Yang Kurang dari Kata “Belajar”

Oleh: A Naufa Khoirul Faizun
Tulisan berikut ini adalah pemaknaan penulis tentang arti kata “belajar” yang barangkali sudah penulis dengar ribuan kali semenjak lahir pada 21 Mei 1988 sampai detik ini, 25 Agustus 2010. Mungkin setiap orang punya pemaknaan sendiri tentang arti kata itu, karena siapapun orangnya penulis yankin pasti pernah di tuntut untuk itu. Pengalaman penulis sendiri dengan melibatkan lingkungan tentunya, banyak orang yang menyuruh “belajar” hanya pada tatara formal saja. Dalam artian, ada ilmu tertentu dan waktu waktu yang melandasinya, semisal hanya mata pelajaran di sekolah atau madrasah dan orientasinya amat pragmatis hanyauntuk mengejar nilai semata. Hal itu, hemat penulis, tidaklah salah cuma membutuhkan perbaikan.
Dalam segi ilmu yang dikaji, semestinya kita jangan hanya mengajarkan ilmu tertentu yang diajarkan di suatu lembaga saja, namun memberi kebebasan untuk mengkaji ilmu diluar itu yang tentunya dengan stimulus dari sang pendidik. Yang kedua, masalah belajar hanya disekolah atau pengajar yang menyediakan jam belajar untuk itu, yang penulis rasa hanya akan membatasi anak didik atau si penuntut ilmu. Jika begitu, seakan ilmu-lah yang membutuhka kita. Namun, jika doktrin dari pengajar member stimulus agar peserta didik/ si penuntut ilmu untuk belajar kapanpun dan dimanapun, hal itu akan menimbulkan insting belajar yang luar biasa. Penuntut ilmu akan merasa bahwa diorinyalah yang yang buktuh ilmu, bukabn sebaliknya.
Dengan model pembelajaran seperti ini, setiap saat si penuntut ilmu akan selalu belajar dan belajar tentang alam sekitar, gejala social, hikmah sebuah peristiwa, dan mengungkap suatu yang belum ia ketahui. Melihat dan mendengar apapun akan menjadikanya sebuah pelajaran yang amat berharga bagi hidup dan kehidupanya. Semisal, melihat bagaimana cara orang bias sukses dengan jerih payahnya, melihat pencuri yang digebuki karena kejahatanya, melihat seseotrang yang punya banyak teman karena perilakunya yang baik dan sebagainya. Hal ini membuat sikap butuh akan imu semakin tertanam dari lubuk hati yang paling dalam. Dia mau membeli da membaca buku. Dia mau bertanya tentang apa yang belum dia ketahuinya. Dan disa mau belajar dengan alam, hidup dan kehidupan yang mengitarinya tanpa beban “nilai” yang membuatnya takut dalam target yang belum tentu dengan target itu bisa “menjamin kehidupanya”.

Purworejo, 25 Agustus 2010

Iklan

2 thoughts on “Yang Kurang dari Kata “Belajar”

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: