Eksotisme Puncak Gunung

Puncak Gunung Sumbing
Puncak Gunung Sumbing
Puncak Gunung Sumbing

Sebuah Catatan Perjalanan

Sejak kecil aku sudah mengagumi keindahan alam yang bernama gunung, awan dan bintang. Hampir setiap pagi dulu ketika masih sekolah dasar di Wonosobo aku melihat mahakarya tuhan itu. Namun demikian, aku tetaplah anak kecil desa yang tahunya layang-layang, kelereng dan bola. Sampai pada tahun 2000 aku lulus sekolah dasar dilanjutkan nyantri di pesantren An-Nawawi berjan dan bertemu dengan berbagai kultur disana. Selain banyak santri yang rajin ngaji, main bola dan demo, ada juga santri yang hobi naik gunung. Sejak saat itu aku tertarik untuk mendaki setelah melihat foto-fotonya.

Waktulah yang mengantarkanku menjadi santri, aktivis dan pengembara. Keinginan mendaki gunung itu mendapat harapan ketika aku bertemu dengan temanku Anjar Duta yang kebetulan ingin mendaki juga tepat pada malam tanggal 15 Agustus 2013. Kontan saja tanpa pikir panjang aku ingin mengikuti petualangan yang bertema “Ekspedisi Merah Putih” tersebut. Kusiapkan apa yang perlu kusiapkan mulai dari baju dan perbekalan. Adapun perlengkapan lain aku meminjamtemanku.

Jam 17.00 aku dan Anjar meluncur memakai Honda Vario ke Wonosobo dengan guyuran rintik hujan. Seperti pesan guruku KH Achmad Chalwani untuk membaca surat Li’ila fi quraisyin 11x ketika hendak bepergian, sudah kubaca ketika berangkat. Sementara 9 teman kami termasuk mbah Bejo, Guide yang sudah senior sudah berangkat duluan dengan naik bus. Sebelum menuju base camp pendakian, aku dan anjar menyingkirkan diri dengan berteduh di warung makan diatas Kertek Wonosobo. Kami memesan 2 cangkirkopi hitam sebagai penghangat suasana. Suasana dingin pegunungan sudah menusuk-nusuk tulangku. Wajar jika tempe pesanan teman-teman di base camp yang anjar beli di pasar kertek kini sudah keburu dingin. Ditengah suasana itu, tiba-tiba Anjar tertawa geli melihat penampilanku yang culun dengan celana pendek, kaos kaki merah dan sepatu warna putih. Biar culun yang penting hangat!

Perjalanan kami lanjutkan ditengah kabut, hujan dan jarak pandang 50 meter. Aku berpikir positif saja dan berharap ketika mendaki nanti sudah reda. Shalawat tak henti-hentinya kupanjatkan dalam hati. Huwal habibulladzi turjasafa’atuhu, likullihauliminal ahwalimuktahimi. Tibalah kami di warung dekat base camp untuk menemui teman-teman yang sudah sampai duluan. Setelah saling menyapa, bercanda dan memeriksa perlengkapan masing-masing, kamipun ber 11 menuju base camp. Tak kusangka, ternyata tak hanya kami ber-11 yang akan mendaki. Puluhan orang sudah hiruk pikuk dan lalu lalang di base camp. Bahkan karena tidak muat, banyak calon pendaki yang tidur dan masak di emperan base camp yang memiliki luas sekitar 200 meter itu. Aku dengan Si Muh masak air untuk membuat kopi. Sementara cewek-cewek dan yang lain istirahat di dalam. Usai direkomendasi Si Muh dan Anjar aku mandi malam itu juga setelah mereka juga mandi untuk “perkenalan” dengan suhu udara pegunungan.

Pendakian Perdana

Angin malam “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…

” (Al Qur’an, 21:31) “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (Al Qur’an, 78:6-7)

To Be Continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: