Inilah Rumah Sibak. Rumah tua ini terletak di Jalan Sibak No. 18 Pangenjurutengah Purworejo. Semenjak Senin, 03 Mei 2010 rumah ini ditempati oleh aktivis IPNU Purworejo. Banyak hal telah terjadi di rumah ini. Ia menjadi saksi bisu atas sekelompok pemuda dan pemudi yang gila dan keluar dari mainstream zaman.

Dirumah ini selalu ada suka, duka, tangis dan tawa. Diskusi, tadarrus, pergulatan pemikiran, belajar berbisnis, lobi, mengejek sampai ketegaran menerima cemoohan. Dirumah sederhana bak kapal terdampar inilah kami membangun mimpi-mimpi bersama. Menatap masadepan dengan segenap daya dan upaya.

Dirumah ini selalu ada warna. Klamat-klamat laba-labanya seakan menjadi penghias penguninya yang sederhana. Minum kopi secangkir berlima, makan satu lengser bersama dan tak jijik gonta-ganti baju celana bersama. Bukan kondisi iba. Mereka bahagia dan menikmatinya. Uang dan dunia bagi mereka hanyalah alat, bukan tujuan. Wajar kalau mereka akan selalu merindukan dan akan terkenang sampai kapanpun.

Dirumah ini, kondisi lapar atau kelaparan adalah hal biasa. Penghuninya selaku menikmati detik demi detik kerasnya kehidupan jauh dari keluarga dan orang tua. Lambaian rumah dengan hidangan yang lezat dan kasur yang empuk pun tak dilirik penguin rumah ini. Mereka lebih memilih tidur diatas ubin, makan dengan sambal dan tempe bersama.

Dirumah ini, olah pikir dituntut bekerja. Diskusi, baca buku dan melakukan kegiatan benuansa ilmu salah satunya. Mereka sadar bahwa pikiran adalah hal yang membedakan mereka dengan kerbau. Tanpa ada guru dan murid. Mereka semua menajdi guru sekaligus murid. Menjadi kuda sekaligus penunggangnya.

Dirumah ini, sedikit sekali membahas asmara, trens music terkini, merek baju mahal,handphone atau android terbaru. Itu tidak laku. Disini otak para penghuninya terbiasa membahas hal-hal yang besar. Problem dan wacana sosial, politik, ekonomi, agama adalah bahasannya.

Dirumah ini, sudah tiga tahun nampaknya dihuni mereka. Setiap harinya selalu ramai dikunjungi baik oleh pemuda, mahasiswa, santri, kyai sampai politisi. Entah sampai kapan ini akan berlangsung. Yang jelas, orang yang menjadi penghuninya, tauapun para pengunjung setianya, akan selalu rindu akan rumah ini. Kenangan semasa dirumah hijau nan untik di jantung kota itu akan selalu tersimpan rapi dalam hati.