Signifikansi Akidah

Foto: Google.comIlmu Tauhid (Teologi) dalam Islam merupakan ilmu yang diprioritaskan, sebelum ilmu-ilmu yang lain. Teologi dalam Islam merupakan sebuah Akidah (kepercayaan) yang tak bisa ditawar lagi. Sebuah akidah akan tertanam dan dipertahankan oleh seorang muslim sampai mati. Bahkan, tak sedikit sejarah yang merekam adanya pertempuran darah hanya karena mempertahankan akidah, seperti konflik di afganistan yang sampai saat ini tak kunjung reda. Walaupun, tetap saja ada unsur politik, ekonomi dll.
Di tengah modernisme yang ditandai cepatnya arus informasi dan komunikasi seperti sekarang ini, Akidah semestinya menjadi sebuah kebanggaan dalam diri setiap muslim. Di tengah carut marutnya peradaban yang serba individualis dan kapitalistik, semestinya Akidah menjadi sebuah tali penghubung bathin untuk tetap menjaga kebersamaan, persatuan, keadilan dan sebuah media rekonsiliasi (islah) yang ampuh jika terjadi konflik.
Di Indonesia, Akidah dan Fiqh amat toleran dengan tradisi dan kebudayaan masyarakat. Sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits, Tradisi dan Budaya yang baik harus tetap dijaga dan dipertahankan. Hal ini berangkat dari pemikiran bahwa agama Islam bersifat menyempurnakan, bukan menghapus apa yang sudah baik dan berjalan di masyarakat. Sehingga, dengan dakwah yang dialektis dan diplomatif, Walisongo mampu mengislamkan nusantara tanpa senjata dan pertumpahan darah.
Akar-akar budaya yang kurang baik, direkonstruksi menjadi sebuah doktrin Islam tanpa menyakiti perasaan pelakunya. Hal ini karena Islam di Indonesia lebih mengedepankan subtasi daripada bentuk luarnya. Tradisi sesajen dalam adat jawa, misalnya yang zaman dahulu digunakan untuk memuja pada dewa, tidak dihilangkan oleh walisongo secara fisikly. Namun, Subtansinya dirubah menjadi sebuah jamuan makan untuk sedekah dan doa bersama melafalkan kalimah thayyibah yang selanjutnya dikenal dengan istilah selamatan dan tahlil.
Dalam hal pakaian pun demikian. Islam hanya mengatakan bahwa subtansi dalam shalat itu adalah menutup aurat (sitrul ‘aurat), tidak harus memakai jubah atau gamis. Tak heran jika masyarakat tetap memakai batik dan sarung dalam ritual – ritual keagamaan. Jadi, tradisi atau budaya tidak hilang begitu saja, namun subtansinya tetap Islami sesuai yang diajarkan Rasulullah SAW. Sehingga, cirri khas dan tradisi yang menjadi kebanggaan masyarakat tetap berjalan apa adanya.
Selain itu, jika dilihat dari aspek sosiologis, tahlil-an yang menjadi tradisi keagamaan di masyarakat Indonesia mampu menjadi jembatan rekonsiliasi dan persamaan perspektif. Pada peringatan 100 hari wafatnya gusdur misalnya, semua orang dari berbagai latar belakang larut dalam doa-doa dan kalimah thayyibah. Mereka tidak membedakan baju politik, kaya – miskin,pejabat – rakyat kecil, atau status sosial lain. Tujuan mereka hanya berdoa dalam kebersamaan dan pluralitas. Ini menjadi bukti bahwa tradisi yang baik itu akan berbuah baik.Wallahu A’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: