Aku hidup dan besar dikalangan kaum sarungan yang rata-rata cukup kental menjunjung tinggi norma dan etika. Selain itu, aku juga bergaul dengan banyak kalangan baik preman, pejabat maupun politisi. Nah, disini, aku akan sedikit memaparkan tentang niat. Ya, niat. Suatu praduga yang mungkin dianggap hal kecil oleh sebagian orang dan besar bagi sebagian yang lain. Meski demikian, bukan berarti saya adalah moralis yang sok suci atau orang yang tidak realistis yang memaparkan bagaimana sebaiknya niat itu. Ini semata karena memang sebagai makhluk hidup kita disuruh untuk saling mengingatkan dan nasehat-menasehati. Seperti teori Dialektis-nya Emmanuel Kant, bahwa kebenaran itu masih bisa diteliti dan dibandingkan dengan pendapat-pendapat lain.

Menginjak remaja, saya mempelajari etika dalam Islam utamanya masalah pendidikan yaitu kitab ta’limul muta’alim. Walau banyak juga yang mencibir kitab itu terlalu konserfatif dan tradisonal, saya tetap tak peduli. Toh faktanya kitab itu masih dikaji pesantren NU di seluruh penjuru nusantara selama sekian abad. Banyak hal yang menarik dan mencerahkan dari kitab itu, salah satunya ialah masalah niat dalam mencari Ilmu.

Dulu ketika lulus MTs tahun 2003 aku sempat diajak diskusi oleh pakde dan bapakku. “Kamu masuk jurusan yang umum saja sekolahnya, yang agama kan keluargamu masih banyak?” kata pakde. “Tapi aku minatnya di jurusan agama” jawabku yang ketika itu ingin masuk di Madrasah Aliyyah Keagamaan. “Keagamaan itu kedepan prospeknya kurang bagus untuk mencari pekerjaan” katanya lagi. “Aku belajar untuk mencari ilmu, bukan untuk kerja” jawabku ketika itu. “Iya memang, dalam agama memang seperti itu. Mencari ilmu ya mencari ilmu saja, tidak usah mikir yang lain. Nanti Allah yang mengatur” simpul ayahku. Pakdeku pun diam dan tidak memberi pembelaan pendapatnya lagi.

Sampai hari ini, aku berprinsip hidup itu harus senantiasa menuntut ilmu. Bisa dari pengalaman, buku atau diskusi dengan orang lain. Aku tak pernah mencari kerja, meski aku mau bekerja. Dan alhamdulillah, sampai hari ini aku merasa cukup. Hal ini aku sandarkan pada dua paparan tokoh yang saya kira masuk akal.

Pertama, ketika menjadi Sekjen Badan Eksekutif Mahasiswa STAI An-Nawawi Purworejo dulu saya pernah mengadakan seminar ekonomi syariah. Selain mengundang dosen UIN Suka Jogjakarta, ada juga narasumber yang bernama Prof. Machasin. Beliau mengatakan hal yang selama itu jarang saya dengar. “Kalian tidak usah berpikir bagaimana cari uang, tapi berpikirlah bagaimana uang mencari kalian” ungkapnya ketika itu. Lalu ia memberi penjelasan, bahwa dirinya selama ini tidak pernah mencari uang namun dikejar oleh uang. Caranya adalah dengan meningkatkan kapasitas diri, pengetahuan dan peranserta dalam kehidupan.

Kedua, ketika kemudian saya menjadi ketua PC IPNU Purworejo dan banyak tertarik dengan pemikiran budayawan, agamawan, negarawan dan filsuf muslim Emha Ainun Najib atau yang akrab dipanggil Cak Nun. Ia mengatakan hampir sama dengan apa yang pernah saya dengar beberapa tahun sebelumnya. “ Kalian itu manusia. Tinggi mana derajat kalian dengan dengan uang?” tanyanya kepada hadirin ketika itu dalam suatu pertemuan. “tinggi manusia” jawab hadirin, termasuk aku. “Lalu, kalau kalian selaku manusia itu mencari uang kira-kira menjadikan derajat kalian rendah apa tidak” tanyanya lagi. Kami semua terdiam. Lalu Cak Nun menjelaskan bahwa idealnya, uang bukanlah merupakan tujuan kita, namun efek moral dari apa yang kita kerjakan. Memang ini tidak profesional, namun memang tidak semua hal yang profesional itu baik.

Lebih lanjut Cak Nun menjelaskan bahwa yang penting dalam hidup ini memaksimalkan potensi dan karya kita. Seorang penjual nasi uduk tidak usah berhitung untung dan rugi ketika ia masak, masak saja makanan dengan cinta sehingga pelanggan merasa nyaman dan enak memakan nasi uduk tadi. Begitu juda dalam pekerjaan kita, kita tidak usah berhitung untung dan rugi tapi bagaimana bekerja yang maksimal saja. ini namanya manageman berkah dan tak banyak orang yang melaksanakannya oleh karena dunia modern mulai dari pemikiran dan tindakan sudah tersistem dengan manageman profesional.

Problem Masyarakat Modern

Memang dunia modern menyajikan hal yang serba detai, semua sudah ada yang membidangi. Semua. Baik ilmu pengetahuan yang ada di universitas yang menyahikan banyak pintu jurusan dan konsentrasi studi, sampai pelayanan-pelayanan dalam kehidupan sehari-hari seperti laundri pakaian yang sebelum tahun 2000 belum begitu dikenal karena orang terbiasa mencuci pakaian sendiri. Ulama dulu pun demikian, seorang Ibnu Rusyd selain Filsuf juga ahli dalam bidang fiqih dan disiplin ilmu lainnya. Beda dengan sekarang yang rata-rata hanya membidangi satu bidang. Perubahan sosial ini tentunya memberi dampat pada kehidupan. Hal hal yang dulu bisa dilakukan sendiri kini sudah diambil alih oleh sistem dan pasar. Semua kini sudah ada ahli-ahlinnya sendiri yang bertugas. Formalitas ini yang kemudian membelenggu dan berefek pada perilaku masyarakat.

Untuk minum air putih kita sudah tidak mau lagi memasak sendiri, karena pasar sudah menyajikan. Untuk makan dengan sayur masyarakat kita tak lagi memetik di lingkungan halaman, karena pasar modern sudah menyediakan. Untuk menjadi guru orang yang pintar karena otodidak kini tak bisa mengajar di lembaga formal, karena ada salurannya yaitu ijasah sesuai fakultas yang diajarkan.Kita kehilangan kesabaran. Daya tahan untuk bersabar dan bersetia menjalani pahitnya kesabaran.

Kalau dulu ulama menulis berjilid-jilid buku dengan hanya ditemani lampu teplok dan pen tul bisa membuktikan kebesaran, kini yang komputer dan akses informasi orang justru semakin tidak produktif. Kalau dulu orang sudah bangga dengan computer yang nyalanya setengah jam, kini buffering saja sudah membanting-banting mouse. Kalau dulu bangga dengan handphone yang hanya bisa untuk sms dan bicara, kini orang sudah dianggap layak punah jika tidak memegang gadget dan android seri terbaru.

Dua bahkan efek kurang baik dari fenomena kemoderan yang jika tidak kita sikapi dalam kehidupan. Pertama, karena pekerjaan dari presiden – kalau itu dianggap pekerjaan – sampai tukang sedot WC sudah ada, lapangan pekerjaan jadi sulit. Begitu kata banyak orang. Hal itu menyebabkan mau tidak mau orang jika ingin kerja enak harus masuk pendidikan modern yang akan menjamin – katanya – masa depan. Jika ijasah sudah digenggam, pekerjaan akan mudah didapat. Uang akan semakin mudah merapat. Ujungnya uang. Niat yang jadi pertaruhan.

Kedua, karena semua serba sudah ada, orang menjadi manja untuk bekerja atau melakukan sesuatu yang membutuhkan kesabaran dan sedikit perjuangan. Dunia modern adalah dunia manja, meski tidak semua. Semua serba dilayani mesin yang disisi lain juga mengikis kesabaran dan olahrasa dalam jiwa. Kalau dulu aku dan keluarga ingin berkunjung ke nenek yang ada di kecamatan tetangga berjalan berpuluh-puluh meter, kini hal itu sudah tidak ada. Mobil dan motor menyediakannya, dan kita termanja. Itulah mengapa aku kadang sekadar berjalan atau lari pagi agar manja tidak keterlaluan. Jika manja menjadi cumbuan, tak ada lagi apa itu yang namanya pengabdian. Semua selesai dengan uang. Dan untuk mendapatkan uang kadang harus curang atau lupa dengan pengabdian.

Tentu jamak dari kita sudah tahu bahwa era sekarang ini tidak hanya bertumpu orientasinya pada uang, jauh lebih parah lagi yaitu memperjual belikan kehormatan. Kita bisa melihat fakta dilapangan bagaimana uang menjadi panglima untuk memuluskan sesuatu. Sekolah bukan untuk mencari ilmu tapi untuk mencari pekerjaan yang orientasinya uang. Bahkan karena niat sudah bergeser, tak sedikit ijasah diperjual belikan. Hal ini tentu memprihatinkan.

Fakta lain, untuk masuk PNS, Anggota Dewan atau Prajurit orang harus bisa membayar puluhan, ratusan bahkan milyaran rupiah. Itu semua sudah menjadi rahasia umum dan ada didepan mata kita. Lembaga pendidikan, rumah sakit sampai lembaga agama dikapitalisasi untuk mencari uang. Mereka hidup diatas air mata dan penderitaan orang-orang miskin. Akhirnya, mendidik bukan dengan semangat pengabdian namun karena uang. Mengobati orang sakit merupakan peluang menuju kemegahan. Kelemahan orang lain dimanfaatkan untuk uang yang begitu menggoda perasaan.

Apakah hal seperti ini dibenarkan di dalam agama? Atau begini saja, kita tinggalkan sejenak agama; apakah hal seperti itu sesuai dengan hati nurani kita? Jawabannya tak perlu ditulis, karena saya tak sabar ingin menuduh bahwa anda dan kita semua tidak sepakat dengan itu semua. Apakah engkau tidak tahu, kata Kyai Budi Harjono, bahwa di dalam jiwamu ada harta karun yang bernama cinta.

Kalau di ilmiahkan, di dalam jiwamu ada orchestra. Semiskin-miskinnya kita, bertemu dengan tetangga atau saudara, tersenyum, menegur dan bersapa. Kalau melihat orang jatuh, entah apa agamanya, kita tuntun dalam dekapan cinta. Kalau ada orang sakit, hendaknya dijenguk syukur ditolong karena selain berpahala itulah hal menyebabkan kita disebut manusia. Adakah orang modern kini masih berniat melakukannya? ataukah justru sakit, kelemahan, kelaparan orang lain dieksplorasi untuk kepentingan pribadi? anda semua yang tahu jawabannya.