Mencoba Menikmati Masalah

Manusia hidup di dunia ini pati tak terlepas dari yang namanya masalah,baik itu anak-anak, remaja apalagi orang tua, pasti semua akan menghadapi yang namanya masalah. Masalah anak-anak yang takut dimarahi guru atau ortu, sakit hati remaja yang sedang menjalani romantisme, sampai persoalan ekonomi yang seakan menjadi simbol kerasnya kehidupan. Semua itu terjadi tak mengenal waktu, siapa dan apa masalah itu.

Adanya masalah, merupakan konsekwensi dari kita hidup, tinggal bagaimana kita menghadapi masalah tersebut dengan bijak. Ada beberapa solusi orang dalam mencari solusi atas beberapa persoalanya (problem solving), mulai dari curhat, menulis, konsultasi sampai melampiaskan dalam bentuk hobi. Semua cara tersebut paling tidak memiliki efeck meringankan beban yang terpendam dalam jiwa.

Selain itu, tidak menutup kemungkinan, teman-teman juga akan saling membantu memecahkanya. Apapun caranya, sebuah masalah sebenarnya adalahsuatu tangga yang menghantarkan kita menuju strata kehidupan yang lebih tinggi, lebih dewasa dan lebih bijak. Seandainya manusia sejak kecil diasingkan dikamar dengan tujuan tidak akan mendapat masalah dan semua fasilitas diberika, misalnya, ketika besar dia juga malah mendapat masalah baru berupa: komunikasi yang belum terbiasa, pengenalan lingkungan dan sebagainya. Intinya, sebuah masalah adalah sebuah keniscayaan yang mesti diterima manusia.

Dengan keniscayaan seperti itu, kita semestinya yakin bahwa dibalik masalah itu ada sebuah hikmah yang terpendam. Dalam al-Quran, Allah berfirman: “Inna ma’al ‘ushri yusra”, yang artinya kurang-lebih bahwa “bersamaan dengan kesulitan, ada kemudahan”. Allah dalam ayat tersebut memakai kata “ma’a” yang berarti: “bersamaan dengan”, bukan kata “ba’da”, yang berarti setelahnya. Jadi, sebenarnya bersamaan dengan kesulitan dan masalah yang kita hadapi, sudah ada suatu kemudahan dan hikmah yang perlu kita cari.

Maka, mari kita coba nikmati masalah dan problematika hidup ini, sebagai sebuah tantangan. Jika tidak dengan yang langsung, maka dengan yang langsung. Jika tidak dengan yang tersurat, maka dengan yangtersirat. Wallahu A’lam.

Berjan, 13-04-2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: