Maiyah Februari 2016 : Eskalasi Generasi

IMG_1463(Reportase Wolulasan ke-63 | Jamaah Maiyah Purworejo |Selasa, 8 Februari 2016)
Aula Hotel Ganesha Purworejo agak berbeda dari biasanya, juga mungkin hotel-hotel lainnya di seluruh dunia. Karpet sederhana dihamparkan, serta sepotong spanduk hitam dengan gambar lentera redup bertuliskan: “wolulasan”, sebuah pertanda acara “tanpa biaya” dan bantuan pemerintah segera dilaksanakan.

Bacaan Alquran dilanjutkan Albarzanji malam itu menggema, menyusup ke sela-sela atap Aula, lalu dibawa angin terbang ke langit, bertebaran doa-doa: pujian kepada manusia yang tak seperti manusia biasa: Muhammad saw. Dengan iringan rebana, anak-anak muda itu membuncahkan adrenalin spiritual: menikmati agama. Continue reading “Maiyah Februari 2016 : Eskalasi Generasi”

Senyum Jessica, Media & Opini Publik

Wanita muda itu masih bisa melempar senyum kepada pewawancara, ketika dihadirkan secara live dalam sebuah acara bertajuk “Gestur” di TV One, 12 Januari 2016. Ditanya apa yang membuat ia masih tenang: bisa senyum dan biasa saja menghadapi masalah besar itu. Ia menjawab: “Saya memang tidak berbuat, jadi menurut kuasa hukum saya: kalau saya tidak berbuat, ngomong apa adanya, tetap tenang. Dibalik ini saya juga sedih dan menangis….selain itu, karena saya tidak biasa mengumbar kesedihan di depan publik”katanya, didepan jutaan pasang mata. Continue reading “Senyum Jessica, Media & Opini Publik”

Perjalanan Mendapat Buku Benturan NU-PKI

Orang itu sudah aku kenal sebelumnya. Di sore yang cerah itu, aku kembali bertemu dengannya di Sekretariat Panitia Pengkaderan NU dan Banom di Sutoragan, Kemiri, Purworejo. Namanya Pak Mahsun. Lengkapnya adalah Dr Kiai Mahsun SAg MAg. Kamipun kemudian berdiskusi, seputar NU dan problematika Indonesia. Selain sebagai dosen dan ketua tanfidziyah PCNU Kabupaten Magelang, kini ia juga dipercaya masyarakat memimpin pesantren serta ceramah kemana-mana.

Sampai malam, usai mengisi materi, kami diskusi hangat dengan ditemani tempe goreng, arem-arem, kopi dan rokok. Progres dan problem ke-NU-an menjadi bahasan pertama kami. Lalu dengan panjang lebar kami diskusi soal kepemimpinan nasional dan masa transisi Orde Baru menuju Reformasi. Setelah itu, ideologi komunis dan pengadilan “abal-abal” internasional di Belanda yang membela PKI dengan kedok HAM di negeri yang dulu menjajah itu, menjadi topik hangat kami, sampai jam 11.00 malam. Sampai disitu, aku mengeluh belum mendapatkan buku Benturan NU VS PKI 48-65, terbitan sekaligus sikap resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atas peristiwa berdarah yang mengerikan itu. Continue reading “Perjalanan Mendapat Buku Benturan NU-PKI”

Kelak, Aku Akan Berhenti

Perkenalkan, namaku Reni (bukan nama sebenarnya). Aku lahir 19 tahun lalu di sebuah desa di Purwakarta, Jawa Barat. Wajahku putih, bersih dan lumayan cantik untuk seorang cewek. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku, cowok dan cewek, masing-masing duduk di bangku SD dan SMP. Semenjak lulus SMA tahun 2012 kemarin, sebagai anak pertama, aku berniat bekerja untuk membantu ibu yang lama ditinggal cerai ayah.

Berhari-hari aku membawa surat lamaran ke berbagai perusahaan, tapi sia-sia. Ijazah SMA hari ini sepertinya tak laku apa-apa. Aku bingung harus berbuat apa. Sedangkan, ibuku harus kerja banting tulang bekerja sebagai buruh di laundryan. Seringkali air mataku menetes tiap melihat ibu bekerja sendirian untuk menghidupi ketiga anaknya. Continue reading “Kelak, Aku Akan Berhenti”

Mbak Anggun dan Feminisme

Saya tak ada ubahnya ibu: ngefans dengan seorang penyanyi wanita Indonesia yang cerdas, inspiratif dan yang membanggakan: sudah go Internasional. Yah, Anggun C. Sasmi. Mbak Anggun, begitu disini saya memanggilnya, selain suka banget dengan makanan yang bernama jengkol, ternyata juga lantang menyuarakan feminisme. Ini merupakan temuan pertama saya tentang Mbak Anggun, yang belumnya belum pernah saya ketahui. Continue reading “Mbak Anggun dan Feminisme”

Reportase Maiyah Januari 2016: Teror Mata Sapi

Di ruang tamu sebuah rumah bercat oranye, dua kilometer sebelah barat Pendopo Kabupaten Purworejo itu, malam tak seperti biasanya. Beberapa gadis sibuk menyiapkan aneka hidangan, pertanda akan ada tamu-tamu yang datang.

Malam itu tepat 22 Januari 2016, dimana akan digelar Forum Jamaah Maiyah Purworejo: Wolulasan. Pertemuan malam itu, merupakan proses panjang semenjak tahun 2011 dan merupakan pertemuan yang ke-62.

Ketika malam semakin malam, satu persatu peserta berdatangan, membawa dirinya masing-masing. Membawa keresahannya masing-masing. Membawa kegelisahannya masing-masing. Membawa pengetahuannya masing-masing. Continue reading “Reportase Maiyah Januari 2016: Teror Mata Sapi”