Taqarrub dan Signifikansinya

Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Manusia diciptakan di muka bumi ini untuk menjadi khalifah, atau “pengganti” Allah untuk memimpin bumi ini. Dalam tugasnya sebagai khalifah, manusia paling tidak mempunyai tiga tugas di muka bumi ini, yaitu: (1) hablum minallah(interaksi dengan Allah), (2)hamblum minannass (interaksi dengan sesama manusia) dan (3) hablum minal ‘alam(interaksi dengan alam). Dalam tulisan ini, penulis hanya akan membatasi pada poin yang pertama yaitu, hablum minallah.
Karena diciptakan untuk menjadi khalifah, maka oleh Allah manusia di beri bekal dalam melaksanakan tugasnya, yaitu kitab suci Al-Quran, sebagai pedoman tatacara hidup menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tentang hubungan vertical ini, banyak kewajiban dan sunnah-sunnah yang telah di informasikan oleh al-Quran. Diantaranya, shalat, zakat, puasa, haji, berbuat baik, dll yang intinya melaksanakan kewajiban-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
Selain kewajiban yang sudah tidak bisa di taawar lagi bagi mukallaf yang memenuhi syarat syara’, pendekatan diri kepada Allah biasanya dicapai melalui sunnah-sunnahnya. Ibarat suatu kebutuhan, yang primer sudah dilaksanakan, tinggal mencari yang sekunder. Dalam hal ini, para ulama banyak mengikuti cara dan metode sesuai dengan petunjuk nabi, diantaranya adalah; shalat sunnah, puasa sunnah, mujahadah, sedekah, lelaku(prihatin) dll.
Mengapa hal itu mesti dilakukan? Jawabanya adalah selain untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menggapai ridlonya, hal itu juga merupakan suatu kebutuhan batin yang dimiliki setiap manusia. Mengapa penulis bisa mengasumsikan demikian? Karena pada prinsipnya, manusia mempunyai hasrat, kemauan dan kebutuhan untuk berinteraksi kepada tuhan.
Hal ini bisa kita lihat dari perjalanan nabi Ibrahim ketika mencai tuhan, atau orang yang menyembah berhala sekalipun, pada dasarnya ia sangat ingin memiliki suatu dzat yang melindungi dan menjadi tumpuan: meskipun ter-representasikan berbentuk patung atau lainya. Bahkan, orang atheis yang mengaku dirinya tidak memiliki tuhan, ketika kakinya tersandung dia berkata: “oh my god!!!”
Dalam islam sendiri, selain bertujuan menggapai ridlo Allah, biasanya orang yang melaksanakan pendekatan diri kepada Allah ini memiliki kepuasan bathin tersendiri. Hati menjadi nyaman dan tentram meskipun hidpunya tidak kaya. Hati merasa bahagia meskipun dimata orang lain dia sederhana. Itu semua, semata karena hatinya dekat dengan Allah. Dia merasa ada dzat yang selalu melindungi, mengasihi dan memberi nikmat yang tiada tara kepadanya.
Biasanya, untuk mencapai itu semua mereka memasuki sebuah tarekat. Tarekat merupakan suatu jalan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam lingkungan kita, Nahdlatul Ulama, kita mengenal organisasi Thariqah mu’tabaroh an-Nahdliyyah. Organisasi ini didirikan untuk mengakomodir Tarekat yang mu’tabar, yang sanadnya sampai kepada nabi Muhammad saw.
Jadi, mendekatkan diri melalui jalan tarekat, akan lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan karena ada “guru spiritual” yang mengajari tatacara mendekatkan diri tersebut. Walau demikian, mendekatkan diri untuk mencapai ridlo Allah hendaknya juga diimbangi dua poin yang penulis sampaikan diatas, yaitu menjaga hubungan dengan manusia dan alam. Karena jika kita menghiraukan dua poin tersebut, kita hanya mementingkan diri sendiri, egois. Padahal, banyak tetangga kita yang menderita, misalnya. dari itu perlu sebuah “balancing” agar kita menggapai ridlo Allah dengan tatacara yang telah diatur dalam al-Quran dan hadis. Wallahu A’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: