Ibuku (Part II)

Ayam baru saja berkokok memecah kusinyian pagi itu. Semribit angin yang mencumbu menggoyahkan siapa saja yang ingin bangun. Sementara kumandang azan sudah menggemparkan desa. Suaranya menggelkar menuju sudut-sudut sempit, menembus genteng rumah, hutan. Kasur empuk dan selimut tebal pun terlalu sayang untuk diinggalkan.

ayo nak, bangun, shalat subuh” kata ibuku sambil membangunkan badanku.

ah, dingin bu, nanti saja” kataku.

hust, neraka ada yang dinginnya melebihi ini lho, ayo bangun”kata ibuku menakut-nakuti.

Aku menjadi takut. Bangunlah aku. Neraka itu berhasil membunuh rasa malasku. Dingin air pun berani aku kucurkan untuk membasuh mukaku. Segera kuambil kopiah dan sarung kemudian menuju masjid di depan rumah. Menunggu imam, yang biasanya kakekku sendiri, jamaah melantunkan puji-pujian.

Amantu bi allahi wa malaikatihi wa kutubihi ya allah rusulihi, wa al-yaumi al-akhiri wa bi al-qadari khoirihi wa sarrihi minallahi ta’ala”

Bacaan it uterus dilantunkan dengan pelan berualang-ulang. Satu persatu jamaah bertambah. Dengan berjalan kaki, mereka memburu derajat 27 yang dijanjikan nabi. setelah kurang lebih 15 menit, Kakekku menuju masjid. Adzan iqamah belum juga dilantunkan. Muadzin seakan faham, si imam yang sudah berdiri di mimbar akan menunaikan shalat qabliyyah dahulu. Setelah itu, iqamah dilantunkan. Aku menuju shadf paling depan. Kakek menghadap ke belakang dan menginstruksikan barisan agar rapi an menawan.

Usai shalat, kami tidak segera pulang. Amalan wirid san dzikir dilantunkan sampai kemudian didoakan sebagai pungkasan. Meski begitu, ada juga beberapa satu dua yang langsung pulang. Maklum, banyak orang banyak kepentingan. Mungkin itu mengapa nabi menyuruh agar kalau jadi imam jangan lama-lama. Makmum banyak memiliki kepentingan yang berbeda-beda.

Selesai wiridan, aku kembali ke rumah untuk membuat adonan pakan ayam. Memberi makan ayam merupakan hal yang menyenangkan waktu kecil. Member hiburan sekaligus memberi banyak pelajaran, diantaranya adalah menanam kasih sayang kepada hewan. Pakan ayam, biasanya kugenggam dengan tangan kanan untuk kemudian dimakan ayam. Sementara tangan kiri kugunakan untuk membelai lembut ayam-ayam itu.

Matahari sudah malu-malu untuk keluar dari sarangnya. Ibu mulai mengambil kayu untuk dijadikan bahan bakar utama membuat api.

Masak apa, bu?” kataku.

Masak nasi aja, tolong kamu nyalain apinya ya. Aku tak memcuci berasnya” katanya.

Lauknya sama apa?” tanyaku.

Hari ini tidak ada lauk. Untuk sarapan nanti saya buatkan sambal” kata ibu sambil mencuci beras.

Aduuh. Sambal lagi-sambal lagi. Bosan.”kataku keluar begitu saja, tanpa memahami perasaan dan hati seorang ibu.

Namun, ia tetap tegar, walau mungkin hatinya terisris. to be continued…

Mengenal Akhmad Fadlun SY

Akhmad Fadlun

Akhmad Fadlun

Akhmad Fadlun Zuhri, merupakan putra ke-3 dari 5 bersaudara pasangan KH Zuhri Syamsuddin dengan Ny Kasmunah. Fadl atau Gus Fadlun, begitu ia dipanggil menghabiskan masa kecilnya di Desa Jangkrikan Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo. Ia belajar al-Quran dan Ilmu dasar Islam langsung dari ayahandanya yang merupakan tokoh agama di desanya.
Menginjak remaja, Fadlun dimasukkan oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Roudlatut Thullab (Sekarang PP An-Nawawi) Berjan Purworejo. Namun di pesantren asuhan KH Achmad Chalwani ini ia tidak bertahan lama. Kemudian ia di kirim ke Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur. Di Lirboyo, ia menyelesaikan ngajinya hingga purna.
Fadlun dikenal tegas dan berani menyampaikan pendapatnya. Dengan modal ilmu dari pesantren serta pergaulannya yang luas, ia memberanikan diri terjun ke dunia politik. Bagi Gus Fadlun, dunia politik sudah tidak asing. Politik tidaklah kotor, justru alat untuk mensejahterakan masyarakat. Baginya, jabatan bukanlah tujuan namun alat untuk mencapai sebuah tujuan. Selain karena didikan orang tua, lingkungan dan tentunya ilmu kitab-kitab klasik pesantren seperti Idhohul Mubhan (mantiq; logika berpikir), muqaddimahnya Ibnu Khaldun serta Ahkamus Shulthaniyyahnya Imam Mawardi, ia juga sudah berorganisasi semenjak menjadi santri. Wajar kalau political will-nya terasah dan tumbuh dalam tradisi pesantren.
Selepas pulang pesantren, ia menikah dengan Siti Nur Faridah binti KH Muhammad Auladi. Ditengah kesibukannya ceramah diberbagai tempat, mengajar di SMA Maarif NU Kepil(Kini menjadi SMK Madani) dan mengasuh pesantren tinggalan orangtuanya, ia juga memperjuangkan intensif untuk guru madrasah dan pesantren di Kabupaten Purworejo lewat Forum Komunikasi Madrasah diniyyah(Kini menjadi FKDT).  Khusus dalam domain FKDT, tangan dinginnya telah berhasil mengalokasikan dana 3,2 milyar dari APBD untuk ribuan guru ngaji di berbagai madrasah dan pesantren yang tersebar  di Wonosobo. Selain itu, ia juga aktif membesarkan organisasi kaum islam tradisionalis, Nahdlatul Ulama.
Meski sudah berkeluarga, ia melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa (STPMD) Jogjakarta. Lagi-lagi, sosok rendah hatinya muncul. Setelah tinggal menyelesaikan skipsi, ia tinggalkan begitu saja. Baginya, gelar bukan tujuan. Namun, yang penting bagaimana dengan ilmu yang dinmiliki, bisa berkontribusi untuk masyarakat. Dan lewat pengabdiannya selama ini, ia telah banyak mengabdikan dirinya untuk masyarakat khususnya kepada umat Islam.
Sebagai tokoh masyarakat, pengasuh pesantren dan politisi, Fadlun adalah sosok yang sederhana. Meski sederhana dan dekat dengan masyarakat, ia memiliki capital sosial yang tinggi. Waktu dan tenaganya sebagian habis untuk berkhidmah kepada masyarakat. Baginya, ini merupakan perjuangan yang membuat hidup penuh makna dan arti. Atas permintaan beberapa tokoh masyarakat dan dengan niat tulus mengabdi, ia kini dicalonkan menjadi anggota DPRD Kabupaten Wonosobo lewat PKB Dapil Kepil Sapuran nomor 3. Sekali lagi, baginyaabatan bukanlah tujuan, namun alat untuk memberi kemaslahatan dan kesejahteraan bagi rakyat. Jika masyarakat memberi kepercayaan kepadanya untuk membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat, tentu ia tidak akan menyia-nyiakannya. Jika belum mendapat mandat, toh kata Gus Dur sebagai sosok yang dikaguminya, “Tak ada jabatan apapun di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian. Masih banyak jalan dan lahan untuk berjuang.

Nderek Kyai; Sebuah Catatan Perjalanan

Dari Kiri: KH Thoifur Mawardi, KH Achmad Chalwani, Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf, KH Hasan Aqil Ba'abud

Dari Kiri: KH Thoifur Mawardi, KH Achmad Chalwani, Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf, KH Hasan Aqil Ba’abud

Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.

Pagi itu saya berkesempatan nderek pengajian KH Achmad Chalwani di dua tempat: Wonosobo dan Demak. Pagi-pagi saya sudah standby di depan kediaman beliau. Saya, sopir serta seorang santri menunggu di beranda rumah. Beliau masih menemui tamu yang seakan tiada henti setiap harinya. Kebetulan barangkali, tiga mobil yang datang bertamu adalah romongan PCNU Purworejo. Tidak tahu saya urusannya apa, yang jelas KH Achmad Chalwani merupakan ulama NU yang dituakan. Pantas saja kalau tokoh-tokoh NU sering sowan kesini.

Setelah beberapa saat, akhirnya beliau muncul juga. Seperti biasa, saya bersalaman mencium tangan beliau yang lembut kemudian membukakan pintu mobil. Ada kedamaian tersendiri ketika bersalaman dengan beliau. Sudah menjadi tradisi, sebelum berangkat, Kyai berhenti di muka swalayan untuk membelikan air minum dan rokok untuk para penderek-nya. Hal ini selalu dan selalu beliau lakukan. Suatu kehormatan bagi santri ataupun orang yang nderek dengan beliau diberi rokok. Sederhana tapi sebuah ungkapan cinta yang tak terucapkan.

Kulihat sosoknya yang begitu berkharisma sudah memutih rambutnya. Sepanjang perjalanan tentu saya tidak menyia-nyiakan hal ini. Beberapa pertanyaan keluar seakan tak kukendalikan. Di mobil itu, saya banyak bertanya tentang Aswaja, NU, Politik dan problem sosial kemasyarakatan. Daya ingat serta kealiman beliau membuat saya takjub. Belum lagi hati dan jiwa beliau yang bersih membuat saya teduh sekaligus kagum dibuatnya. Ketika saya menyampaikan beberapa ejekan dari orang yang tidak suka dengan beliau, jawabnya hanya enteng.

Yowis, ora popo, dinengke wae men do ngono; iki urung ono apa-apane karo perjuanganne kanjeng nabi; saya tidak apa-apa, biarkan saja mereka begitu. Perjuangan saya ini belum apa-apa dengan perjuangan baginda nabi” kata beliau dengan penuh kebijaksanaan. Saya terdiam. Kadang-kadang hati ini merasa dicabik-cabik ketika mendengar kyai dihina atau diolok-olok, hanya karena kyai di Golkar dan dulu ikut membela Abu Hasan di Muktamar NU 1994. Mereka yang berkomentar semacam itu saya berani menjamin belum kenal sepenuhnya pada kyaiku. Namun, sudahlah. Masalah politik akan selalu menarik dan bermacam pembelaan.

Di Wonosobo kami disambut masyarakat dengan antusias. Puluhan kendaraan bermotor menjemput kami kemudian di arak sampai lokasi. Ketika kami melewati venue, semua orang berdiri menghormati sang kyai dengan mengalunkan shalwat nabi. Saya sendiri jadi terharu. Merasa tidak pantas mendapat sambutan seperti ini. Tapi saya menyadari bahwa ini penghormatan sepenuhnya untuk Mursyid Thariqah itu. Kami dipersilahkan masuk dan makan oleh tokoh masyarakat setempat. Kemudian berbincang, melingkar, seperti trakyat yang kedatangan rajanya.

Kyai, saya itu sakit asam urat tidak sembuh-sembuh sudah tahunan. Adakah solusi untuk penyakit saya, kyai? Sudah segala pengobatan dari yang traisional sampai modern saya coba, tapi hasilnya nihil” kata salah seorang tua yang duduk di tengah. “Saya punya kenalan, orang ahli pengobatan alternative, pak. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sini, silakan nanti minta nomor telponnya pada sopir saya” jawab kyai.

Kemudian majelis itu mendiskusikan banyak hal, termasuk politik. Apa-apa yang disampaiakan kyai diikuti anggukan kepala dari tokoh masyarakat tersebut. Saya melihat aura kyai memancar ditengah majelis itu. Beliau bak artis yang selalu di kagumi dan dipuja, tapi juga ditunggu-tunggu apa yang keluar dari mulut beliau. Disisi lain, kyai juga perhatian pada tokoh-tokoh masyarakat. Selain hafal namanya, beliau juga menanyakan kabar dan berbagai hal yang melingkupinya. Beliau pandai betul bagaimana mengorangkan orang.

Tak lama kemudian, beliau dipanggil untuk menyampaikan ceramah. Dua hal yang selalu dibawa-bawa kemanapun beliau ceramah adalah Aswaja ala NU dan Pesantren. Dua hal itu selalu saya dengar diberbagai ceramah beliau. Meski di Partai Golkar, tapi saya belum menemukan kyai yang seperti ini. Kalau toh bicara NU, kebanyakan ketika masih duduk di struktural. Setelah itu tidak. Wajar kalau kini beliau di daulat menjadi Syuriah PWNU Jawa Tengah, setelah dahulu sempat dikudeta ketika menjabat Rois Syuriah PCNU Purworejo.

Ke Demak Bintoro

Perjalanan dilanjutkan ke Demak Bintoro. Dijalan, kyai membelikan kami aneka roti dan jajan sebagai pengganjal perut tentunya. “Makanlah ini dulu, nanti makannya di langganan saya saja, di Demak” kata beliau. “Injih” kami menjawab serempak. Dijalah saya bisa mendapati kyai bercerita mulai yang berat sampai yang ringan seperti bergurau dan lain sebagainya. Banyak hal yang beliau ungkapkan yang tentunya tak saya sampaikan disini karena banyaknya, atau lebih tepatnya saya banyak yang lupa. Maaf.

Ayo kita shalat dulu, kemudian makan. Setelah makan nanti kita sowan dulu di Makam Sultan Fatah” kata beliau. Kamipun berbegas shalat di pinggir restoran dekat Masjid Agung Demak. Setelah itu, kami menuju ke masjid Demak yang legendaris itu. Masjid yang menempati urutan kedua destinasi wisata setelah candi Borobudur. Kebetulan, kami akan dijeput disana oleh panitia yang mengundang.

Ini lho, saka-saka (tiang-red)serambi hadiah dari brawijaya untuk Sultan Fatah. Saka ini dulunya milik kerajaan majapahit” kata kyai kepada kami menjelaskan. “Diatas pengimaman itu juga ada lambang Surya Majapahit. Bukti bahwa pengaruh Majapahit masih kuat di awal-awal Islam” tambah beliau. Kemudian kami diajak masuk ke pusara Makam Raden Fatah, Sultan Demak pertama. Kyai memimpin tahlil, doa sekaligus tawassul. Saya, sopir dan penderek mengamini dibelakang. Setelah itu, kami dijemput untuk dibawa ke lokasi pengajian.

Di venue, ternyata saya baru tahu acaranya. Haul KH Abu Sujak Bonang Demak. Selain KH Achmad Chalwani, ada juga Habib Syekh dan Gus Sabuth yang mengisi. Memasuki transit, kami dikawal ketat oleh keamanan. Ribuan nahdliyyin berjibaku bagai lautan manusia. Setelah sampai transit, kami diminta makan. Usai makan, saya merasa bangga karena ditawari rokok oleh Gus atau putra almarhum KH Abu Sujak. Kyaiku diajak para sesepuh untuk menuju panggung. Sementara karena tamu amat banyak, saya, sopir dan penderek keluar untuk mencari udara.

Lantunan Habib Syekh memecah ribuan nahdliyyin. Gelombang cahaya nabipun berkumandang membawa kedamaian. Tak lupa Habib Syekh melantunkan juga syiir NU. Setengah perjalanan lantunan shalawat, Habib Syekh dari Solo itu rehat. KH Achmad Chalwani gantian memegang mikrofon.

Kyai menyampaikan pentingnya menyekolahkan anak di pesantren. Kader-kader bangsa yang didik ulama banyak yang menjadi tokoh dan pahlawan bangsa, seperti Bung Hatta, Kartini, Ki Hajar Dewantara, KH Wahid Hasyim dan lain sebagainya. Kemudian beliau cuga bercerita sejarah demak dengan amat fasih dan akurat. Ditengah usianya yang tidak muda, kyai masih hafal sejarah Nusantara lama sampai era kemerdekaan. Hadirin dibuat takjub dan tercengang. Beliau juga melantunkan syiir “Padang Bulan” dalam tiga versi bahasa. Bahasa Jawa, Arab dan Inggris. Ketika bahasa inggris diiringi shalwat, hadiriin gemuruh, tambah takjub. Banyak kamera handphone yang dinyalakan untuk mengabadikan peristiwa langka tersebut.

Usai pengajian, Habib Syekh melanjutkan shalwat. Di akhir acara, Gus Sabuth dari Kediri datang, tapi kami dan rombongan Habib Syekh sudah keburu pulang. Salah satu pemandangan yang mengesankan, ketika kami pulang, banyak remaja yang menyambut. Mereka sepertinya terkesan karena Kyai melantunkan shalawat dengan bahasa Inggris. “Bagaiimana tadi pengajiannya?” kata kyai. “Sae kyai, semua pengunjung terkesima, tidak ada yang beranjak.”jawabku. “Saya tadi salaman dengan Habib Syekh, mau mencium tangannya malah terlambat, tangan saya keburu diciumnya” kata beliau. “Oh,,,”jawab saya sambil berusaha membayangkannya.

Sampai di Ungaran, perjalanan terhenti. Lampu mobil mati. Saya kurang tahu entah aki atau apa yang salah. Kami sibuk telfon kesana-kemari mencari orang atau alumni sekitar yang masih melek di jam 02.00 WIB. Saya melihat sosok kyai begitu santai dan dingin menghadapi situasi seperti itu. Tak ada kecemasan sedikitpun terpancar dari wajahnya, meski besok pagi beliau harus mengisi pengajian lagi di lain tempat. Setengah jam kemudian, telfon kyai diangkat oleh Maroip, ketua alumni asal Semarang, daerah Lemah Abang Ungaran. 10 menit kemudian ia sudah sampai dengan membawa mobil.

Setelah saling meyapa dan tanya kabar, pak kyai hendak melanjutkan pulang ke Purworejo. Sementara saya sekalian pamit karena esoknya harus menghadiri Rapat Kerja Wilayah IPNU Jateng di Lasem Rembang. Setelah bersalaman dan diberi uang saku oleh kyai, saya ikut dengan Mas Maroip dan menginap dirumahnya.

Mas Maroip datang membawakan saya kopi, dengan mukanya yang merona kedatangan santri dihiasi sedikit sisa kantuk. “Silakan kopinya, mas, diminum” katanya. “Oh, iya. Terima kasih banyak mas. Jadi bikin repot saja nih”jawab saya basa-basi. Lalu saya menanyakan banyak hal kepada Mas Mroip, utamanya waktu ia nyantri di pesantren. Banyak hal yang saya dapat dari diskusi itu. Ia mengaku berkah kyai amat banyak dalam menjadikan hidupnya sekarang.

Mas Maroip mengaku di pesantren yang hanya sebentar yaitu tiga tahunan, kurang serius dan nakal. Meski begitu, ia bangga suatu saat setelah lama keluar dari pesantren ia ditelfon langsung oleh kyai. Ternyata kyai masih ingat dan perhatian padanya. Ia kemudian bangkit. Setelah melewati hidup yang sulit mulai dari menjadi kernet di jalan sampai kuli, nmenjalani kehidupan kelam jalanan, ia kemudian mengajar TPQ kepada anak-anak kecil. Perlahan ia memiliki penghasilan dan mengantarkannya pada kehidupan yang mapan. Kini TPQ-nya sudah memiliki gedung dan guru tersendiri. Mas Maroip menggajinya sendiri. Karena waktu, hubungan harmonis dengan kyai selalu ia jaga. Sampai akhirnya ia di daulat menjadi ketua alumni wilayah Semarang.

Paginya, saya pamit untuk pergi ke Rembang. Mas Maroip mengajak saya sarapan pagi dahulu. Kami asyik ngobrol seputar pesantren, kyai dan kehidupan luar. “Berkah kyai memang luar biasa, mas. Saya merasakan sendiri manfaatnya. Di masyarakat omongan saya diipercaya orang. Orang mendengar apa yang dikatakan seorang Maroip.” Katanya menasehati. Setelah makan, saya diantar menuju jalan utama untuk naik bus. Saya minta kontaknya, mengucapkan terima kasih dan kamipun berpisah. Banyak pengalaman berharga dari perjalanan yang saya lakukan. Semoga ini semua menjadi kapital-sosial saya untuk masa depan. Amin.

Home Base PC IPNU Purworejo, Kamis, 03 Maret 2014