Mulai hari ini, aku berjanji akan bekerja keras. Kerja kerasku terbagi dalam tiga poros yang harus seimbang dan bersinergi. Ketiga poros itu adalah belajar, bekerja dan beribadah. Mengapa aku memilih ketiga hal itu, karena menurtku ketiga hal itulah yang terpenting saat ini. Ketiga-ketiganya aku butuhkan dan tentunya akan berguna di masa depan. Jadi, biarlah ketiga poros itu dulu yang aku konsentrasikan saat ini.

Ide dan semangatku sebenarnya baru-baru ini saja aku dapatkan. Tepatnya adalah ketika aku tersadar atau lebih tepatnya disadarkan temanku bahwa sembilan hari lagi, yaitu 21 Mei 2012, usiaku genap 25 tahun. Usia yang telah cukup untuk lebih serius dalam hidup. Oleh karena selama ini aku lebih banyak menyia-nyiakan waktu. Banyak waktu yang terbuang percuma seperti untuk tidur, ubyang-ubyung yang nggak jelas dan main-main.

Di usia 25 tahun, dulu baginda nabi Muhammad SAW sudah berani menikahi juragannya, Siti Khadijah. Pernikahan itu pun tak main-main, karena ditaksir maharnya sekitar 500-an juta rupiah. Wow, sungguh hebat! Sekarang, mana punya aku uang sebanyak itu. Di dompet yang ada uang pas-pasan. Pas untuk makan, beli pulsa dan bensin. Malah, kadang-kadang sama sekali tak ada. Jika itu terjadi, tidur dan tidur kulakukan sebagai pelampiasan.

Jelang 25 tahun ini, aku ingin lebih giat lagi pada ketiga poros diatas. Pertama, adalah belajar. Sampai saat ini, aku masih miskin pengetahuan dan ilmu. Aku selalu terpesona akan orang-orang yang begitu ahli dalam bidang pengetahuan; entah ulama, sejarahwan, antropolog, sosiolog, filsuf, politikus dan masih banyak lagi. Tanganku untuk merengkuh mereka masih banyak hambatan. Paling yang kulakukan adalah menggayuhnya dengan buku, sowan kepada mereka lewat buku, berdiskusi, memahami karakter, pemikiran dan melihat masa lalu.

Aku masih ingin bergulat dalam pemikiran dengan orang-orang cerdas, jenious dan memiliki ilmu yang luas. Aku sangat mencintai pengetahuan yang bila di kalkulasi melebihi cintaku pada seorang wanita. Ilmu membuatku terbuai dan menikmati arti kehidupan yang penuh dengan misteri dan belantara tanda kekuasaan-Nya ini. Dengan menyelam dalam laut keilmuan, aku ingi menemukan intan dan mutiara yang terpendam dibalik kehidupan nyata ini. Aku ingin lebih dari sekadar orang hidup yang normatif begitu-begitu saja. Meski dalam keadaan apapun, aku berpikir bahwa jika aku punya buku, kitab, kertas dan pulpen hidupku akan bahagia.

Kedua, bekerja dengan segiat-giatnya. Adapun yang kulakukan saat ini adalah bisnis di bidang advertising, walau masih belum banyak omzetnya. Kalau dulu aku sering tak sadar menghambur-hamburkan uang untuk rokok dan makan enak, mulai hari ini akan lebih berhati-hati. Aku sudah membuka tabungan di BRI yang harapanku bisa membantu mengumpulkan uang-uangku. Kedepan, aku ingin memiliki percetakan besar yang bisa menghasilkan banyak uang.

Sebenarnya aku juga ingin membuka warung Lotek dengan konsep yang modern; lebih bersih dan variatif. Mengingat penggemar makanan purba ini masih banyak namun belum banyak pedagang yang membukanya. Selain itu, rata-rata penjual lotek juga masih kumuh dan kurang memperhatikan psikologi pembeli. Ada lagi yang ingin kubuka, yaitu toko yang menjual pigura sekaligus gambar tokoh-tokoh nasional maupun internsional. Entah kapan bisa mewujudkan itu.

Ide cari uang banyak ini sebanarnya aku ingini agar lebih mudah dalam berjuang. Aku ingin uang yang kudapatkan sebagai alat dalam berjuang; membuka perpustakaan pribadi yang besar, sekolah gratis, rumah sakit gratis dan berjuang di NU dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tuhan tak melarang aku punya mimpi dan harapan; toh bermimpi juga tidak mbayar.

Ketiga adalah spiritualitas. Ini penting mengingat spiritual merupakan hal yang paling dibutuhkan manusia. Ia adalah makanan untuk roh dalam tubuhku dan semua manusia tentunya. Jika raga makanannya adalah yang enak-enak seperti bakso, sate, tehsusu dan lain sebagainya, maka tidak bagi roh atau jiwa. Makanannya pahit dak tak enak seperti shalat, puasa, berdzikir, membaca al-quran dan lain sebagainya. Tanpa itu, manusia hanya tulang yang dibalut daging. Jiwanya kering-kerontang. Untuk itu, aku juga berkepentingan sebenarnya untuk masuk thariqah (tarekat), mempelajari ilmu-ilmu Ibnu Athaillah as-Sakandari, Imam Ghazali dll.

Mengapa Harus Kerja Keras?
Jawabannya adalah karena hidup ini perjuangan, bukan percintaan. Percintaan adalah bagian dari perjuangan itu. Barangsiapa leha-leha dan tak mau di gembleng, tentunya ia akan digilas zaman. Sebab di zaman ini orang sudah mengalami banyak perubahan terutama kea rang yang negative dan degradatif. Dengan kerja keras, aku ingin minimal di dalam hati memiliki lentera yang menuntun kehidupan ini menuju kehadirat ilahi dengan prestasi yang membanggakan; tidak pulang dengan tangan kosong. Ingin aku persembahkan intan dan berlian kehidupan menuju keabadian.

Kerja keras juga dilakukan oleh mereka-mereka orang yang dianggap tokoh. Mereka-mereka itu sebagian besar masih diingat dan menginspirasi banyak orang karena karya dan jasanya tentunya. Masalah dikenang atau tidak, disini tidak penting. Yang penting adalah apa yang kita lakukan bermanfaat untuk orang lain. Adapun orang mengingatnya, itu bagian dari penghias yang melengkapi adanya yang dihias. Melihat hidup mereka-mereka itu, rasanya begitu indah walau kelihatan susah. Hidup yang tidak normatif dan monoton.

Selain itu, Allah juga telah menyuruh kita untuk berjuang di jalannya. Itu merupakan keharusan yang mesti aku laksanakan. Hanya dengan beribdah dan perjuangan hidup ini memiliki value yang bisa dipersembahkan. Jika hidup hanya makan, tidur dan bersenggama monyet-pun bisa melakukan itu. Oleh karena itu, menjadi khalifah di muka bumi memang berat dan butuh kerja keras. Tak akan ada kopi yang enak jika tidak digilas dengan keras sehingga menjadi lebut. Tak ada roti yang enak tanpa digiling dengan halus; pun tak ada atap yang kokoh tanpa paku besar yang dipalu denga kuat. Semoga kita semua bisa diberi kekuatan untuk berjuan dalam kehidupan yang menantang ini. Amin.

[Base Camp PC IPNU Purworejo, 14 Mei 2013-Pkl.22.42]