Berbicara tentang idealisme, setiap orang tentunya memiliki paradigma masing-masing. Apakah idealisme itu berdasar pada agama, etika, hukum formal dan ideologi lain seperti sosialisme dan kaptalisme. Namun demikian, dari yang masing-masing itu memiliki kualitas dan skala yang berbeda. Semua itu, menjadi cita-cita yang akan diperjuangkan oleh para pengikutnya.
Ditengah perjuangan itu, menjaga kobaran idealisme agar tetap menya sepertinya lebih sulit daripada memaparkan konsep dan teorinya. Hal tersebut terjadi karena dalam memelihara tersebut langsung bersinggungan dengan realitas kehidupan yang tidak selama bisa dimengerti. Bahkan, jangankan menjaga, idealisme bisa saja hilang begitu saja dalam sekejap karena salah dalam menentukan sikap atau dipaksa oleh keadaan.
Banyak sekali aktivis yang menyuarakan keadilan yang ujung-ujungnya justru menindas. Banyak yang menyuarakan anti korupsi yang dengan tidak sadarnya korupsi sendiri. Tak hanya itu, dalam hal agama, banyak yang menyuarakan suara tuhan justru dilanggar sendiri. Banyak orang yang bertindak tidak sesuai dengan apa yang ia percayai dan katakan. Mengapa terjadi demikian? Sekali lagi, itu karena alam realitas berbeda dengan idealitas.
Lalu, bagaimana agar idealisme tetap eksis dalam ucapan dan tindakan kita? Ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Oleh karena jawaban juga harus mencerm,inkan tindakan. Orang yang berani menjawab itu disaat yang sama juga harus bisa menunjukkan diri seberapa besar ia menjaga dan memelihara idealismenya. Ini merupakan konsekwensi logis yang harus dipatuhi. Percuma orang bicara idealisme sedangkan ia belum memiliki bukti dan pengalaman yang cukup dalam menjalani semua.
Tantangannya begitu berat. Orang idealis harus mau dan rela diasingkan atau terasing dari lingkungannya. Oleh karena sistem yang ada tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang idealis. Mereka harus siap dibungkap, di intervensi bahkan di ‘bunuh’ demi menjaga kepentingan masing-masing kelompok atau golongan. Perjuangan yang “Hamlul Masyaqqoh” tersebut tidak banyak orang yang lulus. Ibarat sebuah padi, ada pengayaan untuk dipilih padi yang benar-benar berkualitas.
Dari itu, tulisan ini sebenarnya omong kosong dan retorika belaka. Itu harus saya akui. Oleh karena sedemikian disiplin ilmu dan prinsip yang saya jadikan idealisme sendiri belum sepenuhnya bisa terlaksana dengan baik dan benar. Namun, paling tidak dari tulisan ini sedikit memberi rem dan refleksi bagi kita semua untuk tidak terlalu jauh terseret pada sistem yang curang. Jika kita tidak bisa melakukan semuanya, minimal ya tidak meninggalkan semua. Pun demikian dengan idealisme saya, walau belum bisa saya laksanakan sepenuhnya minimal tidak lantas ditinggal semuanya. Syukur selalu eksis dan berkobar-kobar didada dan teraplikasi dalam dunia nyata.
[Purworejo, 30 April 2012]