Pemuda, Silaturrahmi dan Rekonsiliasi Masa Depan

Oleh: A.Naufa Khoirul Faizun

Gema Ramadhan dan gegap-gempitanya Idul Fitri baru saja usai. Masjid yang dulu ramai kini mulai ditinggalkan jamaahnya lagi. Lantunan-lantunan ayat suci yang bergema di malam hari kini meredup seiring berjalannya waktu. Gema bedug yang memiliki romantisme tersendiri lenyap hilang entah kemana. Iklan-iklan teve yang menjual nuansa Ramadhan telah berganti. Dai-dai yang hampir memenuhi program di teve kini harus kembali ke markasnya. Artis-artis yang sempat menutup auratnya kini bebas lagi mengeksplorasi kemolekan tubuhnya. Politisi yang mengambil simpati di momentum Ramadhan dan Idul Fitri kini mulai sibuk mencari proyek lagi. Kerukunan antar-agama yang selama ini relative damai di Indonesia harus pecah mencoreng hari kemenangan nan fitri.

Itulah fenomena yng hari ini terjadi di bumi pertiwi. Untuk sekadar merevolusi diri dan sosial, memang kerap kali mengorbankan sesuatu mulai dari doktrin suci agama, integritas, harta bahkan nyawa. Namun demikian, semangat kembali ke fitri demikian besar dan terintegral. Jika untuk silaturahmi dengan keluarga catatan menunjukkan setidaknya 863 pemudik meninggal dunia akibat kecelakaan(inilah.com, 29/08/12), ini menunjukkan betapa mahal harga sebuah perubahan. Walau kenyataan tersebut memang disebabkan banyak faktor seperti buruknya sistem pemerintah dalam bidang transportasi atau memang kelalaian para pengendara. Terlepas dari itu, pada kenyataanya banyak memakan korban.

Walau demikian, silaturrahmi tetap unik dan memiliki semangat perubahan meski dengan jalan normative-kultural. Bagi kaum muda, terutama mahasiswa islam tentunya ini sebagai konsolidasi lintas generasi yang positif sebagai seorang yang akan mewarisi masa depan bangsa. Dengan moto: “berpijak pada kebaikan lama dan bijak dalam merespon kekinian,” tradisi silaturrahmi selain sebagai wahana rekonsiliasi tentunya harus dimanfaatkan sebagai acara penggalian-penggalian kebaikan dan khazanah pengetahuan dan pengalaman dari para sesepuh, senior, ulama dan tokoh masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang telah membangun dinamika masa lalu sampai hari ini.

Adalah tanggungjawab sejarah generasi muda, khususnya mahasiswa untuk memperbaiki nasib bangsanya. Sebagian besar masyarakat kita adalah masyarakat yang belum bebas dari kebodohan, kemiskinan dan kedaulatan ekonomi. Di pundak mahasiswa-lah mereka menaruh harapan akan masa depan anak-anaknya di masa mendatang. Melalui kemampuan intlektualitas, seyogyanya mahasiswa mampu menangkap perasaan rakyat akan pentingnya kesejahteraan dan demokrasi, yang adil dan merata, sebagai konsekuensi logis dari Negara yang merdeka dan berdaulat.

Menurut Yudi Chrisnandi, jika kita melihat revolusi peralihan rezim politik dari orde lama ke orde baru pada 1966 dan dari orde baru ke reformasi pada 1988, lagi-lagi juga harus memakan korban. Andai saja Arif Rahman Hakim, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran UI, tidak ditembak mati ditengah aksi deminstrasi pada 1966 yang menuntut Soekarno jatuh, yang kemudian dikenal sebagai pahlawan Ampera, mungkin rezim Orde Baru tidak akan berdiri. Begitu juga kalau mahasiswa Trisakti tidak meregang nyawa di ujung senjata aparat militer pada demonstrasi 1998, mungkin angin reformasi tidak kita hirup hari ini(Beyond Parlemen, 2008).

Karena itu, betul kata Soekarno: “Berilah aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Pidato berapi-api itu beliau ucapkan ketika masa kejayaannya. Pemuda lebih-lebih mahasiswa dilukiskan sebagai sosok yang unggul, bergairah, bergelegak dan bergelora secara fisik, psikis, progresif, revolusioner dengan semangat berkobar-kobar dan bara spirit yang menyala-nyala.

Ungkapan Soekarno terbukti di Amerika Latin. Walau tidak diakui Amerika, Che Guevara menjadi sosok penting dalam menggerakkan semangat revolusi di Amerika Latin. Keberhasilanya membantu Fidel Castro dalam menumbangkan rezim Batista di Kuba pada 1959 membuat Guevara kembali memimpin kelompok revolusi bawah tanah di Bolivia. Sayangnya, ia kemudian ditembak mati. Kematiannya pada usia muda (39 tahun) justru membuat pemujaan terhadap dirinya semakin menjadi-jadi. “No lo vamos a olvidar (kami tidak akan membiarkannya dilupakan)” diteriakkan kaum muda hampir di semua jalan-jalan di Amerika Latin.

Sekilas gagasan dan cerita diatas membuktikan bahwa tidak ada perubahan tanpa pengorbanan dan langkah berani kaum muda. Sayangnya, peran pemuda cenderung dilupakan dan dipinggirkan. Kaum muda penting diawal tapi tidak penting di akhir. Perannya begitu didambakan untuk mendorong perubahan, tapi setelah itu “ditinggalkan”. Dinamika tarik-menarik kekuasaaan punya cerita yang menarik tentang hal ini. Setelah gerakan kaum muda sukses melengserkan rezim otoritarian Orde Baru pada 1988, yang memberi jalan baru bagi kepemimpinan nasional, tak satupun kaum muda yang dilirik menjadi pemimpin. Selain itu, idealisme yang runtuh karena sudah diberi “kue” jabatan juga menjadi tantangan tersendiri kaum muda saat ini untuk mengobarkan idealisme, tidak terlalu larut dalam menggauli kenyataan.

Nah, silaturrahmi dan rekonsiliasi lintas generasi dalam momentum ini mendapatkan signifikansinya terutama bagi kaum muda dan lebih-lebih mahasiswa. Oleh karena, selain gerakan formal yang ideologinya identik dengan kiri-revolusioner juga butuh gerakan kebudayaan yang normative-kultural. Selain dengan politik, melawan budaya juga harus dengan budaya. Seperti kata Imam Malik bin Anas: “La yashluhu amru hadzihil ummati illa sholuhabihi awwaluha (Urusan umat masa kini, tidak akan dapat diselamatkan, kecuali dengan apa yang telah menyelamatkannnya di masa lampau).” Momentum silaturahmi amat efektif untuk mentransformasikan nilai-nilai lama yang baik itu ke semangat kaum muda sebagai bahan berpijak dan bertindak.

Dalam pengantarnya di buku Aguk Irawan, KH. Said Aqil Siradj mengatakan, bahwa perbaikan yang secara khusus mengarah ke perbaikan spiritualitas dan moralitas lebih mendesak ditangani dibandingkan dengan ajaran yang menekankan hukum legal-formal. Sebab, seketat apapun hukum di undang-undangkan namun hati manusianya keras dan kotor, maka setiap batasan hukum akan di dobrak(Penakluk Badai, 2012). Jika kaum muda terutama mahasiswa bisa memanfaatkan momentum silaturrahim ini kepada para sesepuh, ulama, tokoh masyarakat dan pejabat publik, selain mendapat suplai spirit, spritualitas dan motivasi, mereka juga memiliki gambaran yang mendekati utuh. Karena mustahil akan membangun masa depan jika tidak tahu sejarah masa lalu. Wallahu A’lam

Iklan

One thought on “Pemuda, Silaturrahmi dan Rekonsiliasi Masa Depan

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: