Resolusi Jihad Pergerakan

Rekomendasi dari PMII untuk Presiden RI | Harlah ke-55 PMII | Surabaya, 17 April 2015.

1. Mempertahankan Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa.
2. Meneguhkan nilai-nilai Islam Paham Ahlusunnah Waljama’ah An Nahdliyah di kampus.
3. Menjaga keutuhan dan Kedaulatan NKRI.
4. Bidang Hukum:
a) Penerapan pemberantasan korupsi tanpa tebang pilih.
b) Mendorong Pemberantasan peredaran narkoba.
c) Menerapankan sistem retroaktif dalam tindak pidana korupsi.
d) Revisi Undang-Undang yang berbau liberal.
e) Penerapan sistem laydage dalam penentuan hakim di Indonesia.
f) Penciptaan transparansi dalam rekuitmen aparat penegak hokum.

5. Bidang Politik dan pemerintahan:
a) Mendorong pemerintahan nasional yang bersih dan kuat melalui sistem desentralisasi dan otonomi daerah berbasis kesejahteraan rakyat.
b) Memperkuat sitem Demokrasi di Indonesia melalui Penyederhanaan Fraksi di DPR.
c) Menghadirkan pelayanan Publik hingga ke Desa.
d) Memperkuat daerah Otonom dan Memperketat Standarisasi Pemekaran Daerah Otonomi Baru.

6. Bidang Ekonomi dan SDA:
a) Menjaga stabilitas ekonomi secara fiskal dan Moneter.
b) Mendorong kemandirian ekonomi dengan mempermudah kredit usaha rakyat untuk menciptakan kewirausahaan dan kelompok ekonomi kreatif.
c) Mempersiapkan sumber daya manusia dan Produk-produk ekonomi Nasional dalam menghadai MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).
d) Mempermudah akses perizinan dalam mendorong hak paten.
e) Mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi pada sektor produktif dengan mengedepankan alih teknologi.
f) Mendorong tatakelola migas minerba yang berpihak pada kepentingan nasional dan daerah.
g) Mendorong terciptanya energi terbarukan yang ramah lingkungan.
h) Merumuskan strategi dan mendorong penerimaan pajak nasional.

7. Bidang Pertanian:
a) Mendorong terciptanya kedaulatan pangan.
b) Melindungi produk pertanian Indonesia dengan mengurangi impor dan meningkatkan ekpor hasil pertanian Indonesia.
c) Memperluas area lahan produksi pertanian.

d) Mendorong sistem resi gudang di masing-masing daerah.
e) Mendirikan pasar pertanian di setiap desa.
f) Moratorium alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan pembangunan.
g) Mendorong percepatan reformasi agrarian.

8. Bidang Pendidikan :
a) Pendidikan murah untuk rakyat (SD-Perguruan Tinggi) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Bangsa Indonesia.
b) Membangun infrastruktur pendidikan yang berkualitas disetiap level pendidikan.
c) Memasukkan materi peran ulama-ulama dan resolusi jihad dalam sejarah kemerdekaan bangsa.
d) Menarik buku-buku paham radikalisme yang menyebabkan disintegrasi bangsa.
e) Peningkatan kualitas pendidik yang tidak terpaku pada sistem administratif.
f) Pemerataan kualitas dan infrastruktur pendidikan di daerah 3T (Terluar, Tertinggal dan Terpencil).

9. Bidang Maritim, Pertahanan dan Keamanan:
a) Mendorong Percepatan Pembangunan Daerah pesisiran, perbatasan, dan pulau terluar.
b) Menciptakan Fasilitas Kredit mikro dan alat tangkap bagi nelayan untuk menunjang kegiatan ekonomi nelayan.
c) Mendorong Perceptan Pembangunan pelabuhan, dermaga dan transportasi laut untuk menunjang kegiatan ekonomi antar pulau.
d) Mendorong percepatan investasi pada sector kelautan terutama pembangunan galangan kapal nasional untuk menunjang kegiatan maritim.
e) Mendukung Pemberantasan Ilegal Fishing dengan mengalakan dan memfasilitasi patroli laut di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif.
f) Mendorong percepatan minimum essential force (MEF) dan meningkatkan kesejahteraan prajurit di segala matra.
g) Meningkatkan diplomasi dan dialog untuk segera menyelesaikan daerah perbatasan laut dengan Negara tetangga.
h) Turut aktif dalam berperan menjaga stabilitas keamanan di dunia dan di kawasan Asia-Pasifik.

Nasehat Guru

“Den, di dunia ini kamu jangan pernah takut kecuali satu hal!”
“Apa itu, guru?”
“Takut tidak dicintai Allah”
“Iya guru. Kuusahakan jiwa dan ragaku kupertaruhkan untuk itu.”

“Adakah nasehat untukku lagi, guru”
“Ojo kagetan, ojo gumunan; jangan mudah kaget dan takjub pada apa dan siapapun, Den?”
“Bahkan dengan orang cerdas, alim atau cantik-rupawan, guru?”
“Iya, takjublah kepada siapa yang menciptakannya!”

02 Mei 2015

Jumlah Rakat Tarawih

Inbox

“Mas Nop, mau tanya. Sebentar lagi Bulan Ramadhan tiba. Di lingkunganku telah selesai di bangun masjid baru. Pengurus DKM dengan beberapa jamaah musyawaroh tentang jumlah rakaat tarwih; mau pake 8 atau 20. Mohon pencerahan dasar hukumnya: yang 8 dalilnya apa? yang 20 dalilnya apa?”

“Pakai yang 20 saja, yang lebih masyhur dan mu’tamad. Dalilnya akan saya carikan dulu, maaf saya nggak hafal. Namun, kalau ingin lebih tahu kajian detailnya ada di buku 40 Masalah Agama karya KH Sirajuddin Abbas, atau bisa juga Fiqh Tradisionalis karya KH Muhyidin Abdusshomad.”

01 Mei 2015

Cuci Baju

Sebenarnya, agenda Jumat pagiku ini adalah mencuci baju. Namun, karena semalam begadang sampai pagi, tubuh ini rasanya tak kuat mengucek satu persatu dari puluhan pakaianku.

Ia sudah kurendam dengan deterjen yang akan memanjakan. Namun, sepertinya pakaian-pakaian itu berteriak minta belaianku. Ia tahan berlama-lama dalam kubangan ember beraroma deterjen.

Pagi ini aku istirahat dulu, kataku dalam hati. Nanti kalian aku kucek dan bersihkan, dengan tangan dan jari-jemariku sendiri. Sekali lagi, nanti.

01 Mei 2015

Terserah Cinta

Iseng, nulis curhatan temen. :)

“Mas, ada cowo yang suka aku. Mas gimana?”
“Ya ngga apa-apa…”
“Tapi dia nembak aku!”
“Terus kamu…”
“Karena kita jauhan, dan dia yang selalu ada disampingku: kuterima saja. Mas gimana?”
“Aku ngga papa. Tugasku mencitai dan bersetia kepadamu. Aku nggak akan memaksakan kamu. Keputusannya ada di kamu”
“Duh! Gimana ya?”
“Yang nembak kamu itu tahu hubungan kita?”
“Iya mas. Tahu banget. Emangnya kenapa?”
“Yah, kalau kamu memang mau memilihnya, semoga sikapnya bisa berhenti”
“Maksudnya?”
“Jangan sampai kalau kamu sudah nikah dengan dia, sikap itu masih melekat padanya”
“Aku pilih kamu saja, mas. Akan kuputuskan dia sekarang juga!”

26 April 2015

RA Kartini dan Kebaya

Aku juga nggak tahu mengapa, Ibu Kartini dimana-mana diperingati dengan formalitas peragaan kebaya? Apa hubungannya Kartini dengan kebaya? Belum banyak OKP, aktivis dan terutama kaum wanita yang mengkaji kehidupan, pemikiran serta perubahan sosial yang ditimbulkan oleh tulisannya.

Ada yang beropini sekolah Kartini mereduksi peran aristokrat Jawa, serta relasi kaum lelaki-wanita. Belakangan, ia juga diigaungkan sebagai pelopor feminisme oleh para pegiat kesetaraan gender dan merusak stratifikasi sosial yang ada.

Disisi lain, fakta sejarah juga mengabarkan bahwa gadis Jepara itu adalah murid Kyai Sholeh Darat, Semarang, seorang ulama besar di Jawa. Bahkan, Kartini lah yang meminta gurunya itu untuk menerjemahkan Al-Quran dalam bahasa Jawa. Konon, usai membaca salahsatu ayat dalam kitab suci: minaddhulumati ilannur, ia terinspirasi menulis: habislah gelap terbitlah terang.

Pernikahannya dengan Adipati Rembang juga masih misteri. Konon, ia dijodohkan atas skenario penguasa Hindia-Belanda agar terbunuh nalar kritis dan pergerakannya. Mengingat dahulu di Jawa, salahsatu cara ampuh untuk menghabat laju kritis wanita adalah dengan menidurinya di ranjang lalu terbelenggulah segenap daya.

Bagaimana dengan wanita-wanita sekarang? Apakah masih sibuk dengan dirinya atau sudah mampu menjadi Kartini-Kartini baru yang dalam umur remaja sudah berjuang untuk bangsanya?

Maaf, sekali lagi ini belum dan memang tak akan menjawab mengapa Kartini diperingati dengan kontes kebaya. Semoga suatu saat aku bisa menemukan jawaban dan signifikansinya.

Selamat Hari Kartini, untuk wanita-wanita Indonesia…!!!

Purworejo, 21 April 2015

Substansi Ziarah Kubur

Ada percakapan menarik di sebuah warung kopi, kemarin malam.

“Dari mana ini, tumben kelihatan rapi”, kata pemilik warung kepada pelanggan.
“Habis ziarah makam ulama”, jawab pelanggan.
“Apa makna yang paling esensial dari ziarah itu sendiri?”
“Hmmm…ya saya mendoakan ahli kubur dan berwasilah”
“Iya. Maksud saya, tujuan yang paling elementer dari ziarah itu sendiri” kejar pemilik warung.
“Waduh, apa ya?” Jawab sang pelanggan sambil garuk-garuk kepala.
“Jadi, tujuan dan makna yang paling mendasar dari ziarah itu adalah agar kita ingat mati. Nabi, ulama dan pejuang itu wafat dengan meninggalkan kontribusi dan manfaat yang begitu besar. Nah, suatu saat kita juga akan mati; dari itu hidup kita ini sebenarnya adalah mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi mati. Sekuat, sekaya, setampan, secantik dan sekuasa apapun kita akan menyerah menghadapi kematian”
“Begitu ya, memang benar kata orang, hidup itu cuma seperti mampir minum” Sambung pelanggan sambil heran dengan kedalaman ilmu penjual angkringan.
“Iya, mas, hidup kita itu seperti mampir ngopi” tambah sang penjual menutup ketegangan.

16 April 2015

Sinau Bareng Cak Nun

Semalam aku dan sahabat-sahabat Jamaah Maiyah Purworejo merapat ke Alun-Alun Kutoarjo dengan dua mobil dan puluhan motor. Dengan santai Al-Ashfahaniy atau Hani menyetir sambil mendengar curhatan Rizky yang sedang galau berharap ketemu dengan cewe shalihah. Namun bukanlah itu niat dan tujuan kami. Kami bermaksud menghadiri acara Ngaji Bareng Cak Nun yang diselenggarakan oleh salahsatu lembaga ekonomi di Purworejo. Sekadar informasi, Jamaah Maiyah adalah sebutan untuk jamaah atau komunitas yang sering ngaji dengan guru bangsa, Emha Ainun Nadjib atau lebih dikenal dengan Cak Nun beserta kelompok musiknya, Kyai Kanjeng. Selain datang langsung ke pertemuan-petemuan rutin, Jamaah Maiyah tak sedikit yang datang di acara undangan Cak Nun dan Kyai Kanjeng di berbagai kota dan pelosok tanah air.

Kami dan sahabat-sahabat Jamaah Maiyah Purworejo sendiri relative sering datang di acara Macapat Syafaat, pertemuan rutin Cak Nun dan Kyai Kanjeng yang digelar di TKIT Alhamdulillah, Bantul, Jogjakarta. Selain itu, biasanya kami datang di kota-kota yang masih dekat dengan Purworejo. Jika tidak, kami mengikutinya via youtube, fesbuk atau website tentang reportase pengajian Cak Nun dan Kyai Kanjeng. Untuk Jamaah Maiyah Purworejo sendiri, kami mengadakan pertemuan rutin malam tanggal 1 setiap bulan. Pertemuan ini kini sudah mengadakan 53 kali sejak tahun 2011 di Jl Sibak No 18 Pangenjurutengah Purworejo.

Sampai di Kutoarjo. Karena tidak membawa alat tulis ditambah android sedang lowbatt, aku hanya menyimak untuk diresapi kemudian menulisnya setelah acara selesai, dengan mengingat-ingat tentang topic yang disampaikan. Mohon maaf apabila tidak runtut atau kurang sama persis. Ini adalah penangkapanku sendiri tentang Ngaji Bareng Cak Nun semalam.

Kyai Kanjeng membuka pertemuan dengan bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW diiringi music khas tradisional-modern. Ribuan orang sudah tumbah ruah di alun-alun ikut bersenandung, dengan beralaskan plastic yang disediakan pedagang dadakan seharga Rp. 2000. Dari yang tua, muda, anak-anak dengan pakaian rapi ala kyai sampai kaos oblong dengan celana pendek semua melebur menjadi satu.

Cak Nun membuka pertemuan dengan komunikasi kepada audiens tentang kaya harta. Menurutnya, kurang tepat jika kita ingin kaya, sebab kaya adalah akibat. Idealnya, yang kita inginkan adalah menjadi orang yang baik, jujur, ramah, tekun dan mengabdi kepada Allah SWT. Dengan begitu, sebagai sebuah efek dari kepercayaan orang lain kepada kita adalah kekayaan itu sendiri.
Kemudian beliau membahas tentang taqwa. Cak Nun membacakan Al-Quran surah At-Thalaq ayat 1 – 2, yang kurang lebih berarti:
“(2) ….Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (3) Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)Nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan ursan (yang dikehendaki)Nya….”

Dalam ayat ini, lanjut Cak Nun, kita melakukan satu dapat bonus dua: jika bertaqwa, akan mendapat solusi atas persoalan kita dan rizki dengan jalan yang tidak diduga-duga. Lalu, jika kita bertawakkal kepada Allah, akan dapat dua balasan: dicukupi kebutuhan kita dan Allah akan menyelesaikan urusan kita.
Sebagai penghibur suasanya penonton dipersilakan untuk ikut bernyanyi bersama Kyai Kanjeng. Hamdan Kurnia Aji dan Habib Hamidi, anggota Jamaah Maiyah Purworejo, memberi kejutan dengan memberanikan diri naik ke atas panggung duet bareng vokalis Kyai Kanjeng, Doni eks Seventeen dan Imam Fatawi. Mereka menyanyikan lagu Perdamaian buah karya pendiri Nasida Ria H. Muhammad Zein, dan sempat dicover oleh grup band Gigi. Nomor kedua, lagu Sebelum Cahaya milik putra Cak Nun, mas Sabrang atau lebih dikenal Noe Letto juga mengalir dengan penuh kehangatan.

Karena dalam sela-sela menyanyi, Habib Hamidi (namanya saja yang Habib, bukan Habib beneran alias habib Jawa) sempat berteriak “Hidup Indonesia!!!”, usai menyanyi ia ditahan Cak Nun. “Ngapain kamu tadi teriak hidup Indonesia!!!? Memangnya kamu tahu apa itu Indonesia?” tanya Cak Nun. “Indonesia adalah bangsa saya” Jawab Habib yang barusaja bergabung dengan Jamaah Maiyah Purworejo. “Siapa yang membuat nama Indonesia?” tanyanya lagi. “Nenek Moyang saya” jawab Habib. “Kamu harus belajar sejarah,” jelas Cak Nun. “Dulu itu Colombus ketika mencari pulau India nyasar sampai kesini, lalu disebutlah nama Indish. Ketika penjajah masuk, jadilah kata Hindia Belanda karena dikuasai oleh belanda. Jadi, nama Indonesia yang kamu agung-agungkan itu ciptaah penjajah. Hayo mau apa kamu?” seloroh Cak Nun. Habib-pun hanya tersipu malu. Lalu ia turun dari panggung setelah dirangkul oleh Cak Nun sambil menasehatinya untuk belajar sejarah nusantara dari jaman raja-raja.

Cak Nun kemudian menjelaskan sedikit tentang music. Menurut beberapa ulama dahulu, ada yang mengharamkan music. Namun, menurut Cak Nun, dulu fatwa itu muncul karena music identik dengan kemaksiatan. Dimana ada music disitu ada maksiat, maka itu diharamkan. Dalam pandangan Cak Nun, music adalah benda yang tergantung pemakainya. Ia mengumpamakan dengan sebilah pisau, bisa dibuat membunuh atau menyembelih kambing kurban. Tergantung pemakainya. Baginya, music pun demikian. Music bisa dijadikan sarana atau wasilah untuk membersamakan semua kalangan dan mendekatkan diri kepada tuhan.

Dalam pada itu, Cak Nun juga menjelaskan kalau dirinya merokok. Menurut Cak Nun, hukum rokok tidak bisa di gebyah uyah, samaratakan haram. Soal rokok, makanan dan minuman masing-masing orang memiliki ukuran dan pengetahuan. Misalnya orang punya penyakit darah tinggi, ia bisa saja haram memakan makanan yang membuat penyakitnya itu bertambah parah. Cak Nun, dalam rokok bisa mengukur diri bahwa rokok baginya tidak membahayakan. Namun ia melarang untuk mengikuti jejaknya, jamaah disuruh menentukan sendiri pilihannya.

Cak Nun memberi rangsangan logika berpikir dalam memilih. “Jika kalian memilih calon istri,” kata Cak Nun, “maka pilihlah yang shalihah” lanjutnya. Kalau wanita yang shalihah tidak ketemu, ya pilihlah yang pinter. Kalau yang pinter tidak ketemu, ya pilihlah yang setia. Kalau yang setia tidak ketemu, ya pilihlah yang rajin. Kalau yang rajin tidak ketemu, ya pilihlah yang sabar. Kalau yang sabar tidak ketemu, ya pilihlah yang cantik. Kalau yang cantik tidak ketemu, ya pilihlah yang pantas. “Begitu juga dalam dunia ekonomi, social dan politik. Kalau tidak bisa memilih yang pinter, minimal yang pantas. Jangan karena hanya uang Rp. 50.000,- dalam memilih, memilih pemimpin yang pantas jadi pemimpin saja tidak” terang Cak Nun disambut ger-geran tawa dan tepuk tangan hadirin.

Pembahasan selanjutnya adalah tentang takfir. Menurut Cak Nun, manusia tidak punya hak untuk mengkafir-kafirkan orang lain. Jangankan mengkafirkan, menurut Cak Nun, ia sendiri saja enggan menyebut dirinya muslim. Yang berhak menyebutnya muslim adalah Allah SWT. Padahal Allah SWT sendiri sudah memberi pilihan dan membebaskan untuk menjadi muslim atau kafir. Jadi, kita sebagai manusia tidak boleh mengkafir-kafirkan, oleh karena yang punya 100 % saham kita manusia serta alam semesta adalah Allah SWT. Sebagai manusia, kita bisanya mengingatkan dan menunjukkan jalan, adapun keputusan untuk menjadi Islam, Budha atau Kristen adalah masing-masing manusia.

Kemudian Cak Nun menjelaskan bahwa dirinya bersama Kyai Kanjeng sudah ribuan tempat yang dikunjunginya, namun ia tidak pernah mau jika ditayangkan di TV Nasional. Ini karena TV Nasional hari ini, menurut Cak Nun, hanya berisi soal uang, uang dan uang. Agama, nilai dan budaya semua diresduksi menjadi kepentingan ekonomi. Meski telah ribuan kali mengurus grass-root selama bertahun-tanum, ia mengaku tidak dianggap oleh Negara. Namun ia tidak ada urusan dianggap atau tidak, oleh karena ia dan Kyai Kanjeng mengabdi kepada Allah SWT, tidak kepada manusia, lembaga, Negara atau apapun.

Cak Nun juga mengatakan dan menegaskan bahwa dirinya tidak mau dikultuskan, dianggap kyai atau ulama. Ia memilih disebut sahabat yang menemani kami semua berproses menggapai cahaya. Cak Nun mengatakan tidak ingin menguasai siapapun dan apapun, tidak ingin mempunyai anak-buah dan tidak ingin dikategorikan sebagai orang shaleh. Dari itu, kadang ia tak segan untuk menghina-hina diri sendiri. Ia mengejek-ejek sendiri agar tidak dikira orang baik. Ia merendah di tempat yang paling “rendah” sehingga tak ada yang bisa merendahkannya.
Dalam hal manageman Kyai Kanjeng, ia juga mengaku tidak tahu menahu soal bayaran. Kalau dikasih ya ia terima, kalau tidak ya tidak ditanyakan. Manageman Kyai Kanjeng sendiri tidak punya patokan harga. Kadang dikasih bisyaroh, kadang juga justeru malah mengeluarkan biaya sendiri untuk pentas.

Di sesi akhir, cak nun menjelaskan tentang nama Bank Syariah yang ada sekarang banyak dipakai untuk kepentingan ekonomis saja. Logikanya, jika orang pindah agama dari islam menjadi Kristen atau sebaliknya, ia sudah tidak menjalankan agama yang terdahulu. Nah, di Indonesia ini tidak. Bank tertentu membuka system konvensional, lalu kemudian membuka bank syariah dan menjalankannya secara bersama-sama. Bukan system konvensional ditinggal ganti syariah tapi memperluas segmen pasar.
“Besok kalau pengelola bank ditanya malaikat Munkar dan Nakir, kenapa namanya Bank syariah tetapi tetap ada ribanya?” kata Cak Nun seakan menirukan pertanyaan malaikat. “Kami kan hanya menulis syariah(berarti jalan) di belakang nama bank, bukan Syariat Islam. Jadi yang salah si nasabah dong..!!!” Gerrrrr!!!!!! Gelak tawa dan tepuk tangan hadirin bergemuruh.

Terakhir, Cak Nun berpesan agar dalam jual beli dan transaksi lainnya memakai kaidah “’an taradhin”, sama-sama ridla. Kalau ada himbauan dari PLN berbunyi: “mohon tidak memberi tip kepada kariawan” itu adalah himbauan yang salah. Adalah hak semua orang untuk memberi dan berinfak. Harusnya pihak PLN yang menghimbau kepada karyawannya, bukan kepada penerima jasanya. Begitu juga dalam berhutang, misalnya. Jika si peminjam uang ingin meminjam uang dan akan mengembalikan lebih dari yang dipinjam, itu sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah pihak yang dihutangi menuntut orang yang berhutang untuk mengembalikan melebihi nilai yang dipinjamnya.

Kemudian Cak Nun mengajak semua hadirin berdiri dan bershalawat bersama. Suasana syahdu menyelimuti semua jamaah. Lebih-lebih, ketika Cak Nun mengalunkan shawalawat dengan begitu ikhlas dan seakan dari hati yang paling dalam, badanku sendiri jadi merinding. Apa yang dari hati memang akan sampai ke hati juga. Acara ditutup dengan doa oleh KH Muzammil dari Madura. Kami pun bubar meninggalkan arena. Oh ya, dijalan aku dicegat oleh wartawan radio untuk diwawancara mewakili Jamaah Maiyah Purworejo. Akupun terima wawancara dan permintaannya untuk menjepret gambarku dan sahabat-sahabat Jamaah Maiyah Purworejo.

Demikian yang bisa kutulis dalam sesaat. Mohon maaf apabila kurang lengkap, maklum sambil lupa-lupa ingat. Kapasitas rekam otakku baru bisa segitu yang bisa diingat. Semoga yang sedikit ini memberi pencerahan dan manfaat, baik di dunia maupun di akhirat.

Purworejo, 12 April 2015 – 09:13 AM.

Jika

Jika,
Tasauf adalah seni dalam agama
Lukisan adalah seni dalam warna
Musik adalah seni dalam nada
Gocekan adalah seni dalam sepak bola
Sastra adalah seni dalam kata
Humor adalah seni dalam berbicara

Maka,
Kau adalah seni dalam hidupku yang fana. Baik suka maupun duka. Ketika sedih maupun bahagia.

05 April 2105