Pemilu Awal Perubahan

Oleh: A. Naufa Khoirul Faizun
Pemilu merupakan pesta demokrasi, dimana rakyat berhak memilih wakilnya untuk berjuang demi masa depan bangsa yang lebih baik. Melalui pemilu, rakyat kini bebas memilih wakilya secara langsung. Dalam pemilu, keterlibatan masyarakat menjadi sangat urgen, sebab dengan pemilu itulah babak baru dalam membanggun bangsa dimulai. Apakah nantinya akan membawa progres ataukah regres, hasil itu ditentukan oleh pilihan masyarakat.
Namun, hal tersebut menjadi sangatlah ironis karena antusias sebagian masyarakat kini cenderung menurun dan seakan apriori akan hadirnya pemilu. Pilgub Jawa Tengah kemarin misalnya, yang hanya diikuti 55% dari seluruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) rakyat Jawa Tengah, pun demikian dengan beberapa propinsi-propinsi lain di Indonesia yang menunjukkan lemahnya tingkat partisipasi dalam pemilu. Fenomena semacam ini setidaknya disebabkan 4 (empat) faktor, diantaranya: (1). Banyaknya para calon wakil rakyat yang hanya obral janji-janji palsu, tidak disertai tindakan yang konkrit
(2) Dari deretan panjang pemilu pasca Orde Baru, belum banyak yang bisa dilakukan para anggota dewan, terutama untuk kesejahteraan rakyat kecil seperti: masalah kesehatan, pendidikan dan lapangan pekerjaan yang mencukupi. (3)Kebebasan pers pasca tumbangnya orde baru, membuat masyarakat dapat melihat secara (lebih) jelas bagaimana kinerja wakil rakyat mereka, apakah baik atau buruk. Dan ternyata, image buruk para pejabat di benak masyarakat lebih melekat daripada yang baik, oleh karena kasus-kasus korupsi, penyelewengan proyek sampai pelanggaran hukum lebih marak diberitakan di mass media dibanding dengan prestasinya. (4) Sejak Era Reformasi bergulir, mulai banyak bermunculan partai-partai politik baru, baik yang besar maupun kecil. Di pemilu 9 April besok, ada 48 partai politik yang bersaing meraih kursi di DPR. Hal ini tentunya membingungkan masyarakat, terutama dari kalangan yang kurang terdidik dan Lansia untuk memilih wakilnya. Lebih-lebih lagi, kebijakan baru yang mengubah sistem pemilu dengan mencontreng, tidak mencoblos.
Hal ini dikhawatirkan akan memperbanyak tingkat kesalahan dalam pemilihan, seperti dikemukakan oleh Hj. Nafisah Sahal, Anggota DPD RI asal Jawa Tengah “Saya khawatir angka kekeliruan pemilih meningkat pada 9 April 2009”, katanya, saat berkunjung ke KPU Kabupaten Magelang. Menurut dia, lembar surat suara yang ukuranya lebih besar di banding bilik suara akan menyebabkan kekeliruan saat pemungutan suara.(Suara Merdeka 20/03).
Terlepas dari menurunya tingkat partisipasi diatas, pemilu 9 April mendatang sangat menentukan arah masa depan bangsa. Berbagai persoalan mulai dari politik, sosial, kesehatan, pendidikan dan ekonomi kita masih butuh perbaikan. Untuk itu, marilah kita memilih wakil yang tepat untuk meneruskan perjuangan membangun negeri ini. Karena sekecil apapun partisipasi kita, itu membuktikan komitmen kita sebagai warga negara Indonesia, yang memiliki sejarah, perjuangan dan cita-cita bersama. Jika bingung memilih yang terbaik, minimal memilih yang terbaik dari yang buruk, jangan sampai tidak memilih karena pilihan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: