Cari

NAUFA BLOG

"Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian" – PAT

Rajawali itu Bernama NU, Ini Kekuatan Dua Sayapnya

Aula milik Nahdlatul Ulama (NU) Purworejo malam itu gemuruh oleh lantunan mars Ansor, Banser dan yel-yel yang dinyanyikan oleh peserta Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) dan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang diselenggarakan oleh pengurus GP Ansor Purworejo, Jawa Tengah.

oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun Lanjutkan membaca “Rajawali itu Bernama NU, Ini Kekuatan Dua Sayapnya”

Pria Sangar Bertato itu Bukan Preman

Pria tinggi berbadan kekar itu menuju kami. Dengan wajah yang sangar, namun masih memiliki sedikit keramahan. Ia menyalami. Di pergelangan tangannya yang berotot, tampak jelas tato besar yang sulit dihapus.

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

*** Lanjutkan membaca “Pria Sangar Bertato itu Bukan Preman”

Nilai-nilai Islami dalam Sepak Bola

Sepak bola selalu menarik perhatian jutaan manusia di muka bumi ini. Sampai-sampai, di luar negeri, khususnya negara-negara Eropa, sepak bola sudah seperti agama.

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Di Indonesia sendiri, sepak bola menjadi salah satu cabang olahraga yang paling populer. Ia dimaninkan di gang-gang kumuh, sawah, halaman sekolah, halaman madrasah, dan atap gedung di Jakarta oleh anak-anak kecil, sampai dimainkan pemain profesional di GBK. Lanjutkan membaca “Nilai-nilai Islami dalam Sepak Bola”

Air Mata Itu Tumpah di Hadapanku

Sengatan mentari menambah panasnya persaingan manusia di muka bumi ini, tak terkecuali di atas angkot langit Semarang. Sang sopir bergerak dengan gila-gilaan, mengombang-ambingkan penumpang. Lanjutkan membaca “Air Mata Itu Tumpah di Hadapanku”

Nabi Muhammad Mataharinya Dunia

Setelah mengikuti acara maulid nabi semalam, tiba-tiba di benak saya terngiang sebuah syair pemujaan atas nabi dalam kitab Albarzanji: anta syamsun, anta badrun, anta nuurun fauqa nuuri (engkau nabi laksana matahari, laksana rembulan purnama, engkau cahaya diatas cahaya).

Lanjutkan membaca “Nabi Muhammad Mataharinya Dunia”

Mengapa Mesti Ada NU di Indonesia?

Cewek berkacamata itu berdiri tepat di depan pintu, melempar senyum, mengucapkan salam, kemudian masuk ke ruang kelas.

Badannya tegap, dengan tinggi proporsional dan air muka yang dipenuhi senyuman. Ia menghadap, dan saya persilakan duduk. Beberapa pertanyaan terkait ke-NU-an, siap menghadangnya, juga puluhan peserta lainnya. Lanjutkan membaca “Mengapa Mesti Ada NU di Indonesia?”

Ibu Saya Tak Kenal Hoax

Ibu saya memang tak punya akun fesbuk, twitter, instagram, apalagi ngeblog. Jangankan internet, memainkan hape saja beliyo tidak sempurna: cukup bisa cari kontak, pencet dan bilang halo. Tapi saya tidak melihatnya katrok, mundur, terbelakang, apalagi ketinggalan jaman. Lanjutkan membaca “Ibu Saya Tak Kenal Hoax”

Menghujat dan Mencaci-maki Ulama

Dewasa ini di media sosial banyak lahir penghujat dan penista baru. Dan yang mereka hujat bukanlah orang sembarangan, melainkan orang-orang yang berpengaruh, seperti ulama dan presiden. Sebagai contoh, Kiai Said Aqil Siroj dihujat dengan tuduhan fatwa-nya karena duit, Prof Quraish Shihab dituduh Syiah dan Gus Mus dihina dengan umpatan yang, tak tega saya menulisnya di sini. Belum lagi, orasi Ahmad Dhani yang menghujat presiden, pemimpin 255 juta rakyat Indonesia, dengan umpatan yang sungguh mengerikan.

Lanjutkan membaca “Menghujat dan Mencaci-maki Ulama”

Potret Akhlak Mbah Dim Kendal

Saya akan memenuhi permintaan salah satu teman, yang menyuruh saya menulis tentang akhlak kiai dan para ulama yang teduh, ditengah berbagai cacian dan hujatan di media sosial. Ini adalah tulisan pertama dari permintaan itu, berdasarkan pengalaman saya saja, karena sedang malas riset data. Lanjutkan membaca “Potret Akhlak Mbah Dim Kendal”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑