Pesan Untuk Alumni An-Nawawi

KH. Achmad ChalwaniOleh: KH. Achmad Chalwani
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Hadirin dan hadirat, para alumni An-Nawawi yang berbahagia.
Pertama, saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya di forum pembentukan pengurus pusat Himpunan Alumni dan Wali Santri An-Nawawi ini. Perlu saudara-saudara ketahui, bahwa kemajuan pondok pesantren hari ini tidak hanya ditentukan oleh Pengasuh dan elemen internal pesantren. Peran alumni sangat besar dalam memajukan lembaga pendidikan, terutama pondok pesantren. Perhimpunan alumni yang sudah maju dan terakomodir dengan baik seperti Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) dan Alumni pesantren API Tegalrejo ada baiknya kita contoh. Saya paham betul kondisi alumni yang begitu beragam profesi dan kemampuanya. Namun demikian, saya berharap alumni An-Nawawi dapat berkontribusi sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Kedua, dengan segala kelebihan dan kekurangannya An-Nawawi telah banyak kemajuan seperti diterimanya beberapa alumni di Perguruan Tinggi Negeri dan Luar negeri seperti mesir dan lain-lain. Namun, demikian alumni tetap harus mempromosikan kepada masyarakat. Contoh yang paling mudah adalah dengan memasukkan putra-putri saudari di An-Nawawi. Ini mengajak bil haal yang efektif dan konkrit. Selanjunya bisa dengan memasang kalender sebagai bentuk syiar. Jangan sampai hadirin sekalian memasang kalender asal-asalan. Biasanya, dalam kalender tertulis: Wafatnya Isa al-Masih, padahal sesuai keyakinan kita beliau masih hidup. Kalender terbitan An-Nawawi tertulis: Wafat Shibhi Isa al-Masih, yang wafat adalah orang yang mirip dengan beliau yaitu Judas Iskariot. Jika anak-anak kta membaca bisa tersesat akidahnya. Selain itu, alumni juga seyogyanya tahu sejarah tentang muassis pesantren yang sudah tertuang dalam buku biografi KH Nawawi.
Ketiga, bahwa aliran Islam a la wahabi dewasa ini gencar menyerang amaliyah kita warga pesantren. Dari itu, saya menghimbau agar seluruh alumni untuk bisa merapat ke Nahdlatul Ulama (NU)di daerahnya masing-masing. Ini salah satu cara kita untuk melanjutkan perjuangan Islam a la walisongo yang ratusan tahun ada di Indonesia. Memang, dahulu Islam yang dibawa oleh wali songo hanya “Islam” saja tidak ada embel-embel yang lain. Namun, Islam Ahlussunnah wal Jamaah itu bukan embel-embel, tetapi Islam itu sendiri, sesuai yang dibawa oleh Walisongo. Walau tidak ada “embel-embel”, Islam dari para wali tersebut sudah Ahlussunnah wal jamaah. Nah, belakangan muncul berbagai aliran dalam Islam dengan berbagai identitas baik berupa ormas ataupun partai. Untuk itu, identitas Ahlussunnah wal jamaah yang dalam konteks Indonesia diperjuangkan oleh NU, perlu kita tegaskan supaya tidak salah.
Sebagai contoh, dahulu waktu saya kecil ketika orang mau membeli piring sudah langsung dikasih piring beling (piring yang terbuat dari bahan beling-red) oleh penjualnya. Sehingga pembeli cukup minta piring saja pembeli sudah mafhum. Namun belakangan, banyak model-model piring mulai dari kaca, porselin, plastic, beling dll yang membuat piring menjadi berbagai macam dan warna. Untuk membeli piring beling, sekarang tak cukup dengan meminta kepada pembeli dengan kata piring saja, mesti ada kata “beling” sebagai penegasan agar tidak diberi piring plastic atau yang lain. Pun demikian dengan Islam, maraknya berbagai model dan aliran membuat Islam Ahlussunnah wal Jamaah harus dikukuhkan agar tidak keliru.
Lambang bintang Sembilan dalam Nahdlatul Ulama mewakili gagasan dan semangat Ahlussunnah wal jamaah. Bintang utama sebagai simbol kita mengikuti nabi Muhammad saw. Bintang empat dibawahnya berarti empat sahabat nabi yaitu Abu Bakar Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ini identitas bahwa kita warga nahdliyyin yang menganut Ahlussunnah wal jamaah mengakui Khulafaurrasyidin, tidak seperti syiah yang hanya menganggap Sayyidina Ali saja sebagai Imam. Adapun bintang empat yang dibawahnya lagi adalah empat imam madzhab yaitu Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali.
Islam dibawa ke Indonesia oleh para wali dengan santun, moderat dan seimbang. Meski lima diantara mereka bukan orang jawa, namun mereka lebih jawa dari orang jawa dalam mengambil sikap dan berdialog dengan lingkungan. Sebagai contoh, Sunan Kudus yang waktu itu menyebarkan agama Islam di wilayah kudus mengetahui bahwa masyarakat Hindu disana mengkultuskan sapi tidak serta merta memerintah masyarakat untuk berkurban dengan sapi, namun dengan lembu atau kerbau. Hal ini dilakukan untuk menjaga hati masyarakat Hindu yang menghormati sapi. Walhasil, perlahan tapi pasti orang hindu tertarik untuk masuk Islam karena mereka merasa ter-ayomi dengan ajaran Islam. Sungguh kebijaksanaan yang membumi dan sesuai dengan konsisi masyarakat. Dalam istilah sekarang disebut dengan local wisdom.
Beberapa waktu lalu saya mengunjungi pameran buku dan kitab di Jogjakarta. Saya sangat prihatin, gerakan wahabi sekarang semakin menjadi-jadi sampai dengan cara licik yaitu mengubah kitab-kitab karya ulama terdahulu. Sebagai contoh, dalam kitab “Adzkar” ada fasal: “Fashlun Fi Ziarati Qobrin Nabi” yang mereka ubah menjadi “Fashlun Fi Ziarati Masjidin Nabi”. Dalam kitab “Diwanis Syafii” mereka juga mengubah “Faqihan wa Shufiyyan” yang pada intinya mereduksi ajaran tarekat. Wahabi di Indonesia memang didukung oleh Saudi Arabia. Mereka menggelontorkan dana yang besar dari kilang minyaknya untuk mengobrak-abrik ajaran yang ratusan tahun mapan dan membumi di Nusantara.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Sekali lagi, semoga para yang diamanati untuk menjadi pengurus dapat melaksanakan tugasnya dengan serius dan konsekuen.
Akhirul Kalam, Hadanallah Wa Iyyakum Ajma’in,
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
===================================
Disampaikan pada Pembentukan dan Pengukuhan Himawan, Sabtu 07 Juli 2012 di Halaman Gedung Pendidikan An-Nawawi Berjan Purworejo. Disarikan oleh: A. Naufa Khoirul Faizun, tamatan PP An-Nawawi angkatan 2009.

Iklan

One thought on “Pesan Untuk Alumni An-Nawawi

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: