Tradisi dan Kultur Puasa

Oleh: KH. Achmad Chalwani
PUASA dalam arti mengendalikan dan menahan diri untuk tidak makan dan minum dalam waktu tertentu, dilakukan antara lain dengan tujuan untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ada juga yang bertujuan memelihara kesehatan, merampingkan tubuh atau sebagai pertanda protes atas perlakuan pihak lain. Hal itu juga bisa dilakukan sebagai tanda solidaritas atas malapetaka yang menimpa teman atau saudara, seperti dilakukan suku-suku di India yang hingga kini masih berlaku. Puasa dengan aneka ragam tujuan dan bentuk tersebut dihimpun oleh satu esensi, yaitu ”pengendalian diri”.

Perintah wajib menjalankan ibadah puasa bagi umat Islam terjadi pada tanggal 10 (sepuluh) bulan Sya’ban tahun ke-2 (dua) Hijriah, dimulai dari bulan Ramadan tahun ke-2 (dua) Hijriah. Itu tersebut dalam Alquran. Allah Swt berfirman yang artinya, ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqarah:183) dan dilanjutkan dengan ayat yang lain, ”Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembela (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa… (QS. Al-Baqarah:185).

Melihat ayat-ayat tersebut telah terang dan jelas bahwa yang berkewajiban menjalankan puasa bukan hanya umat Islam atau umat Nabi Muhammad SAW, melainkan juga umat nabi-nabi sebelumnya.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kaum Yahudi di Negara Madinah banyak yang menjalankan puasa pada hari Sura yaitu hari ke-10 bulan Muharam. Saat itu, Nabi menjumpai kaum Yahudi yang sedang berpuasa kemudian Beliau bertanya kepada mereka tentang puasa. Kaum Yahudi menjawabnya, ”Kami menjalankan puasa untuk memperingati hari keselamatan kaum Bani Israil dari penganiayaan/siksaan Raja Fir’aun.” Puasa juga dilakukan oleh Nabi Musa As sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt yang telah memberi kemenangan atas Raja Fir’aun.

Pada zaman kaum Nasrani, sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, para pendeta membuat bermacam-macam aturan puasa, ada puasa daging, puasa telur, dan ada juga puasa ikan air. Mereka diperbolehkan memakan makanan apa saja kecuali yang telah disebutkan tadi. Misal jika puasa daging, mereka diperbolehkan memakan telur dan jika berpuasa telur, boleh memakan ikan air dan seterusnya.

Dalam Kitab Matius versi Lama dijelaskan, orang-orang yang menyembah berhala atau patung, menjalankan puasa hanya untuk meredakan murka berhala-berhala atau patung-patung yang mereka anggap sebagai Tuhan. Mereka pun menganggap puasa itu bisa menjadikan ampunan atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan sehingga terlepas dari siksa Tuhannya. Dari rasa ketakutan atau kekawatiran tersebut, mereka menjalankan puasa dengan cara meninggalkan segala sesuatu yang menjadi keinginan. Mereka juga meminta terhadap Tuhannya agar dosa-dosanya diampuni.

Dalam Alquran, Allah Swt telah mengisahkan puasa Siti Maryam, yaitu berpuasa dengan cara tidak berbicara dengan siapa pun. ”Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (shaum) untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini.” (QS. Maryam:26). Begitulah gambaran kaum nabi sebelum Nabi Muhammad SAW diutus menjadi rasul.

Umat Nabi Muhammad dalam menjalankan puasa berbeda dari umat nabi sebelumnya, yaitu dengan cara menahan lapar dan haus serta meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan, dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa bertujuan hanya untuk menjalankan perintah/anjuran Allah Swt dan semata-mata mencari keridaan Allah Swt.

Puasa yang dilakukan umat Islam berdasar perintah Allah Swt, Kutiba ‘alaikummus shiyam ini berarti bahwa berpuasa untuk memperoleh takwa atau la’allakum tattaquun. Tujuan tersebut akan tercapai dengan cara menghayati arti puasa itu sendiri. Dalam rangka memahami dan menghayati arti puasa, agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan Nabi SAW, misalnya ”Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga”.

Hal ini berarti bahwa menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama dari puasa. Di sisi lain, dalam sebuah hadits qudsi Allah Swt berfirman yang artinya: ”Semua amal putra putri Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya”.

Ini berarti puasa merupakan rahasia antara Allah Swt dan pelakunya. Bukankah manusia yang berpuasa bisa makan dan minum dengan cara bersembunyi, menghindar dari pandangan orang lain. Namun hal ini tidak dilakukan. Jika demikian, apa motivasi menahan diri dari keinginan itu? Tentu tidak karena segan ataupun takut pada manusia, tetapi karena dia melakukannya demi Allah Swt semata.

Pengendalian Diri

Sebagaimana disinggung di atas, esensi puasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Pengendalian ini diperlukan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Latihan pengendalian diri itulah esensi puasa.

Upaya itu tidak hanya berpuasa di bulan Ramadan yang telah diwajibkan oleh Allah Swt, tetapi masih ada beberapa puasa yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW dengan berbagai maksud dan tujuan. Dalam Islam, puasa dibagi menjadi empat macam, yaitu puasa wajib, puasa sunat, puasa makruh, dan puasa haram yang masing-masing mempunyai peraturan-peraturan dan maksud yang berbeda-beda.

Puasa wajib, yaitu puasa yang harus dilakukan bagi setiap orang Islam karena suatu aturan agama seperti puasa bulan Ramadan atau puasa kafarat bagi orang yang tidak menyempurnakan haji atau puasa nazar bagi orang dengan janji bila hajatnya terpenuhi akan berpuasa.

Puasa sunat, yaitu puasa yang dilakukan bagi mereka yang memang menghendaki tanpa ada suatu paksaan dari siapa pun atau aturan apa pun, seperti tiap hari Senin dan Kamis.

Puasa makruh, yaitu puasa pada hari-hari yang tidak biasa dan hanya satu hari.

Puasa haram, yaitu puasa pada Idul Fitri, Hari Raya Haji, dan 3 hari setelah hari raya itu, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijah.

Dengan demikian, puasa sangat diperhatikan dan diakui kebaikannya oleh semua umat manusia dalam rangka menjalani perintah dan menjauhi larangan Tuhannya. Puasa telah menjadi tradisi umat beragama. Karena itu, umat Islam berkewajiban menjaga tradisi (ibadah itu) sesuai dengan sendi-sendi dasar ajaran agama Islam. Jika hal ini terpenuhi, puasa akan membentuk suatu budaya atau kultur manusia yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran Tuhannya sehingga tercipta suatu tatanan masyarakat yang aman, damai, dan tentram.(41m)

Sumber: Suara Merdeka 11 Oktober 2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: