Malam itu langit tampak muram. Seakan ia ingin meneteskan air mata hujan melihat kegersangan bumi yang sudah terlihat kering kerontang. Malam Ahad itu kendaraan ramai berlalu lalang di depan Base Camp IPNU Purworejo, rumah tua ditempati Bejo, Cak Luk dan kawan-kawan.“Ah, paling mereka cuma mau senang-senang menikmati gegap gempitanya alun-alun kota” kata Bejo dalam hatinya. Bersama teman-temannya, ia memilih menonton berita di TV dengan harapan mendapat informasi dan pencerahan. Namun pucuk dicinta, ulam tak kunjung-kunjung tiba. Semua berita- berita di televisi berisi hal-hal yang semakin membuat Bejo dan kawan-kawan semakin gundah. Ada skandal korupsi ketua penegak hukum, kasus pembunuhan sampai presiden yang marah-marah karena namanya di kait-kaitkan dengan Bunda Putri, salah seorang teman dekat LHI, menteri yang tersandung korupsi juga.

Ditengah kegalauan Bejo, tiba-tiba Cak Luk datang dari toilet sabil berkata, “Yuk dolan ning acara cah-cah PMII, Bro!” ajak Cak Luk sambil memegang kamera XLR kesayangannya. Spontan saja Bejo mengiyai. “Ayuk, aku pingin ndelok perkembangan anak-anak” jawab Bejo.Setelah ganti baju, Bejo mengirim pesan singkat kepada sahabat lamanya di PMII, Khusen namannya. “Bro, posisi ning acara PMII ora?” SMS Bejo pada Khusen. “Iyo, Bro! Ojo lali nek mrene nggowo Djarum Super” Balas Khusen diikuti kata, “Wakwakwak”. “Oke, siap!” balas Bejo sambil mengambil kontak motor keluar rumah. Khusen adalah mantan ketua PMII yang sekarang bertani di salah satu desa di Kecamatan Butuh, tanah kelahirannya. Khusen sering berdiskusi dengan Bejo baik bertemu langsung maupun via chatting di jejaring sosial Facebook.“Ayo Cak Berangkat” ajak Bejo. Iya bentar, “jawab Cak Luk sambil mengikat tali sepatunya.

Motor pun di starter dan mereka berangkat dengan dipayungi lampu ibu kota. Semribit angin malam sedikit membuat kedua perjaka itu menggigil kedinginan. Sementara disepanjang perjalanan, mereka melihat aktivitas ekonomi yang cukup kontras: Ibu yang menggendong anaknya menunggui dagangan gorengannya yang sepi dengan diterangi lampu teplok. Sementara di sebelahnya berdiri megah Alfa Mart dengan lampu yang terang benderang menyilaukan mata. Ada lagi pengamen-pengamen jalanan yang mengais rejeki para penjaja warung dan losmen.Motor berjalan dengan kecepatan 80 km per-jam. Kali ini mereka bisa leluasa berkendara karena jalan memang baru semua, tak seperti yang dulu-dulu.

“Jalannya baru, Cak, enak untuk ngebut!” Kata Bejo sambil menjongki Jupiter 125-nya. “Iya nih, tapi paling juga nggak bertahan lama. Biasa, kontraktor sudah lebih tahu bagaimana mereka mendapat proyek baru” jawab Cak Luk yang juga wartawan salah satu koran lokal di Purworejo ini. “Hahaha, emang sudah sulit sekarang mencari orang yang bekerja dengan kemurnian” jawab Bejo. “Maklum Bro, sudah jamannya, rakyat kecil di tipu terus”celetuk Cak Luk. “Hahaha” Bejo tertawa lepas.

Mereka terus ngobrol di sepanjang perjalanan dari Purworejo menuju Butuh.Tak terasa, bendera PMII sudah berkibar di pinggir jalan berkibat dibelai angin malam yang cukup semerbak. Ini tandanya tempat yang menjadi tujuan mereka sudah dekat. Mereka mengikuti rentetan bendera kuning dengan bintang sembilan itu sampai ke ujung. Di sekitar lokasi, barisan motor sudah berderet manis. Mereka menyapa beberapa junior yang berjaga-jaga di pintu masuk. Bejo dan Cak Luk segera menuju secretariat panitia. Di sana ia disambut dengan kopi hitam kesukaannya.

“Ada yang tahu Khusen dimana?” Tanya Bejo pada Muhidin, juniornya di PMII. “Wah, daritadi saya belum lihat tuh!” jawabnya. Lalu Bejo mengambil ponselnya dan menelpon Khusen. Ternyata masih di jalan menuju lokasi.Tak lama berselang, Khusen datang. “Halo, pie kabare, bro!” Tanya Khusen sambil menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. “Apik, bro, piye kabarmu? Lancar to kebun lombokke?”Tanya balik Bejo sambil mengajukan tangan kanannya bersalaman. “Ini upetiku” sapa Bejo sambil menyodorkan sebungkus Djarum 76, rokok kesayangan Khusen. “Oke makasih”jawab Khusen sambil merangkul Bejo mengajaknya menuju Beranda. “Kita ngobrol-ngobrol disana saja” imbuh Khusen. “oke, sip” jawab Bejo.

Ketika mereka asyik ngobrol berdua, Tiba-tiba Cak Luk dan Rijal datang yang sesampainya dilokasi tadi langsung menuju forum melihat kader-kader PMII yang sedang brainstorming. Mereka berempat membuat lingkaran untuk ngobrol-ngobrol. Tak lama berselang, Shobah salah satu senior PMII datang bergabung dengan membawa empat gelas kopi.

“wah, tumben kamu apikan, bawa kopi segala” sapa Cak Luk. “Iya to, kolo-kolo tak melayani”jawab Shobah dengan cengengesan.“Apa ini tema ngobrolnya” celetuk Shobah kepada empat temannya. “Seputar pertanian saja gimana” jawab Rijal yang juga menanam cabe dan memelihara gurame. “Oke, setuju aku”jawab Khusen. “Aku ngikut aja,” kata Bejo. “Yaudah, bagaimana sekarang pertanian di Indonesia”kata Cak Luk membuka obrolan. “Jangan ke Indonesia dulu lah, terlalu luas. Purworejo aja dulu yang lebih dekat” sambung Shobah. “Setuju…!!!”jawab Cak Luk, Rijal, Khusen dan Bejo.

Waktu sudah menunjukkan jam 22.00 malam. Tampak beberapa panitia terkapar seakan kecapekan mengurus kegiatan. Sayup-sayup terdengar suara kader-kader PMII yang sedang brainstorming di ruangan. Angin malam mesra membelai pemuda-pemuda di malam itu membuat suasanya menjadi dingin-dingin semerbak. Kopi panas yang tidak mencukupi tak membuat mereka kehilangan mood. Mereka sudah terbiasa join satu sama lain.“Purworejo masih terlalu luas. Bagaimana kalau untuk mengawali, cerita pengalaman pribadimu bertani saja, Sen?” tawar Bejo pada Khusen, ‘Itu kan malah lebih empiris” imbuh Bejo. Teman-teman semua mengangguk.

“okelah kalau begitu. Aku akan cerita pengalamanku di ladang saja”jawab Khusen. Teman-teman seobrolan khusyuk menyimak apa isi pengalaman Khusen.“Diladang itu, orang-orang sekapungku pada terheran-heran dengan “gaya” pertanianku. Mereka masih bingung kenapa tanamanku beda tak seperti tanaman mereka” kata Khusen membuat penasaran. “memang apa bedanya mas bro?” Tanya Rijal. “Sabar to, Khusen biar nyeruput kopinya dulu” celetuk Shobah.

Teman-teman hanya senyum-mesem. Khusen melanjutkan ceriteranya.“kata orang-orang kampung, tanamanku kok lebih subur, hijau dan lebat cabainya. Sedangkan ladang cabai milik orang-orang desa pohonnya kurus, agak kuning dan panen-nya sedikit.” Kata Khusen. “Mungkin orang-orang desamu itu kurang ngasih pupuk dan airnya”celetuk Shobah. “nggak kok, sama saja perawatannya” kata Khusen sambil menyebul asap rokoknya. “terus, kenapa tanamanmu bisa beda dengan orang-orang desa, bukannya lading dan perawatannya sama?” Tanya Shobah sambil garuk-garuk kakinya yang mungkin gatal belum mandi.

Khusen santai sambil melirik keempat temannya yang penasaran. Dalam hati kecilnya, ia sudah memastikan teman-temannya penasaran maksimum dengan apa yang akan diutarakan Khusen. Ia sengaja mengulur waktu memberi kesempatan teman-temannya untuk ikut berpikir. Tak lama kemudian, Khusen melanjutkan.“Resepku itu sebenarnya sederhana. Aku memperlakukan pohon-pohon cabaiku seperti anak sendiri: dengan Cinta. Tak jarang aku mengajaknya ngobrol. Aku percaya bahwa setiap makhluk hidup, dalam hal ini termasuk tumbuhan, memiliki ‘jiwa’ yang butuh perhatian dan kasih sayang. Istilahnya, aku merawat melalui pintu mereka dan panen melalui pintuku. Apa yang dibutuhkan tanaman aku kasih, seperti menyiram, memberi pupuk dan kasih sayang. Jadi mungkin itu yang membuat tanaman-tanamanku menjadi seperti yang aku harapkan.” Jelas Khusen panjang lebar.

“Berarti, kamu ‘memanusiakan’ tumbuhan, Sen”?celetuk Bejo. “Boleh dibilang seperti itu, tapi itu terlalu ekstrim. Menurutku ‘mengalamkan’ alam. Hanya itu saja resepku” pungkas Khusen. Teman-temannya berpikir mencari titik temu dan ternyata ketemu. Memang, tuhan sendiri menyuruh kita untuk merawat dan tidak merusak lingkungan. Tiba-tiba Bejo nyeletuk.“Masuk akal. Sangat masuk akal. Saya kira tidak hanya di tumbuhan saja berlaku seperti itu, tetapi dalam segala dimensi kehidupan. Memelihara ayam, misalnya, kita berlima ini hasilnya bisa berbeda-beda. Oleh karena memelihara ayam ataupun binatang itu butuh ‘pri-kebinatangan’” ucap Bejo, “yang tidak dengan hati nurani, pasti nanti ayamnya akan banyak yang mati” imbuh Bejo dengan diangguki semua peserta diskusi ala aktivis tua tersebut.

Khusen senang teman-temannya menerima ungkapan yang tidak semua orang bisa mengerti. Di kampungnya, ketika dia menerangkan seperti itu, malah diketawain orang-orang. Ia dianggap setengah waras. Tambah lagi dengan mimik mukanya yang memang kurang begitu meyakinkan. Tiba-tiba para panitia berhamburan keluar untuk menyiapkan acara selanjutnya. Khusen yang merasa mendapat ‘jatah’ di acara selanjutnya paham. Ia akan segera menutup obrolan malam itu.“Jadi, intinya, kalau menanam atau memelihara sesuatu itu jika ingin sukses meski dengan nurani, cinta, kasih sayang dan perhatian. Jangan takut dianggap orang gila atau sinting. Saya sendiri sering dianggap begitu karena memperlakukan tanaman tidak begitu wajar seperti: mengajak bicara, menimang-nimang dan bahkam menciumi tanaman cabe saya” tutup Khusen diikuti kerut dahi teman-temannya.

Base Camp IPNU Purworejo – 26 Oktober 2013, Menjelang naik Gunung Merbabu dalam rangka Refleksi Peringatan Hari Sumpah Pemuda.