Di lautnya malam ini saja

Ku tanam gelisah ini dalam dalam, di pasir pantai sedalam liang kubur, lalu kubawa lari dengan gerak pasti menjauh darinya
Boleh kita kenang dengan bacaan tahlil, bait bait doa dan menabur kembang diatas pusaranya
Sedangkan luka yang mereka tiupkan dengan mantra masih basah, melantakkan asa.
Dan lukisan indah yang kita buat dari 8 kanfas, menumpuk,,,mereka lempar di atas unggun perapian.

Akan kita putuskan rantai-rantai yang mengekang erat erat di sekujur tubuh dengan dzikir di heningnya malam, dengan keringat, tekad dan semangat, juga duri duri kata yang pernah mereka tawarkan
Bertebaran, berserakan di halaman rumah sepi kita, dan mereka hanya menjanjikan sepasang bahagia

Aku baca sepucuk surat cinta, dari kerling mata mereka yang tajam dialamatkan pada nasib kita, kubaca sekali lagi dengan senyum manis, walau hatiku teriris, kenapa mereka memintanya dengan sangat romantis…??

Doa, darah, air mata hujan, menjelma menjadi laut.
Maka akulah ombak yang paling debur malam ini.

Aku dengar karang berdoa:”tuhan jadikanlah aku di “lautnya, malam ini saja”

teruntuk saudara rumah sibak)
Asrul Hadi, Cilacap 2013.

Puisi ini di buat oleh Rekan Asrul Hadi, kader PAC IPNU Kecamatan Kaligesing, sesaat setelah kalahnya Rekan Ahmad Naufa dalam perhitungan suara bakal calon ketua PW IPNU Jateng Tahun 2013. Selepas pemilihan, Asrul dan rombongan pergi dari Diklat Praja yang kala itu menjadi tempat Konferwil ke Teluk Penyu untuk refleksi dan menikmati suasana alam objek wisata di Cilacap itu.