“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling nasehat menasegati dalam hal kebajikan dan sabar.”

Terjemahan bebas surat al-Ashr diatas menginformasikan kepada kita tentang beberapa hal, yang kandungan maknanya sangatlah luas. Dalam surat tersebut memnginformasikan sekaligus memperingatkan, bahwa kita (baca: manusia) dalam keadaan rugi, kecuali yang beriman, beramal shalih, saling nasehat-menasehati di dalam kebaikan dan sabar.

Allah menggunakan kata husr, yang berarti rugi. Orang yang rugi adalah orang yang tidak bisa mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Rugi merupakan hal yang tidak diinginkan oleh semua orang, baik rugi di dunia maupun di akhirat. Orang yang merugi ini adalah orang yang tidak memiliki atau melakukan empat hal sebagai berikut:

Pertama, orang beriman. Orang dikatakan beriman yaitu apabila telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusa-Nya serta malaikat, kitab-kitab-Nya dan percaya kepada hari akhir dan qadha dan qadar. Jadi, sekaya, sebijak, setampan, secantik bahkan sedermawan apapun orangnya apabila belum punya poin ini dianggap rugi.

Kedua, beramal shalih. Amal shalih merupakan bentuk kalimat yang  umum. Didalamnya bisa terkandung banyak sekali arti. Dan sejatinya, beramal shalih tidak ada dikotomi pada masalah ubudiyah saja, tetapi universal. Sayang, kadang mainstream umat Islam masih cenderung melihat amal shalih dari perspektif ubudiyah saja, seperti rajin shalat dhuha, tahajjud, puasa senin kamis dll, meskipun itupun sudah bagus, perlu juga amal shalih yang bersifat muamalah: ibadah sosial, seperti membantu fakir miskin, berzakat, sampai dalam skala yang lebih luas, misalnya membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat, menyejahterakan.

Dalam beramal shalih, perlu memperhatikan niat, seperti yang sudah disampaikan nabi dalam hadisnya yang terkenal: “innama al-a’maalu bi an-niyyat” yang terjemahan bebasnya “bahwa segala sesuatu itu tergantung pada niatnya”. Artinya bahwa, bisa saja perbuatan yang disitu mengandung unsur agama, tetapi tidak menjadi amal shalih, hanya gara-gara salah niat. Misalnya, orang pergi umroh hanya untuk mendapatkan pencitraan baik, karena dia akan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat. Maka, yang akan dia dapat bukanlah pahala, tetapi citra baik dia di mata orang-orang.

Sebaliknya, ibadah yang kelihatanya itu bersifat keduniaan dan bukan bagian dari ritual agama, bisa saja menjadi amal shalih, seperti tukang sapu misalnya. Jika dalam hati berniat menjaga kebersihan, agar membuat orang di sekelilingnya sehat dan nyaman, maka itu menjadi amal shalih dan mendapatkan pahala. Berbeda jika orang tersebut hanya berorientasi pada gaji dan pekerjaan semata.

Ketiga, saling nasehat menasehati dalam hal kebajikan. Orang bijak mengatakan:”teman yang baik bukanlah teman yang selalu berkata ‘ya’ kepada Anda, tetapi yang berani membenarkan apa kata anda”. Jika teman kita salah, sebaiknya memang kita membenarkan, atau minimal mengingatkan. Hal yang terberat dalam hal ini sebenarnya adalah menasehati atasan, karena kita cenderung takut akan efek yang diakibatkan. Namun sebenarnya, jika kita benar, semua akan berjalan lebih baik, diluar perkiraan kita.

Nasehat-menasehati dapat terjalin jika kita banyak bergaul dengan orang-orang, baik yang berpengetahuan ataupun tidak. Dan hal yang perlu diperhatikan adalah, penyampaian pesan kita(baik dalam diskusi atau perdebatan) dengan cara yang baik bahkan dalam al-Quran menggunakan kata ahsan(terbaik). Tentunya beda, pesan kita dengan rekan-rekan se-pengajian dengan PSK ataupun preman jalanan. Jadi, mesti pintar-pintar kita dalam menempatkan kata dan posisi.

Keempat, adalah Sabar. Berdasar dari semua apa yang ada pada diri, atau sekeliling kita adalah titipan milik Allah, maka semua pasti akan kembali kepadanya. Jika kita mendapat cobaan, baik kehilangan, fitnah, masalah atau yang lain, hendaknya kita berusaha mencari problem solving dan bertawakkal kepada Allah. Kita harus percaya bahwa apa yang menimpa kita, akan terbaik bagi kita, karena Allah tidak akan memberi beban kepada hamba kecuali ia mampu mengatasinya. Demikian. Wallahu A’lam.