Tradisi Syawwalan dan Walisongo

Oleh: KH Achmad Chalwani*

NABI Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa iman kepada Allah dan hari kiamat maka bersilaturrahmi-lah!” Sahabat Anas ra juga meriwayatkan bahwa Rasulallah SAW bersabda; “Barang siapa menghendaki diluaskan rezeki dan diperpanjang umurnya, maka bersilaturrahmi-lah!” Diriwayatkan juga dari Aisyah ra, beliau berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Secepat-cepatnya pahala perbuatan baik adalah berbuat kebajikan dan menjalin silaturrahmi dan secepat-cepatnya siksa perbuatan jelek adalah berbuat lalim dan memutuskan tali silaturrahmi”.

Dalam kitab Risalatush Shiyam karangan Ahmad Abdul Khamid dikemukakan bahwa Nabi SAW sendiri menyarankan agar jangan terlalu sering berkunjung (silaturrahmi), dengan tujuan agar rasa rindunya semakin membuncah ingin segera bertemu sehingga perasaan sayangnya akan bertambah kuat. Beliau bersabda “zur ghibban tazdad hubban” yang artinya berkunjunglah dalam waktu yang berjarak maka rasa sayangmu kian bertambah.

Adapun jarak waktunya, jika memungkinkan adalah satu minggu sekali, yaitu bertepatan dengan hari Jumat, kalau tidak memungkinkan maka dilakukan setiap satu bulan sekali, kalau tidak memungkinkan juga, minimal dilaksanakan dalam satu tahun sekali pada waktu hari raya Idul Fitri atau syawwalan.

Syawwalan adalah kegiatan Silaturrahmi yang memiliki arti menyambung tali kasih sayang antara sesama manusia yang renggang. Nama syawwalan diambil dari nama salah satu bulan dalam kalender Hijriyyah, yaitu bulan syawwal di mana kegiatan silaturrahmi diadakan secara serentak di seluruh pelosok Indonesia yang dalam bahasa Arabnya berasal dari kata syaala-yasyuulu-syawwaalan yang memiliki arti bertambah. Diharapkan dengan adanya kegiatan syawwalan ini amal kebaikan, ketaatan, dan keimanan akan senantiasa bertambah menjadi lebih berkualitas.

Adapun kata silaturahmi berasal dari kata rahim. Kata rahmat, rahman, arham, dan sebagainya mempunyai akar kata yang sama, yaitu rahim. Rahim ibu adalah suatu tempat yang kuat dan penuh dengan kasih sayang. Menyambung silaturahim berarti menyambung kasih sayang antara sesama manusia dengan tujuan untuk menguatkan tali persaudaraan antar sesama umat Islam “ukhuwah Islamiah”.

Peletak pondasi tradisi syawwalan ini tidak lain adalah walisongo, karena keikhlasannya sehingga bertahun-tahun bahkan berabad-abad lamanya tradisi ini masih tetap lestari. Semua kalangan akan berusaha menyambut syawwalan dengan hati yang gembira, menyiapkan berbagai macam hidangan dan sandang semampunya, mulai dari kalangan orang kaya sampai kalangan orang miskin. Sampai-sampai kegiatan syawwalan masuk dalam agenda besar pemerintah Indonesia dengan memfasilitasi kegiatan syawwalan ini. Mulai dari fasilitas mudik untuk para pelancong sampai anggaran untuk kegiatan syawwalan.

Kegiatan syawwalan juga memiliki banyak hikmah, tidak saja umat Islam yang merasakannya, non Islam pun larut dalam fenomena syawwalan. Selain mempererat tali persatuan umat Islam (Ukhuwah Islamiyah), persatuan umat manusia pun (Ukhuwah Basyariyah) terjalin dengan harmonis. Semua kalangan dapat merasakan hikmahnya, mulai dari pedagang, sopir, pengelola tempat wisata, orang kaya sampai orang miskin. Ini menandakan ikhlasnya Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam di Negeri Seribu Pulau ini. Dan sampai saat ini belum ada seorang ulama yang dapat menandingi kehebatan Walisongo. Karena itu, mari kita sambut syawwalan ini dengan hati yang bersih mengharap ridlo dan ampunan Allah SWT. sambil melestarikan tinggalan walisongo.


*Pengasuh Ponpes An-Nawawi Berjan Purworejo, Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naqsyabandiyyah.

Oleh : KH Chalwani Nawawi
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: