Julia Perez dan Politik

Suatu berita yang menjadi heboh dan menyita perhatian masyarakat indonesia akhir Maret ini selain, korupsi, gempa dan bocornya soal ujian nasional adalah majunya Julia Perez (Jupe) sebagai calon bupati Pacitan. Seperti dikutip zonaberita.com pada Sabtu, 27 Maret 2010 lalu, jupe ingin menunjukkan kemampuanya. sebelum membahas lebih jauh, sisini penulis tidak memposisikan diri sebagai orang yang larut akan issue yang sedang memanas, atau sekedar ikut-ikutan menulis sebuah berita yang sedang nge-hits. jauh dari itu, akan melihat dari sisi lain fenomena sosial masyarakat indonesia yang semakin hari semakin tidak masuk akal saja, minimal menurut penulis sendiri.
yang pertama, gejala dari artis bantinmg setir menuju anggota DPR/ wakil rakyat sebenarnya sudah tidak aaing lagi. nama-nama seperti Eko Patrio, Miing, Komar, Wanda Hamidah, Angelina Sondakh dll sudah tidak asing lagi dimata masyarakat indonesia. namun, yang menjadi persoalan adalah stigma buruk dan sensual yang melekat pada diri seorang Jupe itulah yang semestinya dipertanyakaan, selain sensasi-sensasinya.
lalu, pertanyaan yang paling mendasar adalah, apakah ormas atau partai yang ada di indonesia yang selama ini mencetak politisi dan negarawan sekelas Soekarno, Gusdur atau jUSUF Kalla kini mengalami stagnan? ataukah memang masyarakat indonesia terlalu asyik termakan media seakan artis adalah sebuah pujaan hati bak dewa; yang selalu menjadi buah bibir dimasyarakat?
pertanyaan itu memang sulit untuk dijawab. karena memang masyarakat kini lebih tertarik untuk memilih orang yang lebih dikenal semacam artis daripada politisi yang sebenarnya ‘alim ‘alamah tetapi tidak begitu dikenal. hal ini terbukti dari banyaknya artis yang lolos ke senayan.
jika dipikir-pikir, sebenarnya hal ini sangatlah ironis. terlepas dari HAM yang melekat pada diri setiap manusia, suatu keputusan semestinya juga dipertimbangkan aspek positif-negatifnya.ataukah ini sebuah bencana sitemik yang terjadi di indonesia karena memang masyarakat dibutakan dengan media, ataukah memang sudah zamanya?
seorang pemimpin seyognyanya berangkat dari kapasitasnya yang banyak tahu dan tahu banyak tentang persoalan bangsa atau sosial politik. issu pendidikan, kesehatan, kesejahteraan rakyat, infrastruktur, kemiskinan dan lain sebagainya hendaklah dikuassai. dan hal ini hanya mungkin dari mereka yang berangkat dari aktifis, bukan artis.
tanpa bermaksud apologetis, penulis amat menyayangkan hal itu. semestinya jika memang terjadi fenomena seperti itu mayarakat harus lebih bijak. belum selesai masalah kepemimpinan perempuan diperdebatkan, muncul fenomena seperti diatas; seorang tokoh yang ber ‘image’ sensual bakal maju menjadi pemimpin.
tidak bermaksud melecehkan artis, tentunya mereka lebih faqih untuk terjun atau berdakwah mengabdi untuk masyarakat di dunia keartisan mereka. apakah nantinya siap jika menghadapi persoalan yang selama ini “asing” bagi mereka. bagaimana jika ada kasus Century jilid dua atau markus yang dewasa ini juga hangat dibicarakan. konsep apa yang dibawa untuk menyejahterakan masyarakat?semoga apapun sensai dan kejutanya, masyarakatharus bisa lebih arif dan bijaksana dalam memilih pemimpin bagi mereka.Wallahu A’lam (mohon maaf mbak Jupe apadbila ada salah kata)//Purworejo, 07 April 2010

Iklan

2 thoughts on “Julia Perez dan Politik

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: