NU Pasca Gus Dur Wafat

Penulis memiliki seorang “guru spiritual dan intelektual”, yang sebenarya sangat bisa diandalkan dan dibanggakan. sayang beliau wafat ketika masih usia muda. pandangan islam dan intelektual modern beliau, cukup komprehenshif. dari perjalanan intelektual beliau, meyakini tetang konsep khilafah adalah konsep yang benar dan perlu ditegakkan. namun, untuk Indonesia, dewasa ini memang belum tepat. Beliau juga menyatakan bahwa kesalahan terbesar NU adalah meyakini bahwa pancasila adalah ideologi yang sudah final.
Sebelum wafat, penulis sempat terucap kata-kata dari beliau, begini:
“walau aku tidak cokok dengan manufer gusdur, aku ragu, siapa nantinya yang bisa mengangkat derajat NU di masa depan?”, kurang lebih seperti itu.
Memang, dalam hal pandangan, beliau agak berbeda dengan Gus Dur, namun beliau tetap salut dengan beberapa pemikirannya, yang kadang memang tidak populer dan cenderung kontrovesial.
Apa yang dikatakan beliau, memang agak benar, minimal menurut pandangan penulis sendiri. pasca Gus Dur wafat, sosok central yang bisa merangkul banyak golongan termasuk di internal kaum Nahdliyyin sendiri seakan sedang mengalami krisis kepemimpinan. Kaum tua (maaf) cenderung kurang faham dengan masalah yang terkini, up to date dan gejala-gejala baru. Namun, dari segi hukum dan kajian keislaman, memang mereka sangat faqih.
Sedangkan di kalangan NU muda, mereka sangat merespon  gejala dan masalah baru, namun  tak cukup instrumen untuk menyelesaikan masalah dan gejala yang timbul di masyarakat(modern) secara komprehensif, baik dari perspektif pengetahuan, ushul fiqh, mantiq, balaghah dan khasanah pesantren lain.
Asumsi yang demikian ini, paling tidak, timbul dari pengalaman penulis sendiri waktu mengikuti sidang komisi di salah satu Musyawarah kerja pengurus NU disuatu daerah. kebanyakan, orang-orang yang mengikuti perjalan sidang terhalang satu faktor, yaitu kata ilmiah dan istilah baru. di forum itu, untuk mengetahui arti kata “insidental” dan pengertian “global warming”, mereka cukup kesulitan.
Hal yang demikian semestinya menjadi renungan bermasama untuk kemajuan NU kedepan, terutama pasca wafatnya Gus Dur. semua elemen harus bersatu menunjukkan prestasi dan memiliki nilai tawar di mata nasional maupun internasional. Tugas yang menjadi garapan adalah, agar bagaimana kaum bersarung yang memiliki khasanah Islam klasik, juga dalam fikiranya mengembara pemikiran yang mendunia, respec dengan keadaan terkini dan merangkul semua pihak dalam berdakwah, seperti yang telah di contohkan Gus Dur, dan penulis pikir itu adalah tugas kaum muda NU. Bisakah NU muda mengembanya?

Iklan

2 thoughts on “NU Pasca Gus Dur Wafat

Add yours

  1. Orang sok tahu jauh lebih berbahaya ketimbang orang tidak tahu. Merasa lebih baik berarti buruk. Merasa lebih hebat sejatinya adalah kosong. Merasa lebih itu artinya sangat kurang. Semoga saja tidak tergolong “kurang waras”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: