Haji: Menjaga Solidaritas ditengah Pluralitas

Oleh: A Naufa Khoirul Faizun
Haji secara etimologi adalah “menyengaja sesuatu”. Sedangkan menurut istilah (terminology) berarti “menyengaja mengunjugi ka’bah untuk melakukan beberapa amal ibadah, dengan syarat-syarat dan rukun-rukun tertentu”.(Sualaiman Rasyid, Fiqh Islam, 2002). Haji merupakan salah satu institusi ibadah dalam Islam yang wajib dilaksanakan bagi yang sudah mampu melaksanakanya satu kali seumur hidup. Dalam pelaksanaanya, selain behubungan dengan Allah secara vertical, Ibadah haji sebenarnya juga mengajarkan sesuatu yang bersifat sosial. Yang terakhir ini yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Pada umumnya, ibadah haji dipandang sebagai ibadah yang secara langsung berhubungan dengan akhirat dan merupakan perintah agama. Namun, jika ditelisik lebih dalam ternyata haji banyak mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjaga persatuan dan ditengah keberagaman. Mengajarkan kita hidup bersama-sama dengan orang yang tidak sama. Hal ini sangat penting untuk kita petik pelajaran sebagai bekal menuju pemahaman dan penghayatan Islam yang rahmatan lil ‘alamain secara komprehensif.
Dewasa ini di negeri kita tercinta Indonesia, banyak diwarnai oleh kelompok-kelompok Islam yang sering dianggap “Radikal” karena cara keberagamaan mereka yang dinilai ekstem dan tak kenal kompromi. Bahkan, banyak diantara kelompok-kelompok itu yang dituduh sebagai teroris sampai dengan gerakan separatisme yang dikhawatirkan mengancam keutuhan NKRI. Di tataran grassroot, mereka juga amat fanatik yang berlebihan sampai-sampai mengkafirkan faham yang tidak selairan denganya hanya karena persoalan-persoalan kecil terutama yang berkaitan dengan masalah khilafiyyah seperti takhayyul,, bid’ah, khurafat yang pada endingnya dapat memecah belah ukhuwwah Islamiyyah.
Jika kita belajar dari praktek ibadah haji, semestinya hal seperti itu tidak akan terjadi, paling tidak terminimalisir. Dalam haji kita tahu seluruh umat Islam “jambore” secara Internasional tanpa pandang warna kulit, ras, suku, budaya dan faham yang mereka anut, bisa bersatu dan bersama-sama melaksanakan ibadah dengan penuh khidmad. Umat Islam dari Indonesia yang kebanyakan menganut Madzhab Syafi’i yang shalat disana, tidak mengusik umat Islam lain yang shalat sambil menggendong anak atau menoleh kekanan-kekiri yang kebetulan berfaham bermadzhab berbeda walaupun menurut madzhab syafii shalat itu sudah batal. Hal ini menunjukkan pluralitas cara beribadah di dalam Intern umat islam sendiri dan tidak menggoyahkan persatuan.
Dalam ibadah haji, umat Islam juga di “gembleng” secara fisik dalam ritual-ritual tertentu seperti thawaf yang kompetitif dan sa’i yang melambangkan semangat pantang menyerah. Mereka seakan diperintahka untuk “napak tilas” bagaimana Siti Hajar berjuang tanpa kenal lelah dibawah panasnya terik matahari mencari mata air untuk anaknya tercinta sampai akhirya Allah SWT mewujudkan keinginanya. Ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mengenal lelah dalam berikhtiar untuk menggapai suatu cita-cita walaupun penuh dengan batu rintangan.
Selain di “gembleng” secara fisik melalui thawaf dan sa’i yang begitu melelahkan, haji juga memberikan semangat spiritual yang luar biasa. Mereka dilarang untuk pacaran(fala rafats), mengingat percampuran jamaah laki-laki dan wanita begitu fulgar seakan tak ada sekat. Hanya ketaqwaan-lah pembentengnya yang menurut Allah adalah sebaik-baik bekal haji(QS Al-Baqarah:197). Menurut KH Mustain Syafi’i, peringatan Allah ini juga dapat menjadi pelajaran bagi para aktivis, politisi, LSM, Ormas dan sebagainya untuk selalu berhati-hati ketika dalam kegiatan yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Hal ini telah banyak bukti yang menunjukkan, hingga berakibat hamil di luar nikah.(Risalah NU, No 12/Thn II/1430 H;86).
Dari uraian diatas, dapat kita ambil benang merah bahwa kontekstualisasi haji amatlah penting untuk menjaga persatuan umat Islam, terutama di Indonesia yang amat plural budaya dan sukunya. “Jambore” umat Islam Internasional di musim haji menunjukkan perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang cukup dimengerti dan dipahami sebagai sebuah rahmat. Jika mindset ini tertanam, toleransi dalam beragama akan terjalin dan membentuk persatuan Islam yang solid. Selain itu, semangat dan nilai-nilai ketaqwaan, semangat berjuang, dan pluralitas dalam ibadah haji semestinya digeneralisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika sikap yang demikian direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari tentunya akan memberikan nilai positif terhadap persatuan umat Islam. Dengan begitu, hubungan antar “Negara Islam” akan kokoh dan saling bahu-membahu bekerjasama dalam membangun khazanah keilmuan. dan peradaban yang lebih baik. Cita-cita inilah yang mulai digagas oleh.Internasional Conference Islamic Scholar (ICIS) yang difasilitasi oleh PBNU. Dengan mengutamakan dialog dan kerjasama diantara “Negara-negara Islam”, tentunya akan menjadi kekuatan tersendiri baik dari segi pengembangan ilmu pengetahuan maupun kampanye perdamaian dunia.
Namun, untuk mencapai itu semua butuh usaha dari berbagai pihak untuk bersama-sama merefleksikan Islam yang inklusif, toleran dan moderat. Jangan sampai yang menjadi rujukan hokum dan masalah keislaman adalah politisi, akademisi atau pejabat, bukan ulama. Jika ulama sudah dikesampingkan, maka akan terjadi pemotongan sejarah panjang nilai-nilai keislaman yang diwariuskan nabi. Seperti issu pluralism yang diartikan “semua agama sama” misalnya, jika sedikit saja salah interpretasi, akan berakibat fatal. Padahal, pluralisme hanyalah pada tataran sosial, tidak ada toleransi pluralisme dalam hal akidah!Wallahu A’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: