Siapakah Gerangan Dirinya?

Keluarga Sibak
Keluarga  Besar Sibak berpose bersama

01#Cerita Rumah Sibak

Malam itu di Rumah Sibak Purworejo ramai oleh berisik anak-anak muda NU. Yah, Rumah kontrakan tempat Bejo, Cak Bon, Alfin, Asrul, Adhi, Cak Luk, Syarif, Amir, dan Cak Qos biasa berbagi rasa itu masih basah usai terguyur hujan lebat. Semilir angin genit menyelimuti pori-pori. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Seperti biasa, tiap tanggal 17 malam 18 mereka selalu rutin mengikuti Mocopat Syafaat yang diasuh oleh budayawan kondang Emha Ainun Najib di Kasihan Bantul Yogyakarta. Kini mereka akan menjalankan kebiasaan baik itu. Mereka masih berkumpul menunggu satu temannya yang masih ada rapat dengan timses salah satu cagub Jateng, Cak Luk namanya. Ia merupakan ketua Garuda Muda, sebuah relawan untuk Cagub Ganjar Pranowo.

“Ngopi ro udud sik lik, ndak edan!” sapa Asrul, yang terkenal kocak dan puitis.

“Yowis, mangkato ning warung ngarep, iki duwite!” sahut Alfin, anak yang paling sepuh di Rumah Sibak.

Akhirnya Asrul berangkat membeli segelas kopi dan gorengan. Kedua hidangan itu memang biasa dinikmati penduduk Rumah Sibak untuk saling berbagi, curhat, gojlok-gojlogan dan saling hina demi kemesraan.

“Iki kopine, ning mung intuke loro tok! Do joinan yo” ungkap asrul sambil mengusap-usap bajunya yang sedikit basah kena hujan.

“biasa wae lik, biasane yo ‘salome’, satu lobang rame-rame”sahut Bejo.

“Hahahaha”seisi rumah tertawa. Mereka antri satu per-satu minum kopi, tapi rebutan mengambil tempe dan tahu goring yang masih hangat itu.

Tak lama kemudian, Cak Luk yang dari tadi ditunggu-tunggu sudah datang. Ia minta maaf kepada penduduk rumah dan segera siap-siap untuk berangkat.

“Nganggo mobil yo bro, wis tak sewakke” tawar lukman.

“Oh yo, iurane piroan” Tanya Adhi sambil lihat-lihat isi dompet

“20 ewu wae bro, koyoe wis cukup ge bensin ro udud plus snack”jawab Cak Luk.

Setelah shalat Isya’, mereka pun berangkat. Mobil Carry penuh diisi 10 anak-anak muda yang tak pernah pulang itu. Sepanjang perjalanan, mereka mendendangkan lagu Iwan Fals walau suaranya ancur semua, kecuali Cak Bon yang menjadi vokalis Mustika Nawa, salah satu band religi Purworejo yang belum begitu terkenal.

Tak mau kalah dengan Cak Bon dan Asrul, Bejo dengan suaranya yang Fals turut menyanyikan beberapa lagu legenda music Indonesia idolanya. Lagu Yang Terlupakan, Ujung Aspal Pondok Gede dan Doa Pengobral Dosa. Mungkin seisi mobil nggak tahan dengar suara Bejo, tapi tak ada yang berani mengingatkan. Selain karena sudah Senior, mungkin bejo dianggap menakutkan. Kalau sedang stress, ia sering uring-uringan dan nggak pake celana. Wajar saja teman-temannya pada memaklumi.

Keluar dari Purworejo seisi mobil dimanjakan dengan jalan halus nan ramah, tidak seperti jalan-jalan di Purworejo yang sinis bak perampok jalanan. Lubangnya yang merata dan dalam-dalam bagai parit dalam perang yang mengancam setiap lawan. Lampu-lampu mulai memayungi kota dari Wates sampai Jogja. Suasana begitu indah namun ada sedikit hal yang berbeda sari biasanya.

Malam itu tiba-tiba berubah mencekam. Ramai dan gegap gempita jalan menuju kota tiba-tiba sirna. Bejo dan kawan-kawan melihat sekelompok polentas di depan berjaga-jaga.

“Bablas aja pak Qos” sela Asrul seenaknya.

“Gundulmu iku, dewe biso mati” jawab pak Qos.

“Ini mungkin terkait dengan kasus penyerangan 11 anggota Kopasus ke Lapas 2 Cebongan Sleman pada tanggal 23 Maret 2013 kemarin ini” tebak Bejo sambil melihat 20 polisi menyetop mobil yang ditumpanginya”

“Selamat malam” sapa salah satu polwan.

“malam bu” jawab mereka serentak. Lalu satu per satu keluar mobil.

“ouw, ini isinya manusia semua” tanyanya.

“ya iyalah bu, masak kambing, hahahaha” jawab Sarif diikuti gelak tawa teman-temannya.

“mau pada kemana ini?” tanyanya lagi

“kita mau maiyahan bersama Cak Nun di Kasihan Bantul, bu” jawab Cak Bon. “Apa ibu mau ikut? Yuk bareng ma kita-kita?”imbuhnya.

“tidak ah, makasih, saya masih banyak urusan” jawan polwan yang sepertinya sudah beranak 2 itu. Akhirnya merekan pun lolos setelah menunjukkan kelengkapan berkendara.

Setelah perjalanan yang disetiri oleh Cak Qos mencapai 2 jam, akhirnya sampai juga di Lokasi. Selama perjalanan, Pak Kos menghisap Djarum 76, dia hanya sesekali nyletuk kalau pas obrolan lucu dan menarik. Mungkin karena tahu akan tanggungjawabnya membawa penumpang.

Mereka pun turun dan memasuki arena. Terlihat sudah ratusan orang mengerumuni budayawan yang ikut terlibat dalam proses reformasi 98 itu. Banyak pedagang yang mencari berkah disana, mulai pedagang buku sampai kopi. Motor-motor pengunjung juga berderet manis bak pasukan TNI yang disiapkan. Cowok dan cewek di arena itu menyatu tanpa tabir dan sekat. Mereka sudah tidak mempersoalkan jenis kelamin, tapi melihat kesamaan sesame manusia yang butuh makanan spiritualitas agama.

Ketika semua akan masuk, tiba-tiba Bejo menarik lengan Asrul.

“Rul, madang sik yuk, ngelih bet iki”tutur berjo dengan muka pucat karena belum makan seharian.

“Yo ayo tak terke mas Jo” jawab Asrul.

Akhirnya mereka berdua makan Soto, sementara yang lain masuk berdesak-desak di arena untuk mencari lokasi yang strategis. Setengah jam kemudian, Bejo dan Asrul menyusul teman-temannya di samping panggung. Maklum, datangnya telat jadi kebagian tempat pinggiran. Biasanya mereka datang awal dan menggambil tempat paling depan.

Senyum yang Menusuk Jantung

Malam itu Cak Nun, panggilan akrab Emha Ainun Najib, membawa Istrinya Novia Kolopaking beserta Grub Band Jazz dari Jogjakarta. Cak Nun membuka dengan pengajian khas nya yang jenaka dan mengundang gelak tawa namun penuh subtansi. Dilanjutkan Mbak Via, istrinya, yang mendukung penuh apa yang telah dilakukan suaminya selama ini.

Ketika Cak Nun berbicara serius semua terdiam bak melihat meteor jatuh dari langit. Dan jika ditengah keseriusannya Cak Nun melempar humor, suasana jati pecah! “Grrrrrrrr” semua tertawa lepas. Itulah gaya Cak Nun dalam berdakwah. Ada nilai rasionalitas, spiritualitas, budaya dan humor yang jenaka. Tak heran jika jamaah maiyah fanatic dengannya. Banyak mereka yang darang dari berbagai kota besar di Indonesia. Tanpa tendensi apa-apa. Bertahan lama, sampai kadang kumandang subuh menyapa.

Setelah penampilan Kyai Kanjeng, Grup Musik yang dipimpinnya, Cak Nun mempersilakan Grub Band Jazz menyampaikan “kuliah umum” tentang Jazz. Isinya menarik, Dosen Musik itu menemukan “sentuhan spiritual” dalam Jazz. Ia mangatakan bahwa orang bermusik itu ada tiga tingkatan.

“Pertama. Orang bermusik adalah untuk menemukan kepuasannya sendiri, seperti adu skill yang ingin menarik simpati orang dan gengsi-gengsian. Sedangkan yang kedua, adalah orang bermusik untuk lingkungannya. Ia bias menyatu bahkan member manfaat untuk sekelilingnya, bahkan masyarakat atau khalayak luas.” Paparnya sambil sesekali memetik gitar listrik yang ada di pelukannya.

“Sedang yang ketiga” lanjutnya, “adalah orang bermusik menemukan harmoni alam yang mengantarkan pada spiritual ilahi. Pada tingkatan ini, setiap nada yang timbul sudah ada orbit-orbit tersendiri yang begitu selaras dengan ciptaan Allah” pungkasnya.

Disela-sela kuliah umum itu, Bejo yang berada di samping panggung menemukan satu pemandangan yang menyita perhatiannya. Sambil menghisap Dji Sam Soe yang terselip di jari-jemarinya, ia terpukau hadirnya sosok.

“Wah, ini dia sosok yang kucari selama ini” gumam Bejo dalam hatinya. Namun karena jarak yang agak jauh, Bejo hanya melempar pandangan tanpa kedip.

Ya, tepat di depan panggung, sesosok wanita cantik berkerudung merah sedang terbuai dengan “kuliah umum” music yang dibawakan Grub Band asal Jogja itu. Bibirnya merah merona. Wajahnya cerah bercahaya, seakan selalu terpancar sinar wudlu. Sorot matanya tajam menggtarkan hati. Malaikat bisa-bisa iri melihat hal ini. Nampaknya, ia tahu Bejo curi-curi pandang dengannya. Ia pun sesekali membalas pandangan Bejo yang Nampak sumringah mukanya.

“Siapakah gerangan dirinya? Apakah santri krapyak atau mahasiswi UIN ?” Tanya Bejo dalam hatinya penasaran. “Bagamana caranya agar aku bias kenal dengan dia?”kata Bejo dalam hati. Jarak dan padatnya jamaah itu memisahkan Bejo dengannya. Akhirnya, mereka berdua hanya curi-curi pandang dengan sesekali melempar senyum. Nampaknya ada benih-benih rasa yang tak biasa diantara mereka, walau baru kali itu mereka saling melihat. Begitu seterusnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi sedangkan acara belum juga usai. Teman-teman Bejo sudah keluar semua dari arena, kecuali Asrul yang masih bersamanya. Beberapa menit kemudian, handphone Bejo berbunyi. Nampaknya Cak SMS.

“Balik yo bro, coz mobile sisuk-isuk meh dinggo” isi SMS Cak Luk mengajak pulang.

“Woke” jawab Bejo sambil mengajak Asrul bergegas keluar.

Sampai diluar arena, Bejo dan Asrul mampir warung untuk membeli teh susu kesukaannya. Ketika beranjak menuju parkiran, Bejo melirik buku dagangan yang menarik. Ia menyempatkan membeli buku yang berjudul “Markesot Bertutur” karya Cak Nun. Selain itu, ia juga menambah buku Biografi Soekarno, Politik Berpayung Fiqh dan Mbah Abdul Wahab Hasbullah sang kyai nasionalis NU.

Usai dapat buah tangan itu, Bejo dan Asrul yang sudah ditunggu teman-temannya di mobil bergegas menuju parkiran. Akhirnya mereka pulang malam itu dengan banyak hal yang telah didapatkan. Sampai di Rumah Sibak, ternyata Bejo galau hatinya. Ia baru sadar telah kehilangan kesempatan untuk berkenalan dengan sosok gadis yang dilihatnya. Sampai kini, ia kadang melamun dan senyum-senyum sendiri mengingat romantisme sesaat itu. Siapakah gerangan dirinya, sang wanita betah melek yang telah mengambil hati Bejo?

Rumah Sibak, 22 Maret 2013 – 09.40 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: