Melihat Dari Sisi Lain

Oleh : A. Naufa Khoirul Faizun
Sebagai manusia yang hidup berinteraksi sosial, baik dalam sekup keluarga sampai masyarakat, kita akan selalu dihadapkan pada kejadian-kejadian ataupun fenomena yang ada di sekeliling kita. Setelah melihat biasanya menimbulkan suatu stiqma atau image; baik dan buruk, benar dan salah sampai moral dan amoral. Semua itu terjadi mengalir gakaikan air karena memang manusia diberi mata untuk me-monitoring dan akal untuk berfikir.
Sejalan dengan itu, seringkali kita terjebak pada kesimpulan suatu fenomena ataupun kejadian itu dikarenakan ter-mindset oleh maenstream(mayoritas). Jika ada suatu kejadian, seringkali men-justice suatu kesimpulan secara fisik dan tanpa melihat dari sisi atau sudut pandang yang lain. Hal ini terjadi di masyarakat baik dalam hal agama, politik ataupun sosial. Adanya hal semacam ini hendaknya perlu dirubah agar tidak terjadi miskomunikasi dan salah persepsi yang dapat menimbulkan konflik.
Sebagai contoh dalam hal agama, seringkali orang terkecoh dengan apa yang dinamakan orang shalih atau orang yang alim, bahwa yang shalih itu orang yang selalu bermunajat di masjid dan orang yang alim itu orang yang pandai bicara dalam forum. Padahal, hemat penulis, orang yang ibadahnya rajin belum tentu shalih jika melihat keadaan sekitar kurang respon dan peduli, terutama sesama muslim. Jadi, walaupun orang itu taat menjalankan perintah agama, dalam arti vertikal, tetapi jika tetangganya kelaparan misalnya, tidak pesuli maka itu masih belum dianggap shalih. Hal ini juga ditegaskan oleh hadis nabi yang berbunyi, “tidak sempurna iman seseorang, sehingga mencintai saudaranya, seperti mencintai diri sendiri” .
Dalam fenomena politik juga banyak sekali kejadian, seperti pada sidang pleno hasil pansus century beberapa waktu lalu yang menimbulkan kericuhan di gedung DPR. Masyarakat menganggap bahwa itu kurang layak dilakukan oleh seorang anggota dewan yang terhormat. Namun, hemat penulis, hal itu wajar-wajar saja. Jangankan melempar botol air mineral, nyawa pun dipertaruhkan untuk membela, atau merasa membela kebenaran yang endingnya juga untuk kepentingan rakyat. Bahkan, hal seperti itu belum apa-apanya jika dibandingkan dengan sejarah-sejarah politik masa lalu yang sampai menimbulkan pertumpahan darah, seperti perang Sayyidina Ali- Fatimah atau Ganasnya Raden Wijaya untuk mendirikan majapahit.
Dalam kasus DPR dalam menetapkan kasus cetury diatas, sebenarya masyarakat perlu berbangga, karena kini wakil rakyat tidak hanya ketok palu dan menyanyikan lagu setuju saja. Hal tersebut tidak kita temukan dalam sejarah orde baru yang begitu kejam dan otoriter. Bukankan masyakat menginginkan penegakan demokrasi di negri ini, mengapa setelah semua orang bisa berpendapat malah bingung sendiri? Sampai-sampai dalam parodinya di Suara Merdeka, 07/03/10 lalu Prie GS menyentil, “jangan kita memperjuangkan kebebasan, setelah bebas malah bingung sendiri.” Walau bagaimanapun, itulah demokrasi yang telah kita pilih untuk membawacita-cita negri ini. Semua hanya versifat formal, yang antitesisnya tentunya bisa kita cari dan gali dari etika dalam al-Quran dan As-sunnah.
Pun demikian dalam masalah sosial. Meninggalnya Gus Dur mematahkan stiqma yang berkembang dalam masyarakat bahwa beliau dianggap melampaui batas-batas kewajaran, norma, dan bahkan agama. Kedekatan beliau dengan berbagai tokoh lintas agama, sampai-sampai menghadiri ceremonial agama tertentu dianggap kebablasan. Namun, kini semua orang indonesia tahu bahwa selain diikat oleh persaudaraan agama, kita juga diikat oleh sersaudaraan sebangsa-setanah air. Masyarakat baru sadar bahwa kaum tionghoa, selain berpotensi untuk pembangunan indonesia, juga ikut andil dalam sejarah kemerekaan, bahkan ada versi yang menyartakan ikut mengislamkan nusantara lewat laksamana Ceng Ho. Bahkan, menurut al-Ustadz Hasan Aqil Ba’abud beberapa waktu lalu ketika di-sowani penulis menyatakan bahwa, “nggak papa kita liberal, agar bisa diterima semua pihak”, kata Rois Syuriah PCNU Kab. Purworejo tersebut. Tentu liberal dengan beberapa catatan dan batasan sesuai syar’i.
Selain Gus Dur, banyak sekali fenomena sosial yang berkembang dan bahkan sudah menjadi mindset dalam masyarakat indonesia, yang tentunya tidak perlu disebut satu persatu dalam tulisan ini. Penulis hanya ingin menyampaikan bahwa, lihatlah sisi positif suatu kejadian atau gejala sosial sebelum kita memberikan klaim pada sesuatu; naik atau buruk dan salah atau benar. Fungsi akal untuk memikirkan dan memahami hal seperti itu, hemat penulis, sedikit memberdayakan “mutiara yang tersimpan” dalam diri kita, yaitu akal, yang sering disindir oleh Allah SWT dalam banyak akhir ayat al-Quran, afalaa ta’qilun?, afalaa tatafakkaruun?
Semua hal yang pernah terjadi menjadi pelajaran bagi kita, untuk bahah pijakan melangkah kedepan. Kesalaha-kesalahan orang-orang terdahulu, ilmu yang amat berharga karena kita tidak akan cukup umur untuk melakukan semua kesalahan-kesalahan karena percobaan. Semua yang terjadi akan ada hikmahnya, bagi kita yang berfikir dan mau memikirkan hal itu. Semua kejadian dan fenomena yang ada, coba kita, amati, kritisi lihat dari sisi yang berbeda, untuk kita ambil pelajatanya. Wallahu A’lam –Bace Camp PC PMII Purworejo – 07 Maret 2010, Pkl 09.00 WIB

Iklan

3 thoughts on “Melihat Dari Sisi Lain

Add yours

  1. GOOD… BOZ…. bisa ajarin buat blog agar bisa nampang di pencarian google, soale aku dah lami ni buat blog tapi gak nampang2 juga di kuka… thank….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: