Ini adalah hasil wawancara Buletin MataHati milik PAC IPNU Kecamatan Loano dengan saya.


Berangkat dari keingintahuan kader IPNU di Loano, Purworejo untuk mengetahui sosok Ketua PC, Buletin MATAHATI mengangkat sedikit profil dan gagasan sang Ketua. Berikut adalah wawancara Redaksi Buletin MATAHATI PAC IPNU Kecamatan Loano dengan Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo 2011-2013, A. Naufa Khoirul Faizun.

Dari kacamata rekan Naufa, IPNU-IPPNU itu seperti apa?

Dalam kacamata saya, IPNU dan IPPNU merupakan organisasi yang dibutuhkan pemuda dan pemudi saat ini untuk menghadapi masa depan zaman yang semakin menantang. Mengapa demikian? Karena IPNU dan IPPNU memenuhi tiga aspek penting yang dibutuhkan pemuda dan pemudi saat ini. Ketiga aspek tersebut adalah Intelektual, Spiritual dan Sosial.

Di IPNUdan IPPNU kita programkan diskusi rutin baik yang bersifat wacana keagamaan maupun umum. Dengan inilah kebutuhan pengetahuan kader terpenuhi agar bisa survive ditengah gempuran modernisasi zaman. Adapun spiritual adalah aspek penting yang mulai ditinggalkan pemuda-pemudi dewasa ini. Riyadhah dengan shalat malam, puasa sunnah, mujahadah, tahlil dan sebagainya selalu kita tanamkan agar kebutuhan rohani kader tidak kering. Terakhir adalah Sosial. Ketika beberapa waktu lalu PP Al-Iman tertimpa musibah kebakaran, kita gerakkan seluruh kader untuk melakukan aksi solidaritas. Waktu itu terkumpul dana sebesar Rp. 7.000.000,-an untuk membantu. Nah, aksi social semacam ini kita tanamkan agar kader memiliki kepekaan social terhadap masalah yang terjadi di sekelilingnya, sehingga nantinya ketika terjun di masyarakat bisa bermanfaat untuk orang lain.

Menurut Anda apa target yang sudah berhasil dipenuhi PC Purworejo sejauh ini? Dan apa langkah-langkah kedepannya lagi?

Jalan yang sudah di tempuh PC IPNU-IPPNU Purworejo pada tahap awal ini adalah pengembangan organisasi, dimana Kecamatan yang belum terbentuk kita bentuk kepengurusanya. Setelah itu, kita juga mencoba mengawal dan membimbing agar PAC yang sudah terbentuk bisa mandiri. Untuk langkah kedepan, kita akan bentuk Tim Fasilitator Cabang yang bertugas memenuhi kebutuhan kader tentang keilmuan dengan satu per satu bidang. Contoh, bagi kader yang ingin memperdalam Aswaja sudah ada ‘ahlinya’ dari cabang, begitu seterusnya.

Selanjutnya kita mendorong kader IPNU dan IPPNU untuk mandiri. Kedepan kita akan adakan pelatihan-pelatihan yang bertujuan meningkatkan skill kader dengan bekerjasama dengan berbagai institusi. Kita juga sudah membuka jasa “I-Desain” untuk menopang ekonomi organisasi. Minimal, kader IPNU-IPPNU nantinya bisa survive dan tidak tergantung pemerintah seperti bercita-cita Pegawai. Kita tidak membatasi, namun member alternative lain karena kita tahu sendiri, lowongan dengan jumlah pendaftar pegawai saat ini jauh dari seimbang. Kita dorong kader untuk menjadi pengusaha.

Dalam internal organisasi, kita juga akan bentuk Koordinator Kecamatan. Dari 16 Kecamatan yang ada di Purworejo, nanti kita bagi empat. Masing-masing nanti ada koordinatornya yang mengawal dan membimbing perjalanan organisasi. Ini kita rumuskan tanggal 27 November mendatang pada Rapat Kerja Cabang sekaligus Pelantikan. Selain itu, kita juga mencoba kerjasama dengan sekolah-sekolah umum dan berbagai remaja masjid untuk menjaring dan membina pemuda-pemudi. Ini penting mengingat banyak remaja hari ini yang kurang memiliki wadah mengekspresikan diri.

Bagimana Anda menghadapi problematika dalam pengenalan IPNU-IPPNU ini kepada pelajar? yang kita tahu semakin hari semakin jauh dengan organisasi semacam ini. Mungkin ini bisa jadi tips buat para pengurus yang lain…

strateginya simple. Kita tak usah ‘jualan’ IPNU dulu untuk masuk ke sekolah umum. Bisa dengan Pelatihan Leadership, Jurnalistik atau Pelatihan Tataboga misalnya. Dari situ, alumninya kita akomodir diluar sekolah dan perlahan kita kenalkan dengan IPNU dan IPPNU. Kita harus mampu membaca kemauan dan apa yang disuka kader; jangan mengadakan kegiatan yang bersifat monoton, kecuali ritual agama. Dalam kaderisasi, kita harus jeli melihat kekuatan kita, kelemahan, peluang, tantangan lalu dipadu dengan strategi khusus.

Sejak kapan Anda mengenal IPNU dan sejak kapan mulai menseriusinya (atau masuk jajaran pengurus)?

pertama kali saya thu IPNU pada tahun 2000 ketika kelas I MTs An-Nawawi Berjan. Saya masih ingat, ketika itu setiap apel pagi seluruh siswa dan siswi disuruh menyanyikan Mars IPNU dan IPPNU oleh Bapak Kepala yang waktu itu dipegang oleh Bp. Muslikhin Madiani. Sedangkan secara organisasi, saya dikenalkan oleh Ibu Nurul Qomariyah, S. Sos. Dan diajak nyanyi “Bersemilah” ketika masa orientasi siswa. Namun, saya mulai bergelut di IPNU ketika kelas 2 SMA. Ketika itu satya menjabat Wakil Ketua IPNU Komisariat MA An-Nawawi yang sering mewakili jika ada undangan dari PC IPNU. Mulai itu saya terlibat banyak di IPNU sampai diangkat menjadi Ketua Panitia Lomba Karya Ilmiah Remaja. Jadi saya berproses tidak lewat PAC, tetapi PK (Pengurus Komisariat). Dan saya mulai serius ketika sudah lulus SMA dan seringkali mengikuti berbagai kegiatan dan rapat yang digelar berpindah-pindah. Waktu itu kita belum punya secretariat, jadi memang agak repot namun berkesan. Walau begitu, seluk-beluk IPNU baru saya ketahui ketika jadi Wakil Sekretaris periode lalu yang member ruang kepada saya untuk berselancar kesana-kemari mengurusi organisasi.

Kita tahu dedikasi rekan Naufa untuk IPNU luar biasa, bahkan tidak dari satu dua orang redaksi menerima cerita rekan Naufa ngelindur berpidato saat tidur. Sangat luar biasa sekali. Ada tips khusus agar anggota yang lain bisa memiliki semangat yang sama?

hahaha……..luar biasa? Saya kira sama saja. Setiap dari kita punya potensi sama walaupun bakat yang berbeda. Salah satu hal penting yang harus rekan-rekan jalani adalah keikhlasan dan semangat memberi, bukan menerima. Saya teringat pesan KH Ali Maksum, Krapyak, bahwa kader NU itu harus mengerti 4 hal, yai: Tahu NU(al-Ma’rifatu bi Nahdlatil Ulama), Percaya NU (As-Tsiqatu bi Nahdlatil Ulama), Berjuang dengan NU (al-Jihadu bi-Nahdlatil Ulama)dan terakhir, Sabar dengan NU (as-Shabru bi-Nahdlatil Ulama). Nah, kader IPNU rata-rata belum tahu manfaat organisasi, sehingga mereka banyak yang masih bermalas-malasan. Padahal, manfaat organisasi tidak akan kelihatan langsung, tetapi 10-15 tahun kedepan. Selain itu, kita juga harus nita untuk Me;layani Ulama dan Ummat (Khadimul Ulama wa Khadimul Ummah). Saya juga teringat pesan Kyai Chalwani berjan bahwa “Jika kita melayani orang lain, Allah akan melayani kita”, inilah prinsip yang selalu saya pegang. Kalau soal tidur ngigo, itu biasa lah, mungkin terlalu capek dalam kegiatan, hehe…

Terakhir, apa harapan Anda untuk IPNU-IPPNU kedepannya?

Harapan saya untuk kader IPNU dan IPPNU yang pertama adalah tetaplah semangat dalam berjuang mengisi organisasi ini. Saya berani menjamin, kelak akan beda rekan-rekan yang aktif di organisasi dengan yang tidak. Kedua, tetap seimbang antara organisasi dengan bangku sekolah. Jangan sampai IPNU/ IPPNU justru dituduh menghambat prestasi. Tudingan semacam itu harus kita patahkan lewat prestasi.

Selanjutnya, nilai keikhlasan dan akhlakul karimah harus ditampilkan dalam organisasi kita. Kader IPNU dengan IPPNU harus memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Terakhir, nantinya batu terjal perjuangan akan selalu menjumpai kita. Tak ada sejarahnya tokoh besar meraihnya dengan kesenangan dan kemewahan. Jika kita siap dengan derita, Insya Allah kita akan biasa dengan masalah. Alhamdulillah, rekan-rekan yang hidup di cabang berani hidup menderita di sekretariat walau dirumah banyak sajian kenikmatan duniawi yang melambai. Mengapa? Oleh karena mereka percaya bahwa jalan itulah yang akan mengantarkanya kelak menuju cita-cita suci dan mulia yang banyak orang lain idamkan; hidup Bermanfaat untuk orang lain (Khairun Naasi Anfa’uhum Lin Naas).