Ini cerita tentang adikku yang nomor empat, Anam panggilannya.  Nama lengkapnya adalah Muhammad Chotibul Anam. Kulitnya sawo matang, matanya tajam dengan muka oval. Ia suka sekali dengan sepakbola dan moto GP. Layaknya anak kecil di desaku, Anam juga sering bermain-main menikmati indahnya masa kecil. Memancing di sungai, menerbangkan layangan, main kelereng dan mandi di sungai.

Sabtu, 25 Mei 2013 kemarin aku pulang bersepeda motor bersama dua temanku, Rizal dan Imam. Kami pulang kerumah masing-masing dengan maksud untuk memilih Gubernur Jawa Tengah 2013-2018. Pilkada Jateng kali ini diikuti oleh tiga pasang calon yaitu Hadi Prabowo-Don Murdono, Bibit Waluyo-Sudiono Sastroatmojo dan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko. Belakangan, menurut berbagai survey seperti Indo Barometer, LSI dan lainnya menempatkan Ganjar-Heru sebagai pemenang, pasangan yang sempat memesan berbagai atribut kampanye kepadaku untuk kampanye di Kutoarjo.

Kami memilih Jalan lewat Kemiri dan Bruno untuk mencapai rumah. Sementara perjalanan baru mendapat 2 km dari base camp, hujan menembaki kami di Lugosobo. Kami ngiyup sejenak di kontrakan anak-anak PMII STAINU yang kebetulan dekat. Dengan iringan lagu Iwan Fals dan gemercik suara hujan, kami membaca-baca buku yang berserakan di kontrakan itu. Setelah aku membaca Huwal Habib lebih dari 30 kali dalam hati, akhirnya hujan reda juga. Perjalanan pun berlanjut.

Rintik-rintik hujan masih membayang-bayangi perjalanan kami. Langit tampak murung dengan kumpalan mendung dan kabut yang menggumpal. Hutan-hutan Bruno yang tampak masih perawan mengirringi perjalanan kami. Jalan-jalan terjal penuh dengan lubang sedikit membuat perut mual. Sementara kami masih bersemangat untuk bagaimana sampai dirumah dengan selamat.

Sampai di Pasar Bruno, kami rehat sejenak. Aku menggayuh ATM untuk mencairkan uang sebagai penebus teh susu dan beberapa makanan angkringan. Walau sederhana, lumayan untuk menghangatkan badan dari terpaan hujan. Setelah cukup, kami pulang ke rumah masing-masing. Aku tak lupa membelikan martabak untuk keluarga, sebagai buah tanganku yang sudah lama sekali tak menyapa rumah.

Kulihat didepan ruang keluarga semua sudah tertidur, kecuali adikku nomor tiga, Ulin. Kubangunkan Ibuku dan menyodorkan martabak. Ulin, Ibu dan Ayahku bangun. Sementara yang lain sudah terlalu lelap dan tak bisa dibangunkan. Kulihat, mereka menikmati martabak yang kubawa sampai habis. Aku merasa senang membawa oleh-oleh hasil dari jerih payahku selama ini. Dingin malam dan pembaca berita TV One pun menemaniku menutup hari menuju alam mimpi.

Jalan – Jalan Menghibur Hati

Pagi-pagi sekali Bedug Subuh menggema. Keluargaku menuju masjid untuk memburu pahala 27 derajat shalat jamaah. Sementara aku dirumah saja, masih terlalu capek. Usai shalat, Ibuku menyalakan TV dan memilih cannel TVRI untuk mengikuti kajian Shahih Bukhori KH Fathuddin sekaligus Indosiar yang memberi siaran KH Nasarudin Umar, Mantan Dirjen Bimas Islam yang kini menjabat sebagai wakil menteri Agama Republik Indonesia. Ibu menyukainya, hampir setiap hari tak pernah absen mengikutinya.

Jam 06.00 pagi, aku kedapur menyiapkan sarapan pagi bersama adik keduaku, Kuni Farichatul Kamila yang biasa dipanggil Mila. Di memang rajin membantu pekerjaan Ibu. Selain rajin, prestasinya di Sekolah juga prestisius. Setelah air masak, aku membuat kopi 2 gelas. Satu untuk aku dan yang lainnya untuk Ibu. Bapak sudah dibikinkan oleh Mila. Kusuruh Mila membeli telur ayam dan mie instan dan kami memasaknya. Pagi itu terasa indah dan aku menikmati indahnya kebersamaan dan kehangatan bersama keluarga.

Kemudian aku main di tempat Bulikku dan memberi nasehat kepada keponakanku yang baru saja menyelesaikan SMA, Ella namanya. Intinya, jadi cewek yang tengah memasuki masa remaja jangan terbuai oleh cowok. Belajar dulu lebih baik untuk meraih mimpi dan asa setinggi-tingginya. Ia nampak menggut-manggut menyerap wejanganku. Aku memberi banyak harapan dan mental lebih kepadanya, karena dia secara intelegensia cerdas; selalu rangking satu di kelasnya. Kemudian aku mengajaknya mencoblos cawagub di TPS yang bertempat di SDN Jangkrikan. Sebagai apresiasi atas prestasinya, aku membelikannya beberapa makanan ringan dan susu.

Jam 09.30 aku mengajak dua adikku, Mila dan Anam pergi ke Kepil, kecamatan yang menaungi desaku. Tujuan kesana adalah untuk membelikan memori HP adikku nomor satu, Ulin, yang sudah ingin sekali dibelikan memori. Sebagai penyemangat, aku membelikan Bakso dan Es Susu disana, makanan yang masih lumayan “wah” bagi adik-adikku yang tinggal di desa. Ditengah perjalanan, Anam malah bercerita tentang sepatunya yang sudah usang. Ia ingin dibelikan yang baru. Akupun tanpa berpikir panjang meluncur ke ATM untuk menambahi amunisi. Anam ingin ia membeli di Pasar Jetis, pusat ekonomi yang berada di perbatasan Wonosobo dan Purworejo. Kami pun pulang dulu kerumah. Aku ingin mengajak adik bungsuku, Lulu’ yang menemaniku berbelanja dengan Ulin dan Juga Anam. Sayang, Ulin sedang keluar, akupun hanya mengajak Anam dan Lulu’.

Anam dan Lulu’ tampak senang aku ajak jalan-jalan. Dijalan, anam juga cerita kalau dirinya tidak punya raket sendiri, sementara teman-temannya yang lain sudah punya. Namun ia enggan meminta kepada Ibu dan Bapak. Aku jadi berpikir, bahwa anak ini memahami keadaan keluarga. Aku jadi bangga sekaligus empati kepadanya. Setelah sampai di depan yang dimaksud, kami bertiga masuk untuk membeli Sepatu baru yang Anam impikan.

Pilihan Anam akhirnya terjatuh pada ATT No 35 dengan harga Rp. 46.000,-. Usai memilih, pandangannya tertuju pada beberapa raket yang ada bersama alat-alat olah raga. Kulihat harganya, dan tertera Rp. 12.000,-, harga yang masih aman untuk sakuku. Kulihat Lulu’, adik bungsuku, yang melihat-lihat sulak rambut dengan bunga-bunga khas cewek. Kuambilkan pilihannya yang berwarna pink. Ia juga melihat serius kalung imitasi seharga Rp. 3000,-. Tanpa piker panjang, aku mencomotnya.

Sepulang belanja, aku ampirkan mereka berdua di warung mie ayam. Aku memesan tiga bungkus untuk dimakan dirumah. Kami pulang dengan iringan hamparan sawah dan hutan. Kubuka mie ayam itu kedalam piring dan mereka memakannya dengan  gaya kekanak-kanakan. Mereka tampak senang menikmati makanan favoritnya itu. Bosen dirumah, aku ketempat Bulikku lagi untuk ngobrol-ngobrol seputar keluarga dan kehidupan.

Ditempat Bulikku, aku banyak mendapat informasi tentang Adik-adikku. Bulikku mengomentari rajin-nya Mila dalam mengurus pekerjaan rumah dan gaya hidup Ulin yang suka bermain-main, terutama dengan teknologi. Aku menanggapi positif kedua adik cewek yang menginjak masa remaja itu. Semua itu proses; pendidikan, lingkungan, alam dan zaman akan mendidiknya kelak. Sampai juga ia becerita tentang Anam, adikku yang gila bola itu.

Ia berkata bahwa anam memiliki daya kepemimpinan bersama teman-temannya. Ia menjadi solver ketika ada perselisihan diantara teman-teman sebayanya. Anam, menurut Bulikku, tegar hidupnya dalam umur yang masih belia itu. Jika teman-temannya punya kaos bola atau superhero semisal spiderman,  sedangkan ia tak punya, tak masalah baginya. Ia tak neko-neko dengan menuntut banyak kepada ibu dan bapakku. Aku jadi miris mendengar cerita ini, namun sekali lagi, juga bangga. Ia bisa merakyat dan menjalani hidup apa adanya sesuai keadaan.

Tak berapa lama kemudian, Anam datang dengan teman-temannya. Melihat mereka linglung ingin bermain, kubelikan bola plastic seharga Rp. 35.000,-. Barang itu cukup membuat mereka bangga dan bisa menikmati kekanak-kanakannya dengan bahagia. Aku juga menyuruh Anam menghing berapa jumlah teman-teman yang bersamanya. Ia menjawab 10 anak. Kubelikan Roti coklat berlapis sebanyak sepuluh. Anam keluar membagi-bagikannya. Tak lama berselang, ia kembali lagi. Ia bilang bahwa rotinya kurang satu, dan itu adalah dirinya sendiri. Kuberikan uang seharga dua roti. Ia berkata dengan jujur dan lugunya bahwa uang itu kelebihan. Aku tersenyum sambil berkata, lebihnya untuk bonus kamu. Ia girang dan lari keluar membeli roti. Anak sekecil itu, pikirku, sudah adil dalam pikiran dan tindakannya. Di bangku kelas 4 SD, ia sudah mengamalkan pelajaran PKN bahwa hidup itu harus mementingkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Anam membagi habis 10 roti itu kepada teman-temannya. Ia rela tidak kebagian dulu. Suatu bentuk tanggungjawab, amanat dan kebijaksanaan yang hari ini mulai langka.

Lewat tulisan ini aku bersimpati dan mengapresiasinya. Tak hanya Anam, namun juga adik-adikku dan umumnya generasi muda Indonesia untuk selalu giat, rajin, adil dan bijaksana. Aku berharap mereka tumbuh dan berkembang dididik oleh guru, zaman dan keadaan sehingga mereka bermanfaat untuk agama, bangsa dan negeri. Aku berharap adik-adikku, keluargaku dan generasi muda hari ini bisa lebih baik dan bahkan bisa melampaui apa yang aku lakukan hari ini. Aku berharap mereka menjadi pemimpin, inspirator dan teladan di dunianya masing-masing. Amin ya rabbal ‘alamin.

Base camp PC IPNU Kabupaten Purworejo, 27-28 Mei 2013.