Mengenang Mbah Kakung

KH. Zuhri Syamsuddin
KH. Zuhri Syamsuddin beserta keluarga

Usai Shalat maghrib tiba-tiba aku terkenang Mbah Kakung . Kontan saja menuju computer yang masih menyala untuk kembali ke masa lalu sekaligus menuliskannya. Mungkin tidak semua karena ini sangat dadakan. Namun paling tidak ini menjadi obat kerinduanku sejak beliau meninggalkanku pada tahun 2005 silam. Rasa rindu yang hanya tersimpan dalam kalbu, kini akan sedikit kutuangkan ke bait-bait rindu, karena maustahil kembali ke masa lalu.

Nama lengkapnya adalah KH. Zuhri Syasuddin. Semasa kecil, menurut Simbah Putriku Kasmunah, beliau bernama Khusen. Namun setelah dewasa ia berganti nama menjadi Zuhri. Adapun nama belakangnya adalah nama buyutku atau bapaknya Simbah, Ky Syamsuddin. Ia tinggal di Desa Jangkrikan Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo. Simbah merupakan Mursyid Thariqah Qadiriyyah/Naqsyabandiyyah Kabupaten Wonosobo. Ia meneruskan jejak ayahnya Kyai Samsuddin yang berguru kepada KH. Nawawi Shiddieq Berjan Purworejo.

Selain Mursyid, beliau juga pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqin yang membimbuing santri secara keilmuan, keteladanan dan ilmu bersosialisasi dengan masyarakat. Selain membaca kitab kepada santri-santrinya, ia juga mengarahkan agar santri mandiri, bekerja keras dan ikhlas dengan memberi tugas santri untuk bertani, berdagang dan kerja lainnya. Beliau rajin menanam pohon, terutama pohon pisang dan kelapa. Setelah menanam, ia juga merawatnya. Pisang yang ia tanam, misalnya, tidak dibiarkan hidup begitu saja, namun diberi pukuk dan dirawat daun dan klarasnya.

Aku lupa kapan pertama kali melihat Mbah Kakung. Namun yang pertama kali terkesan adalah ketika aku masih kecil dan ikut-ikutan Puasa Bedug . Waktu itu jika disuruh shalat ibu, kadang aku sedikit meng-acak-acak sarung yang tertata rapi supaya dikira sudah shalat, padahal belum. Aku mesti terburu-buru untuk main bola di lapangan, main layang-layang di sawah, mandi di sungai, main kelereng atau perang-perangan bersama teman-teman. Kare itu, kadang sholat bolong. Pun demikian di bulan ramadhan. Akhirnya aku Tanya Mbah Kakung.

“mbah, kalau orang puasa tapi tidak shalat bagaimana hukumnya?”
“ya percuma kamu puasa, hanya dapat lapar saja, nggak boleh itu, hehe” jawab Simbahku samba senyum dan mencubit pipiku waktu itu.
Sejak saat itu, aku mulai agak tertib shalat, walau setelah kupikir sekarang, waktu itu masih belum baligh karena baru keluar dari taman kanak-kanak.

Simbahku adalah tipe orang pekerja keras. Walau di desa cukup terpandang sebagai seorang kyai, ia tak malu untuk berladang, menanam padi, ubi, pisang. Hal yang paling digemarinya adalah memelihara ikan di Blumbang yang ada di belakang pesantrennya. Ia memelihara ikan Grameh , Melem, Tawes, Mujair dan Nila dan memelihara ayam. Tiap pagi dan sore kedua peliharaanya itu selalu diberi makan langsung oleh beliau.

Selain pekerja keras, ia adalah sosok yang humoris. Aku ingat betul tiap kali aku mau berangkat sekolah, aku makan sambil disuap ibu di teras rumah. Mbah Kakung waktu itu ngaji bersama para santrinya di Masjid Depan Rumahku. Suasananya begitu ger-geran. Ngajinya waktu itu cukup kontekstual dan tidak teks book dan banyak diselipi cerita lucu sehingga para santri ngakak sampai perutnya terkocok-kocok. Meski begitu, ia dihormati sebagai seorang yang memiliki wibawa dan kharisma. Sorot matanya tajam bak pedang yang hendak digunakan perang. Jika bertutur, suaranya jelas dan tegas, menunjukkan pribadinya yang memiliki idealisme dan prinsip yang selalu dipegang teguh.

Mbah kakung memiliki ribuan jamaah thariqah yang kebanyakan tersebar di wilayah wonosobo. Ia dihormati sekaligus dicintai ummatnya. Sewaktu ia pergi ke Makkah untuk menunaikan rukun Islam ke-lima, beliau diantar oleh 24 bus dan dua travel. Pun demikian ketika ia sakit dan dirawat di Rumah Sakit Islam Wonosobo, jamaah silih berganti menjenguk beliau. Truk-truk dan colt buka dengan ratusan jamaah beramai-ramai memadati RSI sampai-sampai para santri dan pelayan di rumah sakit kuwalahan. Cinta jamaah kepadanya membuktikan cinta dan perhatiannya begitu dalam kepada jamaah.

Keteladanan Mbah Kakung
Hal yang paling utama dan perlu aku diteladani darinya adalah dalam hal Riyadhah dan Mujahadah. Dalam kedua bidang ini, beliau amat kuat dan konsisten. Tiap malam sehabis shalat tarawih di bulan ramadhan beliau duduk memutar tasbih sampai saat sahur datang. Hidupnya sederhana dan bersahaja walau kadang tokoh-tokoh besar sowan kepadanya. Ia juga salah satu pengikut setia Syaikh Abdul Qadir Jailani. Manaqiban dan Nariyahan sering beliau gelar. Ketika itu aku bersama adikkulah peserta kecil sendiri dan tidur karena kadang sampai jam 12 malam. Namun selalu hadir dan senang karena biasanya dikhiri dengan makan Ayam yang Ingkung, dan aku selalu dapat jatah kepalanya.

Dalam memuliakan Guru, Mbah Kakung juga full servise dan sangat-sangat ta’dzim. Jika KH Achmad Chalwani bin KH. Nawawi Berjan Purworejo selaku guru thariqahnya pengajian di Jangkrikan, ia selalu menyiapkan Jangan Gurameh, Sprite dan Makanan Mewah lainnya. Aku dulu banyak makan sisa daharan-nya usai jamuan ba’da pengajian. Oh ya, yang lebih mengejutkan lagi, aku pernah melihat pemandangan seperti ini:
Sebelum pengajian, biasanya KH Achmad Chalwani berbincang-bincang terlebih dahulu dengan para kyai lokal di ruang tamu depan. Dengan mataku sendiri, aku melihat badal-badal Mbah Kakung duduk di kursi dengan agak melingkar karena ngrubungi Kyai Chalwani. Ketika Mbah Kakung menemui, ia tidak duduk di kursi, namun duduk di lantai samping pas Kyai Chalwani. Kursinya tidak ia pakai, sebagai bentuk hormat dan takdzim kepada gurunya.

Sebenarnya masih banyak lagi cerita tentang beliau. Namun sepertinya segini dulu aku menulisnya, sudah nggak sabar soalnya ingin melanjutkan membaca Roman SejarahArok-Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.
Base Camp IPNU Purworejo, 26 April 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: