakakaka, gitu ya, berarti nggak boleh. Seandainya Mas Nop yang jadi menteri agama, kira-kira jika lebaran beda gimana solusinya?”
“Akan saya putuskan: puasanya diulang sebulan!”
“Kakakakakakakakakakakaka…”

Wasiat Mengejutkan Sultan Sulaiman/ King Sulaiman (1520-1566)

Salah seorang karyawan Istana menceritakan bahwa banyak semut di dahan pepohonan di lingkungan istana Tub Qabi. Berdasarkan hasil konsultasi dengan para pakar dilingkungan istana, mereka menyarankan agar semut-semut itu di musnahkan dengan menggunakan minyak lemak.

Namun hal tersebut bukanlah kebiasaan Sultan Sulaiman. Walaupun ia sudah mendapatkan masukan dari para pakar istana, ia tidak akan melaksanakannya bila tidak ada fatwa dari Syaikhul Islam.

Maka pergilah Sultan ke tempat Abu Saud Afandi utk meminta fatwa. Namun sayang, sang ulama yang dicari tak nampak ditempatnya. Lalu ditulislah pesan dalam bentuk bait syair pada buku yang telah disediakan. Dalam bait syairnya Sultan menyampaikan,
“apabila semut telah menyatu dg pohon, apakah boleh membunuhnya?”

Saat Syaikh Abu Saud Afandi kembali dan membaca pesan sang Sultan, dengan segera ia membalas pesan tersebut dengan untaian syair kembali, “Jika timbangan keadilan telah ditegakkan, maka ambillah semut tanpa membuat wajahnya merah”.

Demikianlah kebiasaan Sultan Sulaiman. Ia tidak akan melakukan sesuatu kebijakan tanpa adanya fatwa dari Syaikhul Islam atau Lembaga Ulama Tertinggi di lingkungan Daulah Utsmaniyah.

Kini Sultan yang menghormati para ulama itu telah wafat dalam pertempuran “Zaktor” saat Dinasti Ottoman (khilafah Utsmaniyah) sedang mengadakan ekspansi ke wilayah Wina. Pasukan kaum muslimin sepakat untuk membawa pulang jasadnya ke Istambul. Dalam perjalanan, ditemukan sebuah wasiat yang telah dituliskan oleh Sultan bahwa ia telah membuat sebuah kotak kecil yg akan dibawanya saat dikuburkan.

Para ulama keheranan saat membaca wasiat tersebut. Mereka menyangka bahwa kotak tersebut dipenuhi dengan harta yang sangat berharga. Akhirnya para ulama bersepakat bahwa Sultan tidak boleh membawa apapun ke dalam lubang kuburnya dan diputuskan untuk membuka kotak tersebut.

Para ulama sangat dikagetkan dengan isi kotak tersebut saat dibuka. Ternyata kotak yang diwasiatkan Sultan Sulaiman berisi fatwa-fatwa para ulama yang pernah dimintanya pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

Syaikh Abu Saud menangis sesegukan sambil mengatakan, “Engkau telah menyelamatkan dirimu wahai Sulaiman. Langit yang mana lagi yang bisa kami jadikan sebagai atap, dan bumi yang mana lagi yang dapat kami jadikan utk berpijak jika seandainya kami semua salah dalam fatwa-fatwa kami?!.”

Rahimahullah Sultan Sulaiman Al-Qanuni.

Semoga kisah ini menginspirasi dan mencerahkan kita semua, utamanya para pemimpin dan pejabat hari ini, atau para calon pemimpin di masa yang akan datang; untuk lebih hormat dan mengulamakan ulama. Amin.

#AyoMondok!

Hidup cuma sekali, jangan sampai tak pernah merasakan sensasi nyantri di pesantren!

“… pesantren itu selama ini disebut pendidikan tradisional, iku kurang ajar tenan. Terus sing tradisional ki dianggep luweh rendah timbangane sekolah modern. Aku kepengen ngomong, eh tak kandani yo, pesantren itu mulai ditiru wong sak donyo saiki. Besok sak donyo ki pesantren kabeh ” – Cak Nun (Emha Ainun Nadjib), Sang Guru Bangsa.

” … I realise that in fact, Oxford University its self is a pondok” – Dr Afifi Al-Akiti (Dosen Studi Islam, Universitas Oxford, Inggris; Alumni Pondok Pesantren Kencong Jember Jawa Timur)

“Seandainya tidak ada pesantren, tentu sudah runtuh nasionalisme Indonesia” – Dr Ernest Douwes Dekker, Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional.

“Sistem pendidikan terbaik adalah sistem pendidikan pondok pesantren” – Ki Hajar Dewantara (RM Soewardi Surjaningrat), pendiri Taman Siswa, Bapak Pendidikan Nasional.

Keteladanan KH Hasyim Asy’ari

Ini adalah kisah yang diceritakan oleh Zuhairi Misrawi, penulis buku biografi KH Hasyim Asyari ketika diwawancara pada acara MataNajwa, Metro TV.

Al-Kisah, K.H. Hasyim Asyari nyantri ke banyak pesantren, sehingga keilmuan beliau diakui banyak orang, utamanya sebagai ahli hadits. Kemudian pada bulan 20 Sya’ban-Ramadhan banyak kiai-kiai ke Tebuireng mengaji kepada Kiai Hasyim. Ketika itu datang orang-orang yang pernah menjadi guru beliau. Namun beliau tidak mau. “Wah tidak, Bapak-Bapak ini guru saya” ucap Kiai Hasyim tawadhu. Kemudian dijawab oleh mereka, “Iya tetapi kami semua ingin mengaji”.

Akhirnya setelah dirayu Sang Guru Besar (Hadratussyekh) yang hafal kutubus sittah itupun mau dengan mengajukan beberapa syarat. “Tetapi, saya yang akan menyediakan semuanya,” tegas Kiai Hasyim, sang pendiri NU. “Tidak perlu masak, tidak perlu mencuci pakaian, karena itu akan dilayani oleh santri”. Semua sepakat.

Suatu malam, ada santri terbangun. Ia melihat ada orang yang mengambil pakaian-pakaian kotor. Ia ingin tahu siapa orang itu, lalu diikuti sampai mencuci. Ternyata, itu adalah Kiai Hasyim sendiri. Beliau mencuci pakaian kiai-kiai yang pernah jadi gurunya.

Agama Ilmu, Bid’ah dan Berkah

Ayat Al-Quran yang pertama kali turun itu unik. Temanya bukan soal keimanan atau keislaman, tetapi “iqra'”, bacalah. Padahal, Nabi Muhamad ummy, yaitu tidak bisa baca dan tulis, “ma ana biqaari’in” dengan tambahan huruf “ba”’ berfaidah “litaukidin nafyi”, memperteguh ketidakadanya bisa baca. Terkait ini, Imam Abu Zahrah berpendapat, bahwa dengan ini Allah mendeklarasakan agama ilmu.

Saking cintanya sampai-sampai baginda nabi bersabda, manusia itu hanya ada dua: alim dan mutaalim (manusia yang pintar dan belum pintar tapi mau belajar). Logikanya, dengan demikian jika ada orang pintar (alim) tidak, mau belajar juga tidak, maka ia tidak disebut manusia. Nabi juga berkata kepada Abi Dzar, bahwa keluar rumah untuk belajar satu ayat itu lebih utama dibanding shalat 100 rakat.

Para nabi wafat tidak meningalkan emas dan harta. Namun mereka mewarisi ilmu(wiratsah ilmiah). Dalam Islam, ilmu yang pokok itu ada tiga: tentang keimanan(tauhid), hukum(fiqh) dan maqamul ihsan (tashawuf). Ilmu itu diturunkan dan sampai hari ini masih dijaga ulama, cendekiawan dan para ilmuan. Semua itu sumbernya dari Al-Quran yang diturunkan pada bulan Ramadhan. Inilah salahsatu yang membuat bulan Ramadhan spesial.

Atas jasa bid’ah yang digagas dan dilakukan Umar Bin Khatab untuk mengkodivikasi Al-Quran dan diselesaikan pada masa Khalifah Utsman bin Afan, sampai kini ayat-ayat itu masih terjaga. Inilah dasar bid’ah yang dilakukan ulama-ulama NU. Kita boleh berbeda dengan nabi, sepanjang itu tidak bertentangan dengan Al-Quran.

Ketika nabi hendak haji, beliau dihadang musuhnya, padahal teranjur ihram. Maka beliau takhalul menyukur rambutya. Maka sahabat-sahabat beliau antri menoleksi rambut beliau. Khalid bin Walid yang datang belakangan tak kebagian, maka beliau meminta nabi untuk menyukur kembali. Rambut itu kemudian ditaruh Khalid dalam peci atau kopiahnya dan dipakai untuk perang. Ia tak akan berangkat perang tanpa kopiah tersebut.

Pernah suatu ketika pada saat perang kopiahnya jatuh dibawah kaki musuh. Khalid marah dan “ngosak-asik” musuh dengan mengebu-gebu. Ditanya sahabat lain, “mengapa begitu bernafsunya mendapatkan kopiah tersebut?” tanyanya. “Bukan soal kopiahnya, namun apa yang ada dalam kopiah tersebut, yaitu rambut baginda nabi. Berkah rambut nabi tersebut, dan tentu atas kehendak Allah, Khalid menjadi panglima perang besar dalam Islam yang tak pernah kalah.

Baginda nabi juga tak pernah meludah di tanah. Ketika beliau mau meludah, sahabat sudah lebih dulu menyadongkan tangannya untuk kemudian diusap-usapkan ke muka. Perah juga, beliau bekam lalu darahnya dimasukan kedalam botol. Beliau minta Umu Aiman untuk membuangnya, tapi malah diminumnya. Darah nabi itu suci. Kemudian nabi malah bersabda bahwa neraka tidak akan mampu membakar tubuh yang ada darahnya.

Adalagai sahabat yang rambutnya pendek tapi khusus bagian depan panjang sampai menyentuh tanah. Ditanya sahabat lain, “Mengapa yang bagian depan panjang?” ia menjawab, “Karena bagian depan itu perah dielus oleh nabi”. Itulah potret sahabat dalam mencari berkah. Masih banyak lagi cerita tentang berkah. Jika nabi melarang, tentu waktu itu beliau akan mengingatkanya.

Selain hal diatas, nabi mewariskan agama Islam dan wiratsah khuluqiyah (warisan akhlak). :)