Perfilman Belum Disapa Pemerintah

Selain pembangunan infrastruktur seperti jalan, sekolah, rumah sakit dan hal-hal yang bersifat fisik, pemerintah juga wajib member perhatian kepada yang non-fisik. Pembinaan nasionalisme, peningkatan mental dan seni-budaya sebagai nation character building juga harus diperhatikan. Untuk yang terakhir ini, pemerintah masih dirasa kurang, bahkan banyak absen. Ini menununjukkan kurang fahanya mereka akan kerangka besar dan tujuan melangkan kemana arah masa depan bangsa ini.

Dalam hal seni dan budaya, pemerintah seakan tak berdaya. Program yang disajikan masih terkesan normatif dan tidak ada gerakan sama sekali. Bahkan menurut budayawan kondang Mohamad Sobary, pemerintah harusnya malu kepada karena satu lembaga yang sedemikian besarnya kalah dengan PT Djarum Kudus yang membiayai berbagai pementasan dimana-mana. Fakta ini membuat rakyat bertanya-tanya, apa yang dilakukan pemerintah selama ini? Apakah menteri terkait tidak meikirkan? Kalau demikian kenyatannya, jangan salahkan kalau rakyat kita selalu terjebak dalam symbol-simbol formalitas yang justeru malah membelenggu.

Diantara seni-budaya yang cukup berperan penting dalam nation character building adalah bidang perfilman. Boro-boro pemerintah membuat film yang bagus, heroik, inpiratif dan mencerdaskan. Bahkan untuk mendorong dan menyeleksi film yang bermutu melalui Lembaga Sensor Film pun masih banyak kecolongan. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga tak punya gigi melawan begitu derasnya sampah-sampah yang masuk di berbagai rumah lewat televisi karena disokong kekuatan kapitalisme.

Oligopoli media itu selain menyeret rakyat menuju kepentingan politik tertentu, semangat untuk menjadikan media sebagai alat untuk meng-edukasi dan mencerdaskan masih sangat rendah. Parahnya lagi, melihat fenomena ini, Negara diam dan tak berkutik seakan kehilangan kreatifitas. Tak ada program dari pemerintah untuk counter cultural yang membumi, inovatif dan mendidik. Adanya diskusi-diskusi tanpa kelanjutan yang memusingkan penonontonnya. Itupun tidak semua mau, karena mereka akan lebih suka mengganti channel TV ke program yang menggauli dengan kenyataan.

Lebih khusus, dalam dunia perfilman, para produser dan sutradara juga seakan tak pernah disapa. Wajar jika hasil-hasil karya mereka cenderung pragmatis dan sesuai selera pasar. Kemampuan mereka hanya membuat film horror dengan bumbu esek-esek yang sangat tidak bermutu. Mereka bramai-ramai membuat itu seakan tak tahu menahu efek apa yang ditimbulkan dari karya yang diklaim juga sebagai seni itu. Kalaupun ada yang mendidik, seperti Nagabonar, Alangkah Lucunya Negeri Ini karya dedi Mizwar, Serdadu Kumbang karya Ari Sihasale dan beberapa lagi bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Dalam hal ini, seharusnya pemerintah bersikap dengan cerdas, bijak dan solutif.

Film Sebagai Media Edukasi Mayarakat
Dengan kondisi dunia perfilman yang sedemikian carut-marutnya, perlu ada penanganan khusus dan serius dari pemerintah. Apa susahnya pemerintah mengalokasikan anggaran untuk membuat film dengan menggandeng sutradara dan produser handal yang sedang iseng membuat film esek-esek itu.  Sebagai bagian dari penopang Negara, seniman dan budayawan memiriki peran yang signifikan oleh karena jiwa mereka jujur, memiliki jiwa art tinggi serta jauh dari kesan formil.

Selain itu, masyarakat Indonesia secara psikologis membutuhkan hiburan yang edukatif ditengah carut-marutnya aparatur Negara yang dijerat berbagai kasus korupsi, perselingkuhan dan carut-marutya dunia pendidikan. Masyarakat butuh menikmati dan menertawakan keadaan dengan cara-cara yang sederhana, mendidik dan menghibur. Jika hal ini tidak diperhatikan, tentunya tak ada kemesraan dalam berdialektika dengan zaman. Jiwa masyarakat akan semakin kering kerontang. Setelah tidak punya apa-apa lagi, minimal mayarakat memiliki hiburan dan rasa kebanggaan terhadap tanah air tercinta.

Jika mau dan serius, pemerintah bisa mendanai pembuatan film-film yang edukatif, inspiratif dan berdampak luas bagi masyarakat. Sejarah kegemilang Majapahit, Singosari, Kesultanan Demak sampai peristiwa heroik 10 November bisa difilmkan dengan persiapan dan sajian yang lebih kolosal dan menarik. Selain itu, mengangkat sejarah tokoh-tokoh Indonesia yang memiliki peran dan kontribusi yang jelas juga akan membangkinkan semangat anak dbangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Kini korea selatan, thailand dan beberapa negara tetangga kita sudah relatif jauh meniggalkan kita. Itu hemat saya bukan karena kualitas aktor, sutradara atau daya kreatifitas orang-orang kita; namun karena tidak adanya perhatian yang serius oleh pemerintah. Faktanya, banyak sekali talent muda kita yang bekerja di Hollywood atau kita bisa melihat kegemilangan potensi mereka dalam Eagle Award yang diselenggarakan Metro TV. Jika potensi muda ini tidak tergarap dan diakomodasi dengan baik, bisa jadi indonesia kedepan sudah kehilangan identitas dirinya.

Mungkin seandainya Walisongo turun ke tanah jawa tahun 2013 ini, beberapa diantara mereka ada yang menjadi sutradara ataupun seniman. Dalam pada itu abad 14 saja Sunan Kalijaga sudah pandai menggubah Wayang Purwa dan memainkan sendiri sebagai dalang. Pun demikian dengan Sunan Bonang yang berdakwah dengan kesenian. Kita bisa melihat sendiri hasilnya sekarang, seantero nusantara banyak yang memeluk islam. Betapa besar pengaruh seni dan budaya dalam merubah struktur, mindset dan tatanan masyarakat. Jika kita tiru dan inovasi upaya para sunan itu di era modern ini, sudah barang tentu akan sangat berdampak dan berpengaruh. Tentu dengan format dan nuansa modern, daripada menonton film yang memuja kekonyolan, meludahi pengetahuan dan menertawakan kebodohan. Bukan begitu?

PC IPNU Purworejo, 03 Mei 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: