Tantangan IPNU Jateng

Jelang Konferwil IPNU Jawa Tengah

Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa Tengah Sebentar lagi akan menyelenggarakan Konferensi Wilayah (Konferwil) di Pondok Pesantren Al-Ishlah Mangkang Semarang, pada tanggal 28-30 November 2009 mendatang.  Dalam Konferwil itu PW IPNU dan delegasi Pengurus Cabang (PC) IPNU dan beberapa peserta Peninjau se-Jawa Tengah paling tidak akan membahas beberapa agenda yaitu masalah terkait organisasi, Program Kerja, Rekomendasi dan memilih ketua baru.

Sebagaimana pada event-event di organisasi serupa seperti Kongres, Muktamar, Muspimnas dan sebagainya, issu yang paling digembar-gemborkan bukanlah hal yang evaluatif ataupun progressif, namun siapa yang akan diusung sebagai ketua. Sehingga tak heran jika jauh-jauh hari nama-nama kader yang ingin mencalonkan diri sebagai ketuapun bermunculan dan mulai kondolidasi dan merapat kepada cabang di daerah-daerah.

Sebagai gambaran, IPNU adalah oraganisasi yang berada di bawah naungan NU (Badan Otonom NU) tugas IPNU adalah sebagai organisasi pengkaderan di tingkat pelajar, agar kelak menjadi kader NU yang benar-benar mengawal dan membumikan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Organisasi yang berdiri pada 22 Februari 1957 ini memiliki slogan, Belajar, Berjuang dan Bertakwa. Wilayah garapan IPNU pun terbatas pada pengkaderan, pengembangan dan advokasi pelajar santri, tidak sampai terlibat pada politik praktis, kecuali isu-isu tertentu yang berkaitan dengan kebijakan pendidikan. Sehingga, secara umum IPNU adalah organisasi yang dibentuk untuk mempersiapkan dan mengkader pelajar atau santri menjadi kader yang memiliki wawasan yang luas dan komitmen tinggi terhadap doktrin Alussunnah wal jamaah.

Dalam konteks IPNU Jawa Tengah, Konferwil IPNU menjadi penting karena hal itu akan menentukan PW IPNU Jateng kedepan. Mengenai signifikansi konferwil, sebenarnya ada tiga tantangan besar yang mesti dipikirkan dan ditindaklanjuti oleh wilayah dan cabang-cabang IPNU di Jateng kedepan.

Pertama, pengkaderan. Jelas agenda ini yang paling penting dan mesti dipikirkan masak-masak. Secara umum, pengkaderan IPNU di Jateng masih belum masif, terutama di kalangan pelajar yang berada di sekolah umum (selain LP Maarif). Sehingga, kader muda Nahdliyyin banyak yang dimasuki faham dan aliran  lain yang ekstrim dan tidak sesuai dengan islam ala Indonesia yang membahayakan bagi keberlangsungan NU dan Indonesia kedepan.

Kedua, Advokasi. Advokasi kepada pelajar semestinya lebih ditingkatkan, kerena hal itu akan menjadi landasan dan kebutuhan pelajar dalam berkiprah  dan tertarik pada IPNU. Dalam konges IPNU di PP al-Hikmah Brebes beberapa waktu lalu,  ketua muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengatakan, bahwa advokasi kepada pelajar bisa dilakukan dengan banyak hal termasuk membuat semacam Kelompok Bimbingan Belajar yang murah. Hal ini penting bagi pelajar karena biasanya mereka belum cukup dengan menu yang disuguhkan di sekolah yang waktunya terbatas, apalagi jika menjelang Ujian Naional. Jika IPNU bisa menyelenggarakan program semacam ini, tentunya akan sangat mendukung sekali bagi proses pengkaderan dan peningkatan mutu pendidikan pelajar.

Ketiga, Media. Media sangat penting dan berpengaruh sekali untuk semua hal. Dalam konteks ke-IPNU-an, paling tidak membuat media yang islami dan berfaham Ahlussunnah wal Jamaah sebagai sarana transformasi ilmu dan komunikasi antara pelajar-pelajar. Pada wilayah ini, baik IPNU ataupun Banom NU lainya masih sangat kurang, sehingga banyak dimanfaatkan organisasi lain untuk merekrut kader. Media tersebut bisa disajikan berupa Buletin mingguan, Jurnal, Majalah ataupun website.

Selain tiga hal diatas, ada empat prinsip yang harus dimiliki dan ditanamkan oleh kader NU menurut KH Ali Maksum Krapyak, sebagaimana yang sering disampaikan Almukarrom KH. Achmad Chalwani Berjan Purworejo di berbagai kegiatan NU dan Ceramahnya, pertama, Mengenal Nahdlatul Ulama (al-Ma’rifatu bi an- Nahdlatil Ulama). Kedua, Percaya pada NU (as-Tsiqatu bi an-Nahdlatil Ulama). Ketiga, Berjuang dengan NU (al-Jihadu bi an-Nahdlatil Ulama). Keempat, Sabar dengan NU (as-Sabru bi an-Nahdlatil Ulama.)

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PC IPNU Purworejo 2009 – 2011

Iklan

2 thoughts on “Tantangan IPNU Jateng

Add yours

  1. Tantangan ditingkat PW, PC, dan PAC kira-kira mana yang lebih besar??????
    Kepada rekan-rekanita yang secara struktural berada diatas kami, terutama di tingkat PW, kami mengajak untuk turun langsung dan mengamati perkembangan kader yang sesungguhnya,dalam hal ini PR dan PK yang kami maksud..Setelah itu kami mengajak rekan/rekanita untuk berfikir sebenarnya tantangan IPNU/IPPNU yang sesungguhnya. Tidak kami ragukan kualitas dari para pengurus di tingkat PW/PC. Tapi mohon maaf sebelumnya, ketika kami meragukan beberapa dari rekan / rekanita dalam hal niat. Salah satu indikasi yang kami lihat adalah adanya upaya dalam pencarian peluang keduniaan, atau IPNU / IPPNU dijadikan kendaraan untuk mencapai ambisi meraih dunia, sehingga kami mengajak rekan / rekanita untuk bermuhasabah,

    Kami mengajak rekan/rekanita untuk melihat cara kami dalam berjuang, apakah kami sudah benar atau salah, kami punya kader yang begitu banyaknya, Kami punya 26 PK dan 5 PR (Paling tidak yang yng aktif hingga saat ini), dengan ini kami menunggu rekan/rekanita untuk coba berkunjung ke PAC kami , dan berharap kepada rekan / rekanita untuk ikut mau merasakan dari tantangan yang kami rasakan

    WALLAHU A’LAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: