Islam Nusantara yang Saya Pahami

oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Islamnya shalat, tetap,
Nusantaranya ditambahi puji-pujian sebelum shalat, sambil nunggu yang masih pulang dari sawah. Biar pada denger dikasih tau pake bedug dan kentongan! 😀

Islamnya nyuruh baca kalimah thayyibah,
Nusantaranya ada tahlilan, dzikir sehabis shalat. Kalo nggak bareng-bareng suka lupa, soalnya. 😂

Islamnya haji ke Mekah,
Nusantaranya ada manasik dulu di alun-alun pakai triplek, miniatur ka’bah.😁 Maklum, jauh, nggak pernah liat. Tahunya sini Borobudur pas study tour! 😂 Continue reading “Islam Nusantara yang Saya Pahami”

Pemuda Gereja dan Santri pun Berkolaborasi di Haul Gus Dur

Di sebuah sudut di Kampus Katholik Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta, ada tempat berukuran sekitar 3×2 meter. Tak mewah, memang. Namun, di atap ruangan itu tertulis tanda panah, arah kiblat. Dan di bawahnya terhampar beberapa sajadah. Itulah, bentuk toleransi beragama yang nyata-nyata ada di Indonesia: sebuah Universitas Katholik, menyediakan Mushala, tempat untuk shalat bagi yang beragama Islam. Continue reading “Pemuda Gereja dan Santri pun Berkolaborasi di Haul Gus Dur”

Belajar dari Gus Mus yang Mendapat Yap Thiam Hien

Terus terang, sebelumnya, saya tak mendengar kata atau nama Yap Thiam Hien. Saya baru tahu kata itu ketika KH. A. Mustofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus, seorang kiai sepuh NU, mendapat penghargaan itu pada Rabu (24/10) lalu. Usut-punya usut, ternyata penghargaan yang secara fokus diberikan kepada pejuang HAM itu cukup bergengsi (Setidaknya bisa dilihat inisiator, juri dan para tamu yang hadir pada penganugerahan itu). Nama penghargaan ini diambil dari nama pengacara Indonesia keturunan Tionghoa dan pejuang hak asasi manusia, Yap Thiam Hien. Meski tak secara langsung, seperti dikatakan ketua Yayasan Yap Thiam Hien Award Todung Mulya Lubis, Gus Mus telah berjuang dan memperjuangkan HAM lewat tulisan, karya dan sepak terjangnya. Continue reading “Belajar dari Gus Mus yang Mendapat Yap Thiam Hien”

Merumuskan Hubungan Ideologi Nasional dan Agama

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Di dalam kesejarahan umat Islam, ada suatu tradisi yang perlu kita warisi dan terus kita kembangkan. Tradisi ini telah berkembang berabad-abad lamanya, yaitu: watak penyerapannya yang tinggi atau yang sering disebut orang sebagai “Eclectic”. Seperti Imam Abu Hanifah (Ibnu Tsabit bin Nu’man, Abu Hanifah), disamping ia seorang yang sangat alim dalam ilmu fiqh ia juga seorang penjahit (kalau istilah sekarang, ya “Hanafi Tailor” begitulah).
Continue reading “Merumuskan Hubungan Ideologi Nasional dan Agama”

Atas ↑