Tradisi Sungkem di Hari Fitri

Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.
Setelah melaksanakan ibadah puasa selama sebulan lamanya, umat muslim di seluruh dunia merayakan kemenangan di hari fitri. Pun demikian dengan Negara kita Indonesia tercinta yang mayoritas beragama Islam. Ada rasa sedih meninggalkan bulan ramadhan dengan segala dinamika dan semarak gema islamnya yang begitu menggelora. Namun demikian, ada rasa haru mendengar lantunan takbir dengan tabuh bedug yang begitu menyayat hati.

Kegembiraan juga semakin terasa melihat orang beramai-ramai takbir keliling dan merayakan kemenangan dengan pesta kembang api. Setiap orang tua sudah menyiapkan aneka hidangan yang jarang tersaji di hari-hari biasa. Untuk para anak-anak mereka, baju baru pun sudah dipersiapkan untuk melengkapi hari kemenangan.
Sementara itu, beberapa hari sebelum Idul Fitri para pemudik sudah memadati jalanan, terminal, stasiun dan bandara. Mereka rela berdesak-desakan dengan ribuan orang yang semuanya memiliki tujuan yang sama; bertemu dan meyambung silaturrahmi dengan keluarga. Panas teriknya matahari, polusi jalanan, keringat yang mengalir seakan tak terasa karena itu merupakan suatu perjuangan yang hasilnya nanti buah yang membahagiakan; yaitu bertemu sanak saudara. Moment ini tidak bisa ditukar dengan harta maupun benda. Jika mau, toh mereka bisa mengirim uang kepada keluarga mereka di kampong. Atau sekadar mengirim oleh-oleh berupa baju, perhiasan atau hadiah lainya. Namun, itu tidak akan membekas dihati. Tetap saja masih ada sesuatu yang kurang.
Setelah Shalat Ied, seperti biasa orang-orang salig kunjung-mengunjungi untuk sungkem atau halal bihalal. Ini unik karena hanya terjadi di Indonesia yang merupakan tradisi tinggalan para menyebarkan islam, wali songo. Akulturasi islam dengan budaya jawa(baca:indonesia) begitu kental tanpa mengurangi subtansi dari ajaran islam itu sendiri. Memang kita tahu bahwa islam mengajarkan umat muslim untuk meminta maaf setiap kali bersalah, tidak mengkhususkan moment tertentu. Namun demikian, karena memang banyak orang desa yang hijrah ke kota menyebabkan mereka jarang bertemu dengan sanak saudara. Untuk bersilaturrahmi, para wali songo membuat moment idul fitri sebagai waktu yang tepat. Hingga sampai sekarang, budaya sungkem dan halal-bihalal semakin meluas di masyarakat, kantor-kantor, institusi dan lembaga.
Dalam sejarahnya, budaya sungkem dikenalkan oleh Raja Amangkurat I yang bergelar pangeran sambernyowo di kerajaan mataram pada abad 16. Ketika itu raja dan para abdi keratin menggelar sungkem untuk saling bermaaf-maaf-an. Hal itu diikuti masyarakat disekeliling keraton dan seiring perkembangan, budaya ini meluas diseluruh penjuru tanah air. Hal ini tidak saja memberikan hal positif dalam masyarakat, namun juga menjadi budaya, tradisi yang mengakar dan menjadi karakter masyarakat islam di Indonesia. Seiring perkembangan teknologi informasi yang demikian deras, hendaknya generasi muda harus tetap nguri-uri atau melestarikan warisan tersebut agar tetap lestari dan membumi di Indonesia.
Selain mengunjungi dan meminta maaf secara fisik dengan bertemu dan berj

abat tangan langsung, biasanya yeng terucap juga meminta maaf secara batin. Ini penting difahami agar tidak sekadar dimulut, namun juga sampai hati. Ulama besar Ibnu Hajar al-Asqalani memberi empat tips agar kita bisa saling memaafkan baik secara lahir dan batin. Keempat tersebut yaitu: 1) Lupakan kebaikan diri sendiri, 2) Ingat kebaikan orang lain, 3) Maafkan kesalahan orang lain, dan 3) Ingat-ingat kesalahan diri sendiri. Jika keempat hal tersebut dilakukan, kita akan semakin bersih hatinya dan bisa merayakan idul fitri dengan sesungguhnya. Selamat Lebaran, Taqabbalallahu Minna wa Minkum!

04 September 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: