Tentang Cinta

Apakah seperti angin….. yang kan berhembus lembut membelai tiap helai dedaun… ataukah selayak beliung yang kan menggugurkan dedaun bahkan ranting lalu terhempas kering….Apakah seperti matahari….. yang bersinar terang memberi Ekehangatan… ataukah laksana bara panasnya yang kan menjilat rindang keikhlasan lalu hangus diladang jiwa…. Apakah seperti air….. yang bergerak terus mengalir tanpa lelah dalam samudra dzikir… ataukah kan menjadi riak selayak gelombang pasang lalu melindap menjadi parit_parit kecil diantara pipi…. namun demikian, semoga dengan Rahmat dan Kasih Tuhan… demi cinta dan baktinya…demi merengkuh keRidhaan kepada titah Allah SWT. Seperti itulah moga kiranya cinta ini bergerak, mengalir, menyala tanpa merasa lelah dan terpaksa…. dengan dasar dan tujuan yang mulia hanya untuk menggapai indah singgasana surga Sang Maha Raja….
12 April 2012

Menghancurkan Gunung Kerinduan

Lama ku menunggu saat-saat bersamamu
Saat dimana hati terasa tenteram karena kasihmu
Saat air cintamu menyegarkan dahaga rinduku
Saat-saat yang indah dalam hidupku

Melihatmu adalah bahagia bagiku
Disampingmu menenangkan kalbuku
Tak ingin jauh darimu
Tak ingin menyakitimu

Setiap detik bersamamu begitu indah
Senyummu buat jantungku goyah
Kau yang terindah
Temanilah hidupku dengan tabah

Menikmati bangunan rindu
Menikmati lorong waktu
Menikmati jarak temu
Dengan semanat dan ilmu

15/10/2012

Kelabu Hatiku

Sebilah silet menyayat hatiku
Menimbulkan darah dan nanah berharu biru
Meruntuhkan kekuatan mapan tubuhku
Membuat bercucur air mata semu hatiku

Dia kupuja bak raja dan ratu
Duduk bermahkota didalam kalbu
Badai dan musuh pasang badan aku selalu
Menjunjung tinggi sprit mutiara dambaan ratu

Tuhan hampir tenggelam dalam kalbu
Tertutup nafsu menggebu
Hanya doa dan iman tautanku
Membelai jari jemari kekasihku

Kini ai mengulitiku
Menginjak-injak kepalaku
Dalam debu
Membuat kelabu
Purworejo, 6 Fbruari 2013

My Heart

Hati
Bicaralah, kau nuraniku
Belahlah anganku
Menapaki kaki para pahlawan
Membunuh rasa malas badan

Hati
Ratapilah waktuku terbuang sia-sia
Tampar aku dalam melangkah salah
Ajari aku tulusnya rasa cinta
Untuk tuhan dan alam semesta

Hati
Sulutkan kobaranku dalam sukma
Menembus pori dan penjara dunia
Membebaskan sandera bodohnya
Mengkayakan kemiskinan jiwa

Hati
Untukku kaulah ada
Untuk tuhanku engkau ada
Dunia malam ladang perjuangannya
Alam semesta Indonesia pijakannya

14 Mei 2013

Sin Cos Tan

Kau bagai angkaku yang menari-nari

Diatas kanvas putih dari dinasti ming

Menusuk pikiranku berkeping-keping

Dan aku tersungging

Ini adalah ilmu yang penting, katamu

Ini yang kan melambungkan anganmu

Aku terpelanting

Hidupku tak sebatas penggaris

Yang kadang melihatku bengis

Berderet sin cos tan yang sangat romantis

Kamu punya dimensi tak terbatas, nak, kata kyaiku

Bahkan tuhan menganugerahkanmu mutiara

Yang tak dapat kau temukan dilain orang

Aku menangis

Terkena tembakan serdadu belanda yang sadis

Bung Tomo menolongku

Bangkit nak, ini hidup bukan fikiran, katanya

Mataku terluka, dicolok tajam pena Chairil Anwar

Sambil marah-marah, ia berkata,

perjuangan adalah realisasi dari kata-kata

dan bukan matematika

aku terbangun, dan berteriak: “ha…ha…ha…”

Purworejo, 14 November 2013

Kau

kau sangat dekat, bahkan mengalun didetak jantungku
tembok besar berdurilah yang menyadarkanku
senyummu menghapus ibaku akan janda tua, pengemis jalanan, cucuran keringat pahit buruh dan petani miskin yang gosong punggungnya dibakar matahari
pukauanmu tak sama dengan gadis- gadis yang pandai bersolek itu
pesonamu adalah keberanian dan akal cerdasmu, ditambah ketulusan hatimu
itu cukup membuat sang rajapun terpesona karenamu
aku bukanlah lelaki pengecut yang mengubur dalam-dalam perasaan, atau melarungkannya ke laut
aku hanyalah anak kecil yang tidak cukup berani berorasi didepan istana negara
hatiku jingga, menahan pesona
untung jalan memberi pilihan
meskipun malam, darah pahlawan masih kubayar dengan recehan
hidupku tak hanya tentang percintaan, tapi perjuangan
dan akulah anak zaman

Purworejo, 27 November 2013

Wanita

Aku pengagum wanita
Atas segala kecantikan, ketabahan serta pesonanya
Kecerdikannya sihir rayuan dan pukauan
Mendidihkan otak, hati dan seluruh badan

Wanita berbaris rapi sepanjang sejarah
Menggoreskan karya emas anak cucu nan indah
Meski rayuan Hawa pun khalayak memperdebatkan
Apa jadinya tanpa wanita ini kehidupan

Khadijah dibalik tokoh yang menggemilangkan zaman
Aisyah lebih heroik dari seratus pria di medan perang
Cut Nyak Dien dalam perang aceh mengajari kita apa itu kehormatan
Pena Kartini meruntuhkan kolonialisme yang memperbudak zaman

Wanita oh wanita
Indah nian hadirmu di dunia
Kau basuh lukaku yang terpercik garam
Menguatkan hati untuk berani mati di medan juang

Senyummu menaklukkan
Kesabaranmu meluluhkan
Air matamu membunuh para gereliyawan
Rayuanmu antarkan prajurit mati di medan perang

Tapi aku ingin wanita sederhana
Namun cerdik cendekia hiasnya
Menenangkan kala kejam dunia menjemput
Menumbuhkan harapan didepan maut

Wanitaku yang tak berani menatap mataku
Hadirlah mengisi gersang kalbu
Mari kita ukir indah dan kelabu
Bermahkota dibawah langit biru
Bersamaku

Purworejo, 01 Juni 2014

Ibu

Ibu, dulu kepadamu aku mengadu
Ketika ketakutan membunuhku
Ketika mereka mencemooh anakmu
Ketika sakit membakar dadaku

Ibu, tubuhmu memang kecil nan mungil
Tapi kau lahirkanku ke dunia waktu kecil
Menyembunyikan gunung kepedihan di kalbumu yang adil
Sanggup mengiris telor satu untuk enam mulut anakmu yang usil

Mengapa, ibu, kau selalu menyayangiku
Menantang dunia yang kejam padaku
Hanya untuk melihat aku tumbuh dengan selamat
Meski tak menjamin, kelak anakmu akan congkak

Ibuku yang menyuapiku nasi
Mengajari kehidupan yang berarti
Mendongengkan kisah lama menidurkanku
Dan menyisir rambutku ketika lusuh menghinggapiku

Aku ingin mencium pipimu ibu
Dengan seribu kasih sayang yang ada padaku
Bersimpuh menyerahkan kepalaku untuk kau penggal
Jikapun engkau mau aku harus Meninggal

Purworejo, 01 Juni 2014

Bertalun Rindu

Hanya angin
Membelai syahdu biru
Ketika kelelawar berkuasa
Rintih lapar sepi memperkosa
Bulanpun menangisi sunyi
Tertaut menawan hati
Ditelan maut sendiri
Melumpuhkan birahi pada ilahi
Saat sesunyi ini
Dibawah tiang langit ini
Pesta telah usai
Pelacur sedih menghitung hasil
Di trotoar pengemis menggigil
Politisi masih mencari intrik
Diseberang sana tercabik
Hati wanita bertelisik
Menunggu kepastian sang Arjuna
Entah hari apa datangnya
Berteman jangkrik alunkan lagu
Aku talunkan rindu
Diatas tikar dan segelas kopi susu
Bermanja dengan bulan dan langit
Meratapi hati yang menjerit
Menyulam takdir yang getir
Diatas perasaan anyir

Purworejo, 15 Juli 2014

Kita

Kita memang baru kenal
Tapi matamu bagai sinar kilat
Menyengat hatiku
Laksana cemoohan musuhku

Senyummu adalah belati
Yang menghujam dadaku
Menyesakkan nafasku
Tersengal di peraduan rindu

Ku ingin kelak kita duduk bersama
Menghitung hujan dijendela
Dengan segelas kopi
Yang kau aduk penuh cinta

Dan kita lihat, kulit kita kisut tua
Tak berdaya selain tautan cinta
Kau kuatakan hati atas kekalahan kita pada dunia
Dan menggenggam tangan bersama

Ini bukan tentang mimpi atau rumpi
Tapi keruntuhan sombong diri
Dilautan hidup tak bertepi
Keluh penuh tiada arti

Dibawah atap itu kita kan duduk bersama
Menertawakan masa silam yang keras sarat romantika
Diatas tikar beranda rumah itu jua
Perjuangan kan memisahkan kita

Purworejo, 18 Juli 2014

Ramadhan Hitam

Ramadhan ini hati temaram
Hitam kering kerontang
Ayat-ayat tuhan tak lagi mistis
Yang didesa dulu amat romantis
Mesin dan modernitas mengubur semuanya
Mati entah dimana
Alunan waktu kecil memanggil
Menyertai sayup teplok yang menggigil
Pakailah sarung dan pecimu, Nak
Jangan lupa tadarrus, kata ibu semarak
Iringan oncor membangkitkan imanku
Pecah dalam malam beku
Hilang kini semua hilang
Musik dan lirik semakin menarik
Me-nash ayat tuhan yang penuh aromatik
Dunia online memenangi pertarungan licik
Oh ramadahan…
Mengapa kini tak menarik
Penuh intrik dan munafik
Memuja pimpinan jadi nabi picik
Aku lumpuh penuh peluh
Menggesa hendak berlabuh…
Sendiri sunyi
Ditengah manusia berlari
Mengejar apa saja yang materi
Diujungnya merobek hati

16 Juli 2014

Temanggung

Aku terhempas dilereng antara Gunung Sumbing dan Sindoro. Sebuah desa yang jauh dari ingar bingar kota yang kejam menikam. Disini kedamaian kembali kurasakan, suara nyanyian alam dan keramahan masyarakat yang “tanpa”kepentingan.
Hatiku tersayat ketika senja datang. Lantunan adzan digemakan oleh anak-anak dengan indah dan lantang. Gema bait-bait albarzanji kemudian bersahut-sahutan penuh keharuman.
Kuresapi makna-maknanya ditengah dingin dan sayup merdu suara. Bahwa baginda nabi begitu pemalu dan tawadlu. Bahwa baginda begitu menebar wangi. Ah begitu merdunya, ma liy habibu siwa Muhammad, tak ada kekasih bagiku selain Muhammad.
Ingin kudendangkan kembali bait-bait itu sebagai penawar racun dalam dadaku. Bersamamu. Hanya bersamamu.

29 Desember 2014