Secara konseptual, Allah menciptakan kita manusia memiliki dua fungsi. Fungsi pertama sebagai hamba yang wajib beribadah kepadanya. Adapun fungsi yang kedua adalah sebagai pengelola muka bumi ini. hal ini dijelaskan Allah dalam al-Quran surat al-Baqarah. dengan demikian, ideal kita sebagai manusia adalah orang yang melaksanakan titahnya dan mengelola bumi ini sebaik-baiknya.

Mengapa kita disuruh menyembah dan membayar “pajak” berupa shalat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya? itu merupakan ongkos yang harus kita bayar atas fasilitas-fasilitas Allah yang telah diberikan kepada kita. Fasilitas itu bisa berupa kesehatan kita, nafas gratis yang kita hirup setiap hari, anggota badan yang utuh dan sempurna, keluarga dan sahabat yang hangat memperhatikan kita dan lain sebagainya.
Namun demikian, fasilitas-fasilitas Allah itu kadang tidak mampu kita baca sehingga seolah kita berprasangka buruk kepada Allah, semisal tidak lengkapnya anggota keluarga kita, rumah tangga yang berantakan, Sulitnya menerima kenyataan hidup ataupun terlalu banyak persoalan yang membuat kita depresi. Itu semua, tentunya ada hikmah dan rencana-rencana Allah yang akan menjadikan kita tangguh. Allah menilai kita semua bukan dari itu semua, namun dari ketaqwaannya.

Sering kita melihat orang cacat yang tetap bisa berkarya ditengah keterbatasannya. atau sering juga kita saksikan orang-orang sukses yang berangkat dari pemecatan atas dirinya dari perusahaan atau bangkit karena mengalami keterpurukan dalam keluarga. Ini semua telah disampakain Allah dalam firmannya bahwa Ia tidak menciptakan sesuatupun dimuka bumi ini yang tidak ada manfaatnya, termasuk lalat, ulat dan serangga, semua ada manfaatnya.

Bagaimana Caranya?
Ada dua pendekatan dalam memahami dan meresapi fenomena tersebut. Pertama, jika kita mendapat nikmat baik berupa limpahan rizki, tubuh yang sehat dan keluarga yang utuh misalnya, hal tersebut harus kita respon dengan SYUKUR. Bersyukur disini tidak hanya ucapan semata namun juga dengan tindakan yang bermanfaat dan sesuai dengan tuntunan agama. Jika bersyukur tidak kita lakukan, maka cobaan dan ujian siap-siap kita terima yang bisa jadi itu sebuah warning dari yang maha pencipta.

Kedua, jika kita mendapat cobaan, baik berupa masalah, kepedihan hidup dan lain sebagainya itu adalah kasih sayang Allah yang harus kita hadapi dengan SABAR. Bisa jadi itu sebuah tempaan agar hidup kita menjadi lebih memiliki spirit fighting seperti besi yang ditempa terus-menerus siang malam dengan celupan bara api yang hasilnya kemudian menjadi takjubnya banyak orang yaitu keris. ibarat gandum, kita akan ditumbuk halus dalam api kesucian dan diaduk dalam bumbu dinamika dan lahirlah roti.

Hidup Hanya Sementara
Jika kita menyadari SYUKUR dan SABAR tersebut tentunya tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. kalau masalah tidak adasalusinya, bukan masalah namanya. ditengah kehidupan masyarakat yang seba modern, individualis dan hedonistis ini hendaknya kita memiliki visi jauh kedepan baik dunia maupun akhiratnya kelak. karena orang yang tidak memiliki cita-cita dan harapan layak punah dari muka bumi.

Kita harus sadar bahwa dunia ini tidak kekal. Ketenangan hidup ini hanya bisa dicapai jika kita (men)dekat dengan yang maha pencipta serta menyeru kebaikan-kebaikan yang bermanfaat untuk kehidupan. sejarah telah membuktikan betapa orang-orang super sekelas Firaun, Hitler, Stalin dan lain sebagainya toh pada akhirnya mati pula. Pun demikian dengan Che Guevara, Soekarno, Gus Dur, akhirnya akan sirna juga. ketika hidup ini tidak kekal, pertanyaannya kemudian adalah, apa yang bisa kita berikan untuk orang lain? apa karya kita? bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? tokoh-tokoh diatas ada yang dikenang karena keburukannya atau prestasi gemilangnya yang mampu menerangi zaman; hanya dua itu. akan jadi seperti apakah kita kelak?

Perpus SMP Sultan Agung Purworejo, 27 Januari 2013