Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.
Abad modern ini manusia serba keblinger. Mereka sudah tidak tahu atau tidak mau tahu mana upah mana sampah, mana roti mana tahi, mana untung mana rugi, mana primer mana sekunder, mana yang penting mana yang tidak penting, mana yang baik mana yang buruk, mana yang bermanfaat mana yang tidak, mana yang menguntungkan mana yang merugikan dan mana yang benar mana yang salah.

Di zaman yang tuhan manusia adalah teknologi seperti laptop, android, gadget, ponsel, food dan fashion yang serba hedonis ini, mereka cenderung memikirkan kesenangan dan kepuasan sesaat. Mereka begitu mudah terpengaruh iklan-iklan di televise atau berbagai baliho yang sebenarnya menjajah otak dan gengsi mereka. Di zaman ini, orang baik dianggap gila, orang jujur dianggap ngawur dan orang berakhlak dianggap tidak gaul, sangat-sangat fisikly penilaiannya.

Ketika beberapa waktu lalu perusahaan teknologi terkenal, Apple, meluncurkan produk terbarunya, ribuan orang berjuber antri hanya untuk mendapatkan produk terbarunya yang dianggap gaul, memiliki gengsi dan mewakili kelas elite. Ketika konser Justine Bieber digelar di Jakarta, ribuan orang berdesakan mengantre membeli tiket konser yang harganya 1-2 jutaan itu.

Ketika Sinetron menyajikan atau tepatnya mempopulerkan Artis Shahrini, melejitkan sinetron Tukang Bubur Naik Haji atau Gosip terbaru Eyang Subur dengan entah siapa aku tidak tahu, orang-orang begitu mudah tercuci otaknya. Mereka menjadikannya buah bibir dan saya kira mereka juga tidak tahu apa manfaatnya membahas itu. Yang mereka lihat, dengar dan lakukan adalah apa yang dianggap baik menurut iklan dan trend yang entah baik atau buruk tidak penting. Entah bermanfaat untuk pribadi penonton, pelaku, penggemar atau pengonrol itu atau tidak.

Aku tidak tahu apakah mereka memiliki landasan, prinsip dan cita-cita dalam menjalani hidup ini atau tidak. Aku tak tahu mengapa semua ini, dimataku menjadi terbolak-balik atau kadang mereka terlihat seperti badut-badut yang tak penting kehadirannya. Kenapa mereka begitu percaya kepada figure-figur yang tak pasti hasi fiksi manusia dan teknologi. Mengapa mereka lebih kenal, suka dan menggilai dengan Spiderman, Superman, Harry Potter, Tom Cruise, Angelina Jolie, Bruno Mars, Justine Bieber dan msih banyak lagi disbanding dengan para pahlawan-pahlawan yang ada di muka bumi ini.

Entah mereka tahu heroisme Khalid bin Walid dalam memimpin pertempuran dalam Islam atau tidak. Entah mereka tahu Imam Syafii menghafal 10000 hadits dalam perjalanan dari makkah atau tidak. Entah mereka tahu kebapakan Napoleon Bonaparte, Abraham Lincoln, Bung Karno, Bung Tomo atau tidak. Mereka terlarut dalam figure yang tak pasti. Kegilaan yang menjadi tanpa banyak arti.

Bagiku, hidup itu sebenarnya wajar-wajar dan memiliki prinsip. Hidup untuk beribadan dan bermanfaat untuk orang sesama. Menurut Bang Iwan Fals dalam lirik lagunya, Hio, hidup itu seyogyanya mengikuti kata hati nurani. Tak perlu berlebihan dan kontras dengan kenyataan. Namun yang terjadi hari ini sebaliknya. Ditengah para koruptor yang sibuk mentransfer uang ke rekening wanita-wanita simpanannya puluhan juta, para pengemis dan penghuni bawah jembatan meronta-ronta. Menggesa asa namun tak terungkap dalam kata. Ditengah kehidupan glamour itu, jutaan orang seharian memukul batu di pinggir kali, untuk sesuap nasi anak dan istri dirumah.

Mungkin kamu bilang aku terlalu muluk-muluk dalam meyikapi ini semua. Namun yang jelas, kawan, aku tak bisa melihat temanku menderita. Aku tak bisa melihat orang-orang tua siang malam bekerja dengan upah dibawah celana. Aku tak bisa melihat ibu-ibu menangis karena tidak dapat membelikan buku anaknya atau biasa melanjutkan sekolahnya. Aku tak bisa melihat anak-anak cerdas Indonesia harus patah asa karena persoalan biaya. Aku tak bisa kenyang sendiri. Aku tak mau kaya sendiri. Aku tak mau melihat duka nestapa didepan mata tanpa aku berada si sampingnya menyangga.

Saling Menguntungkan Kita dan Semua
Lihatlatlah film yang tidak hanya menguntungkan industry film, tapi juga menguntungkan dirimu, kawan. Bersikaplah wajar dalam hidup ini, selagi masih banyak orang menderita yang belum kita perjuangkan dan sapa di sekeliling kita. Filter apa yang masuk ke otakmu melalui mata, telinga atau membaca. Sikapi dengan arif dan bijaksana. Belajarlah kepada sejarah, tokoh-tokoh besar Indonesia dan dunia yang begitu tangguh dan tak pernah mengeluh apalagi lebai seluruh. Selesaikan urusanmu dengan perenungan, share dengan teman dan jangan terlalu banyak mengeluh. Kamu harus menjadi orang yang kuat, jangan cengeng. Malu dengan para pahlawan yang membebaskan bumi nusanara ini dengan berdarah-darah.

Mari belajar agama kepada kyai atau ulama baik di pesantren maupun kampong-kampung untuk mengisi kealpaan keteladanan moral, spiritual dan prinsip-prinsip hidup. Mari kita belajar kepada pemimpin-peminpin besar, tokoh-tokoh besar yang sampai detik ini masih berpengaruh dan dikenang zaman. Mari kita belajar pada ala, kehidupan dan keadaan di sekeliling kita. Semua yang terhampar di muka bumi ini menjadi pelajaran yang amat berharga. Mari kita belajar kepada teman, orang tua baik itu pedagang, maling, mucikari, agamawan, intelektual maupun kuli bangunan.

Terakhir, kita jangan lupa akan nasal-usul kita, budaya kita, identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Kita harus ikut berperan serta dalam pembangunan nasional, semampu kita, dari apa yang kita bisa sekecil apapun. Jika bisa rubahlah keadaan masyarakat menuju yang lebih baik dan sejahtera. Atau jika itu dirasa terlalu berat lakukan dengan apa yang kita mampu sesuai bidang kita. Memungut duri di jalan pun akan lebih bermakna daripada kita hanya berpangku tangan. Semua itu akan tersistem, terinternalisasi jika kita masih mau belajar dan cinta akan ilmu pengetahuan. Tanpa itu semua, kita tidak tahu mana upah mana sampah; hanya menjadi konsumen-konsumen, follower-follower yang taklid buta tanpa tahu arah muka. Jika itu yang terjadi, maka layak punahlah kita dan secara alami akan digilas zaman, seperti di muka tulisan.

Base camp PC IPNU Purworejo, 31 Mei 2013 – Jelang 18-an, diskusi rutin malam tanggal 1 tiap bulan.