Hari ini Jum’at, 16 Maret 2012 merupakan hari yang cukup menyenangkan bagiku. selama beberapa tahun terakhir aku absen dengan yang namanya olah raga, namun dua hari ini mulai kujalankan lagi olahraga. Aku tidak tahu mengapa dua hari ini aku mulai sadar. Padahal, setiap paginya di Alun-alun Purworejo tidak pernah sepi dari kerumunan orang lari pagi.

Setelah hari pertama kemarin aku memulainya bersama temanku, Anis Makhrus. Ini pagi kujalani sendiri. Dimulai dari base camp IPNU sampai dengan Alun-alun kota. Disana aku singgah sebentar untuk sarapan pagi dengan Sate Lontong. Nikmat Rasanya. Tak heran rasa sehat dan nyaman mulai kurasakan di tubuhku yang relative kurus ini. Namun demikian, rasa sehat dan bugar sepertinya tidak dialami oleh Indonesia akhir-akhir ini.

Setelah beberapa waktu dilanda Musibah Gunung Merapi yang meletus, kini kasus korupsi, pelanggaran hak-hak asasi manusia sampai beberapa skandal pejabat Negara mewarnai televisi hampir setiap hari. Tak hanya itu, kemiskinan yang merajalela, tidak adanya supremasi hukum sampai yang lebih parah lagi korupsi besar-besaran yang dialami Partai Penyangga utama Negara, Parta Demokrat, meracuni generasi muda di televisi setiap hari menjadi catatan kelam yang membuktikan Indonesia hari ini tidak sehat. Tambah lagi, 01 April mendatang pemerintah berencana menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang memicu demonstrasi dan kericuhan dimana-mana.

Di bidang agama, banyak terjadi kekerasan yang membawa symbol-simbol agama tertentu. Dalam kesengsaraan ini, banyak pengamat justru menuding pemerintah menambah-nambah penderitaan rakyat dengan kebijakan yang pro kapitalisme. Kasus berdarah antara rakyat dengan PT Freeport juga sampai hari ini masih terkatung-katung. belum lagi perusahaan-perusahaan asing yang mencekik rakyat baik dengan kebijakannya maupun dengan eksplorasi tenaga karyawan dan buruhnya yang rata-rata masyarakat pribumi.

Ditengah jeritan masyarakat yang demikian, lucunya pemerintah justru banyak meng-impor produk-produk luar negeri seperti beras, jeruk, kedelai sampai garam. sebuah ironisme yang dialami oleh negeri yang subur makmur seperti Indonesia. Berbicara tentang Indonesia, tak usah diragukan lagi alam dan potensi yang terkandung didalamnya. Tuhan seakan berlebih dalam memberi kekayaan terhadap negeri yang mayoritas berpenduduk muslim-sunny ini.

Namun demikian, pemimpin dan rakyatnya belum bisa mengolahnya secara maksimal-proporsional untuk kemakmuran seluruh tumpah darahnya. Di Indonesia ini, semua ada. Bahkan tongkat yang ditanjapkan saja akan menjadi pohon yang lebat, untuk membuktikan betapa suburnya alam mini. Pulaunya ribuan. Hamparan sawahnya menjadi panorama indah yang menenangkan hati. Keramahan rakyatnya menjadi perhatian seluruh penjuru dunia. Meski begitu, capital social tersebut sekali lagi belum mampu diserasikan dan diselaraskan dengan keadaan sehingga cita-cita masyarakatnya untuk hidup tenteram itu pun masih sulit tercapai.

Ditengah kegalauan masyarakat yang demikian hebatnya, untung Indonesia masih memiliki pemimpin yang sesungguhnya. Mereka tidak diangkat melalui pemilihan secara demokrasi atau apapun. Mereka diangkat menjadi pemimpin non-formal oleh masyarakat karena keteladanan dan pengabdiannya kepada masyarakat. Mereka bekerja tanpa pamrih dan mengabdi setulus hati. Mereka itulah para ulama dan kyai yang masih setia untuk membimbing dan meningkatkan moral dan mindset masyarakat. Mereka mengajarkan ilmu dan filosofi kehidupan di pesantren-pesantren dengan penuh khidmah.

Pun demikian dengan para santri yang berguru dan kader-kader ulama yang belajar agama kepada mereka dengan tulus belajar tanpa mengharap ijazah dan kedudukan tertentu. Untung Indonesia masih memiliki itu semua. Walau begitu, dalam kancah nasional para ulama masih absen atau kurang dalam mengawal dan mempengaruhi kebijakan. Menurut Prof. Faisal Ismail salah satu dosen IAIN Walisongo Semarang, Benteng pertahanan moral terakhir bangsa Indonesia kini hanya ada di ribuan pesantren-pesantren yang tersebar diseluruh pelosok nusantara. Menurutku pernyataan tersebut tidak berlebihan mengingat era modernisme yang ditandai dengan cepatnya arus informasi dan komunikasi ini dunia seakan tak punya sekat.

Globalisasi benar-benar membawa nilai-nilai yang regressif bagi tatanan masyarakat Indonesia. Mulai makanan, mode, gaya hidup sampai moral hari ini menjadi kacau dan memprihatinkan. Selain terbukti alumni pesantren yang setia mendampingi masyarakat, terutama kelas bawah, pentas ulama di kancah nasional juga berperan cukup signifikan.

Menghadapi semua problem diatas, memang tak mudah. aku sendiri tak sepenuhnya menyalahkan pemerintah. Sekat dan fiksi yang terlalu banyak di Indonesia baik berupa partai, agama maupun organisasi social harus bersatu padu untuk bangkit dari keterpurukan. Semua masyarakat harus bergandeng tangan seperti para founding father kita dulu dalam mencapai kemerdekaan. Sokarno, Hatta, KHWahid Hayim, H Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, AA Maramis dan kawan-kawannya memiliki pemahaman dan konsepsi yang berbeda dalam membangun Indonesia. Meski begitu, mereka tetap “duduk bersama untuk kemajuan bersama”. Bedanya sekarang dengan dulu adalah, kalau dulu mereka duduk bersama untuk kemajuan bersama, namun sekarang “duduk bersama untuk kemajuan atau kepentingan kelompok masing masing”.

Demikian sedikit refleksi catatan hari ini, sambil menghilangkan keringat yang masih menempel di dada. Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. untuk itu, saya pribadi membuka kesempatan dialog, kritik dan saran apabila itu dibutuhkan. ini sebatas refleksi dari kegalauan hati yang tentunya bukan kitab suci yang selalu benar. penulis siap diluruskan apabila memang bengkok. akhirnya, karena keterbatasan yang kumiliki, bisanya ber”doa” dan mencoba melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membangun Indonesia kedepan.

Adalah lebih baik menyalakan lilin walaupun kecil daripada berlarut dalam kegelapan. Hal yang kulakukan adalah mempersiapkan generasi muda dengan suatu wadah organisasi untuk kemudian dibina, agar supaya kelak menjadi penggati kepemimpinan yang baik, amanah, adil, jujur, bijaksana dan mengayomi. Sekian. Hidup Indonesia…!!!