Pernahkah kamu ditanya atau berpikir apa yang kamu cari dalam hidup ini? Mungkin ada yang pernah atau ada juga yang belum. Terlepas dari jawaban apa yang akan kamu berikan, aku tak sabar untuk segera menuduh bahwa mayoritas orang yang hidup di muka bumi ini adalah mencari kebahagiaan. Walau mungkin, kebahagiaan yang dipersepsikan orang-orang itu berbeda-beda. Sehingga, jalan yang mereka tempuh pun berbeda pula.

Bahagia adalah perasaan senang, nyaman, indah yang berelaborasi baik secara lahir maupun batin. Dalam pengamatanku selama ini, semua orang mencari keadaan itu dengan berbagai cara. Idealitas bahagia dan cara mendapatkannya dengan baik, menurut dogma dan tradisi, atau dengan cara buruk. Dan ada juga yang sebaliknya, yaitu buruk dan cenderung melanggar dogma dan tradisi. Semua itu berdialektika dan mengalami pergesekan seiring dengan perubahan zaman.

Ada yang menurut sebagian orang bahwa bahagia itu adalah kaya raya dan memiliki banyak uang, sehingga mereka siang malam kerja keras dan melulu berpikir bagaimana mendapatkan uang. Ada yang melakukan dengan cara yang halal, ada juga yang haram seperti berjudi, jual beli narkoba bahkan trafficking. Lebih dari itu, mereka juga rela menggadaikan kehormatan sekadar untuk menjadi pejabat atau abdi negara-agar memiliki gaji tetap-dengan memberi sogokan sebagai pelicin. Tak tanggung-tanggung, banyak yang untuk melakukan itu sawah, lading dan sertifikat tanah melayang. Ini sudah menjadi rahasia umum.

Selanjutnya adalah mereka yang menganggap kemewahan dan gengsi adalah sumber kebahagiaan, materialistic-hedonistik. Bagi orang-orang kaya yang memiliki gaya hidup tinggi, sekadar untuk pakaian mereka bisa ganti dan beli setiap hari. Tak cukup hanya di pasar, mereka punya designer-designer sendiri yang harganya bisa mencapai puluhan juta. Tak hanya pakaian, tempat nongkrongnya pun tak mau di perempatan. Mereka akan memilih café, diskotek atau hotel mewah untuk sekadar menunjukkan kelas. Ini semua menjadi lambang gengsi yang mahal, walau mungkin tetangganya kelaparan, mereka tidak mau tahu.

Ada lagi, yaitu mereka yang meyakini kebahagiaan dating atas adanya keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran. Untuk itu, mereka selalku berjuang untuk cita-cita mulia tersebut. Untuk yang ketiga ini, sudah memiliki dimensi yang lebih luas; tidak hanya memikirkan sendiri. Mereka mencari arti berbagi, mengabdi dan menyerahkan sebagian hidupnya untuk orang lain. Biasanya, orang-orang seperti ini tergabung dalam suatu organisasi atau perkumpulan.

Terakhir (versi tulisan ini) adalah mereka yang pandangan hidupnya bertumpu pada agama. Mereka sadar bahwa hidup ini tidak akan lama. Semua akan musnah. Untuk itu, orang-orang dalam kategoro ini mmiliki hubungan dengan tuhan (hablum-minallah) dan dengan sesame manusia (hablum minan-nas). Selain mereka menegakkan agama untuk kesejagteraan, keadilan, akhlak dan kemakmuran ummat, mereka juga senantiasa menekankan satu prinsip yaitu aspek spiritual. Mengapa ini menjadi penting? Karena pada dasarnya manusia terdiri dari jiwa dan raga.

Untuk raga semua orang sudah makan setiap harinya berikut dengan gizinya. Namun, belum banyak yang memberi makan jiwanya. Jika jiwa tidak diperhatikan, maka akan kering kerontang bagai daun jati di musim kemarau. Salah satu solusinya adalah dengan masuk di tarekat, jalan mengenal tuhan dan metodologi bagaimana menikmati agama.
[Sekretariat PC IPNU Purworejo, 02 Juni 2013]