Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.

Dengan mengusung slogan berpijak pada kebaikan lama dan bijak dalam merespon kekinian, potensi intelektual muda nahdlatul ulama memiliki peran yang strategis bagi pengembangan khazanah intelektual maupun sosial change dengan opini dan pengembangan wawasan. Dengan kuantitas yang tak perlu diragukan, keberadaan kaum nahdliyyin menjadi kapital sosial yang ikut berpartisipasi dalam nation charracter building. Salah satu segmen yang perlu dikembangkan adalah tradisi jurnalistik yang belum maksimal.

Eksistensi pesantren sampai hari ini tidak bisa dipungkiri karena adanya peradaban jurnalistik dari para ulama dan imam-imam besar masa lampau. Kitab-kitab besar seperti Ar-Risalah karya Imam Syafi’i, Ihya’ Ulumuddin karya al-Ghazali, al-Hikam karya Ibn Athaillah as-Sakandari, al-Fiyyah karya Ibn Malik sampai Matan Ajurumiyyah karya Imam Shonhaji yang dikaji hampir seluruh pesantren di Nusantara merupakan produk jurnalistik intelektual islam ketika itu. Di Indonesia, ulama senior seperti Syekh Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Khotib Sambas, Syekh Muhammad Nawawi Banten, Syekh Mahfud termas dan masih banyak lagi lainnya juga berdakwah dengan tulisan.

Di masa kolonialisme, KH Wahab Hasbullah telah menginisiasi lahirnya Soeara Nahdlatoel Oelama dilanjutkan KH Abdul Wahid Hasyim dan KH Syaifudin Zuhri. Sampai hari ini, telah ada beberapa media transformasi ilmu dan dakwah Islam moderat seperti penerbit Elkis, Khalista dan LTN NU, Majalah Risalah NU(PBNU), AULA (PWNU Jatim), Suara NU (PWNU Jateng). PBNU juga telah merambah ke dunia maya dengan adanya Situs Resmi Nahdlatul Ulama dengan alamat: http://www.nu.or.id. Seakan tak mau ketinggalan, PWNU dan banomnya sampai ranting kini telah banyak yang memiliki website sendiri. Selain itu, PWNU Jawa Timur juga telah mengembangkan dakwahnya di bidang broadcasting dengan mendirikan TV9 yang kiranya perlu diapresiasi dan dicontoh oleh daerah-daerah lain.

Adanya media cetak maupun online yang dewasa ini menjadi tren karena lebih praktis dan menggauli zaman, perlu direspon dengan bijak oleh elite-elite NU maupun banomnya untuk mengambil peran dalam hal tersebut. Selain di gembleng secara intelektualitas dan spiritualitas, kader NU yang potensial juga perlu dibekali teknik dan skill menulis sebagai juru bicara dan dakwah jangka panjang. Meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dengan demikian, gagasan, khazanah sampai tauladan kaum sarungan bisa terdokumentasi dan ter-transformasi secara baik kepada khalayak luas.

Jurnalisme Sebagai Counter Cultural
Setelah terbukanya kran reformasi pada tahun 1998, kebebasan berekspresi menimbulkan geliat dan dinamika tersendiri. Media televisi, internet maupun buku menjadi media yang efektif dalam mempengaruhi public opinion. Bahkan, Oligopoli media kini menjadi piranti yang efektif dalam rangka penyebaran gagasan, idealisme sampai pencitraan. Media-media banyak dikuasai konglomerat, pimpinan parpol dan organisasi untuk melicinkan kepentingan-kepentingan mereka.

Ditengah ramainya teknologi dengan ditandai cepatnya arus informasi saat ini, muncul beberapa problem keagamaan baik di tingkat teologis, konseptual sampai harakah (pergerakan). Yang paling menonjol adalah adanya paham Neo-Liberalisme dan Trans-Nasional. Dalam pemetaan yang sederhana, yang pertama bisa disebut Islam kiri dan yang kedua Islam kanan. Sebagai penganut paham yang moderat, NU berada ditengah-tengahnya sebagai dinamisator sekaligus melakukan akselerasi agar paham tersebut dapat terbendung.

Menurut budayawan kondang Emha Ainun Najib, melawan budaya tidak cukup dengan fatwa namun juga perlu adanya Counter Cultural. Jika mereka menggunakan film dalam berdakwah, maka kita juga harus bisa membuat film. Jika mereka menyerang melalui buku, maka kita juga harus menandingi dengan buku. Kita tetap merespon hal-hal yang perlu direspon dengan bijak dan dewasa, tidak perlu anarkis apalagi sampai memakan korban. Dengan demikian, dalil Islam itu rahmatan lil ‘alamin tetap relevan dan bisa jadi menarik simpati banyak kalangan untuk mengkaji lebih-lebih masuk dalam janji suci.

Dengan cepatnya arus informasi, hendaknya menjadi salah satu peluang kader NU dapat mewarnai dunia jurnalistik. Kehidupan modern yang ingin butuh cepat dalam mencari informasi baik masalah teologi, hukum, muamalah, ubudiyah maupun tasauf harus direspon. Karena hanya dengan ponsel, android, tablet maupun ipad, kini setiap orang dapat berselancar ke seluruh dunia dan mengkaji berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Tentunya, hal ini harus diimbangi dengan pengkaderan masiv di internal NU itu sendiri, oleh karena secara umum di pesantren tidak ada ilmu yang instan, harus sambung sanadnya dan kitabnya juga mu’tabar(diakui).

Jika jurnalisme sebagai media publik tidak dikuasai, alih-alih NU dikenal, untuk menyampaikan gagasanpun akan repot kelimpungan. Bagaimanapun, dikenal itu menjadi penting. Seperti kita tahu, perbedaan hadits mutawattir dengan hadits hasan karena faktor antara terkenal dan tidaknya hadits tersebut. Akhirnya, jika memang kader muda NU benar-benar ingin di-kader secara masiv, ilmu jurnalistik dan media merupakan salah satu poros penting, selain kemandirian ekonomi, yang perlu dikembangkan. Jika hal ini dihiraukan, bukan mustahil apa yang dibangun dan menjadi dinamika hari ini sudah terlupakan dalam waktu lima sampai sepuluh tahun mendatang.