Isu Terorisme Rendahkan Cita Pesantren

Ditengah antusiasnya rakyat Indonesia yang sedang menunggu hasil pesta demokrasi kembali dikejutkan dengan peristiwa pengeboman di hotel JW Marriot. Ketika itu, banyak spekulasi yang muncul tentang motif pengeboman tersebut: mulai dari masalah DPT sampai hasil pilpres yang kala itu belum diumumkan, walaupun akhirnya dari pihak kepolisian memastikan bahwa itu adalah murni terorisme.
Setelah menguaknya issu terorisme tersebut, polisi, BIN, dan lembaga-lembaga pun gencar mencari jaringan terorisme di Indonesia. Tak cukup dengan itu, masyarakat juga dikejutkatkan dengan pernyataan polisi bahwa Nurdin M. Top masih hidup, yang pada pernyataan awal dinyatakan telah meninggal. Hal ini jelas menimbulkan pertanyaan besar, apakah dahulu pernyataan meninggalnya Nurdin M Top hanya sebagai peredam kegelisahan masyarakat?ataukah sekedar “tebar pesona” kepada masyarakat bahwa terorisme telah berakhir .

 

Usai Noordin dinyatakan masih hidup, masyarakan disajikan tontonan cukup menegangkan. Hal itu terjadi ketika aparat menggrebek suatu rumah yang di duga markas teroris di Temanggung, Jawa Tengah. Dalam penggrebekanya, rumah tersebut dikepung, di tembaki oleh ratusan aparat sedangkan mayarakat umum banyak yang menontonya. Menurut beberapa pengamat intelijen dalam the secret operation yang ditayangkan Metro Tv beberapa waktu lalu, penggrebekan itu terkesan lucu dan tidak mendidik masyarakat, karena jika dihitung bisa ratusan peluru yang tersarang di TKP, padahal yang benar bahwa tembakan itu sifatnya hanya shock terapi untuk melemahkan target atau membunuh jika si teroris melawan.
Selain itu, penyergapan itu juga terbuka untuk umum yang disaksikan oleh wartawan, reporter juga ratusan masyarakat umum, yang bisa membahayakan apabila ada peluru yang nyasar. Jika dilihat di berita televisi, tayangan itu seakan bukan suatu penyergapan yang penting, melainkan sebuah tontonan. Hal yang demikian ini menunjukkan “ke-gerahan” pihak aparat terhadap issu terorisme yang tak kunjung usai, sehingga menelurkan keputusan-keputusan yang cenderung pragmatis dan kurang masuk akal.
Untuk antisipasi selanjutnya, polisi berencana memonitor dan terjung langsung di pesantren (Wawasan 25/08). Hal ini sebenarnya terlalu berlebihan dan jelas-jelas merendahkan citra ribuan pesantren yang tersebar di pelosok nusantara, yang seakan semua adalah sarang teroris. Adanya klaim terhadap sarang teroris tersebut menunjukkan bahwa bangsa ini telah melupakan sejarah atau mungkin tidak komprehensif memepelajarinya.
Di zaman kemerdekaan, peseantren dengan sepenuh hati mengorbankan jiwa dan raganya demi Indonesia tercinta, bahkan sampai sampai pesantren “berubah kelamin” menjadi markas Laskar Hisbullah, sebuah lascar yang dikomandoi oleh para ulama dan kyai. Selain itu, peran ulama dan kyai pimpinan pesantren juga sangat sentral dan terlibat dalam peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan seperti 10 November di bandung, Peristiwa Madiun, Surabaya dll. sampai dengan proklamasi kemerdekaan RI.
Adanya klaim pesantren sebagai sarang teroris sangatlah tak beralasan. Menuruf Faisal Ismail, dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, pesantren kini menjadi benteng terakhir moral bangsa Indonesia. Bahkan menurutnya, pesantren telah mampu membangun karakter bangsa (Nation Charracter Building). Walaupun tanpa campur tangan dari pemerintahpun, pesantren mampu untuk berdikari dam mandiri untuk mendidik dan mencetak generasi bangsa yang komitmen terhadap agama dan bangsa yang berakhlakul karimah. Di tengah menyabut bulan suci ramadhan, bukan suatu kepercayaan yang di dapat pesantren, malah justru ‘pil pahit” yang menjadi image buruk cintra pesantren di masyarakat, dan hal ini jelas-jelas merendahkan citra pesantren di mata masyarakat.
Sebuah Tawaran Solusi
Untuk mengatasi terorisme, apabila adanya teroris tejadi atas kurang komprehensifnya pemahaman agama, yang semestinya dilakukan adalah meluruskan kurikulum agama kepada lembaga pendidikan yang diduga mengajarkan pemahaman terorisme, Ini adalah langkah antisipatif untuk menekan teroris dari kemungkinan nilai itu tertanan dari jalur pendidikan. Karena selama ini perhatian pemerinta pada jalur pendidikan agama memang masih kurang. Dan itupun tidak semua lembaga pendidikan, hanya kepada lembaga yang diduga memberikan ajaran transnasional dan fundamentalis saja.
Kedua, agar banyak pihak tidak dirugikan dengan masalah teroris hendaknya penyebutan “pesantren” agar tidak digunakan. Karena jika masyarakat tidak percaya lagi pada isntitusi pesantren, bagaimana nantinya moral generasi muda kita, hal ini akan jauh lebih penting dibanding teroris yang hanya memakan beberapa korban jiwa. Karena di tangan pemudalah nantinya bangsa ini akan ditanggung. Jadi, menggunakan istilah yang lebih umum apakan itu pendidikan atau langsung menyebut organisasi tertentu, semisal lembaga pendidikan, jaringan teroris indonesia atau yang lain. Jika hal ini tidak diperhatikan, nantinya bisa terjadi suatu konflik baru antara pesantren dan pihak terkait.
Ketiga, menurut Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita upaya untuk mengatasi aksi terorisme juga menjadi tugas masyarakat bersama dengan aparat keamanan mulai dari tingkat RT/RW. Menurut Ginandjar, daerah dan elemen-elemen masyarakatnya harus dijadikan basis pertahanan terdepan dalam memerangi terorisme. “Upaya memerangi gerakan teroris harus tetap dilakukan dengan menciptakan sistem pencegahan teroris secara dini dengan memantapkan kendali berbasis lingkungan atau RT/RW,”(google.com). jadi, dalam upaya penanganan terorisme memang harus dilakukan secara kolektif oleh rakyat indonesia. Maka dari itu agar pihak aparat hendaknya silaturahmi kepada semua tokoh masyarakat, ulama, cenddekiawan, organisasi dan orang-orang yang berpengaruh untuk memerangi teroris secara bersama-sama sesuai dengan tingkatan masing-masing mulai dari desa, kecamatan, sampai pusat.
Terakhir, yang tidak kalah penting adalah Sistem Informasi dan Teknologi Komunikasi. Jika hal ini diperketat, penanganan masalah terorisme akan semakin cepat. Sebagai contoh seperti data transaksi, riwayat obrolan telefon, kamera dan sebagainya.

 

Iklan

2 thoughts on “Isu Terorisme Rendahkan Cita Pesantren

Add yours

  1. Saya malah berpikiran lain. Bisa jadi dianggap suudz0n. Kenapa ‘pesantren’ menjadi basis beberapa ‘teroris’. Mungkin itu semua memang program disengaja dari ‘teroris’ yg hasilnya jangka panjang agar sdikit demi sdikit citra pesantren akan runtuh. Minimal tujuannya agar 0rang2tua takut memasukkan anaknya dalam lembaga pesantren. 0rang2 awam akan tidak bisa membedakan mana pesantren hisbulloh dan mana pesantren ‘teroris’.
    Itu program ‘halus’ yang senyawa dg program2 pemisahan kyai dg umatnya, program takmir yg lebih kuasa daripada imamah.
    Bagaimana nanti akan terjadi. Jangka panjangnya kita tunggu bersama.
    Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: