Dalam hidup ini itu kita selalu dan selalu dihadapkan pada dua pilihan atau lebih. Kita harus memilih pilihan entah itu antara baik atau buruk, benar atau salah, suka atau duka, manfaat atau mafsadat, kerja keras atau malas maupun untung atau rugi dan masih banyak lagi. Semua itu seakan selalu tersedia dihadapan kita yang menuntut kita untuk memilih diantara pilihan-pilihan itu.

Dalam menentukan pilihan itu kita seringkali merasa bimbang atau lebih condong terhadap salah satunya. Ini karena memang memilih itu sejatinya sulit walau sebenarnya kita lebih banyak tahu apa yang baik bagi kita. Mengapa demikian? Karena setiap pilihan yang kita tentukan akan membawa konsekuensi logis yang berdampak pada diri kita.

Saya punya seorang teman yang hidupnya memiliki banyak pilihan dan naungan. Ia masih kuliah dan “hidup” di banyak komunitas dan organisasi. Seringkali banyak terjadi tumpang tindih karena jadwal yang bersamaan. Sepertinya ia masih mencari dimana dunianya berada. Kadang saya merasa kasihan dengannya, dengan usianya yang cukup berumur, memiliki banyak tanggungjawab yang hasrus di emban.

Dewasa ini, saya kadang juga ditawari beberapa amanat, pekerjaan dan tanggungjawab. Namun demikian, saya harus melihat seberapa kapasitas dan jangkauan saya; cocok tidak dengan latar belakang dan need saya, baru kemudian saya memilih. Jika sekiranya itu bisa mengembangkan potensi dan membawa maslahat, tidak merusak tanggungjawab yang saya prioritaskan, maka saya ambil. Ini salah satu siasat saya agar tidak keteteran secara waktu, tenaga dan fikiran.Walau begitu, kita tetap harus berani dengan tantangan. Sepanjang tantangan itu baik, kita mesti mencoba demi kemajuan semua.

Landasan Islam dalam Memilih.
Sebagai agama pembimbing umat manusia, Islam telah banyak menawarkan konsep dan bimbingan dalam hidup ini. Baik memilih antara baik dengan baik, buruk (mafsadat) dengan buruk apalagi antara baik dan buruk. Pun demikian dengan benar dan salah, semua tersaji dan banyak varian yang bisa dijadikan solusi. Dari ilmu fiqh, kaidah fiqhiyyah, tasauf, mantiq dan masih banyak lagi. Semua itu menjadi bekal kita umat manusia untuk mengarungi samudera kehidupan yang kejam ini.

Dalam kaidah fiqh misalnya, ada kaidah yang berbunyi: Ma la yudraku kuluh ya yutraku kulluh; apa yang tidak bisa kita kerjakan semuanya jangan ditinggalkan semuanya. Dalam hal kebaikan kita selalu memiliki banyak pilihan dan capaian. Jika impian itu tidak kita kerjakan semuanay, hendaknya jangan ditinggal semuanya. Jika kita belum bisa melaksanakan semua perintan Allah, hendaknya jangan lantas ditinggalkan semuanya. Jika kita punya rencana mengadakan bakti sosial, menyelenggarakan pendidikan gratis dan membuat perpustakaan umum, misalnya dan kita tidak bisa melaksanakan semuanya, maka hendaknya janagn lasntas ditinggalkan semuanya.

Adalagi kaidah yang berbunyai, aidza ta’aradla mafsadatani run’iya ahadihima birtikabi akhaffihima; jika ada dua piliha buruk yang harus kita pilih maka kita harus pilih mana yang resiko buruknya paling kecil. Dan masih banyak lagi, termasuk bagaimana kita berhubungan secara pribadi dengan Allah, kita dengan sesame manusia dan hubungan dengan alam raya ini. Yang jelas bahwa kita memerlukan semua itu sebagai bekal kita dalam hidup.

Akhinya, tulisan singkat ini saya maksudkan untuk kita agar lebih cepat, tegas dan tepat dalam memilih. Dan yang lebih penting lagi, dalam setiap pilihan kita harus memiliki dasar yang jelas dan kuat dari agama utamanya agar pilihan itu menjadi bermakna untuk kita perjuangkan. Karena, setiap pilihan yang sudah kita tentukan akan ada dampak yang dari keputusan itu. Dan apa yang kita pilih nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT, tuhan yang maha pengasih dan penyayang.[]

Base camp IPNU – 23 April 2013