Ikhtiar Pelajar dan Santri Menjaga Degradasi Moral

Jelang Jateng Youth Festival 2012

Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.*
Tanggal 14 s.d. 17 Juni mendatang, Jateng Youth Festival 2012 akan digelar di Kota Wonosobo. Kegiatan yang digelar oleh Ikatan Pelajar NU Provinsi Jawa Tengah ini akan diikuti perwakilan pelajar NU se-Jawa Tengah dengan berbagai kegiatan, seperti perlombaan, pentas seni budaya, donor darah, tanam pohon dan ikrar kebangsaan 15.000 pelajar. Ini akan menjadi momentum penting dalam mengkonsolidasi antar generasi di Jawa tengah, khususnya pelajar, santri dan mahasiswa NU. Konsolidasi itu dibutuhkan untuk menyikapi isu-isu penting, agar nantinya kegiatan tersebut memiliki ruh dan tak hanya bersifat ceremonial belaka.

Ditengah kondisi bangsa yang sedang dirundung berbagai masalah, seperti kasus korupsi dan degradasi moral, ada satu tugas penting yang harus dipersiapkan generasi muda hari ini untuk menghadapi modernisasi dan globalisasi yang semakin mengakar di negara ini. Satu hal penting yang dewasa ini mulai rapuh dan pudar ditelan zaman, yaitu moralitas pemuda. Seperti kita semua tahu, kasus narkoba, free sex, tawuran pelajar dan plagiatisme yang menghantui insan akademik kian hari kian mengkhawatirkan. Belum lagi buku-buku pelajaran yang berbau porno sudah masduk ke sistem pendidikan yang marak akhir-akhir ini di beberapa daerah juga semakin menambah daftar carut-marutnya keadaan.

Melalui Jateng Youth Festival 2012 diharapkan mampu merumuskan dan merekonstruksi moral pelajar dengan menyediakan “lahan” untuk mengekspresikan diri dalam organisasi. Lahan tersebut bisa berupa kajian keagamaan, training, konseling, peningkatan skill dan penggalian potensi generasi muda dengan format yang up to date dan menggauli kenyataan, tidak sinetronistik. Hal tersebut penting dilakukan sebagai salah satu upaya dalam mempersiapkan generasi, pemimpin dan tokoh yang berkompeten sesuai bidangnya di masa depan.
Hari ini seperti kita tahu, berbagai pansus, badan, lembaga dan institusi sudah sedemikian lengkap dan komplit mulai dari eksekutif, yudikatif sampai legislatif dalam struktur negara kita. Namun, kehadiran intitusi seperti KPK, BNN, BPK sampai dengan ICW yang notabene “swasta” selalu sibuk dan tak pernah sepi dari kasus. Perangkat negara kita begitu komplit dan mendetail seakan semua masalah atau kepentingan sudah ada yang mengurus. Walau begitu, kasus-kasus besar yang amoral menumpuk dan silih berganti yang membawa dampak tidak terealisasinya berbagai kebijakan yang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat.

Menurut ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj MA, perbaikan yang secara khusus mengarah ke perbaikan spiritualitas dan moralitas lebih mendesak ditangani dibandingkan dengan ajaran yang menekankan hukum legal-formal. Sebab, seketat apapun hukum di undang-undangkan namun hati manusianya keras dan kotor, maka setiap batasan hukum akan di dobraki. Dalam konteks ini, santri dan pelajar NU memiliki peran yang strategis untuk memotong jalur generasi dengan tetap “belajar” dari generasi sebelumnya untuk membangun masa depan. Karena menurut Imam Maliki, suatu bangsa tidak akan maju tanpa berkaca pada generasi maju sebelumnya.

Ketika kolonialisme menancapkan kukunya di Nusantara ini, perlawanan secara beruntut terjadi, misal Perang Trunojoyo(1675-1680), Perang Makassar(1633-1669), Perang Palembang(1818-1921), Perang Paderi(1821-1832), Perang Diponegoro(1875-1903), Perang Banjar(1854-1864) dan Perang Aceh (1875-1903) dan sebagainya. Jika dilihat dibalik peristiwa tersebut, ternyata keterlibatan kaum santri memiliki peran sangat besar dalam peristiwa heroik melawan penjajah tersebut. Ulama, santri, pesantren, rakyat, doa-doa dan pekik takbir, ikut menyertai perang tersebutii. Tidak seperti sekarang, pekik takbir menyertai penghacuran gedung dan jargon dalam menyikapi perbedaan sesama anak bangsa dengan anarkis.

Konsolidasi antar generasi sesama anak bangsa secara kultural juga telah dijalin oleh mereka yang ketika itu bermukim sebagai pelajar di Makkah. Mereka menyatakan diri sebagai “orang jawi”. Mereka itu adalah bintang-bintang pelajar; seperti Syekh Khatib al Minangkabawi dari Padang, Syekh Arsyad al Banjari dari Banjarmasin, Syekh Abdusshomad al Falimbani dari Palembang, Syekh Mahfudh At Turmasi dari Termas, dan Syekh Nawawi al Bantani dari Banten sebagai Bapak Rohani kaum “Jawi” di Makkah. Jelas “Jawi” disini dalam konteks kebangsaan adalah Indonesia.

Jadi, solidaritas kaum santri atau banyak yang menyebut kaum tradisional tidak hanya dimanifestasikan dalam bentuk perlawanan bersenjata terhadap kolonialisme Belanda, melainkan juga diwujudkan dalam bentuk pengembangan intelektual dan yang paling menonjol tentunya moral questions yang mereka ajarkan melalui ajaran tarekatiii. Inilah yang membuat pengaruh mereka begitu cepat, besar dan meluas sampai hari ini. Dengan ajaran moral, kita tidak hanya diajak untuk melakukan salah dan benar, lebih dari itu yaitu baik dan buruk dan subtansi atas suatu masalah. Hal inilah yang semestinya diresapi oleh generasi muda hari ini khususnya pelajar NU sebagai penerus sejarah panjang doktrin dan nilai-nilai Ahlussunnah wal jamaah yang moderat, toleran dan Inklusif.

Momentum Jateng Youth Festival 2012 hendaknya menjadi memontum yang tepat untuk konsolidasi antar generasi, merevolusi diri dan berpijak kepada khittah yang telah digariskan oleh para ulama dan funding father terdahulu. Sehingga, event akbar tersebut tidak hanya sebatas seremonial dan pragmatis saja. Seperti kata Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, sebagai benteng moral terakhir bangsa, santri dan pelajar NU dituntut untuk tidak hanya tahu urusan agama saja, namun juga problem sosial kemasyarakataniv. Untuk mewujudkan hal itu, memang tak mudah bagai membalikkan telapak tangan, butuh kerja keras dan konsistensi. Namun jika hal itu bisa dilakukan, optimisme masa depan yang cemerlang akan hadir ditengah masyarakat. Selain berjuang untuk izzul ulama wa nahdliyyin yang merupakan bagian dari izzul islam wal muslimin, pemuda hari ini merupakan pemimpim di masa depan. Dan gambaran masa depan bisa dilihat dari kondisi dan peran generasi muda saat ini. Wallahu A’lam.

*A Naufa Khoirul Faizun,
Ketua Ikatan Pelajar NU Kabupaten Purworejo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: