Ada 1001 cara Allah memberikan jalan rizki atau orang jawa menyebutnya dengan rejeki. Mulai dari pengamen sampai presiden, semua itu seakan sudah sunnatullah. Setiap orang selalu memiliki potensi dan jalan hidup masing-masing. Dari potensi itu ia kelak menjadikannya sumber rejeki atau sumber kehidupan. Ada yang bersifat soft skill adapula hard skill. Ada yang dengan hanya ikhtiar lahir, adapula yang dibarengi dengan ikhtiar bathin seperti berdoa dan shalat. Dengan demikian, seharusnya kita tak perlu khawatir dengan masa depan. Tidak perlu menghalalkan segala cara seperti menipu atau merampok.

Karena industrialisasi dan modernisasi dari berbagai aspek, banyak orang yang menganggap mencari nafkah itu makin sulit. Semakin maju suatu masyarakat, justeru semakin sulit. Dalam lagu dangdut, H Rhoma Irama berusaha memangkas kesan susahnya menjari rejeki yang halal. ia menulis lagu berjudul 1001 cara dengan lirik: “yang haram saja susah apalagi yang halal…”. Ini sebuah upaya konstruktif untuk mengubah mindset beberapa masyarakat yang sudah terlanjur agak putus harapan.

Menjelang tahun 2000, Nasyida Ria, sebuah orkes melayu membuat lagu dengan lirik: “tahun 2000 kerja serba mesin berjalan berlari menggunakan mesin manusia tidur berkawan mesin makan dan minum dilayani mesin….penduduk makin banyak sawah ladang menyempit mencari nafkah makin sulit tenaga manusia banyak diganti mesin pengangguran merajalela…sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman, langit suram udara panas akibat pencemaran..”

lirik lagu Nasyida Ria tersebut memang benar, namun juga tak sepenuhnya benar. Bahwa sawah dan lading menyempit, banyak pencemaran, semua serba teknologi memang benar adanya. Namun saya kurang sepakat dengan lirik “mencari nafkah makin sulit”. Mencari nafkah itu memang sulit, tapi saya kira kesulitan akan tetap diimbangi dengan kemudahan. jadi, kadar sulitnya tetap sama saja. karena seiring dengan pertumbuhan penduduk, berkembang pula pintu-pintu rejeki disitu.

Sebagai contoh, ibu saya dulu menertawakan ada air putih kok dijual ketika mulai ada air kemasan. Air putih di desa dulu cukup dengan minum air kendi (wedang kendi). Selain memasak sendiri, jika minta ke tetangga atau ke semua orang yang ada di kampung juga pasti dikasih. Namun kini ceritanya lain. Semakin banyak dan tinggi mobilitas manusia, butuh yang praktis dan instan. Kini air kemasan menghidupi jutaan pedagang asongan dan mulai masuk desa-desa seiring dengan perkembangan.

Ada lagi, yaitu bisnis Laundry. Saya sedikitpun dulu tak membayangkan jika aka nada orang yang membuka lembaga buruh cuci, karena dari dulu sampai aku kecil kalau mencuci baju itu ya dikerjakan sendiri. Kalau paling ada mungkin pembantu yang mencucikan baju juragannya. Namun kini dunia berubah. Orang butuh yang simple. Tak heran jika kini bisnis laundry tidak hanya ada banyak namun juga menjamur. Meski begitu, secara pribadi saya tidak pernah melaundry pakaian sendiri. Selain malu yang menyandang status santri yang sudah kebanyakan sudah menyandang status mandiri, juga saya memang terbiasa mencuci pakaian sendiri.

Di era modern ini, cukup dengan bermain satu komoditas saja, sebenarnya kita bisa hidup bahkan menjadi pengusaha besar. Satu komoditas yang dikelola dan di manage dengan baik akan lebih menghasilkan daripada mengelola banyak hal namun kurang total. Saya tersadar bahwa ternyata “hanya” produk Tusuk Gigi sekarang diorganisir dan dilankan dengan rapi. Suatu bisnis yang mungkin tak terbayangkan pada 30 tahun lalu. Tusuk gigi dibuat menarik, ada ukirannya dan dikemas secara modern.

beberapa contoh diatas adalah beberapa pintu rizki yang orang dahulu tidak pernah membayangkan namun kemudian dibutuhkan. belum lagi rizki yang terlahir dari pekerjaan ekstrem seperti Sedot WC, Pemadam Kebakaran, Jasa Perias Jenazah, Tukang Gali Kubur dan lain sebagainnya. itu semua merukapan efek dari kemajuan dan perkembangan. Melalui tulisan sederhana ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa jalan mendapatkan rizki itu banyak, seiring dengan banyaknya manusia itu sendiri.

Dalam konsep Islam, rizki tak terlepas dari Allah SWT. Manusia dituntut untuk mencari atau berikhtiar, kemudian Allah yang memberi. Selain ulet dan jujur seperti yang telah diperankan Nabi Muhammad, aspek doa juga amat penting. Sebagai Dzat yang maha pemberi rizki, Allah memiliki semuanya apa yang ada di bumi dan langit. Salah satu cara agar rizki lancar dalam Islam adalah dengan memenuhi kewajiban kita sebagai makhluk tuhan utamanya Shalat lima waktu. Kalau kewajiban kita kepada Allah saja tidak dipenuhi, bagaimana Allah akan memenuhi kebutuhan kita? Selain itu, Shalat Dzuha dan membaca al-Quran atau khususnya surah al-Waqi’ah juga menjadi instrument penting untuk membuka pintu rizki.

[Basecamp IPNU Purworejo-27.06.2013]