Aktualisasi Maulid Nabi

Oleh : A. Naufa Khoirul Faizun
Sejak beberapa abad lalu, kelahiran nabi Muhammad SAW selalu diperingati pada bulan mulud atau dalam istilah bulan hijriyyah disebut bulan Rabiul Awwal. Hingga kini perayaan trersebut masih berjalan baik di kampung-kampung, surau-surau, sekolah, kampus sampai presiden pun menjadikanya perayaan nasional. Isinya pun variatif, mulai dari pengajian, pembacaan al-barzanji(sejarah nabi), diskusi interaktif, sampai dengan festifal budaya setempat dan ritual-ritual tertentu.
Kegiatan maulid nabi seakan menjadi menu tahunan wajib bagi kaum muslimin, yang artinya bahwa “ada sesuatu yang kurang” jika itu tidak dilaksanakan. Dari kampung-kampung sampai perkotaan, di bulan ini pun semua orang sibuk. Dari anak-anak, pemuda, orang tua pun tidak mau ketinggalan untuk ikut andil dalam kegiatan itu. Tidak ketinggalan, para pengisi acara mulai dari kyai, MC sampai kyai pun “kebanjiran job” di bulan ini.
Dalam tulisan ini, penulis tidak ingin mengusik kegiatan yang dianggap ajaran Ahlussunnah wal Jamaah oleh kalangan Nahdliyyin ini, atau memperdebatkan tentang klam sebagian firqah yang mengatakan kegiatan itu bid’ah. Disini penulis lebih ingin memberi income atas perayaan tersebut, karena hemat penulis, ditinjau dari aspek sosial dan pengingatan sejarah, kegiatan ini sangat positif untuk kemajuan umat islam.
Dalam kontek judul besar diatas, penulis melihat bahwa esensi yang ada dalam perayaan maulid nabi yang selama ini dilaksanakan, hendaknya selalu menjadi referensi dan semangat yang tertanam dalam kehidupan sehari hari. Jika selama ini orang mengingat sejarah nabi hanya pada bulan itu, ada baiknya keteladanan dan perilaku nabi kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi penting agar momen yang sangat bersejarah ini tidak menjadi ritual tahunan saja yang cukup menghabiskan energi umat islam.
Mengaktualisasikan maulid nabi dalam kehidupan sehari-hari memang tak mudah, karena itu berarti meneladani perilaku nabi dalam kehidupan sehari-hari kita. Di tengah glamour dan modernisme dunia yang salah satunya ditandai dengan pesatnya teknologi, cepatnya arus informasi dan komunikasi ini, setidaknya ada iman yang tertanam kuan dan icon kita dalam hidup di tengah-tengahnya. Di tengah orang begitu memuja para artis, band ngetop dan seri HP/ Laptop terbaru, kita masih memiliki suatu idola yang menjadi landasan kita membuat mindset dalam menghadapi koindisi tersebut.
Pola aktualisasi ini dilakukan dengan mengembalikan problem atau suatu kasus yang terjadi kepada nabi. Sebagai contoh, dalam menghadapi orang yang syirik kita kembalikan kepada apa yang dilakukan nabi ketika dilempari batu dan kotoran unta ketika hijrah ke thaif, atau bagaimana ajaran nabi dalam merespon perbedaan pandangan dan masalah-masalah lain baik hukum, doktrin, sosial yang semuanya sudah tercover, sampai masalah politik yang telah dicontohkan akhlak dan etikanya.
Namun, mungkin ada sedikit pertanyaan yang mengganjal. Saya ini kan manusia biasa, bukan nabi? Pertanyaan itu memang wajar, karena sebaik-baik manusia adalah kurun pertama dan selanjutnya. Ini berarti bahwa semakin jauh dari nabi, semakin jauh pula doktrin islam dijalankan dan tentunya kualitas umat semakin buruk. Tetapi, minimal kita berusaha untuk meneladani nabi semampu kita. Karena memang apa yang ada hari ini belum banyak yang tak ada atau tak terjadi pada masa nabi. Namun hal itu bukan nerarti kita meninggalkan semuanya. Bukankan melakukan sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali?
Dari sedikit uraian diatas, bahwa aktualisasi dan representasi kecintaan kita kepada nabi Muhammad hendaknya tidak hanya sebagai formalitas belaka. Jauh daripada itu, pentingnya meneladani dan mengamalkan ajaran nabi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentunya menuntut kita untuk faham dan mengerti sejarah nabi. Jika dalam pembacaan al-Barjanji mungkin kebanyakan oranmg awam kurang faham maksudnya karena berbahasa arab, ada baiknya diterjemahkan dan disampaikan dalam bahasa yang bi qadri ‘uqulihim, agar ajaran islam bisa membumi di tengah masyarakat dan kehidupan yang rahmatan lil ‘alamin.Wallahu A’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: