Oleh: Ahmad Naufa Kh. F.
Kita semua pasti sudah tau angkringan, bukan? Atau barangkali kamu pernah dan sering makan disana. Yap, warung kaki lima khas kota klaten ini ada semenjak tahun50-an, namun mulai popular di berbagai kota pasca reformasi. Bahkan, angkringan dalam suatu kota kini bisa mencapai puluhan. Itu tentunya tak terlepas dari diterimanya Angkringan oleh masyarakat kelas bawah yang memang relative mencari murah dalam berbelanja. Angkringan salah satu sekian dari pilihan yang murah itu.

Di angkringan, biasanya dimana saja memiliki konsep yang sama. Penjual menyajikan Nasi Tumper atau Nasi Kucing, gorengan, aneka minuman, mie instant dan rokok tentunya. Salah satu menu yang unik di warung derek ini adalah Nasi Kucing. Mengapa disebut nasi kucing? Menurut beberapa angkringanisti sih karena bentuk ukurannya yang kecil, mirip dengan makanan kucing. Wah, kontras sekali, ya? Manusia kok disamakan dengan kucing. Namun, begitulah yang terjadi di dimasyarakat, kadang memang dibikin unik supaya menarik banyak perhatian. Oh iya, salah satu andalan menu lagi di angkringan yaitu Jahe Susu. Semenjak ada angkringan, minuman penghangat badan itu mulai terkenal dan menjadi komoditas yang menguntungkan. Sebelumnya, jahe susu sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia, namun demikian biasanya masih sendiri dan kurang familier.

Jika dilihat dari para pelanggannya, angkrikan merupakan warung makan kelas menengah kebawah atau dalam term Iwan Falas adalah Orang Pinggiran. Meski begitu, banyak juga kalangan elite yang menikmati eksotisme angkringan dengan segala suasananya yang jujur. Jadi, sebenarnya tak perlu membedakan kelas social dalam hal ini, toh apapun yang dimakan toh pastinya berakhir di tempat pembuangan tinja juga. Siapapun, tentunya berhak membeli dan nongkrong di Angkrikan, entah pejabat, konglomerat ataupun aristokrat.

Di kota budaya Jogjakarta, Angkringan menempati tempat yang tinggi di hati masyarakatnya. Di kota Gudeg ini, Angkringan kebanyakan dikunjungi para mahasiswa yang sedang mencari ilmu. Di berbagai tempat, banyak sekali tumbuh Angkringan disini. Khusus di Alun-alun kidul atau lor Yogyakarta, sampai bundaran UGM, angkringan menjelma bak Hollywodnya para manusia malam. Dengan Kopi Joznya, yaitu kopi yang disajikan bersama arang, para bembeli bisa berderet lesehan sampai ratusan meter. Belum lagi lampu-lampu kuno ala kerajaan Mataram serta iringan music jalanan semakin menyulut romantisme kota ini.

Adapun kalau di kota Purworejo Jawa Tengah, ada beberapa titik angkringan yang menjadi faforit saya bersama teman-teman. Pertama adalah Angkringan di Plaza depan toko Besi Dwi Tunggal serta timurnya. Selain Mie Rebusnya nendang, nasi tumber dan tape ketannya juga nempel dihati. Di dekatnya lagi enak juga menunya, tepatnya di dekat mangkal bus jurusan Purworejo-Wonosobo atau Magelang. Angkringan lain yang sering saya dan teman-teman datangi adalah Angkringan depan Polres Purworejo persis. Lebih-lebih, penjualnya NU Gel, sampai-sampai sepeda motornya ada stikernya NU. Ia pernah mengatakan, stikernya di temple di motornya semata-mata bangga jadi warga NU. Sungguh membuatku salut.

Nilai Kesederhanaan dari Angkringan
Selain relative murah, Angkringan merupakan potret kesederhanaan yang ada di Nusantara ini. Sikap kesederhanaan dalam hidup terciri dari berbagai aspek diantaranya; pakaian, tempat tinggal dan makanan. Kesederhanaan dibutuhkan anak bangsa agar tidak congkak dan sombong dalam menjalani proses kehidupan yang keras ini.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW selaku panutan kita dulu hidupnya amat sangat sederhana, meski beliau tergolong kaya dan mampu. Pun demikian dengan ulama-ulama utamanya para sufi yang begitu sederhana dan bersahaja. Kalau itu terlalu jauh, saya dekatkan dengan sosok presiden ke-4 Republik Indonesia yaitu KH Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur. Walau beliau sudah menjadi presiden dan orang nomor satu di Indonesia, di Istana Negara beliau makan muluk (pakai tangan, tidak memakai sendok) serta lesehan di atas lantai. Sungguh sikap yang patut kita teladani. Adalagi, tokoh nyentrik yang sudah meninggal beberapa waktu lalu yaitu Mbah Surip. Yah, musisi reggae ini walau sudah terkenal dan menghasilkan uang ratusan juta tetap bergaya sederhana ala kadarnya.

Dalam Islam dan lebih khusus lagi dalam ilmu tasauf, mengajarkan kita untuk hidup sederhana. Kita tidak boleh silau oleh dunia. Kalau Kyai Imron Jamil sewaktu ngaji al-Hikam menganalogikan bahwa dunia itu ibarat WC. Kita boleh memakainya, tapi jangan sampai cinta kepadanya. Hidup ini seharusnya, masih menurut kyai Imron, ibarat tukang parkir. Semua kendaraan yang dititipkan kepadanya dijaga secara baik dan penuh tanggungjawab; entah ia dititipi motor tua atau Honda Jazz terbaru, ketika si pemilik mengambil tidak pernah ndongkol dan sedih. Begitu juga dalam hidup ini, harta, jiwa dan semua yang kita miliki adalah milik Allah yang semuanya tentu akan kembali padanya.

Akhirnya, saya hanya ingin mengatakan bukan soal Angkringannya, tetapi nilai-nilai kesederhanaan yang ada padanya. Tentu, nilai sederhana itu tidak hanya ada di warung angkringan. Bisa termanifestasi pada perilaku seseorang, konstruksi bangunan, pakaian atau apapun yang hal itu mewajarkan kita semua hidup di negeri yang heterogen dan masih didominasi oleh rakyat kecil dan tertindas. Mereka ada di jalan, trotoar, terminal, tempat prostitusi, bawah jembatan, pabrik-pabrik dan masih banyak lagi.

Namun itu semua masih penilaian secara fisikly. Adalah kesederhanaan dan kesahajaan hati. Dalam konteks ini, orang pinggiran tersebut malah bisa terbalik. Bisa jadi mereka yang ada di gedung-gedung mewah, hotel berbintang, istana Negara atau orang-orang yang hidup glamour berlinang kemewahan malah miskin hatinya dan haus akan spiritual batin. Hati mereka kering karena tidak pernah ada sentuhan ilahi dalam hati yang menari-nari. Orang –orang yang ada di pabrik, trotoar dan bawah jembatan tadi bisa kaya dan bersahaja. Walau hidup dalam keadaan serba kekurangan, namun mereka bisa tertawa, banyak cinta dan merdeka.

Tentu kita pernah merasakan betapa bahagianya di dekat wanita atau priya yang kita cintai. Tak peduli sekitar ada hujan, topan, badai ataupun jarak yang membantang hatI tetap tertaut dan penuh dengan ketenteraman. Bayangkan betapa bahagianya menjadi kekasih dzat yang maha cinta, tentu takkan ada derita, ketakutan dan kesedihan. Itu semua dibutuhkan pemahaman dan pengamalan agama untuk merasakan. Dari angkrikan, kita merefleksikan arti kesederhanaan serta kebahagiaan dalam keras dan glamournya ini kehidupan.

[Sekretariat PC IPNU Purworejo, 03 Juni 2013 pkl 02:35 WIB]