Entah kenapa sore ini tiba-tiba muncul keinginan nge-play lagu-lagu “islami” ala Nasyida Ria, Orkes Melayu dari Semarang yang amat legendaris. Kontan saja, tanganku menuju mouse computer yang masih diam menyala. Kucari folder demi folder dan ketemulah satu folder berisi puluhan lagu pimpinan Hj. Zain itu. Sore itu matahari sudah malau-malu menampakkan wajahnya. Suasana seperti itu membuat lamunanku flash back ke masa lalu, sekitar 15 tahun silam.

Waktu itu aku masih kecil dan baru masuk di Sekolah Dasar. Tiap sore aku dan teman-teman selalu bermain sepak bola di halaman rumah yang kebetulan luas.hujan lebat atau hanya beberapa orang aku tak peduli. Main terus, saking cintanya dengan bola. Usai bermain, biasanya aku di mandiin ibu lalu disuapin makan dan shalat asar. Ba’da asar adalah saat-daat dimana menurut kepercayaan orang jawa kuno disebut sanding kolo, termasuk juga ba’da maghrib dan bedug atau dzuhur. Ketika waktu sanding kolo itu anak-anak dilarang beraktifitas, berbaghaya katanya.

Ba’da asar merupakan waktu santai bagi aku dan keluarga. Ibuku memiliki kebiasaan memutar pita kaset Nasyida Ria tiap sore itu. Ia memang fans berat Nasyida Ria, terutama kepada vokalis sekaligus pemegang serulingnya yang bersuara merdu, Hj. Muthoharoh. Dari volume 1 sampai 8 ibuku punya kasetnya. Ia juga kadang berdendang-dendang sendiri sambil masak di dapur atau menjahit. Kadang-kadang, kalau lagi malasngasih dongeng aku sebelum tidur, ia juga mendendangkannya mengantarkanku terlelap. Hobi menyanyi qasidah, shawawat dan qiraah ibuku sempat mengantarkannya keliling kampong-kampung untuk qiraah. Prestasi tertingginya di bidang tarik suara adalah juara II Qari Se-Kabupaten Wonosobo sekitar tahun 90-an.

Lagu-lagu Nasyida Ria yang di putar itu begitu berkesan bagiku. Bahkan, lagu Perdamaian, Rahasia Tuhan, Asik Santai, Jilbab Putih, Pedagang Kaki Lima, Indonesiaku, Lingkungan Hidup, Anakku, Wartawan Ratu Dunia, Muhammad Mataharinya Dunia, Ya Ramadhan dan masih banyak lagi, yang sampai hari ini masih kuhafal diluar kepala. Hal ini karena saking seringnya dulu ibuku memutar lewat tipe recorder “tens” yang masih menjadi barang mewah di desaku waktu itu. Wajar kalau aku pernah bercita-cita jika menikah kelak akan mengundang Nasyida Ria. Sampai hari ini pun, aku masih nge-fans dengan mereka.

Selain karena aransemen musiknya begitu indah dan memikat hati, semua personilnya mulai dari gitar sampai drum digawangi oleh cewek-cewek cantik berjilbab. Dan yang lebih nendang lagi, lirik-liriknya pun sarat makna, penuh dengan pesan-pesan moral dan keagamaan. Hal ini membuat lagu itu mengalami pergesekan dengan keadaan sehngga selalu hidup dan relevan untuk didengar sampai hari ini. Alunan-alunannya menciptakan harmoni yang enak didengar, member semanagt hidup dan menentramkan jiwa.

Pesan-Pesan Moral Nasyidaria
Banyak sekali pesan moral dan keagamaanya. Jika di rata-rata, hampir 99 persen lagunya memang benuansa dakwah. Kalaupun keluar sedikit mengangkat tema cinta, meski ujung-ujungnya tetap menekankan dogma agama. Lagu Asyik Santai misalnya. Lagu ini mengangkat Irama Melayu itu enak di dengar, boleh sedikit goyang namun jangan cubit-cubitan. Atau lagu Habibi yang menceriteraqkan kerinduan kepada kekasihnya.

Adapun lagu Anakku berpesan agar menjadi orang jangan mudah menyerah dengan kehidupan yang keras ini. Dengan resep cerdas, tangkas dan kreatif Nasyida Ria mengajak generasi muda untuk bangkit dan pantang menyerah. Ada juga lagu Pedagang Kaki Lima yang mengisahkan seorang PKL bisa naik haji dengan modal ulet dan rajin menabung. Yang agak fenomenal, lagu Jilbab Putih memaparkan keanggunan cewek yang berjilbab akan lebih terlihat anggun dengan mengatakan: dibalik jilbabmu ada jiwa yang taqwa, dibalik senyummu tersimpan masa depan cerah.

Ada juga lagu Indonesiaku yang mengksplorasi potensi alam Indonesia baik beragaman, budaya dan lain-lain. Hal ini menunjukkan Nasyida Ria memiliki ruh nasionalisme yang tinggi, tidak seperti pejabat kita yang hobi impor garam, kedelai dan sapi. Ada lagi Lagu Lingkungan Hidup yang berpesan agar menjaga lingkungan dan melarang menebang hutan seenaknya sendiri. Tentang Wartawan juga ada. Lagu berjudul Wartawan Ratu Dunia berpesan agar wartwan harus objektif, berimbang dan konstruktif.

Masih banyak lagi sebenarnya karena semua lagunya penuh dengan pesan moral dan sosilal-keagamaan. Dengan lagu-lagu tersebut membuatku damai dan tenteram. Selakan setelah ini anda mendengarkan sendiri lagunya satu demi satu untuk mengusir penasaran, beromantisme dengan masa lalu atau memang memuaskan nurani dengan alunan indah yang Islami. Kalau belum punya aku masih banyak koleksi dalam folder yang agak lumayan rapi. Akhirnya, bahwa lagu cukup member banyak pengaruh bagi perkembangan orang. Kita adalah apa yang kita dengarkan!

Base camp PC IPNU Purworejo, 26 April 2013