Perayaan Tahun Baru

Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.
Karena ini malam tahun baru, aku akan menulis sedikit pandanganku tentang hal itu. Menurutku, tahun baru adalah pergantian tahun lama menuju tahun yang selanjutnya. Biasanya, tahun baru diperingati dengan berbagai cara yang dibeberapa kota atau negara besar digelar dengan amat mewah dan menghabiskan banyak dana. Aku nggak tahu kapan dimulai peringatan tahun baru ini, tapi yang jelas semenjak aku dewasa hal itu selalu ada dan terjadi tiap tahun. Sejarahnya gimana, itu urusan belakang lah…yang penting aku ingin menyikapi hari ini saja…Oke???
Sepanjang ini pengetahuanku belum mengerti apa arti tahun baru itu. Bahkan, kadang aku berpikir orang-orang yang merayakan tahun baru itu hanya sekadar “ikut-ikutan” dan “krubyak-krubyuk” dan hampa akan makna. Ketika tahun baru orang-orang lebih banyak berkata “selamat!, selamat!” tanpa tahu untuk apa sebenarnya selamat itu? dan selamat itu ada untuk apa? Lebih-lebih ucapan itu dengan hiruk-pikuk terompet dan pesta kembang api. Parah lagi, momentum tahun baru digunakan oleh anak-anak muda untuk “bercinta” dengan “aneka cara” mengaktualisasikanya…huft…satu lagi, menurut salahsatu temanku yang dari kalangan anak “jalanan”, banyak yang memanfaatkan mala tahun baru untuk mabuk-mabukan dan ML(Making Love), berat bukan?
Beberapa pemaknaan dari orang-orang yang kuanggap “kompeten” di bidang sosial dan pendidikan sebenarnya memiliki konsep bagus mengenai hal ini. Diantara adalah ibu Ni’mah Nurbaiti, salah satu guru teladan nasional yang pernah menjadi dosenku, merekomendasikan perlu adanya “resolusi diri” tentang perjalanan hidup selama setahun terakhir di tahun baru. Resolusi diri tersebut menginventarisir apa saja yang sudah kita capai dalam setahun terakhir dan hal-hal yang belum tercapai. Selain itu juga ada semangat untuk membuat target apa saja di tahun mendatang? Dengan begini, perayaan tahun baru ada nuansa spirit positif yang dapat menghantarkan orang-orang menuju titik capaian tertentu.
Sejalan dengan pendapat Ibu Ni’mah diatas, agama islam sebenarnya sudah menginformasikan kita 14 abad yang lalu untuk selalu me-resolusi diri atau istilah nyaman-nya muhasabah. Bahkan, muhasabah senantiasa dianjurkan setiap waktu apakah yang kita lakukan sudah baik atau belum? Sudah dapat memberi manfaat untuk orang lain apa belum? Sudah bisa memberi kebahagiaan untuk orang lain apa sebaliknya? Sudah melaksanakan kewajiban-kuwajiban kita sebagai hamba atau belum? dan seterusnya.
Namun demikian, realita yang ada di tengah-tengah kita nampaknya masih jauh dengan apa yang telah dikonsepsikan dalam islam sendiri. Soal apakah tahun baru itu budaya islam atau buka?bagiku tidak penting; karena menurutku itu hanya bungkus luarnya saja. Namun yang penting adalah pemaknaan dan perayaanya yang dilaksanakan dengan positif dan sejalan dengan nilai-nilai ke-islaman, minimal tidak melanggar ketentuan-ketentuan hukum tuhan. Jadi, kalau ada orang yang ribut menyalahkan itu adalah budaya non-islam, aku tak ambil pusing. Yang penting adalah isi dari pelaksanaan perayaan tersebut. Boleh sepakat boleh tidak!

Melihat hal yang demikian seperti uraian diatas, apa yang seharusnya dilakukan? Dibiarkan saja atau perlu adanya pemaknaan ulang? Itu tergantung dari person kita masing-masing. Namun menurutku, harus ada upaya sistematis dari sang pemilik kekuasaan dan berbagai elemen seperti tokoh masyarakat, budayaan, intelektual dan para pemuka agama. Jika dulu walisongo bisa merubah tradisi “sesajen” yang sarat akan dinamisme-animisme menjadi “slametan” yang sarat dan sejalan dengan tuntunan al-Quran dan Hadis, bisakah tokoh-tokoh sekarang merubah perayaan itu menjadi sebuah transformasi besar budaya islam? Itu butuh waktu dan kerja keras. Selain perlu ilmu sosial yang memadahi, agama dan pengetahuan masakini, juga dibutuhkan orang-orang yang anti-kemapanan! Wallahu A’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: