Agama Ilmu, Bid’ah dan Berkah

Ayat Al-Quran yang pertama kali turun itu unik. Temanya bukan soal keimanan atau keislaman, tetapi “iqra'”, bacalah. Padahal, Nabi Muhamad ummy, yaitu tidak bisa baca dan tulis, “ma ana biqaari’in” dengan tambahan huruf “ba”’ berfaidah “litaukidin nafyi”, memperteguh ketidakadanya bisa baca. Terkait ini, Imam Abu Zahrah berpendapat, bahwa dengan ini Allah mendeklarasakan agama ilmu.

Saking cintanya sampai-sampai baginda nabi bersabda, manusia itu hanya ada dua: alim dan mutaalim (manusia yang pintar dan belum pintar tapi mau belajar). Logikanya, dengan demikian jika ada orang pintar (alim) tidak, mau belajar juga tidak, maka ia tidak disebut manusia. Nabi juga berkata kepada Abi Dzar, bahwa keluar rumah untuk belajar satu ayat itu lebih utama dibanding shalat 100 rakat.

Para nabi wafat tidak meningalkan emas dan harta. Namun mereka mewarisi ilmu(wiratsah ilmiah). Dalam Islam, ilmu yang pokok itu ada tiga: tentang keimanan(tauhid), hukum(fiqh) dan maqamul ihsan (tashawuf). Ilmu itu diturunkan dan sampai hari ini masih dijaga ulama, cendekiawan dan para ilmuan. Semua itu sumbernya dari Al-Quran yang diturunkan pada bulan Ramadhan. Inilah salahsatu yang membuat bulan Ramadhan spesial.

Atas jasa bid’ah yang digagas dan dilakukan Umar Bin Khatab untuk mengkodivikasi Al-Quran dan diselesaikan pada masa Khalifah Utsman bin Afan, sampai kini ayat-ayat itu masih terjaga. Inilah dasar bid’ah yang dilakukan ulama-ulama NU. Kita boleh berbeda dengan nabi, sepanjang itu tidak bertentangan dengan Al-Quran.

Ketika nabi hendak haji, beliau dihadang musuhnya, padahal teranjur ihram. Maka beliau takhalul menyukur rambutya. Maka sahabat-sahabat beliau antri menoleksi rambut beliau. Khalid bin Walid yang datang belakangan tak kebagian, maka beliau meminta nabi untuk menyukur kembali. Rambut itu kemudian ditaruh Khalid dalam peci atau kopiahnya dan dipakai untuk perang. Ia tak akan berangkat perang tanpa kopiah tersebut.

Pernah suatu ketika pada saat perang kopiahnya jatuh dibawah kaki musuh. Khalid marah dan “ngosak-asik” musuh dengan mengebu-gebu. Ditanya sahabat lain, “mengapa begitu bernafsunya mendapatkan kopiah tersebut?” tanyanya. “Bukan soal kopiahnya, namun apa yang ada dalam kopiah tersebut, yaitu rambut baginda nabi. Berkah rambut nabi tersebut, dan tentu atas kehendak Allah, Khalid menjadi panglima perang besar dalam Islam yang tak pernah kalah.

Baginda nabi juga tak pernah meludah di tanah. Ketika beliau mau meludah, sahabat sudah lebih dulu menyadongkan tangannya untuk kemudian diusap-usapkan ke muka. Perah juga, beliau bekam lalu darahnya dimasukan kedalam botol. Beliau minta Umu Aiman untuk membuangnya, tapi malah diminumnya. Darah nabi itu suci. Kemudian nabi malah bersabda bahwa neraka tidak akan mampu membakar tubuh yang ada darahnya.

Adalagai sahabat yang rambutnya pendek tapi khusus bagian depan panjang sampai menyentuh tanah. Ditanya sahabat lain, “Mengapa yang bagian depan panjang?” ia menjawab, “Karena bagian depan itu perah dielus oleh nabi”. Itulah potret sahabat dalam mencari berkah. Masih banyak lagi cerita tentang berkah. Jika nabi melarang, tentu waktu itu beliau akan mengingatkanya.

Selain hal diatas, nabi mewariskan agama Islam dan wiratsah khuluqiyah (warisan akhlak). :)

Buka Warung dan Menghormati Orang Puasa

Statement Menteri Agama Drs H Lukman Hakim Saifuddin terkait bolehnya buka warung di bulan Ramadhan dan penghormatan kepada yang tidak puasa, dibully sekaligus diplesetkan di sosial media. Saya jadi resah, begitu mudahnya orang menyalahkan tanpa dasar teologis dan landasan filosofis yang kuat.

Untuk yang pertama, saya jadi ingat ketika pada Ramadhan tahun 2007 lalu saya diutus Pondok Pesantren “An-Nawawi” Berjan Purworejo untuk menjadi ustadz(meski saya belum layak jadi ustadz) di Gunungkidul Yogyakarta selama sebulan. Waktu itu, di pengajian pagi ada jamaah ibu-ibu bertanya,

“Mas Ustadz, saya itu janda dan masih membiayai pendidikan anak-anak saya. Untuk itu, sekarang saya buka warung makan. Di bulan Ramadhan ini, apa hukumnya jika saya tetap buka warung? Sedang diluar sana, FPI men-sweeping dan merusak warung-warung yang buka, seperti kata berita. Sementara jika ditutup, dapur saya nggak ngepul,” katanya sambil menatap cemas.

Usai berpikir sejenak, saya menjawab, “Tidak usah tutup, Bu. Niatkan dalam hati ibu jual makanan untuk: musafir, orang sakit, anak-anak, wanita haid dan non-muslim. Kesemuanya itu boleh tidak puasa di bulan Ramadhan. Allah memberi privilege (hak istimewa) langsung untuk musafir dan orang sakit setelah perintah puasa. Warungnya tetap buka tidak apa-apa. Hanya saja, tolong depannya diberi satir atau penutup untuk menghormati yang puasa” Si ibu itupun sepertinya puas mendengar jawaban dari saya.

Kemudian ia tetap membuka warung seperti biasa, menangung hidup anak-anaknya. Hal seperti inilah yang mesti dipahami oleh para pemeluk agama, apalagi ormas yang membawa nama agama. Islam itu mempermudah, bukan mempersulit umatnya, apalagi marah-marah. Islam harus dibumikan hingga benar-benar membawa kemaslahatan.

Lalu yang kedua, “Orang yang puasa juga harus menghormati yang tidak puasa,” kata Menteri yang ayahandanya (KH Saifuddin Zuhri) menjadi salahsatu idola dan inspirasi hidup saya. Kata itu diplesetkan oleh sebagian orang menjadi, “Orang yang puasa harus menghormati yang tidak puasa” Pertama, kata “juga” dihilangkan sehingga seolah hanya yang puasa saja yang harus menghormati.

Kedua, menghormati yang tidak puasa itu sebuah keniscayaan mengingat yang diperintah puasa ini adalah umat muslim saja. Logikanya, Allah membolehkan umat non-muslim makan. Lalu, secara kualitatif, adanya orang yang tidak puasa juga sebagai penguji bagi yang puasa. Terakhir, Islam mengajarkan: mengormati itu wajib, sedangkan dihormati tidak wajib. Disinilah kita perlu introspeksi diri, apakah kita sudah mempuasakan hati dan jiwa kita, untuk bersikap sabar, arif dan bijaksana? Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya! :)

25 Juni 2015

Mode Terkini

Sampai hari ini aku masih ngantor di PW IPNU Jawa Tengah, Semarang. Untuk berbuka puasa, warung makan yang agak dekat adalah warteg dekat komplek kampus IKIP PGRI. Kebetulan, sang pelayan adalah seorang cewek lumayan cantik nan seksi. Ia memakai celana super ketat-tat, sampai-sampai bentuk dan lekuk tubuhnya terlihat.
Begitupun dengan pakaian atasnya, memakai kaos oblong yang membentuk tubuhnya. Sontak ini menjadi pemandangan yang terlalu manis untuk dibuang. Kedua temanku Irmawan Perjuangan dan Milata Abraham menjadi gagal fokus pada makanan. Akupun demikian. smile emotikon
Namun, yang paling menarik perhatian, bukanlah paras atau pakaian sang pelayan. Tapi, tulisan nyentrik yang ada di kaos bagian depan, berbunyi:
“I ♥ Muslim Mode”

23 Juni 2015

Orang Sukses

“Mas, orang sukses itu yang seperti apa?”
“Orang yang hidupnya dalam ridlo ilahi”
“Abstrak itu, mas”
“Hidupnya sesuai panduan kitab suci; menjalankan kewajiban, menjauhi larangan, berbuat baik terhadap sesama dan alam”
“Jadi, siapapun bisa sukses, ya?”
“Iya, jadi apapun kita, apapun profesi dan pendidikannya”
“Oh, simple ternyata, tak seperti dikatakan orang: harus kaya, pinter, ini dan itu, yang penting cinta dan berusaha menjadi baik serta terus belajar”
“Kaya-miskin, pinter-ngga pinter, ganteng-kurang ganteng, alim-awam, senang-sedih, bertahta-rakyat jelata, semua itu ujian hidup. Akhiratlah kesuksesan sesungguhnya, itu ditempuh dengan kita baik, adil, jujur, sportif dan berakhlak di dunia”
“Berarti kita ngga boleh meremehkan siapapun?”
“Ada pelacur yang taubat di akhir hidupnya, dan bahkan sayyidina Umar ketika jadi preman, sebelum masuk Islam, pernah membunuh anaknya.”

29 Mei 2015

Biar

Biar resah ini kubawa lari sendiri
Berkobar membakar keliaran akal dan hati
Selagi bersandar pada ilahi rabbi
Biarlah kutapaki jalan sunyi ini
Kulihat ia besar tapi kecil dimata Tuhan
Mengoyak angan dan membunuh keberanian
Kucari butir-butir hikmah keadaan
Sambil berperang melawan kenyataan
Mengandalkan Tuhan.
27 Mei 2015

Demak

23:55 WIB – keluar Masjid Agung Demak.

Maaf untuk rekan-rekan Demak, kami tak sempat mampir karena padatnya agenda.
Ada kesan mengharukan, barangkali bisa disampaikan kepada Bupati Demak atau Dinas Sosial setempat, tentang banyaknya pengemis di area makam.

Begitu kami serombongam keluar makam, puluhan pengemis berderet meminta iba dari para peziarah. Mereka rata-rata orang tua dengan alas tidur seadanya. Rintihan mereka bagai meriam dalam perang. Tambah lagi, simbol dan identitas keislaman mereka dengan memakai kerudung tentu akan memalukan.

Sekiranya rekan-rekan di IPNU Demak mau menkomunikasikan dengan dinas terkait agar dibina atau dibawa ke panti, itu tentu akan sangat menarik. Selain membangun kenyamanan destinasi wisata terbanyak setelah Borobudur ini, tentu Demak akan terlihat rapi dan sejahtera.

Itu permohonan kami, rekan. Oleh karwna dibalik ramainya para peziarah, imajinasi kami melihat Sultan Fatah menangis melihat pengemis-pengemis renta itu.

Salam BBB!

16 Mei 2015

Sahabat

Seseorang berkata kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh:
“Ya Ali, kulihat sahabat-sahabatmu begitu setia, sehingga mereka banyak sekali. Ada berapakah keseluruhan jumlah sahabat-sahabatmu?”
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh menjawab:
“Nanti akan kuhitung berapa jumlahnya, setelah aku tertimpa musibah.”

Tradisi

Sebagian ulama mengeluarkan kaidah:
يُشْرَعُ تَرْكُ السُّنَنِ وَالْمُسْتَحَبَّاتِ لِتَأْلِيْفِ الْقُلُوْبِ
Disyari’atkan meninggalkan amalan-amalan sunnah dan mustahab untuk menarik simpati masyarakat.
Kaidah di atas merekomendasikan, agar kita mengikuti tradisi masyarakat, selama tradisi tersebut tidak haram. Imam Ahmad bin Hanbal meninggalkan shalat sunnah qabliyah Jum’at, juga karena tradisi masyarakatnya yang tidak pernah melakukannya dan menganggapnya tidak sunnah, untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan dengan mereka.

Surga Neraka

“Mas, kira-kira, ngapain ya Tuhan memberi iming-iming surga dan neraka?”
“Hmmmm, kadang orang hanya butuh iming-iming dan ancaman. Seperti anak kecil itu: kadang logika tak mampu mempengaruhinya”
“Ada logika juga?”
“Iya, logika lebih tinggi. Ia mau memaknai dan memahami Islam dengan sains, logika dan dasar-dasar ilmiah. Ini biasanya dilakukan oleh intelektual atau ulama, oleh sebab tak ada konsep dalam Al-Quran yang bertentangan dengan sains atau ilmu modern”
“Kalau ada yang bilang Islam itu agama Cinta?”
“Itulah yang paling tinggi. Itulah tingkatan para wali dan orang yang sudah sampai pada level tajalli. Umumnya, setelah menkaji logika, yurisprudensi Islam, mereka akan mmaauki dunia tasauf melalui tarekat. Substansi hidup, kehidupan dan ketuhanan dikaji disini. Jika sudah sampai, mereka memasuki agama cinta; tak punya kesedihan, ketakutan maupun derita.”

04 Mei 2015