Warnai Ramadhan dengan Diskusi Online

Oleh: Ahmad Naufa (17 Agustus 2011)
Pada malam ke tujuh Ramadhan aku merasa gelisah tak menentu. Entah karena otak stagnan lama berdiam diri atau terlalu banyak kegiatan yang bersifat normatif. Untuk mencari hiburan dan pencerahan aku mendatangi temanku yang biasa kuajak berdiskusi dan memecahkan masalah bersama di kontrakannya. Sesampai di disana, aku disambut dengan kopi hitam dan senyuman hangat temanku Sufridaus namanya, atau biasa dipanggil Bang Daus.
Bang Daus berasal dari Riau, namun ia sudah fasih berbahasa jawa karena memang sudah lama tinggal di Jawa. Hobi yang paling ia sukai adalah membaca dan berdiskusi. Kita biasa diskusi berjam-jam baik di angkringan, kontrakan atau ketika bertemu dalam suatu kesempatan. Tema yang menjadi pembahasan pun dinamis, mulai dari masalah sosial, politik, ekonomi, budaya sampai keagamaan. Pada malam itu pula ketika bertemu, kami tidak membuang waktu tanpa diskusi.
Setelah sampai pada tengah perjalanan diskusi, tercetus ide untuk membuat sebuah forum diskusi ilmiah. Setelah kami menyusun konsep yang efektif, muncul ide membuat Grup di Jejaring sosial facebook untuk berdiskusi dan bergulat pemikiran baik tentang masalah sosial, ekonomi, politik dan keagamaan. Dengan berbagai pertimbangan, tercetuslah nama “Forum Diskusi Intelektual Muda NU” sebagai nama grup-nya. Kamudian, kami undang teman-teman yang memiliki semangat dan kemauan berpikir untuk bergabung dalam forum tersebut.
Tanpa kami duga sebelumnya, ternyata sesaat setelah teman-teman masuk dalam grup ternyata respon ari mereka begitu tinggi. Dengan melontarkan beberapa issu saja, teman-teman yang masuk banyak yang memberi comment dan bergelut dalam diskusi yang ramai. Ratusan komentar berjejer mencari problem solving issu yang sedang dibahas. Seluruh anggota grup ketika itu seakan tak sempat membuat status yang “lebay” dan “hampa akan makna”. Mereka urun rembug mencari solusi terbaik.
Kami selaku admin pun dibuat terharu dan bangga; bahwa ternyata jika diberi ruang yang bermanfaat untuk membangun keilmuan, banyak juga user yang tertantang untuk ikut melibatkan diri didalamnya. Untuk menjaga agar grup ini selalu eksis, kami pun mengangkat pengurus (baca admin) dalam mengelolanya. Alhamdulillah, admin yang kami angkat pun merespon dengan baik dan berusaha membangun keilmuan bersama melalui wacana yang sedang hangat dan populis. Walau kami dan para user dipisahkan oleh jarak dan waktu, namun melalui media tersebut bisa memperoleh wacana, ilmu dan pengetahuan.
Dari situ, kami belajar bahwa di era modernisasi ini peran yang sangat dominan adalah individual kita masing-masing. Jika memang kita memiliki kemauan untuk maju dan berkembang, banyak cara dan media yang dapat dimanfaatkan. Namun sebaliknya, teknologi juga seperti dua belah pisau, jika tidak bisa memanfaatkan, kita sendiri yang rugi. Dari sini, kita para pendiri grup berharap besar forum tersebut dapat membawa perubahan walau sekecil apapun untuk memajukan masyarakat secara bersama-sama.
Merangsang Pemikiran Untuk Maju
Dari forum di dunia maya tersebut, ternyata membawa dampak bagi para penggunanya. Ini terbukti ketika aku bertemu dengan salah satu temanku yang tergabung, diskusi tersebut berlanjut dalam dunia nyata. Sebut saja temanku itu Alfin namanya. Ketika bertemu, ide untuk mengkaji lebih dalam ternyata langsung digagasnya. Sebagai langkah awal, dia mengajak diskusi denganku dan teman-teman se-kontrakan-ku. Ide ini pun disambut baik oleh teman-temanku di kontrakan yang terdiri delapan orang.
Setelah berjalan satu pertemuan, teman-teman ingin agar diskusi tersebut berlanjut dengan menggunakan kurikulum agar mengalir dengan sistematis dan fokus. Dengan membuat kurikulum sederhana, kami pun melangkah dengan penuh antusisme yang tinggi. Mungkin selain karena teman-temanku itu memang butuh pengetahuan, mereka juga bisa menikmati suasana karena diskusi memang mengalir secara alami dan polos. Berbagai humor juga tersisip didalamnya sehingga gelak tawa tak bisa dihindari dalam forum ilmiah tersebut. Meski tidak berjalan formal, namun minimal tidak ada paksaan sehingga kreatifitas bisa muncul.
Sedikit demi sedikit, dari forum diskusi tersebut dikumpulkan hasilnya dalam sebuah catatan yang rapi dan sistematis. Agar bisa diambil manfaatnya, tulisan tersebut di unggah ke internet sehingga bisa dibaca semua orang. Dengan demikian, sampai kapanpun karya itu akan tetap ada meskipun si penggagas telah tiada. Inilah aspek penting yang bisa dilakukan agar pembaca menjadi lebih baik, syukur-syukur bisa mempengaruhi pembaca tersebut.
Kembali ke hasil yang telah tercapai karena grup di jejaring sosial tersebut, aku belajar banyak tentang bagaimana bisa sharing dan belajar membangun pribadi yang baik. Disaat yang bersamaan, sharing membuatku tidak “puas diri” untuk menerima hidup ini apa adanya. Aku menjadi orang yang haus ilmu dan mengharuskan diriku untuk selalu belajar dan belajar dimanapun dan kapanpun, tidak harus di bangku sekolah.
Selain itu, aku berusaha bagaimana hidup ini bermanfaat. Bahkan, kini aku memiliki prinsip hidup: “bukan bagaimana sukses, tetapi bagaimana bermanfaat”. Ketika aku bisa sharing tukar pengalaman atau menulis di Internet misalnya, aku memiliki karya yang menurutku bermanfaat yang bisa diakses semua orang meskipun aku telah mati kelak. Dalam kehidupan sehari-haripun aku bisa lebih selektif untuk mencari manfaat dan hikmah dari berbagai peristiwa apapun.
Berawal dari jelajah di internet tersebut, kini aku semakin melihat luasnya ilmu pengetahuan dan pentingnya sebuah karya yang bisa kuciptakan sekecil apaun karya itu. Aku melihat bahwa banyak tokoh-tokoh besar dunia terlahir karena karya-nya yang monumental dan banyak dikenal orang, bukan karena pangkat atau kedudukanya. Tak heran ketika tokoh tersebut sudah meninggal dunia, orang-orang akan tetap mengenangnya sebagai seseorang yang telah berkarya dan membawa dampak manfaat bagi banyak orang.
Akhirnya, aku memiliki kesimpulan sementara bahwa media internet dapat kita jadikan sebagai wahana untuk mencari pengetahuan baru, tukar pengalaman dan dakwah tentunya dalam rangka menebar kebaikan dan nilai-nilai positif. Dengan menggunakan corong tulisan, kita bisa belajar dan bisa mempengaruhi orang menuju tindakan dan hal-hal yang positif. Jika demikian adanya, belajar dan berdakwah tentunya berlaku disetiap saat tanpa mengenal ruang dan waktu. Jika hal ini dilakukan oleh para pengguna internet, generasi muda utamanya, menurutu kedepan Indonesia akan maju dan menjadi bangsa yang lebih baik dengan landasan utama ilmu pengetahuan dan agama, Insya Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: