Puasa Mengasah Empati Sosial

Oleh: A. Naufa Khoirul Faizun

Sebelas bulan lamanya orang-orang bebas mengkonsumsi “apa saja” kedalam perutnya. Semua pun masuk ke dalam perut mulai dari makanan, minuman sampai dengan obat-obatan atau suplemen. Bagi penimat kuliner, makanan khas Indonesia mulai dari bakso, soto, mie ayam sampai dengan sate pun semua masuk. Belum lagi buah-buahan, camilan, dan lain sebagainya. Intinya selama itu pola makan tak terkontrol.

Jika kita ibaratkan mesin motor yang dipakai terus namun tak pernah diservis, lama kelamaan tidak enak jalannya dan bahkan bisa turun mesin. Pun demikian dengan mesin pengolah makanan yang ada dalam diri kita. Setelah sebelas bulan lamanya bekerja terus menerus tiada henti, di bulan ramadhan ini diistirahatkan dan di servise sejenak untuk menghadapi pekerjaan sebelas bulan yang akan datang. Inilah sebagian hikmah yang akan dipetik oleh orang yang menjalankan puasa, suatu ibadah yang purba dalam sejarah umat manusia.

Selain itu, hikmah puasa yang tak kalah penting dan memiliki dimensi sosial yaitu mengasah sikap empati orang yang berpuasa. Empati adalah mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Orang lain dalam konteks ini yaitu pelaku sendiri sebagai subyek dan obyek puasa. Orang yang puasa disadarkan betapa penderitaan orang yang kurang mampu. Perut kosong dan tenggorokan kering kerontang. Dengan demikian, orang yang lulus puasa nantinya lebih bisa empati, simpati dan peduli terhadap anak yatim dan orang-orang yang kurang mampu.

Jika sikap empati sudah merasuki masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, kasus-kasus korupsi, ketidak adilan sosial dan penyembelihan hak-hak asasi yang dewasa ini semakin menjadi-jadi akan segera reda, minimal menurun. Menurut ketua PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj MA, perbaikan yang secara khusus mengarah ke perbaikan spiritualitas dan moralitas lebih mendesak ditangani dibandingkan dengan ajaran yang menekankan hukum legal-formal. Sebab, seketat apapun hukum di undang-undangkan namun hati manusianya keras dan kotor, maka setiap batasan hukum akan di dobraki.

Dengan adanya “pelatihan” yang sudah diwajibkan turun temurun dari umat terahulu ini diharapkan jebolannya menjadi orang yang bertaqwa.(QS Al-Baqarah:183). Taqwa berada dalam hati dan senantiasa terjaga baik di masjid, pasar, mall, kantor, pesawat dll. Dengan demikian, ketenteraman islam akan dirasakan oleh orang islam sendiri dan agama lain, tidak seperti akhir-akhir ini yang terlalu banyak konflik atasnama agama. Jika “pelatihan” ini lulus tentunya Islam rahmatan lil ‘alamin yang selama ini dicita-citakan akan semakin dekat. Semua itu bisa berhasil jika para pelaku puasa (shoim) dapat menagkap empati dan menjadikanya pelajaran.


i KH. Said Aqil Siradj, Pengantar dalam Buku Penakluk Badai Karya Aguk Irawan MN (Depok: Global Media Utama, 2012)hlm. xix

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: