Ibuku sebenarnya tak akan pernah terwakili dengan tulisanku ini. Namun paling tidak, tulisan ini bagiku sedikit mengobati rindu yang kadang membelaiku ketika dalam kesendirian atau momen-momen yang sulit kutebak. Aku sedikit malu sebenarnya menulis masalah ibu, seperti kebanyaka cowok yang memang cowok. Namun demikian, karena keteladanan dan banyak sekali hal yang menginspirasi kurasa tak perlu ada lagi rasa malu itu. Untuk hanya menulis tema momentum-momentumku bersama ibu, mungkin akan banyak cerita yang sempat kutuangkan kedepannya.

Nama lengkapnya Siti Chaizah. Tanggal lahirnya aku lupa. Ibuku hanya memiliki ijasan sekolah dasar karena memang ia hanya lulusan SD. Menurut ceritanya yang sembat kuketahui, ia menempuh pendidikan agamanya langsung kepada kakekku, KH. Zuhri. Selepas lulus SD, ibu nyantri di Pondok Pesantren An-Nur Maron Loano Purworejo bersama bu likku, Mun dan Sah. Di Maron, menurut Ibu, ia amat disayang oleh Nyainya. Sampai-sampai, ketika pulang agak lama ibuku dijemput oleh santri utusan nyai. Si maron ibuku sering bantu-bantu ndalem sehingga dikenal keluarga kyai.

Ibu menceriterakan, awal ia nyantri, banyak sekali bekal bawaannya. Dengan dbungkus kardus, bekal yang berisi beras, sayuran, kelapa dll tersebut dibawa oleh Mbah Gito, salah satu orang kepercayaan kakekku. Untuk menjangkau mobil, waktu itu, harus berjalan berpuluh-puluh kilometer dilalui. Namun demikian, rintangan itu tak menyurutkan langkah ibuku untuk menuntut ilmu di pesantren.

Usai di Maron, ibuku melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo. Waktu itu namanya masih Pondok Pesantren Putri al-Fathimiyyah. Waktu ngaji, ibuku rajin mencatat baik memaknai gandul kitab kuning maupun catatan pribadi. Sampai hari ini, catatan-catatan rapi ibuku masih tersimpan rapi di rak-rak buku rumah. Menurutku, dalam bidang agama ibuku tidak begitu alim, namun beliau selalu mengamalkan apa yang ia ketahuinya. Selain itu, ketaatannya akan guru mungkin jadi barokah tersendiri sehingga hari ini sering dipercaya berceramah diberbagai pengajian ibu-ibu.

Dipesantren, ibuku gemar sekali ilmu tajwid, quran dan shalawat al-barzanji. Ibuku pandai qiroaah dan berbagai macam lagu-lagu shalawat. Kegemarannya mendengarkan qori’ Hj. Maria Ulfa, Umi Kulsum, Nasyida Ria dan Ida Laila. Karena kegemarannya ini ibu tak jarang disuruh nderek pengajian kyai Nawawi di berbagai daerah dan tugas ibu adalah qiroaah dalam pengajian tersebut. Dengan posisi tersebut, ibu menjadi dekat dengan sang kyai dan terutama ibu nyai.

DISUNTING AYAH
Setelah beberapa tahun di pesantren, kyai Nawawi menjodohkah ibuku dengan ayahku, Ahmad Mahin namanya. Ayahku adalah pengembara ilmu dari Demak yang sudah melalu-lalang di berbagai pesantren. Di an-nawawi ia tak butuh banyak waktu untuk menyerap ilmu. Kondisi ini membuat ayah langsung dipercaya mengajar, menjadi pengurus dan lurah pondok. Ketika menikahi ibu, ayahku sedang menjabat sebagai lurah pondok.

Setelah beberapa tahun menikah denganku, akhirnya lahirlah anak pertama mereka yaitu aku. Semasa kecil, keluarga kecilku tinggal di salah satu kamar di pesantren milik kakekku. Kami belum memilki rumah dan tempat tinggal sendiri. Ayahku membantu mengajar di pesantren kakek. Setiap kali makan kami dikirimi nasi berikut lauknya dari kakek yang diantarkan santri. Hari-hari kami berbaur dengan santri. Jadi, masa kecilku sudah akrab dengan dunia pesantren.

Semasa kecil, ibuku mengajariku berbagai ilmu dasar dalam islam seperti Qiroati, Tajwid, Syiir Ngudisusilo, Alala dan lain sebagainya. Tak heran jika di madrasah, aku lebih unggul disbanding teman-temanku. Ketika ibu keluar untuk mengikuti pengajian rutinan, ia juga selalu mengajakku. Walau belum paham apa tu berjanji, aku senang karena selain dapat berkat, aku juga bisa dekat dengan ibuku. Sebagai anak petama, semasa kecil aku dimanja dan dituruti segala sesuatunya. Ini membuat aku begitu dekat dan manja dengan ibu.

PEKERJA KERAS

Beberapa tahun kemudian kami menempati rumah baru sederhana. Menginjak dewasa, aku mulai memahami geliat ibuku. Ia seorang pekerja keras. Ibu selalu bangun jam dua malam dan shalat tahajjud beserta membaca wirid-wirid sampai tiba waktu shubuh. Setelah itu ia menyiapkan berbagai keperluan dapur. Setelah siap saji kami makan bersama dan ibu selalu menyuapiku. Ketika aku berangkat sekolah, ibu bekerja pergi ke kebun atau menjahit baju pesanan orang dirumah.

Ibuku tipe wanita yang mandiri. Tak jarang ia menjual hasil kebun seperti kelapa, sayuran atau unggas ke pasar untuk belanja keperluan dapur. Bahkan untuk mengupas kelapa, tak jarang ia melakukannya sendiri. Ia tak merasa gengsi atau malu. Jika musim tandur, beliau tandur kesawah, matun sampai panin ia turut terlibat aktif. Sebagian hasil panen dijual dan sebagian untuk dikonsumsi sendiri.

Selang dua tahun, adik pertamaku lahir dengan nama Muhammad Syauqi Taufiqurrahman yang akrab dipanggil Oki. Ibu selalu berbagi pengalaman, cerita dan dongeng kepadaku dan adikku menjelang tidur. Kami pun larut dalam mimpi-mimpi ketika diceritakan dongeng-dongeng yang menginspirasi. Waktu kecil, ibulah yang selalu membesarkan hati kami ketika menangis. Mengobati luka kami ketika terjatuh. Menyelimuti kami ketika terlelap tidur dan menghibur kami dengan senyum kebanggaanya memiliki kami.

Semasa kecil, ibu tegas mendidik agama kami. Setiap selesai habis maghrib kami wajib mengaji quran, tajwid dan lainnya. Ketika aku tidak bisa atau salah membaca, ibuku langsung menyabetkan tuding(sejenis tongkat kecil dari bambu) mengenai tangan dan tubuhku. Seringkali air mataku bercucuran keluar karena tidak bisa atau salah dalam membaca. Usai pelajaran agama, kami sisuruh belajar ilmu-ilmu umum. Ibu ingin anak-anaknya menjadi orang yang pintar, shaleh dan hidup yang enak. “Sak rekasa-rekasane wong kuwi wong sing bodo. Makane sira aja dadi wong bodo”(Senista-nista nasib itu nasibnya orang yang bodoh. Makanya kamu jangan jadi orang yang bodoh), nasihat ibuku ketika itu.#08/10/2012